Menyelami kompleksitas Many worlds interpretation (MWI)

Ditengah-tengah masyarakat Indonesia yang masih terus menerus dibanjiri oleh banyak masalah masalah logika Mistika turun temurun. disisi dunia lain justru lahir sebuah gagasan menggemparkan, pikiran itu tidak hadir dalam bentuk senjata, juga tidak muncul sebagai akibat dari dekadensi intektual masyarakat. teori ini hadir untuk menantang publik bahwa—ada kompleksitas abstrak yang berpotensi melampaui cerita klasik (Mystical Logic) masyarakat—yang mana itu justru jauh Lebih kredibel serta berstandar pada prinsip prinsip logis ilmu eksakta.

Teori ini kemudian akan disebut sebagai Many worlds interpretation (MWI). Sebuah cara pandang rekonstruktif yang bertujuan untuk mencari himpunan himpunan sistematis dari ketergantungan manusia pada (single dimension).
MWI pertamakali diusulkan oleh seorang ilmuwan, Fisikawan— bernama Hugh Everett (III) di tahun (1957) dalam disertasinya yang berjudul (The theory of the universal wafve function) dibawah bimbingan Wheeler sebagai bentuk upaya Everett dalam menyelesaikan masalah pengukuran (measurement problem) yang sudah lama menjadi bakteri mendasar dalam quantum mechanics (QM theory).

Apa itu MWI?

Many worlds interpretation berangkat dari pemahaman interpretasi kuantum sebagai usaha untuk mengambil deretan persamaan persamaan kuantum secara sungguh-sungguh. MWI sendiri tidak menambahkan ekstensi gelombang kolaps secara misterius—sehingga berbagai skala evolusi dari paradigma alam semesta kita dapat mengikuti prinsip hukum schrodinger secara utuh, deterministik, serta kontinu.
Sementara sesuatu yang kerap disebut sebagai hasil pengukuran sebenarnya bukanlah satu satunya kejadian (tunggal) yang dipilih oleh alam, melainkan itu adalah percabangan realitas kedalam berbagai macam cabang-cabang yang mana masing masing merealisasikan salah satu kemungkinan yang dengan kerangka matematis sudah terkandung dalam fungsi suporposisi kuantum.
Pada persoalan ini, fungsi gelombang tidak hanya sekadar dianggap sebagai sebuah alat hitung atau sekadar representasi dari pengetahuan kolektif manusia melainkan sesuatu yang mencerminkan struktur fisik kita pada dimensi skala yang paling fundamental. Maka ketika sebuah mekanisme kuantum berinteraksi dengan alat ukur serta lingkungan sekitarnya, terjadi proses (decoherence) yang justru membuat komponen komponen suporposisi kehilangan (the ability) untuk berinterferensi secara efektif.
Sehingga cabang cabang itu terpisah menjadi kumpulan poin yang praktis. Meskipun secara fundamental tetap menjadi bagian dari satu fungsi gelombang universal yang sama; dari sudut pandang seorang pengamat yang berada disalah satu cabang.

(A0). Interpretasi lanjutan MWI

 Dalam MWI, dunia tampak seolah memilih satu hasil saja, karena kesadaran, ingatan, dan juga jejak fisik pengamat sangatlah bercabang bersamaan dengan sistem yang diukur nya. Sehingga setiap pengamat (observer) hanya mengalami satu fenomena yang konsisten terhadap ruang realitas nya sendiri. Dan inilah sebabnya, mengapa MWI selalu identik dengan pengalaman subjektif yang selalu tampak klasik dan tunggal walaupun landasan matematis nya bersifat suporposisional.
Jika sebuah partikel berada dalam superposisi dua (probabilitas), misalnya “di sini” dan “di sana”, maka menurut kerangka MWI ini bukan berarti alam menunggu untuk memutuskan salah satu pilihan yang pasti. Akan tetapi kedua kemungkinan tersebut selalu tetap eksis, lalu alam semesta dengan bersama seluruh rangkaian kausalitas nya terpisah menjadi cabang cabang yang masing-masingnya mengandung versi dunia yang punya tingkat kesesuaian dengan dunia tersebut.
Ini Karena percabangan ini disertai oleh prinsip (decoherence) yang sangat cepat pada sistem makroskopik. Disini kita tidak menyelesaikan sebuah campuran aneh antara macam hasil hasil berbeda dalam kehidupan sehari hari, tetapi ini adalah bagian dari interpretasi yang justru lebih melihat potensi (kemungkinan lebih luas).

(A1). MWI secara filosofis

Kemungkinan filosofis yang seringkali dikaitkan dengan MWI adalah bahwa dia menyingkirkan segala macam kebutuhan akan Postulat yang sama sekali tidak didefinisikan oleh deretan persamaan dasar, sehingga secara konseptual dia lebih tampak bersih dan lebih ekonomis dalam artian tertentu. MWI tidak menambahkan dinamika khusus diluar daripada formalismenya sendiri, namun pada saat yang sama ia justru menuntut sebuah kompromi ontologis yang sangat besar; yakni dengan menerima apa yang kita sebuah “dunia” bukanlah satu satunya realitas tunggal yang kita pahami. Dunia dalam MWI paradox bukanlah satu perangkat cabang realitas dari struktur kuantum yang jauh lebih banyak dan berpotensi jumlahnya lebih banyak. Pada titik ini, MWI tidak hanya berposisi sebagai teori fisika saja, tetapi bisa bertransformasi menjadi pertanyaan metafisika tentang apa yang benar benar ada.
Karena MWI mengatakan bahwa probabilitas kuantum bukanlah sekadar prasyarat prasyarat abstrak yang ada, melainkan ia bisa menjadi realisasi yang nyata di cabang yang berbeda. Disini, konsep tentang kemungkinan, kenyataan, dan identitas personal (personal identity) justru tampak jauh lebih rumit dari pada intuisi kolektif kita sehari hari.

(A2). Abstraksi lanjutan

Probabilitas probabilitas dalam MWI juga sebetulnya menarik, karena apabila seluruh hasil terjadi—mengapa kita justru masih berbicara tentang yang namanya (peluang?). Dan disinilah aturan born (born rule) dipahami sebagai ukuran bobot cabang. Bukan yang berpegang sebagai peluang satu satunya terhadap interval hasil. Sehingga probabilitas tetap dianggap memiliki peran peran normatif serta prediktif yang meskipun semua output nya terealisasi pada level cabang yang bervariasi.
Bila kita tarik dalam segmen sebelumnya, interpretasi filosofis cenderung melihat MWI sebagai titik-titik yang memikat karena MWI cenderung menghindari ambiguitas tentang kapan dan mengapa itu terjadi. Akan tetapi juga sangat menantang karena realitas justru secara intuitif hanya menghasilkan satu definisi untuk setiap pengukuran realitas saja. Padahal dalam—lanskap MWI itu hanya fakta lokal yang rigid bagi satu pengamat (subjective). Dia tidak merepresentasikan fakta global bagi seluruh alarm semesta kita, lebih jauh lagi bahwa MWI justru mendorong kita untuk memahami diri kita sendiri dari dalam. Sebab bilamana setiap interaksi kuantum yang relevan ikut bercabang, maka secata teoretis akan banyak versi diri yang berasal dalam keadaan awal yang sama namun menempuh jalur pengalaman yang sangat berbeda.
Meskipun cabang cabang itu tidak lagi dianggap berkomunikasi, masalah pertanyaan ini kemudian menimbulkan dilema. Apakah realitas asli sungguh dinyatakan pada kesinambungan fisik, memori, kesadaran, atau oleh sesuatu yang lebih fundamental.

(A3). MWI bagi sains

Dalam perspektif sains sendiri, perdebatan tentang MWI tetap menghasilkan gejolak antar para ilmuwan. Karena ada begitu banyak interpretasi kuantum lain yang memiliki properti empiris yang sama. Sehingga letak masalah utamanya tidak berasal dari data yang langsung membedakannya, melainkan pada penjelasan konseptual mana yang paling koheren dengan fakta (real).
Sebab itu, MWI sering dianggap elegan oleh para pemujanya akan tetapi paling egois yang oleh para oposisi nya. Karena dia mengganti satu dunia kolaps menjadi dunia yang bercabang cabang. Dalam pilihan keduanya saling bergantung tentang apakah orang lebih merasa keberatan dengan mekanik (collapse) yang tampak ad hoc dan atau konsep multiverse yang sangat luas.

(A4). Konklusi paradigmatik

Pada akhirnya MWI memberi kita cara pandang yang sangat dalam bahwa alam semesta tidak selalu memiliki kriteria interpretasi tunggal dimana seluruh tempat dipilih secara satu persatu, melainkan ini bagi saya mirip seperti jaringan kemungkinan yang diizinkan oleh hukum fisika dan kita sebagai pengamat mungkin saja hanya hidup disalah satu lintasan cabang-cabangnya. Padahal dibalik struktur realitas yang ditangkap oleh kesadaran kolektif manusia, bisa saja ada probabilitas pasti dari elemen realitas yang lebih pasti dan kaya.
Seorang Front-end Programmer, Free analyst of modern theoretical physics, penempuh studi independent Cyber security (ethical hacking), penulis & AWD FL-Studio remixer