Berhenti Menjadi People Pleaser: Hidup Kita Juga Penting

Kadang tanpa sadar kita jadi hakim paling kejam untuk diri sendiri. Setiap kejadian yang menyakitkan langsung kita tutup dengan kalimat, “yah ini salahku,” seolah menyalahkan diri adalah bentuk tanggung jawab. Padahal yang sering terjadi bukan refleksi, tapi penghakiman. Lalu aku mulai bertanya pelan, kalau aku terus menarik semua kesalahan ke dadaku sendiri, siapa yang akan menopang rasaku saat aku runtuh. “Self-blame feels like control, but it quietly takes away compassion,” dan banyak dari kita hidup lama di ruang itu tanpa sadar sedang mengeringkan diri sendiri.

Ada momen ketika kita merasa pantas diperlakukan tidak adil, pantas dilupakan, pantas disakiti, hanya karena kita tidak cukup menghormati keberadaan kita sendiri. Kita pikir dengan merendahkan diri, luka akan terasa lebih masuk akal. Padahal harga diri yang runtuh justru membuat luka bertahan lebih lama. Pernah nggak sih kamu bertanya, “Apa aku memang seburuk itu?” atau “Kalau aku lebih baik, apa ini nggak akan terjadi?” Faktanya, tidak semua yang menyakitkan adalah kesalahanmu. Some things hurt not because you failed, but because you cared.

Belajar menghormati diri sendiri bukan tentang membela diri mati-matian, tapi tentang memberi ruang yang adil antara tanggung jawab dan belas kasih. Psikologi menyebutnya self-respect, tapi aku melihatnya sebagai batas yang sehat antara menyadari kesalahan dan tidak menghancurkan diri karenanya. Orang yang terus menyalahkan diri tidak menjadi lebih dewasa, mereka hanya menjadi lebih sunyi. “Accountability without kindness becomes punishment,” dan hukuman yang kita berikan ke diri sendiri sering lebih berat dari apa pun yang orang lain lakukan.

Jadi kalau hari ini kamu masih terbiasa bilang, “aku pantas diginiin,” berhenti sebentar. Bukan untuk menyangkal kenyataan, tapi untuk menata ulang cara kamu memperlakukan dirimu sendiri. Kamu boleh salah tanpa kehilangan nilai. Kamu boleh terluka tanpa harus menyalahkan diri. “You deserve understanding, especially from yourself.” Kalau kalimat ini terasa menohok tapi hangat di waktu yang sama, mungkin karena ada bagian dalam dirimu yang selama ini lelah menopang semuanya sendirian. Dan hari ini, ia akhirnya didengar.

Gelandangan kampus yang menyamar jadi wakil ketua Dewa Eksekutif Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum 2025-2026