Aphateia: Mindfulness dan Godaan Apatis

Belakangan ini muncul keributan mengenai “mindfulness” setelah Maudy Ayunda berbicara tentang cara menghadapi derasnya “bad news”. Video itu sebenarnya telah diunggah pada Agustus 2026, tetapi belakangan kembali ramai diperbincangkan. Maudy bercerita mengenai pengalamannya yang kewalahan oleh arus berita buruk—persoalan politik, bencana alam, kesulitan ekonomi, dan berbagai kabar lain yang datang hampir tanpa jeda. Salah satu cara yang ia tawarkan ialah mengatur kembali asupan informasi, mengambil jarak, dan tidak terus-menerus mengekspos diri pada berita yang membuat batin kewalahan.

Tidak ada yang aneh dengan gagasan itu, apalagi di zaman ini. Sebab, manusia memang memiliki kapasitas psikologis yang terbatas. Kita tidak mungkin menyerap seluruh penderitaan yang setiap hari ditumpahruahkan ke arena arus informasi dan memenuhi isi batok kepala. Entah melalui gawai, laptop, obrolan kantor, teman kolega, istri yang mengeluh tentang “in this economy”, gosip tetangga, hingga keluhan yang berpindah dari mulut ke mulut. Lantas kita masih berharap tubuh dan jiwa tetap baik-baik saja?

Mengambil jeda dengan konsep “mindfulness” benar bisa jadi semacam “solusi”. Namun, hal ini menjadi soal ketika jeda itu berhenti sebagai cara mengatur diri dan berubah menjadi cara mengatur kenyataan: apa yang boleh masuk ke kesadaran dan apa yang harus disingkirkan agar ketenangan pribadi tetap utuh. Ada perbedaan signifikan antara “mengambil jarak dari penderitaan” dan “mengambil jarak dari realitas yang melahirkan penderitaan”.

Keduanya tampak serupa, tetapi bukankah secara moral berbeda? Perdebatan ini menarik bukan karena mindfulness adalah ajaran yang keliru, melainkan karena ia membuka persoalan yang lebih tua daripada media sosial dan psikologi populer: bagaimana manusia menjaga ketenangan batin tanpa menjadikan ketenangan itu sebagai alasan untuk tidak berhadapan dengan dunia.

Di sini saya akan mencoba mulai bicara mengenai “apatis”. Kita kerap mendengar kata ini dalam percakapan sehari-hari, biasanya dengan konotasi negatif: bodo amat, sekarepmu, kumaha maneh. Seseorang yang antipati akan kebijakan naiknya bahan pokok, maraknya perampasan lahan, pembakaran hutan, semengerikannya “maling” di negeri ini, kesemrawutan pengelolaan kebijakan, dan tak mau memberikan suara dapat disebut apatis secara politik. Orang semacam ini dianggap tidak peduli terhadap kehidupan publik. Mahasiswa yang acuh terhadap persoalan kampus juga disebut “apatis”.

Tetapi, jika ditarik jauh ke belakang, kata “apatis” memiliki sejarah panjang, bahkan mempunyai hubungan dengan “apatheia”, sebuah konsep penting dalam Stoisisme yang berkembang sejak Zeno dari Citium pada abad ke-3 sebelum Masehi. Paul Tillich menerjemahkannya sebagai “being without feelings towards the vital drive of life”, bukan ketiadaan perasaan, melainkan kemampuan untuk tidak diperbudak oleh gejolak perasaan. Mengambil jarak dan titik fokusnya adalah “diri”.

Epictetus mengatakan bahwa ada hal-hal yang berada dalam kuasa kita dan ada yang tidak. Penilaian, kehendak, dan tindakan kita termasuk wilayah pertama; banyak peristiwa dunia berada di luar wilayah itu. Kebijaksanaan, dengan demikian, bukan kemampuan mengendalikan dunia, melainkan kemampuan menjaga agar dunia tidak mengambil alih kendali atas diri kita.

Apatheia akhirnya bukan seni untuk tidak “merasakan”. Ia adalah seni untuk tidak dikuasai oleh apa yang dirasakan. Seseorang dapat melihat kebakaran hutan lalu marah, menyaksikan ketidakadilan lantas sedih, mengetahui penderitaan orang lain dan terguncang, yang dituntut bukan mematikan kepekaan atas semua itu, melainkan memastikan bahwa kemarahan tidak berubah menjadi kebencian yang membutakan dan kesedihan tidak berubah menjadi kelumpuhan.

Karena itu, kritik saya terhadap ajakan mengambil jarak dari berita buruk tidak berarti setiap orang harus terus-menerus mengonsumsi berita buruk sampai kesehatan mentalnya remuk. Pertanyaannya: lantas untuk apa jarak dari berita buruk itu dibuat? Apakah agar kita dapat kembali melihat kenyataan dengan lebih jernih, atau agar kenyataan tidak lagi mengganggu ketenangan pribadi kita dan melakukan hidup dengan gaya slow living?

Perbedaan ini betapapun bisa dipahami dari dua hal yang berbeda antara “detachment” dan “disengagement”. Yang pertama mengambil jarak agar dapat melihat, yang kedua mengambil jarak agar tidak perlu melihat.

Maudy pun mengakui bahwa kemampuan untuk menjauh dari berita merupakan sebuah “privilese” karena tidak semua orang mempunyai pilihan itu, terutama ketika persoalan yang diberitakan berdampak langsung terhadap kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitas mereka. Ia juga mengklarifikasi bahwa mindfulness tidak dimaksudkan sebagai alasan untuk tidak peduli terhadap realitas sosial.

Maksud saya, tidak semua penderitaan datang sebagai berita. Bagi sebagian orang, bencana mungkin adalah headline utama, namun bagi yang lain, ia adalah rumah yang terbakar, rumah yang tergusur, wilayah yang terperangkap asap pekat. Kebakaran hutan bagi sebagian orang merupakan gambar dari drone, bagi yang lain hal itu merupakan udara yang dihirup setiap harinya. Kenaikan harga, kebijakan ekonomi pemerintah bagi sebagian orang adalah berita ekonomi yang bisa sangat berpengaruh pada harga saham yang sangat berkaitan dengan loss and profit, tapi bagi yang lain ia menentukan apakah malam ini mereka bisa makan atau tidak.

Maka, “bad news” sebenarnya adalah istilah dari sudut pandang orang yang menerima kenyataan melalui perantara media sosial. Bagi orang yang berada di dalam peristiwa tersebut, ia bukan news. Ia adalah realitas kehidupan itu sendiri.

Apatheia memberi kita ukuran yang lebih tua untuk membaca persoalan itu. Dalam mistisme Islam ada yang disebut hawa al-nafs, hawa nafsu: hasrat yang diperlukan bagi kehidupan tetapi dapat menjadi destruktif ketika manusia terserap sepenuhnya ke dalam pusaran itu. Hasrat sebenarnya bukan musuh, yang berbahaya adalah ketika manusia kehilangan jarak terhadap apa yang dihasratkannya.

Plato menggambarkan jiwa sebagai seorang kusir yang mengendalikan dua kuda dengan kecenderungan berbeda. Metafora bahwa manusia bukan makhluk tanpa dorongan, melainkan makhluk yang harus belajar mengarahkan dorongan. Walhasil, Seneca bilang semakin banyak hal yang kita anggap mutlak diperlukan, semakin banyak pula yang dapat menguasai kita.

Masyarakat konsumsi bekerja dengan logika yang berlawanan. Kita tidak hanya membeli barang untuk memenuhi kebutuhan, kita terus diproduksi sebagai makhluk yang membutuhkan. Bahkan ketenangan kini dapat menjadi sebuah komoditas: kita bekerja terlalu keras lalu membeli liburan, terlalu lama menatap gawai lalu berlari ke ruang meditasi, terlalu cemas menghadapi dunia lalu belajar teknik agar kecemasan tidak mengganggu produktivitas dengan konsep-konsep “Stoik”. atau “Zuhud” dalam Islam, atau apapun laku-laku pengalihan atas semua sifat keduniawian yang banal.

Tidak berlebihan bila kesehatan mental berisiko berubah menjadi pelumas bagi mesin kehidupan yang bermasalah. Mesinnya tidak dipertanyakan; manusianya yang diminta belajar menyesuaikan diri.

Itulah sebabnya “mindfulness” perlu dicurigai saat ia direduksi menjadi teknik agar seseorang merasa nyaman. Ketenangan yang hanya berfungsi menghilangkan gangguan akan menghasilkan manusia yang tenang tetapi belum tentu peka.

Sebaliknya, ketenangan yang membuat seseorang mampu melihat lebih jernih, menilai lebih waras, dan bertindak tanpa dikuasai amarah merupakan bentuk disiplin batin yang jauh lebih dekat dengan semangat “apatheia”.

Ibn Ataillah al-Sakandari, dalam Hikam bahkan melihat penderitaan sebagai semacam celah bagi pendalaman pengenalan manusia terhadap kehidupan dan Tuhan. Penderitaan tidak perlu dicari, ia akan selalu ada, tetapi ia juga tidak selalu harus buru-buru disingkirkan dari kesadaran. Ada pengalaman yang hanya dapat dipahami setelah manusia bersedia tinggal sebentar di dalam ketidaknyamanan.

Karena itu, mengendalikan penderitaan tidak sama dengan menghilangkan penderitaan dari pandangan. Seorang sufi tidak menjadi lebih spiritual karena berhasil berpura-pura bahwa dunia tidak sedang menderita, sebagaimana seorang Stoik tidak menjadi lebih bijaksana karena berhasil membuat dirinya kebal terhadap semua penderitaan dan kabar buruk. Yang dikendalikan adalah diri sendiri, bukan kenyataan.

Bisa saja mindfulness mungkin memang diperlukan. Kita perlu jeda agar tidak hancur lebur oleh deras informasi, tetapi jeda itu seharusnya mengembalikan kita kepada dunia dengan perhatian yang lebih tajam. Kita perlu cukup tenang untuk tidak tenggelam dalam penderitaan, hingga akhirnya cukup peka untuk tidak terbiasa dengan “penderitaan”.

Sebab, hidup tidak selalu membutuhkan kita untuk merasa baik. Ada keadaan yang memang semestinya membuat kita marah, berduka, terganggu, bahkan gelisah. Lebih lagi menggerakkan dan bergerak melakukan sesuatu sekecil apapun. Ketidaknyamanan tidak selalu merupakan gangguan yang harus disingkirkan, kadang ia adalah tanda bahwa kesadaran moral kita masih bekerja.

Barangkali karena itu, persoalannya bukan apakah kita perlu mindfulness, melainkan mindfulness macam apa yang kita kehendaki? Apakah ia yang membuat kita lebih hadir terhadap kenyataan, dan membantu hal yang memang pada kenyataannya harus dibantu? Mengubah sesuatu yang harus diubah? Menyuarakan sesuatu yang harus disuarakan? Ataukah hanya agar kita lebih nyaman ketika menghindarinya?

Apatheia, Stoa, Zuhud, dan berbagai laku spiritual yang mengajarkan penguasaan diri berbicara tentang hal yang sama dengan bahasa berbeda: manusia perlu mengambil jarak dari dirinya agar dapat melihat dunia dengan lebih jernih.

Bukan berhenti melihat dunia agar kita tetap tenang. Melainkan menjadi cukup tenang agar kita sanggup terus melihat dunia dan berhadapan dengan banalitas dunia.

Manusia yang benar-benar menguasai dirinya bukanlah manusia yang tidak lagi terganggu oleh penderitaan. Ia adalah manusia yang, meskipun terganggu, tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh gangguan itu. Bahkan ia akan mampu lebih “peka” dan bisa berbuat  sesuatu sekecil apa pun pada penderitaan itu.

Ia tetap melihat.
Tetap merasa.
Tetap berpikir.
Dan, sejauh kemampuannya, tetap hadir. Dan selalu hadir.