Jika kita memang tak bisa berhenti berjudi dengan hidup kita, maka pertanyaan berikutnya muncul dengan sendirinya: kepada siapa kita melempar dadu itu?
Kita tidak pernah benar-benar berjudi dalam ruang hampa. Setiap taruhan butuh pegangan, butuh alasan yang membuat risiko itu terasa masuk akal. Di situlah nama Tuhan muncul. Bukan sebagai jawaban pasti, melainkan sebagai tempat kita menitipkan ketidakpastian yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Tapi masalahnya, nama itu tidak pernah satu. Kita melempar dadu ke “Allah”, “Tuhan”, “Semesta”, “Takdir”, “Karma”, “Hukum Alam”, atau sekadar “Mungkin Ada Sesuatu di Luar Sana”. Masing-masing nama membawa meja judi yang berbeda, dengan aturan yang berbeda, dan janji hadiah yang berbeda pula.
Lucunya, para manusia-manusia ini tidak punya keberanian untuk berkata “aku tahu mejanya asli”. Tapi juga tidak punya cukup kecongkakan untuk bilang “semua meja ini palsu”. Jadi yang terjadi adalah kita berpindah-pindah. Hari ini kita bertaruh pada “Semesta akan membalas kebaikanku”, besok kita bertaruh pada “Kalau aku berusaha cukup keras, hukum sebab-akibat akan berpihak”.
Kita menyebutnya harapan, disiplin, atau rasionalitas. Jarang sekali kita mau jujur menyebutnya: ini tetap judi.
Bedanya, kita berjudi bukan karena yakin menang. Kita berjudi karena diam saja terasa lebih menakutkan. Membiarkan hidup berjalan tanpa menyandarkan ketidakpastian pada sesuatu, sekecil apa pun, rasanya seperti berdiri di tepi jurang tanpa memegang apa-apa. Tangan kosong itu berat.
Maka nama Tuhan berfungsi sebagai gagang. Ia memberi bentuk pada kecemasan. Ia mengubah pertanyaan “kenapa semua ini terjadi padaku?” menjadi “mungkin ada makna yang sedang kutunggu”. Ia tidak menyelesaikan masalah, tapi ia membuat masalah itu bisa dibawa pulang untuk dipeluk, bukan dibuang.
Jujur saja, saya tidak yakin ada yang menangkap dadu itu di ujung sana. Tapi saya juga tahu rasanya menggenggamnya terlalu lama sampai telapak tangan basah. Jadi kita lempar. Kita harus lempar.
Yang membuat saya gelisah bukan arah bertaruhnya. Yang membuat saya gelisah adalah betapa cepatnya kita memberi nama pada pihak yang kita anggap menerima taruhan itu. Seolah memberi nama bisa mengubah peluang.
Meja-Meja Judi yang Kita Buat Sendiri
Kau menyebutnya “Tuhan”, dan kau percaya ada kitab aturan yang jelas. Kalau kau patuh, kau menang di akhir.
Kau menyebutnya “Semesta”, dan kau percaya setiap getaran baik akan kembali padamu. Hukum tarik-menarik, katanya.
Kau menyebutnya “Hukum Alam”, dan kau percaya kerja keras, logika, data, akan cukup untuk membuatmu selamat.
Kau menyebutnya “Mungkin Ada Sesuatu”, dan kau percaya ketidakpastian itu sendiri adalah bentuk kerendahan hati.
Saya melihatnya begini: kita tidak memilih Tuhan karena kita tahu Dia ada. Kita memilih nama karena kita butuh meja dengan aturan yang bisa kita tahan. Meja yang tidak membuat kita muntah karena terlalu abstrak. Meja yang tidak membuat kita beku karena terlalu dingin.
Saya sendiri? Saya sering berpindah meja. Malam hari saya bertaruh pada “Takdir”, karena menyalahkan diri saya sendiri seharian sudah melelahkan. Siang hari saya bertaruh pada “Usaha”, karena kalau tidak begitu, saya takut tidak bangun dari kasur.
Masalahnya, meja itu punya bandar. Dan bandar paling licik selalu berbisik: “Kalau kau kalah, itu salahmu karena kurang percaya.”
Meja “Tuhan” bilang, doamu belum cukup khusyuk.
Meja “Semesta” bilang, energimu masih negatif.
Meja “Hukum Alam” bilang, datamu kurang, usahamu kurang, otakmu kurang.
Semua meja punya cara untuk mengembalikan kekalahan kembali ke pangkuanmu, supaya mereka tetap terlihat bersih.
Padahal kenyataannya sederhana: meja itu tidak peduli kau menang atau kalah. Dia hanya ada. Yang peduli adalah kau, yang butuh alasan agar kekalahan malam ini tidak terasa sia-sia.
Kita menyebutnya makna. Padahal itu tambal sulam.
Kita menyebutnya hidayah. Padahal itu kelelahan.
Kita menyebutnya kesadaran. Padahal itu menyerah.
Dan di sinilah tipu dayanya: semakin lama kita duduk di satu meja, semakin kita lupa bahwa kita yang memilih duduk di sana. Lama-lama kita pikir meja itu memang satu-satunya yang ada. Kita bela, kita bela mati-matian, seolah kalau meja itu runtuh, kita ikut runtuh bersamanya.
Saya pernah begitu. Beberapa bulan saya hidup mati-matian di meja “Takdir”. Setiap hal buruk terjadi, saya bilang, “Sudah digariskan.” Rasanya lega. Tidak ada yang perlu disalahkan. Tidak ada yang perlu diperbaiki. Sampai suatu pagi saya sadar: kalau semua sudah digariskan, kenapa tangan saya gemetar tiap kali harus memutuskan sesuatu? Meja itu menenangkan, tapi juga melumpuhkan.
Lalu saya pindah ke meja “Usaha”. Di sana saya jadi orang yang produktif, disiplin, penuh target. Tapi malamnya saya tetap tidak bisa tidur. Karena meja ini tidak pernah bilang “cukup”. Dia hanya bilang, “Kurang lagi.”
Jadi saya mengerti sekarang. Kita tidak berpindah meja untuk mencari kebenaran. Kita berpindah untuk mencari meja yang membuat kita bisa bernapas satu malam lagi tanpa merasa gagal sebagai manusia.
Yang menyedihkan adalah, kita jarang jujur tentang itu. Kita lebih suka bilang “aku menemukan jalan” daripada “aku tidak tahan lagi di jalan yang lama”. Ego kita tidak suka kata “bertahan”. Ego kita mau kata “menemukan”.
Padahal mungkin tidak ada yang ditemukan. Mungkin yang ada hanya: aku pindah, karena kalau tidak pindah, aku akan mati di tempat.
Dan kalau dipikir-pikir, itu tidak lebih rendah nilainya dari “penemuan”. Bertahan itu juga bentuk keberanian. Melempar dadu lagi di meja yang berbeda, padahal kau tahu peluangnya mungkin sama saja, itu tetap keberanian.
Saya tidak tahu apakah ada kebenaran di luar sana yang menunggu ditemukan.
Yang saya tahu, setiap kali saya berpindah meja, yang saya tinggalkan bukan Tuhan. Yang saya tinggalkan adalah versi diri saya yang tidak sanggup lagi duduk di sana.
Jadi kalau suatu hari kau dengar orang lain bilang, “Aku akhirnya menemukan ketenangan,”
jangan buru-buru percaya.
Tanyakan saja: “Meja apa yang kau duduki malam ini?”
Karena besok, bisa jadi aku sudah pindah lagi.
Bukan karena aku dekat dengan kebenaran.
Tapi karena aku masih ingin tetap hidup untuk bertanya.
Keraguan Bukan Pembebasan, Hanya Perubahan Taruhan
Orang mengira kalau kau meragukan Tuhan, kau berhenti berjudi. Itu bohong.
Saat saya bilang “saya tidak tahu apakah Tuhan ada”, yang sebenarnya terjadi adalah saya memindahkan dadu dari meja “Tuhan Personal” ke meja “Kebetulan dan Statistik”. Saya tetap bertaruh bahwa pola akan muncul. Bahwa kalau saya cukup jujur, cukup kejam pada diri saya sendiri, hidup akan membalas dengan sesuatu yang bisa disebut “masuk akal”.
Bedanya, di meja ini tidak ada yang bisa saya peluk kalau kalah. Tidak ada nama untuk saya bisiki: “Kalau ini salah, setidaknya saya pernah mencoba percaya padamu”. Di sini hanya ada keheningan. Dan keheningan itu mahal. Ia menuntut keberanian yang saya tidak selalu punya.
Jadi saya kembali. Bukan karena saya yakin. Tapi karena saya lelah jadi orang yang selalu berdiri di tepi jurang dengan tangan kosong.
Sebenarnya, keraguan memberi ilusi kebebasan karena ia membongkar meja. Tapi ia tidak pernah membongkar kebutuhanmu untuk duduk di meja lain.
Orang bilang, “Aku sudah lepas dari dogma.” Padahal yang terjadi, ia cuma mengganti dogma lama dengan dogma baru yang namanya “rasionalitas”. Bedanya, dogma baru ini lebih kejam. Ia tidak menjanjikan pengampunan. Kalau kau kalah, ia bilang: “Itu datanya. Salahmu sendiri.”
Di meja “Tuhan” kau bisa menangis dan menyalahkan Dia.
Di meja “Kebetulan dan Statistik” kau hanya bisa menatap angka dan menyalahkan dirimu sendiri.
Saya pernah betah di sana. Rasanya jujur. Bersih. Tidak ada dongeng, tidak ada janji kosong. Hanya sebab dan akibat. Tapi kejujuran itu dingin. Ia tidak memelukmu pukul 3 pagi ketika semua logika bilang: kau sendiri yang membuat hidupmu berantakan. Ia hanya mengangguk, seolah berkata, “Ya, memang begitu.”
Dan manusia tidak bisa hidup lama hanya dengan “memang begitu”. Kita butuh satu kalimat lagi. Satu kalimat yang membuat kita bisa bangun besok pagi tanpa merasa konyol karena masih mencoba.
Jadi saya kembali ke meja lama. Bukan karena saya menemukan bukti baru. Tapi karena saya menyadari: tidak ada meja yang bebas dari perjudian. Bahkan meja “tidak percaya apa-apa” pun adalah taruhan. Taruhan bahwa kehampaan lebih bisa ditanggung daripada harapan palsu.
Bedanya, di meja lama saya boleh menyebut nama.
Boleh bilang, “Kalau saya salah, setidaknya aku pernah berharap padamu.”
Dan kadang, cuma itu yang dibutuhkan agar tangan tidak gemetar lagi saat melempar dadu.
Keraguan tidak membebaskanku. Ia hanya membuatku sadar bahwa setiap meja punya harga.
Meja “Tuhan” menagih kepatuhan.
Meja “Statistik” menagih kejujuran yang kejam.
Meja “Semesta” menagih optimisme yang kau pura-purakan.
Saya tidak tahu meja mana yang benar.
Yang saya tahu, malam ini saya memilih meja yang membuat saya tidak ingin muntah saat melihat kartu di tangan saya sendiri.
Dan mungkin itu sudah cukup disebut hidup.
Fungsi Nama, Bukan Kebenaran Nama
Mungkin masalahnya bukan apakah nama itu benar. Mungkin masalahnya adalah kita butuh fungsi yang dijalankan nama itu.
Nama “Tuhan”, “Semesta”, “Karma”, semuanya melakukan hal yang sama: mereka mengubah kekacauan menjadi narasi. Mereka mengubah “kenapa aku?” menjadi “untuk apa aku?”.
Dan otak manusia tidak didesain untuk hidup lama dalam pertanyaan “kenapa aku?” tanpa jawaban. Kita bisa gila di sana.
Saya ragu. Sangat ragu. Tapi saya juga tahu, ketika saya sakit dan dokter hanya mengangkat bahu, saya mendapati diri saya berbisik pada sesuatu yang saya tidak yakin mendengar. Saya menyebutnya “Tuhan” saat itu. Bukan karena keyakinan, tapi karena tidak ada kata lain yang cukup besar untuk menampung rasa takut saya.
Itu yang membuat saya jujur: keraguan tidak menghapus kebutuhan. Ia hanya menelanjanginya.
Jadi, Kepada Siapa Kita Melempar Dadu?
Kalau kau memaksa saya menjawab, saya akan bilang: kita melemparnya kepada versi dunia yang paling bisa kita tanggung kalau salah.
Orang religius melemparnya kepada Tuhan yang mengerti.
Orang spiritual melemparnya kepada Semesta yang seimbang.
Orang rasional melemparnya kepada Sebab-Akibat yang bisa dilacak.
Saya? Saya sering melemparnya kepada diri saya sendiri lima tahun dari sekarang. Saya bertaruh bahwa orang-orang itu akan mengerti kenapa saya memilih jalan ini hari ini.
Semua itu tetap judi. Tidak ada yang punya meja asli. Tidak ada yang punya dealer yang bisa kau tuntut kalau curang.
Tapi mungkin itu juga yang membuat hidup bisa dijalani. Karena kalau kita tahu pasti hasilnya, kita tidak perlu hidup. Kita cukup membaca hasil akhirnya.
Jadi ya, sampai detik ini saya masih meragukan eksistensi Tuhan. Tapi saya juga tidak punya cukup kecongkakan untuk bilang bahwa semua meja ini palsu, dan semua orang yang duduk di sana bodoh.
Saya hanya tahu satu hal: selama kita masih manusia, kita akan terus mengambil dadu itu. Mengguncangnya di tangan. Dan berbisik pada sesuatu, siapa pun dia, agar kali ini jatuh di sisi yang bisa kita sebut “bermakna”.
Mau kau sebut itu doa, harapan, atau delusi yang fungsional bagi saya itu tetap sama: satu-satunya cara agar malam tidak terasa terlalu panjang.




