Indonesia secara konstitusional menegaskan dirinya sebagai negara hukum. Prinsip ini mengandung konsekuensi bahwa hukum harus berdiri di atas kekuasaan, membatasi tindakan negara, serta menjamin kesetaraan setiap warga di hadapan aturan. Namun dalam praktik penegakan hukum, kerap terlihat jarak yang mengkhawatirkan ...

Setiap pagi, aku berdiri di depan kelas, memandang puluhan pasang mata yang baru saja selesai menunduk, merapal doa dengan khusyuk. Di negeri ini, Tuhan selalu dilibatkan dalam setiap pembukaan hari dan setiap awal pembelajaran. Namun, ironisnya, saat lembar ujian mulai ...

Hidup di dunia ini kadang mirip kayak main game RPG. Kita sibuk leveling lewat rutinitas harian: bangun pagi, terjebak macet, kerja demi angka di rekening, lalu tidur lagi. Di tengah kepungan aktivitas yang super padat itu, ada sebuah “tabir” bernama ritualitas ibadah. Masalahnya, ...

Mahasiswa dan mahasiswi lulusan pondok pesantren kerap merasakan kegelisahan ketika memasuki dunia kampus yang memiliki pola pergaulan berbeda dari kehidupan di pesantren. Di pesantren, interaksi antara laki-laki dan perempuan sangat dibatasi, bahkan sering kali dipisahkan secara tegas sehingga hampir tidak ...

Budaya “nyinyir” atau memberikan komentar sinis, sindiran, dan cibiran negatif di Indonesia, tidak tumbuh secara instan. Fenomena tersebut merupakan hasil evolusi dari pergeseran budaya lisan tradisional, kondisi psikologis masyarakat, dan ledakan teknologi media sosial.  Secara harafiah, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan “nyinyir” sebagai sifat cerewet atau mengulang-ulang permintaan. Namun, maknanya kini bergeser menjadi tindakan menyindir atau memberikan komentar pedas.  ...