Orang Sunda terkenal dengan stereotipe pemalas dan wanitanya yang materialistis. Benarkah? Mungkin bisa jadi benar, jika hanya dilihat secara permukaan. Kita bisa melihat dengan kacamata lain misalnya, bahwa ternyata lapangan industri padat karya seperti tekstil itu bias gender, dan pusat ekonomi juga fesyen yang berdenyut di tanah Sunda mungkin akan menambah perspektif lain. Namun, bagaimana kalau semua ini ternyata ada hubungannya dengan kopi? Iya, tanaman kopi yang sebelumnya adalah tanaman hias bagi kompeni Belanda itu mengubah kognitif dan mental suku Sunda. Inilah yang didapat penulis setelah membaca buku Kopi dalam Kebudayaan Sunda karya Atep Kurnia.
Mari kita berbalik pada tahun 1720 di mana ada Preangerstelsel. Pada mulanya, orang Sunda sangat dekat dengan alam, misalnya menjadikan beberapa hewan itu sakral seperti harimau, dan memiliki falsafah hidup tidak mengambil lebih dari yang dibutuhkan (masih bisa dilihat di kampung adat Sunda misalnya Cireundeu), dan mempunyai pola pertanian ngahuma yaitu membuka ladang dan berpindah-pindah. Namun, dengan adanya Preangerstelsel, orang Sunda memiliki kewajiban menanam 1.000 pohon kopi dan 150 pohon lagi di halaman rumah. Hutan yang disakralkan oleh orang Sunda pun pada masanya mesti dibabat demi target 2.971.450 pohon per kabupaten.
Seluruh rantai produksi kopi diawasi oleh kalangan Belanda yaitu komitir urusan pribumi, sersan kopi, inspektur kopi, dan kepala gudang kopi. Demikian pula dari kalangan pribumi, yaitu para bupati yang mendapatkan keuntungan berupa komisi atau persentase dari hasil panen kopi, dan para pejabat lainnya yang ditugaskan untuk mengawasi rantai produksi kopi, yaitu komitir atau kumetir kopi dan mantri gudang kopi. Barang siapa yang tidak mau atau tidak memenuhi target maka ia akan dihukum sangat berat, mulai dari dipasung hingga digantung di tepi jurang.
Karena kebijakan ini, orang Sunda akhirnya menjadi menetap dan membuat nama-nama daerah yang berhubungan dengan kopi, misalnya Babakan Kopi, Kebon Kopi, Pasir Kopi, dan lain sebagainya. Karena kopi pula Bandung memiliki daerah perbelanjaan terkenal yaitu Braga yang mana menjual barang-barang Eropa. Jalan Braga sendiri dulunya adalah jalan pedati kuda dari gudang kopi Andries de Wilde. Karena strategis, jalan tersebut pun semakin ramai.
Yang menarik lagi, karena keberlimpahan kopi, opium tidak menarik di mata orang Sunda padahal perkebunannya ada di Cirebon. Candu itu disubstitusi oleh kafein kopi. Hingga muncul banyak istilah mabuk kopi, candu kopi, dan kebiasaan minum cikopi, juga sebutan ngopi yaitu suguhan makanan ringan. Bajigur di tanah Sunda mulanya adalah campuran kopi dan santan, awal mula kopi luwak pun adalah karena para petani yang mengumpulkan sisa biji dari hewan tersebut karena biji kopi yang bagus mesti disetorkan.
Kopi juga menjadi pengetahuan warna bagi orang Sunda. Berdasarkan data penelitian, batas-batas atau fokus warna yang terdapat dalam bahasa Sunda dapat dikelompokkan ke dalam sepuluh kelompok, yaitu Hideung ‘hitam’, Bodas ‘putih’, Beureum ‘merah’, Koneng ‘kuning’, Hejo ‘hijau’, Paul ‘biru’, Kopi ‘cokelat’, Kayas ‘merah muda’, Bungur ‘ungu’, dan Hawuk ‘abu-abu’. Oleh karena itu, selain ke-10 warna tersebut, warna-warna lainnya akan disatukan kepada salah satu di antaranya atau disandingkan dengan nama benda, misalnya ungu kopi.
Setelah 200 tahun kopi menjadi dekat dengan kebudayaan Sunda, maka ia berbuah menjadi seni berupa lagu-lagu, motif batik, penyebutan warna, komposisi bahan minuman, toponimi, dan terakhir sesajen untuk ritual adat. Bagi penulis, setelah mengetahui sejarah kopi, yang menarik adalah saat tujuan sesajen mengenang roh-roh nenek moyang, yang mungkin nenek moyang tersebut korban dari Preangerstelsel. Apakah nenek moyang tersebut tidak akan tersinggung?





