Di dunia digital, kita mengenal istilah cancel culture—sebuah gerakan kolektif untuk memutus dukungan atau ‘menghapus’ eksistensi publik seseorang yang telah melakukan pelanggaran moral atau sosial. Nguyen dalam Bunga, dkk (2022, 38) menyebutkan bahwa cancel culture ini tak hanya disematkan pada ...
Bayangkan dua jiwa, terpisah oleh zaman dan budaya, namun diikat oleh hasrat yang sama untuk menyingkap tabir realitas. Di satu sisi, Mulla Sadra, filsuf Persia abad ke-17, berjalan di bawah langit Isfahan, merenungi hakikat wujud dan kesadaran dalam keheningan malam. ...
Kita sering keliru membaca sejarah. Kita terburu-buru menilai seseorang hanya dari siapa lawannya, bukan dari kenapa ia melawan. Maka ketika nama “Abu Jahal” disebut, yang terbayang segera adalah iblis bermata manusia, penindas Nabi, pemimpin kekafiran. Ia dijadikan simbol kebencian, musuh ...
Dalam kerangka hukum Islam Sunni, kita diwarisi empat pilar utama sebagai sumber hukum: al-Qur’an, sunnah, ijma’, dan qiyas. Namun terlalu sering, dalam praksis maupun wacana keagamaan, keempatnya diperlakukan seperti formula statis—padahal sejarah Islam klasik justru menyuguhkan dinamika intelektual yang dinamis. ...
Sore yang cerah itu, di tengah hilir mudik kendaraan jam pulang kerja. Seolah-olah tak ikut terganggu oleh hiruk-pikuk dunia maya. Saat duduk berbincang santai bersama teman, ditemani camilan sederhana dan segarnya air deuweugan, di Kedai Alfatih Kelapa Muda Manisi, tak jauh sebelum Puskesmas Cibiru. Waktu berjalan pelan, memberi ruang dan jeda bagi pikiran untuk singgah, terus berpikir dan menjaga kewarasan. ...