Selamat datang and welcome di Negeri Konoha! (netizen budiman begitu nyebutnya) idealnya Sebuah negeri yang sangat kaya nan makmur, gemah ripah loh jinawi, di mana para “Ninja” birokrasinya sangat banget kreatif. Saking banget kreatifnya, mereka punya kemampuan tingkat dewa dalam hal sulap-menyelap: menyulap anggaran negara yang tadinya ada, tiba-tiba hilang tanpa jejak. Bimsalabim jadi jet pribadi! begitulah kira-kira.
Di tengah riuhnya jurus Korupsi no Jutsu yang mungkin sering dipraktikkan secara berjamaah, kita sering bertanya-tanya: Masih adakah pejabat yang bersih di negeri konoha ini?
Jawabannya: Ada, tapi langka. Dan celakanya, nasib mereka di Konoha ini mirip seperti noda di baju putih saat lebaran: kalau kelihatan bersih sendiri, bawaannya pengen langsung “dikucek” sampai hilang oleh lingkungan sekitar (miris memang).
Mari kita telaah fenomena yang kocak sekaligus miris ini tanpa perlu pakai jurus Sharingan.
Konsekuensi Jadi Orang Waras di Tengah “Sekte” yang Agak Laen
Di Konoha, ada sebuah hukum alam yang tidak tertulis: Kalau mau selamat, minimal harus ikut tersenyum saat yang lain bagi-bagi kue.
Gini ceritanya ketika ada seorang pejabat yang mendadak punya penyakit “jujur kronis”, menolak suap, dan hobi memotong jalur pungli, dia tidak akan dapat penghargaan “Pegawai Teladan”. Yang ada, dia bakal dianggap sebagai alien. Rekan-rekan kerjanya akan berbisik, “Ini orang sok suci banget sih, bikin kita gak bisa makan enak aja.”
Pejabat jujur di Konoha itu ibarat dia sedang memakai kostum badut di acara pemakaman terlalu mencolok dan bikin suasana menjadi canggung. Akhirnya, alih-alih dijadikan contoh, pejabat yang bersih ini justru dianggap sebagai “ancaman stabilitas lambung” bersama.
Dengan situasi macam ini kira-kira pejabat jujur mana yang kuat tahan banting kaya super hero yang di akhir cerita menang dengan berdarah-darah bahkan ada yang sampai mati (walaupun jarang).
Jurus “Disapu Bersih”: Ketika Pembersih Dianggap Sebagai Sampah
Nah, di sinilah puncak komedinya. Fungsi sapu itu kan untuk membersihkan lantai dari sampah. Tapi di Negeri Konoha, logikanya sering dibalik menggunakan Genjutsu (jurus ilusi). Sapunya yang malah dibuang ke tempat sampah karena terlalu rajin membersihkan.
Bagaimana cara sistem di Konoha “menyapu bersih” pejabat yang jujur? Polanya biasanya sangat rapi dan estetik:
- Dibuang ke “Siberia”:Dicopot dari jabatan strategis, lalu dimutasi ke bagian yang paling kering dan tidak punya peran apa-apa. Istilah kerennya: Dikhianati oleh sistem.
- Dicari-cari Kutu di Rambut Gundul: Namanya juga manusia, pasti punya salah kecil. Nah, kesalahan kecil dari pejabat jujur ini akan dibesar-besarkan seolah-olah dia telah melakukan dosa kosmik yang bikin bumi gonjang-ganjing.
- Difitnah Berjamaah: Karena dia tidak mau ikut “lingkaran setan”, maka lingkaran itulah yang akan bergerak untuk memfitnahnya sebagai orang yang tidak becus kerja atau tidak loyal pada pimpinan.
Akhirnya, pejabat yang bersih pun tumbang. Bukan karena mereka kalah pintar, tapi karena mereka kalah jumlah. Di Konoha, satu orang jujur dikeroyok oleh satu batalion orang yang hobi “main mata” dengan anggaran.
Butuh Pawang Hujan atau Pawang Korupsi?
Kesimpulannya, mencari pejabat bersih di Negeri Konoha itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami yang sedang dibakar: susah banget dan bikin mata perih.
Selama sistemnya masih menganut prinsip “kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah (baca: diperas)”, maka pejabat jujur akan selalu berakhir tragis. Mereka yang berniat jadi sapu untuk membersihkan negeri, malah berakhir disapu bersih oleh kekuatan gaib bernama “solidaritas tanpa batas dalam hal culas”.
Jadi, buat para pejabat Konoha yang masih nekat mau jujur: Tetap semangat dan pantang menyerah! Meskipun Anda disapu bersih di dunia nyata, setidaknya nama Anda akan tetap wangi… walaupun sewangi-wanginya nama, tetap aja gak bisa dipakai buat bayar cicilan rumah karena tunjangan Anda sudah dipotong. Salam waras dari warga sipil!






