SURAH AD-DUHA: MISTERI  DI BALIK JEDA WAHYU, LUKA KENABIAN, DAN KASIH SAYANG TUHAN

Ada sesuatu yang menarik sekaligus mengusik di balik Surah Ad-Duha serta mungkin itulah pula yang melatarbelakangi surah ini sebagai tugas UTS saya. Sebuah surah pendek, hanya sebelas ayat tetapi menyimpan kisah tentang kesunyian, tuduhan, harapan, kenangan masa lalu, dan tanggung jawab sosial. Surah ini bukan sekadar rangkaian kalimat penghibur bagi Nabi Muhammad. Di balik sumpah tentang waktu duha dan malam sunyi, terdapat persoalan mendasar mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, terutama ketika pertolongan yang diharapkan seolah-olah belum juga datang.

Bayangkan keadaan Nabi Muhammad ketika wahyu tidak turun sebagaimana sebelumnya. Horizon pengalaman kenabian merefleksikan jika wahyu bukan sekadar informasi dari langit melainkan sumber petunjuk sekaligus peneguhan dan legitimasi atas misi kerasulan. Ketika kedatangannya terjeda, muncul ruang kosong yang dapat dipenuhi oleh kecemasan, dugaan, bahkan ejekan dari orang-orang di sekelilingnya. Al-Wahidi menyatakan tinjauan historis sebab turun surah ini dimana seorang perempuan Quraisy melontarkan ucapan bahwa setan Nabi telah meninggalkannya. Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa jeda wahyu bukan hanya pengalaman batin, melainkan juga peristiwa sosial yang membuka peluang bagi lawan-lawan Nabi untuk melontarkan penghinaan.

Tuhan yang sebelumnya menyampaikan wahyu kini seolah-olah diam, sementara manusia sibuk menafsirkan diam itu. Pihak yang menentang kenabian melihat jeda sebagai kesempatan untuk menyerang. Mereka mengubah sesuatu yang belum mereka pahami menjadi bahan ejekan. Keheningan diperlakukan seolah-olah bukti kekalahan sedangkan tertundanya wahyu dianggap tanda hubungan Nabi dengan Tuhan telah usai kontrak. 

Asbab an-nuzul membantu kita memahami konteks, kendati belum dengan sendirinya menjelaskan seluruh makna surah. Historikal tersebut dapat digunakan untuk membaca suasana yang melatarbelakangi turunnya surah, sementara rincian sejarahnya tetap perlu dibedakan dari pesan umum ayat-ayatnya.

PESAN PEMBUKA BERANJAK DARI AYAT SATU HINGGA LIMA

Surah Ad-Duha kemudian membuka melalui sumpah: “Demi waktu duha, dan demi malam apabila telah sunyi.” Dua suasana yang berbeda ditempatkan berdampingan. Menarik. Duha menghadirkan gambaran terang sedangkan malam menghadirkan suasana teduh, gelap, atau hening. Kalam Syaikhuna yang sedikit saya ingat bahwa perbedaan keduanya bukan sekadar permainan gambaran alam. Keduanya membangun suasana yang membuat kita memikirkan kembali hubungan antara terang dan gelap, antara kehadiran dan kesunyian, serta antara apa yang terlihat oleh manusia dan apa yang sesungguhnya sedang berlangsung.

Jami al-Bayan karya al-Tabari mencatat adanya perbedaan pendapat mengenai makna duha. Sebagian memahaminya sebagai waktu tertentu pada awal siang, ketika matahari mulai meninggi, sedangkan sebagian lainnya memaknainya sebagai siang secara keseluruhan. Zamakhsyari dalam Al-Kasysyaf turut membahas kemungkinan makna tersebut dengan menghubungkannya pada penggunaan kata duha dalam ayat-ayat lain. Sementara itu, Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menghimpun kedua kemungkinan pemaknaan tersebut.

Perbedaan ini memperlihatkan bahwa penafsiran tidak selalu bergerak melalui satu jalan yang seragam. Bahkan pada kata yang menjadi nama sebuah surah, para mufasir dapat memberikan cakupan makna berbeda. Kendati demikian, gambaran terang dan gelap dapat dibaca sebagai pintu masuk untuk memahami suasana surah, bukan sebagai bukti bahwa setiap unsur waktu di dalamnya pasti memiliki makna tekstual saja. 

Malam dalam surah ini tidak harus dipahami sebagai lambang kejahatan, sebagaimana duha tidak otomatis menjadi lambang kemenangan. Malam dapat menjadi waktu ketika segala sesuatu mereda, suara-suara berhenti, dan manusia berhadapan dengan pikirannya sendiri. Kesunyian tidak selalu menjelaskan apa yang sedang terjadi tetapi kerapali membuat manusia tergoda untuk menyusun kesimpulannya sendiri (termasuk saya). Titik keadaan sunyi ini lah sesuatu yang sebelumnya tertutup oleh keramaian justru dapat terasa lebih kuat; mungkin itulah yang tergambar pada Nabi ketika terjeda antara ia dengan Wahyu Rabb nya. 

Lalu datang pernyataan yang menjadi pusat seluruh surah “Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.” Ayat ketiga ini bukan hanya jawaban atas ejekan yang diarahkan kepada Nabi. Ayat tersebut juga mematahkan anggapan bahwa keadaan yang tampak buruk selalu menjadi bukti bahwa seseorang telah kehilangan perhatian Tuhan. Konteks susunan kajian Surah Ad-Duha, ayat ini bagi saya yang paling menggambarkan gagasan utama surah yaitu penegasan kasih sayang, pemeliharaan, dan perhatian Allah kepada Nabi Muhammad, tentu disini saya sedang tidak ingin berlaga setara dengan para mufassir yang agung, Syududu Ya!. 

Ayat ke-3 ini tidak menjelaskan secara terperinci mengapa wahyu sempat terhenti. Ia justru menegaskan sesuatu yang lebih mendasar yakni  jeda wahyu tidak dapat dijadikan alasan untuk menyimpulkan bahwa Allah telah meninggalkan Nabi. Ada jarak antara peristiwa yang terlihat dan makna yang dilekatkan manusia kepadanya. Jeda merupakan peristiwa; anggapan bahwa jeda itu menandakan kebencian merupakan kesimpulan. Keduanya bukan hal yang sama.

Di titik ini, Surah Ad-Duha mengusik kebiasaan manusia dalam membaca penderitaan. Manusia kerap mengukur kasih sayang berdasarkan kelancaran hidup. Ketika segala sesuatu berjalan sesuai keinginan, Tuhan dianggap dekat. Ketika jalan menjadi sulit, doa belum terjawab, dan pertolongan belum terlihat, muncul dugaan bahwa Tuhan telah menjauh. Pola pikir seperti ini membuat hubungan spiritual bergantung pada keadaan yang selalu berubah. Surah Ad-Duha justru menghadirkan penegasan bahwa pengalaman sulit tidak boleh buru-buru dijadikan vonis atas hubungan manusia dengan Tuhan.

Surah ini tidak berhenti pada penegasan bahwa Tuhan tidak meninggalkan Nabi. Ia bergerak menuju sesuatu yang lebih mengejutkan. Ayat keempat menyatakan bahwa kehidupan akhirat lebih baik daripada kehidupan dunia, lalu ayat kelima menjanjikan pemberian Tuhan hingga Nabi merasa puas. Seolah-olah setelah membantah tuduhan tentang penelantaran, surah ini mengalihkan perhatian kepada masa depan. Keadaan sekarang bukan keseluruhan cerita dan apa yang sedang dialami manusia bukan satu-satunya ukuran untuk menilai apa yang akan datang.

Tafsir Jalalain buah tangan duo maut Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuthi menjelaskan ayat tentang akhirat dengan menekankan keutamaan kehidupan akhirat dibandingkan kehidupan dunia. Adapun janji pemberian Tuhan dalam ayat kelima dipahami sebagai kabar tentang karunia-Nya kepada Nabi. Al-Suyuthi juga menghubungkan janji tersebut dengan berbagai karunia di akhirat termasuk pembahasan mengenai syafaat.

Janji tersebut tidak semestinya juga diubah menjadi rumus sederhana bahwa setiap orang beriman pasti segera memperoleh semua keinginannya. Harapan memang penting tetapi harapan bukan jaminan bahwa segala penderitaan akan langsung berakhir atau setiap keinginan akan terpenuhi persis seperti yang dibayangkan. Surah ini secara langsung berbicara kepada Nabi Muhammad dalam konteks kenabian beliau dimana harapan turun wahyu dihantam realita dengan keterjedaannya. 

Saya kira di sinilah pesan surah menjadi renungan yang mana harapan tidak dibangun dengan menyangkal kenyataan pahit, melainkan dengan menolak menjadikan kenyataan pahit sebagai akhir dari segala kemungkinan. Ada masa ketika seseorang belum melihat jalan keluar, tetapi ketidakmampuan melihat jalan keluar tidak membuktikan bahwa jalan tersebut tidak ada. Surah Ad-Duha mengajarkan keteguhan tanpa harus mengubah kesulitan menjadi sesuatu yang seolah-olah tidak pernah menyakitkan.

AYAT 6-8: MEMBACA MASA LALU UNTUK MASA DEPAN

Setelah berbicara mengenai masa depan, surah ini membawa Nabi kembali kepada masa lalunya. Ayat keenam mengingatkan bahwa Allah mendapatinya sebagai seorang yatim, lalu memberikan perlindungan. Ayat ketujuh menyebut keadaan ketika Nabi belum mengetahui petunjuk secara terperinci, lalu Allah memberikan petunjuk. Ayat kedelapan menyebut keadaan kekurangan, lalu Allah memberikan kecukupan. Susunan ini mengubah arah pembicaraan. Sesudah janji tentang masa depan, pembaca diajak melihat kembali pengalaman hidup yang telah dilalui.

Al-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa Nabi menjadi yatim karena kehilangan ayahnya sebelum kelahiran atau pada masa awal kehidupannya, sementara perlindungan Tuhan terhadap beliau dikaitkan dengan pengasuhan oleh keluarga termasuk pamannya Abu Thalib. Mengenai ayat ketujuh, Jalalain menjelaskan petunjuk dalam hubungannya dengan syariat. Sementara itu, ayat kedelapan berbicara tentang kecukupan setelah keadaan kekurangan.

Pada susunan tersebut di sisi saya pribadi menegaskan jika masa lalu tidak ditampilkan sebagai kumpulan luka semata melainkan sebagai perjalanan yang memperlihatkan adanya perlindungan dan pertolongan. Nabi pernah mengalami keadaan sebagai anak yatim, namun kehidupannya tidak berhenti pada kehilangan. Beliau pernah berada dalam keadaan yang membutuhkan petunjuk, di fase berikutnya perjalanan kenabiannya kemudian menjadi sumber petunjuk bagi umat manusia. Pengalaman kekurangan tidak menjadi penutup perjalanan hidup.

Perlu diingat juga kita jangan tergesa-gesa menganggap semua penderitaan pasti menyimpan alasan yang dapat diketahui manusia. Surah ini mengingatkan Nabi pada nikmat tertentu yang telah diterimanya bukan memberikan izin kepada manusia untuk menjelaskan secara sembarangan mengapa setiap orang mengalami musibah. Tidak semua pertanyaan mengenai penderitaan dapat dijawab hanya dengan mengatakan bahwa semuanya pasti mempunyai hikmah yang sudah jelas. Saya kira ada perbedaan antara mengingat pertolongan yang benar-benar dialami dan mengarang penjelasan atas penderitaan orang lain.

Pesan itu menjadi semakin penting ketika ayat-ayat tersebut dibaca dalam konteks sekarang. Anak yatim masih dapat kehilangan haknya, orang miskin masih dapat dipermalukan, dan orang yang membutuhkan bantuan masih dapat diperlakukan seolah-olah keberadaannya mengganggu kenyamanan masyarakat. Kita sering berbicara panjang tentang kasih sayang Tuhan, tetapi pembicaraan tersebut menjadi kosong ketika orang yang lemah justru menerima perlakuan paling buruk dari mereka yang mengaku beragama.

AYAT 9-11: MODAL REFLEKSI MERAIH UNTUNG AKSI DAN BUKTI 

Surah Ad-Duha tidak membiarkan pembicaraan mengenai kasih sayang berhenti pada wilayah perasaan. Setelah mengingatkan Nabi tentang perlindungan, petunjuk, dan kecukupan, surah ini menghadirkan tiga perintah pada ayat kesembilan hingga kesebelas. Anak yatim tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang, orang yang meminta tidak boleh dihardik, dan nikmat Tuhan harus dinyatakan. Dari refleksi jadi bukti. 

Pembicaraan bermula dari hubungan Allah dengan Nabi, bergerak menuju pengalaman hidup Nabi, lalu berakhir pada hubungan Nabi dengan manusia lain. Kasih sayang yang sebelumnya ditegaskan sebagai pemeliharaan Tuhan kini diikuti perintah agar manusia memperlakukan pihak yang rentan secara bermartabat. Nikmat bukan hanya sesuatu yang dikenang, juga sesuatu yang harus memengaruhi cara seseorang menjalani kehidupan.

Perintah terhadap anak yatim, misalnya, tidak cukup dipahami sebagai larangan mengambil hartanya. Makna yang lebih luas dapat dikembangkan pada penghormatan terhadap martabat dan perlindungan hak anak. Begitu pula larangan menghardik orang yang meminta-minta tidak berarti bahwa setiap permintaan harus dipenuhi tanpa pertimbangan. Ayat tersebut setidaknya mengingatkan agar kemiskinan dan kebutuhan tidak dijadikan alasan untuk menghina manusia. Bantuan dapat diberikan dengan berbagai cara, tetapi penghinaan bukan syarat untuk memberikan pertolongan.

Pesan ini berhubungan dengan persoalan ketimpangan sosial, diskriminasi, perundungan, serta perlakuan buruk terhadap kelompok rentan. Anak yang kehilangan orang tua membutuhkan perlindungan, bukan sekadar belas kasihan sesaat. Orang miskin membutuhkan kesempatan hidup yang layak, bukan ceramah yang menyalahkan keadaan mereka. Orang yang meminta bantuan membutuhkan penghormatan terhadap martabatnya, bukan pertunjukan kebaikan yang menjadikan penderitaannya sebagai tontonan.

Ada ironi ketika seseorang mengaku bersyukur atas nikmat Tuhan, tetapi tidak sanggup menghormati manusia yang sedang berada dalam kesulitan. Ada pula kontradiksi ketika agama dipenuhi pembicaraan tentang kasih sayang, sementara orang lemah justru diperlakukan dengan kasar. Surah Ad-Duha menempatkan persoalan ini secara langsung melalui urutan ayatnya. Setelah nikmat disebutkan, tindakan sosial menyusul. Syukur tidak berhenti pada pengakuan lisan; ia harus terlihat dalam sikap terhadap sesama.

Dikotomi atas Surah Ad-Duha menjadi tiga kelompok ayat memberikan gambaran tentang kesatuan pesannya. Ayat pertama hingga kelima berisi peneguhan, penghiburan, dan janji karunia. Ayat keenam hingga kedelapan mengingatkan Nabi pada nikmat yang telah diterima. Ayat kesembilan hingga kesebelas mengarahkan perhatian kepada tindakan sosial sebagai wujud syukur. Ketiga bagian tersebut bukan potongan yang berdiri sendiri. Peneguhan menghadirkan harapan, ingatan terhadap nikmat memberikan dasar untuk memahami pemeliharaan Tuhan, sedangkan perintah sosial menunjukkan arah tindakan setelah nikmat disadari.

Hubungan ini memperlihatkan bahwa Surah Ad-Duha bukan sekadar surah tentang ketenangan batin. Membacanya hanya sebagai penghiburan pribadi berisiko mempersempit pesan yang terkandung di dalamnya. Surah ini memang meneguhkan Nabi dalam menghadapi tuduhan dan jeda wahyu, tetapi penutupnya membawa perhatian kepada anak yatim, orang yang meminta, dan kewajiban menyatakan nikmat. Dengan kata lain, ketenangan spiritual tidak dibiarkan terkurung dalam pengalaman pribadi. Ia berhubungan dengan tanggung jawab terhadap kehidupan sosial.

Surah yang bermula dengan sumpah tentang terang dan malam itu akhirnya membawa kita pada persoalan yang sangat nyata: bagaimana kasih sayang yang diyakini dari langit diwujudkan di bumi. Di tengah misteri jeda wahyu, tuduhan manusia, dan janji masa depan, Surah Ad-Duha menyampaikan satu rangkaian pesan yang utuh. Harapan harus dipelihara, nikmat harus diingat, dan kepedulian harus diwujudkan. Tanpa tindakan terakhir itu, pembicaraan tentang kasih sayang hanya akan menjadi suara indah yang terdengar di tengah kesunyian, tetapi tidak pernah sampai kepada mereka yang paling membutuhkannya.


REFERENSI:

Al-Wahidi. (n.d.). Asbab an-nuzul. القران الباحث.

https://tafsir.app/alwahidi/93/1

Ar-Razi, F. (n.d.). Mafatih al-Ghaib. القراني الباحث .https://tafsir.app/alrazi/93/1

As-Suyuthi, A.-M. dan. (n.d.). Tafsir Jalalain. القراني الباحث .https://tafsir.app/jalalayn/93/1

Ath-Thabari, I. J. (n.d.). Tafsir Tabari. القراني الباحث .https://tafsir.app/tabari/93/1

Nawawi, M. (n.d.). Marah Labid an kasyfi ma’na al-qur’an majid. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.

Zamakhsyari. (n.d.). Al-Kasyaf. القراني الباحث .https://tafsir.app/kashaf/93/1