Anak-anak saya di hari ini dan mungkin ke depannya dapat menjelaskan bagaimana proses alam semesta terbentuk, hujan turun, nama-nama Nabi dan Rasul dari Youtube sebelum pernah menyelesaikan satu buku. Mereka mampu mengenali perang dunia dari video berdurasi sepuluh menit, dapat belajar filsafat dari podcast, memahami sejarah dari infografik, lalu bertanya kepada kecerdasan buatan saat menemukan sesuatu yang tidak atau kurang dipahaminya. Jika ukuran kecerdasan adalah jumlah buku yang dibaca, generasi macam ini mungkin akan mudah dianggap sedang mengalami kemunduran. Tetapi ukuran itu barangkali terlalu sederhana.
Kecerdasan manusia tidak pernah selesai dalam satu bentuk. Ia akan terus bergerak mengikuti perubahan cara manusia menyimpan, mengakses, mengolah, dan menyebarkan pengetahuan. Saat aksara belum menjadi teknologi yang luas, manusia bergantung pada sebuah “ingatan.” Pengetahuan wajib hidup dalam kepala manusia karena pada saat itu belum memiliki tempat penyimpanan lain yang praktis. Walhasil, hafalan bukan sekadar metode belajar—ia merupakan kebutuhan epistemologis. Orang yang mampu mengingat silsilah, hukum, kisah, pengetahuan keagamaan, atau sejarah komunitas memiliki keunggulannya sendiri.
Lalu tulisan datang dan mengubah keadaan. Plato, melalui dialog Phaedrus, merekam kekhawatiran Socrates akan “tulisan.” Dalam kisahnya, tulisan dipersoalkan karena dianggap dapat membuat manusia mengandalkan tanda-tanda eksternal dan melemahkan proses ingatan sebagai anugerah yang diberikan Tuhan. Tentu, hal ini menuntut paradoks. Gagasan tentang bahaya tulisan sendiri sampai kepada kita melalui sebuah tulisan. Kekhawatiran terhadap teknologi baru ternyata sering memakai teknologi baru itu sendiri untuk diwariskan. Pola yang mungkin akan terus berulang.
Ketika teknologi cetak berkembang, buku mengubah skala penyebaran pengetahuan. Elizabeth Eisenstein dalam The Printing Press as an Agent of Change menunjukkan betapa pentingnya teknologi cetak dalam transformasi kehidupan intelektual Eropa kala itu. Pengetahuan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada ingatan individu atau reproduksi manuskrip yang terbatas. Buku memungkinkan gagasan bertahan, dibandingkan, dikritik, disalin, dan disebarkan dalam skala yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Namun setiap perubahan medium juga memunculkan kecemasan massal. Hari ini kecemasan itu diarahkan “dunia digital.” Buku cetak yang dahulu merupakan teknologi revolusioner saat ini mungkin bagi sebagian orang terasa seperti perangkat konvensional. Generasi seperti anak-anak saya yang tumbuh dengan gawai, mesin pencari, video, podcast, gim, visualisasi data, hingga kecerdasan buatan memiliki lingkungan kognitif yang berbeda. Mereka tidak selalu belajar dengan duduk berjam-jam membaca 300 halaman. Mereka berpindah dari satu medium ke medium lain, menggabungkan teks, suara, gambar, video, simulasi, dan dialog interaktif.
Lantas, apakah itu berarti kecerdasan sedang menurun? Jawabannya: belum tentu. Bahkan pertanyaan tersebut mengandung asumsi yang perlu diperiksa bahwa seolah-olah kecerdasan memiliki bentuk baku dan “buku” merupakan ukuran alaminya.
Marshall McLuhan, dalam Understanding Media: The Extensions of Man menyatakan bahwa medium bukan sekadar wadah netral bagi pesan. Medium ikut membentuk cara manusia merasakan dan mengorganisasi pengalaman. Perubahan medium berarti perubahan lingkungan berpikir. Ketika medium berubah, kemampuan tertentu dapat melemah sementara kemampuan lain berkembang.
Manusia yang hidup dalam budaya lisan harus memiliki ingatan kuat. Manusia yang hidup dalam budaya cetak mengembangkan kemampuan membaca secara linear, menyusun argumen panjang, dan mempertahankan perhatian terhadap teks. Manusia di era digital mungkin berkembang dalam kemampuan navigasi informasi, pencarian cepat, pemrosesan multimodal, dan perpindahan antarsumber. Masalahnya bukan siapa yang lebih cerdas. Masalahnya adalah kecerdasan macam apa yang sedang dibentuk oleh setiap zaman.
Saya ingat pada salah satu buku Nicholas Carr yang berjudul The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2010). Carr memperlihatkan kekhawatiran bahwa lingkungan digital yang penuh tautan, notifikasi, dan perpindahan perhatian dapat mendorong pembacaan yang dangkal dan terfragmentasi. Kritik ini tidak berarti internet buruk dan buku selalu baik. Yang dipersoalkan adalah pola perhatian yang terbentuk ketika pikiran terus dilatih untuk berpindah.
Buku mempunyai kelebihan justru karena ia lambat. Mungkin buku memaksa pembaca tinggal lebih lama bersama sebuah persoalan. Argumen tidak selesai dalam tiga—hingga enam puluh detik. Tokoh tidak dapat dipahami hanya melalui satu kutipan. Gagasan tidak selalu dapat diperas menjadi lima poin. Buku yang serius meminta konsentrasi, kesabaran, dan kemampuan mengikuti kompleksitas.
Agaknya aktivitas berpikir merupakan sesuatu yang berbeda dari sekadar memperoleh informasi. Berpikir membutuhkan jarak dari arus aktivitas dan kemampuan untuk memeriksa apa yang selama ini dianggap benar. Dalam pengertian ini, membaca buku masih penting karena menyediakan salah satu ruang untuk mempertahankan perhatian yang panjang. Hanya saja, jangan menjadikan buku sebagai benda suci.
Bourdieu mungkin akan bilang bahwa praktik budaya juga dapat menjadi penanda status sosial. Membaca bisa menjadi aktivitas intelektual, tetapi di sisi lain membaca buku bisa pula berubah menjadi simbol prestise. Rak buku yang penuh tidak otomatis menghasilkan pikiran yang dalam. Seseorang dapat membaca banyak buku dan tetap malas berpikir. Oleh karenanya, ukuran membaca karena itu tidak semestinya berhenti pada jumlah halaman.
Maka perlu dibedakan membaca untuk memperoleh informasi dengan membaca untuk memperoleh pemahaman. Perbedaan ini penting di zaman saat informasi tersedia hampir tanpa batas. Masalah manusia sekarang bukan kekurangan informasi. Justru sebaliknya: informasi terlalu mudah diperoleh sehingga kemampuan memilah, memilih, menghubungkan, menguji, dan menafsirkan menjadi semakin menentukan.
Tradisi Islam telah lama mengenal persoalan serupa. Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din pernah menyatakan bahaya ilmu yang berhenti pada pengetahuan verbal tanpa perubahan dalam cara hidup dan cara bertindak. Pengetahuan yang hanya bertambah di kepala belum tentu menghasilkan “kebijaksanaan.” Maka menganggap menurunnya budaya baca buku sebagai bukti otomatis menurunnya kecerdasan merupakan bentuk amnesia historis. Manusia pernah mengandalkan hafalan, kemudian manuskrip, lalu buku cetak, dan sekarang berhadapan dengan jaringan digital sekaligus kecerdasan buatan. Setiap medium menggeser distribusi kemampuan kognitif.
Yang perlu dipersoalkan bukan apakah buku masih penting. Pertanyaan yang lebih penting adalah: kemampuan manusia apa yang sedang kita tukarkan saat berpindah dari satu medium ke medium lain? Jika gawai membuat pencarian informasi semakin cepat, apa yang terjadi pada kesanggupan untuk berkonsentrasi? Jika kecerdasan buatan membuat jawaban semakin mudah diperoleh, apa yang terjadi pada kemampuan merumuskan pertanyaan? Jika video membuat pengetahuan semakin mudah dipahami, apakah manusia masih sanggup bertahan menghadapi sesuatu yang sulit dipahami?
Bagaimanapun buku tetap penting bukan karena zaman harus kembali kepadanya. Buku penting karena beberapa kemampuan manusia mungkin membutuhkan kelambatan untuk tetap hidup. Kita tidak perlu memuja buku. Kita hanya perlu memastikan bahwa ketika teknologi membuat pengetahuan semakin mudah diperoleh, kemampuan berpikir tidak ikut menjadi semakin murah.





