Pendidikan Kritis adalah metodologi berpikir dengan ranah yang sangat radikal, dalam memahami cara pandang dan proses memahami pendidikan dalam upaya untuk mengatasi permasalahan yang muncul. Bicara perihal pendidikan kritis juga perlu untuk direalisasikan kembali kepada banyak pemuda terutama generasi Z. Menurut Mansour Faqih,”pendidikan kritis ialah pendidikan yang mengarahkan untuk melakukan refleksi kritis terhadap ideologi dominan kearah transformasi sosial” (Ali, 2019). Di negara kita, contohnya ketika RUU Omnibuslaw Cipta Kerja, terjadi demo yang sangat cheos antara para mahasiswa, buruh dan polisi. Hingga pihak keamanan polisi menembaki mereka dengan gas air mata (ArahJuang, 2020). Maka, para pelajar harus memiliki pemikiran yang kritis, terutama mahasiswa. Setiap kebijakan pemerintah perlu ditinjau dan diperhatikan.
Pendidikan untuk kaum tertindas sangat diperlukan. Mereka juga sangat memerlukan pendidikan selayaknya mereka yang pada umumnya sedang belajar tidak memiliki masalah. Tidak ada kelas sosial yang membedakan antara kaum borjuis dan proletar (Sejarah dan Sosial, 2023). Tokoh filsafat Barat Paulo Freire berpendapat, “bahwasanya pentingnya pendidikan bagi kaum tertindas karena berusaha untuk mengembalikan fungsi pendidikan yang dijadikan alat untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan dan ketertindasan” (Freire, 1993). Bukti konkretnya ialah ketika Paulo Freire mengalami langsung kemiskinan dan kelaparan pada masa Depresi Besar 1929, suatu pengalaman yang membentuk keprihatinannya terhadap kaum tertindas dan ikut membangun pandangan dunia pendidikannya yang khas (Wikipedia, 2023). Paulo Freire dengan kondisi yang sebelumnya seperti itu bisa menjadi lebih peduli kepada kaum yang tertindas secara sistematis dan intelektual.
Omnibus law; Omnibus law adalah regulasi atau Undang-Undang (UU) yang mencakup berbagai isu atau topik. Secara harfiah, definisi omnibus law adalah hukum untuk semua. Apabila diperhatikan, konsep pendidikan kritis ternyata selama ini mengalami masalah humanisasi. Proses pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan potensi anak justru mengalami penurunan yang signifikan saat ini. Justru saat ini, dehumanisasi mulai marak terjadi di berbagai negara. Untuk mengatasi permasalahan seperti itu, perlu dilakukan pengkajian ulang sekaligus pembinaan kepada seluruh para pelajar agar proses pembentukan mental yang kuat sesuai dengan kodratnya sebagai seorang yang berasal dari kaum tertindas harus memiliki jiwa dan semangat yang tinggi agar bisa memperjuangkan hak dan keadilan.
Pendidikan kritis ialah salah satu kunci untuk bisa mendobrak segala sesuatu yang tidak bersifat logis secara nalar manusiawi. Ketika seseorang berupaya untuk berpikir kritis, akan timbul pertanyaan-pertanyaan lain yang bisa menyebabkan seseorang mengetahui latar belakang permasalahan tersebut. Karena pada hakikatnya segala sesuatu yang menjadi dasar permasalahan sebesar apa pun ataupun sekecil apa pun ketika dipikirkan secara logis dan kritis, akan terselesaikan. Kemudian, perihal pendidikan untuk kaum tertindas, dalam hal ini, perlunya sebuah rasa iba yang besar agar bisa timbul rasa peduli. Dalam bukunya paulo freire menjelaskan dibukunya yang berjudul “Pendidikan Kaum tertindas”, yaitu “pendidikan penting bagi kaum tertindas karena berperan penting untuk mengembalikan fungsi pendidikan dijadikan alat untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan dan ketertindasan, masalah utama dehumanisasi yang harus diperjuangkan karena sejarah menunjukkan humanisasi ialah alternatif yang nyata (Freire, 1993)”. Contoh nyata dalam kehidupan sosial ialah ketika para lembaga peneliti PSPK (Penelitian dan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan), mereka melakukan penelitian di DKI Jakarta mempertimbangkan bahwa hal yang memengaruhi proses pendidikan kaum tertindas terutama untuk para pelajar yang masih tingkat TK/SD/SMP. Ada peran penting lain selain fasilitas sekolahnya ialah faktor keluarga. Kemudian merekapun mengemukakan bahwasanya kualitas pendidikan anak akan terlihat dari aspek ekonomi yang rendah ataupun sebaliknya akan sangat berperan untuk melihat kualitas yang mempengaruhi prestasinya, Maka dari itu lembaga peneliti inipun berharap kepada pemerintah memastikan adanya kesetaraan dalam setiap kebijakan (Yasmin, 2021). Dengan begitu, setiap anak berkesempatan mendapatkan pendidikan yang berkualitas, dan perihal kelas sosial yang sering terjadi harus dihilangkan dari dunia pendidikan.
Sejarah Pendidikan Kritis
Pendidikan kritis mulai muncul pada tahun 1960-an ketika muncul pemikir pendidikan yang mengusung teori pendidikan kritis. Pendidikan kritis pada dasarnya dipengaruhi oleh teori kritis yang dibangun dalam ranah ilmu-ilmu sosial dan filsafat oleh kalangan Mazhab Frankfurt. Teori kritis merupakan teori yang digagas sekitar tahun 1920-an, yang gunanya untuk mengkritik paradigma positivisme yang mereduksi paradigma dan metode yang dipakai dalam ilmu-ilmu alam. Teori kritis bergerak lebih maju lagi, dengan mengkritik berbagai khazanah ilmu pengetahuan yang menurut mereka sudah tidak bersifat kritis lagi, karena tidak mampu lagi melihat adanya dehumanisasi atau alienasi dalam proses modernisasi yang sementara berjalan, sehingga ilmu pengetahuan manusia hanya berfungsi untuk mempertahankan status quo. Teori kritis mengusung jargon-jargon kebebasan dan kritik konstruktif terhadap ilmu pengetahuan dan sistem sosial yang dominan. Perkembangan wacana teori kritis berkembang hingga wacana teori pendidikan. Teori kritis mengkritik teori paradigma pendidikan yang ada, yaitu paradigma konservatif dan liberal . (Muhammad, 2019)
Akar intelektual tentang pendidikan berpikir kritis sebenarnya telah ada dalam visi praktik Socrates, dalam metode mengajarnya 2500 tahun sebelum Masehi. Ia telah menemukan suatu metode pembelajaran yang dikenal sebagai “Socratic Questioning”. Dalam metode tersebut, ia menetapkan pentingnya mencari bukti yang teliti untuk menguji pemikiran dan asumsi-asumsi, analisis konsep-konsep dasar, dan menyampaikan implikasi ke luar yang tidak hanya dari apa yang dikatakan, tetapi juga dari apa yang dilaksanakan (Foundation for Critical Thinking, 1998). Metode ini kemudian dilanjutkan oleh Plato, Aristoteles, dan pemikir skeptisisme Yunani klasik lainnya. Semuanya menekankan bahwa dalam berbagai hal sering berbeda dari apa yang mereka tampakkan hanya ada di permukaan belaka, jika dibanding dengan cara mereka yang berfikir menyangkut kenyataan hidup yang lebih mendalam (Supardan, 2019).
konservatfi ; adalah sebuah filsafat politik yang mendukung nilai-nilai tradisional. Istilah ini berasal dari bahasa Latin, conservāre, melestarikan; “menjaga, memelihara, mengamalkan”.liberal4; paham/ideologi mainstream yang memprioritaskan kebebasan individu sebebas-bebasnya dalam segala aspek.
Sejarah pendidikan kritis dapat ditelusuri dari berbagai tokoh dan aliran yang berkontribusi dalam mengembangkan ide-ide dan praktik-praktik pendidikan kritis. Beberapa di antaranya adalah:
- Socrates, seorang filsuf Yunani kuno yang mengajukan metode pertanyaan kritis (Socratic questioning) untuk menguji kebenaran dan logika pemikiran. Ia juga menekankan pentingnya mencari bukti, menganalisis konsep-konsep, dan menyadari ketidaktahuan diri (Supardan, 2019).
- Paulo Freire, seorang pendidik dan aktivis Brasil yang mengembangkan konsep pedagogi pembebasan (pedagogy of liberation) untuk mengatasi kondisi ketertindasan dan ketidakadilan sosial. Ia mengkritik model pendidikan perbankan (banking education) yang menjadikan siswa sebagai objek pasif yang hanya menerima pengetahuan dari guru. Ia mengusulkan model pendidikan dialogis (dialogical education) yang melibatkan siswa sebagai subjek aktif yang berpartisipasi dalam proses pembelajaran bersama guru (Supardan, 2019).
- Henry Giroux, seorang teoritikus pendidikan kritis yang mengembangkan konsep pedagogi perlawanan (pedagogy of resistance) untuk menghadapi hegemoni budaya dan ideologi yang dimediasi oleh media massa, populer, dan konsumsi. Ia juga mengembangkan konsep pedagogi perbatasan (border pedagogy) untuk mengatasi masalah-masalah multikulturalisme, identitas, dan perbedaan dalam pendidikan (Hidayat, 2013.)
- Peter McLaren, seorang teoritikus pendidikan kritis yang menggabungkan analisis kelas, ras, dan gender dalam kritik terhadap kapitalisme global dan neoliberalisme. Ia juga mengembangkan konsep pedagogi revolusioner (revolutionary pedagogy) untuk mendorong perubahan sosial radikal melalui pendidikan (Supardan D. , 2008)
Keempat tokoh tersebut secara keseluruhan memiliki latar belakang sejarah sebab akibat dari konsep pendidikan kritis. Maka bisa dikutip bahwasanya konsep pendidikan kritis sangat diperlukan untuk diterapkan, karena mengacu pada para anak muda untuk berpikir kritis yang sangat mengakar sampai ke akar-akarnya.
Biografi Paulo Freire
Paulo Reglus Neves Freire, lahir pada 19 September 1921 di Recife,Pernambuco, Brasil. Meninggal 2 Mei 1997 (umur 75) di São Paulo, Brasil. Freire dilahirkan dalam keluarga kelas menengah di Recife, Brasil. Namun, ia mengalami langsung kemiskinan dan kelaparan pada masa Depresi Besar 1929, suatu pengalaman yang membentuk keprihatinannya terhadap kaum miskin dan ikut membangun pandangan dunia pendidikannya yang khas. Freire mulai belajar di Universitas Recife pada 1943, sebagai seorang mahasiswa hukum, tetapi ia juga belajar filsafat dan psikologi bahasa. Meskipun ia lulus sebagai ahli hukum, ia tidak pernah benar-benar berpraktik dalam bidang tersebut. Sebaliknya, ia bekerja sebagai seorang guru di sekolah-sekolah menengah, mengajar bahasa Portugis. Pada 1944 ia menikah dengan Elza Maia Costa de Oliveira, seorang rekan gurunya. Mereka berdua bekerja bersama selama hidup mereka, sementara istrinya juga membesarkan kelima anak mereka. Pada 1946, Freire diangkat menjadi Direktur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dari Dinas Sosial di Negara Bagian Pernambuco (yang ibu kotanya adalah Recife). Selama bekerja itu, terutama ketika bekerja di antara orang-orang miskin yang buta huruf, Freire mulai merangkul bentuk pengajaran yang non-ortodoks yang belakangan dianggap sebagai teologi pembebasan (Dalam kasus Freire, ini merupakan campuran Marxisme dengan agama Kristen). Perlu dicatat bahwa di Brasil pada saat itu, melek huruf merupakan syarat untuk ikut memilih dalam pemilu. Pada 1961, ia diangkat sebagai direktur Departemen Perluasan Budaya dari Universitas Recife, dan pada 1962 ia mendapatkan kesempatan pertama untuk menerapkan secara luas teori-teorinya, ketika 300 orang buruh kebun tebu diajar untuk membaca dan menulis hanya dalam 45 hari. Sebagai tanggapan terhadap eksperimen ini, pemerintah Brasil menyetujui dibentuknya ribuan lingkaran budaya di seluruh negeri. Pada 1964, sebuah kudeta militer mengakhiri upaya itu, dan menyebabkan Freire dipenjarakan selama 70 hari atas tuduhan menjadi pengkhianat. Setelah mengasingkan diri untuk waktu singkat di Bolivia, Freire bekerja di Chili selama lima tahun untuk Gerakan Pembaruan Agraria Demokratis Kristen. Pada 1967, Freire menerbitkan bukunya yang pertama, Pendidikan sebagai Praktik Pembebas (Wikipedia, 2023).
Aliran-Aliran Filsafat terhadap pendidikan
Dalam Filsafat Pendidikan setidaknya terdapat 5 aliran pendidikan diantaranya: aliran progresivisme, esensialisme, perenialisme, eksistensialisme dan rekonstruksionalisme”. (Dr. Ali Muttaqin, 2016)
- Aliran progresivisme
Aliran progresivisme memiliki pandangan bahwa sesuatu dapat dikatakan benar apabila memiliki kegunaan praktis. Aliran ini sering pula disebut dengan aliran pragmatisme, sebagaimana ditulis oleh Noor Syam, bahwa “progresivisme disebut dengan nama berbeda-beda seperti pragmatisme, instrumentalisme, eksperimentalisme, environmentalisme”. Dalam perspektif progresivisme, “pendidikan harus berorientasi progresif, sehingga tidak bersifat instan dan kekinian”. (Amrullah, 2023)
- Aliran esensialisme
Aliran esensialisme merupakan suatu aliran yang membawa misi untuk kembali ke tradisi lama yang dinilai lebih baik. Tradisi lama yang dimaksud adalah kebudayaan yang telah ada semenjak peradaban umat manusia yang pertama-tama. Akan tetapi, yang paling dominan adalah peradaban semenjak zaman Renaissance. Aliran ini meyakini bahwa pendidikan ialah pemelihara kebudayaan yang ada.
- Aliran perenialisme
Aliran ini lahir sebagai respons terhadap pandangan progresivisme yang dianggap terlalu menekankan unsur kebaruan dan selalu menuntut perubahan. Perenialisme menurut Wora merupakan “suatu aliran filsafat yang tetap bertahan terus sepanjang zaman dan kesejatiannya dapat diwariskan dari generasi ke generasi serta dapat melampaui kecenderungan corak filsafat yang silih berganti. Aliran ini berpandangan bahwa situasi dunia penuh kekacauan, ketidakpastian, terutama dalam kehidupan moral, intelektual, sosial, dan budaya. Oleh sebab itu, diperlukan suatu upaya untuk membenahi kekacauan tersebut dengan cara kembali kepada norma, nilai, dan prinsip universal terdahulu.
- Aliran Eksistensialisme
Aliran ini merupakan suatu aliran yang meyakini bahwa setiap individu bertanggung jawab atas kehendaknya sendiri. Pendidikan yang mengacu pada aliran ini cenderung memberikan keleluasaan kepada peserta didik untuk menentukan tujuan pendidikan yang mereka jalani. Peran seorang guru dalam hal ini tidak lebih dari sekadar fasilitator semata. Sedangkan kurikulum dituntut untuk lebih mengakomodasi berbagai perubahan yang terjadi, karena dalam pandangan ini, konsep kebenaran adalah selalu bersifat dinamis.
- Aliran Rekonstruksionalisme
Aliran ini merupakan varian baru dari aliran filsafat pendidikan progresivisme. . Rekonstruksionalisme bertujuan untuk memperbaiki keadaan manusia dengan cara merombak susunan lama nan mapan dan menggantinya dengan susunan yang baru. Dalam pandangan filsafat pendidikan ini, hal itu dapat dilakukan “dimulai dengan kritik atas kondisi sosial dan budaya sebuah masyarakat, kemudian menawarkan gagasan tentang masyarakat baru melalui pendidikan di sekolah-sekolah”. Bagi pendukung paham ini, sekolah membantu mendiagnosis krisis dalam masyarakat modern”. Tujuan utama pendidikan dengan begitu tidak lain adalah untuk menumbuhkan kesadaran peserta didik akan persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang sedang dihadapi oleh mereka dan oleh masyarakat.
Hal ini mengacu pada konsep pendidikan kritis karena melalui aliran ini, segala sesuatu yang telah dipikirkan secara kritis bisa ditinjau dan diperhatikan.
Konsep Pendidikan Kritis Menurut Paulo Freire
Pendidikan kritis menurutnya ialah pendidikan yang menekankan pentingnya pemahaman kritis terhadap realitas sosial, politik, dan ekonomi dalam pendidikan. Freire berspekulasi untuk mengembangkan pendekatan pendidikan kritis, yaitu perlunya bagi siswa untuk memahami realitas mereka secara kritis, yang dikenal sebagai “pedagogi kesadaran” (Freire, 1993). Hal ini sangat penting untuk diketahui bagi kaum tertindas karena mengacu pada ranah pemikiran yang radikal untuk mengetahui sumber masalah yang kompleks. Sistem pendidikan yang ingin dikembangkan oleh Freire yaitu ditempa dan dibangun kembali oleh kaum yang tertindas sebagai sistem yang bertujuan untuk pembaruan, yang berarti pembebasan, bukan untuk kepentingan penguasaan atau dominasi. Sistem yang telah dibuat nantinya harus mengedepankan proses pemerdekaan, bukan perjinakan sosial budaya, dan bertujuan untuk mengaraf realitas manusia. Metodologi ini berteguh pada prinsip aksi dan kompleksitas total. Untuk mengubah kenyataan menindas tanpa ada stimulus yang lain sehingga mengubah pola pikir dan kesadaran hasrat untuk membuat manusia itu sendiri tersadar bahwasanya dirinya sendiri telah bebas dari penindasan.
Freire yakin (didukung dengan latar belakang pengalamannya), tak peduli, tak sadar, dan tenggelamnya di dalam “budaya diam” mereka akan mampu melihat secara kritis dunia dalam perjumpaan dialogis dengan orang lain. Dengan memiliki alat yang sesuai untuk hal yang semacam itu, para individu secara bertahap bisa melihat realitas personal dan sosial serta perbedaan di dalamnya, kemudian sadar akan persepsi mereka terhadap realitas tersebut dan menerimanya dengan kritis. Pada proses ini, hubungan guru-murid yang kuno dan paternalistik ditinggalkan. Seorang petani dapat melakukan proses ini dengan tetangganya, justru lebih efektif daripada seorang “guru” yang didatangkan dari luar. Manusia saling mendidik satu sama lain dengan perantara dunia. Sebagaimana Friere pernah berkata, setiap individu memperoleh kembali hak untuk mengucapkan perkataannya sendiri untuk memberi nama dunia. Maka dari itu, manusia memerlukan sebuah alat untuk menemukan diri mereka sendiri dan potensi mereka sendiri, kemudian direalisasikan dalam sebuah wadah atau saat ini mungkin dikenal dengan sekolah. Ketika Seorang petani tuna aksara ikut dalam pendidikan ini, dia akan mendapat kesadaran diri yang baru, sebuah arti akan martabat dan akan mulai dijalankan dengan harapan yang baru.
Metode pendidikan Kaum Tertindas Menurut Paulo Freire
Suatu metode yang telah ia analisis yaitu hubungan guru dan murid pada tiap tahapan, yang terjadi di dalam dan di luar sekolah, mengungkapkan karakter naratif yang mendasar. hubungan ini melibatkan guru menjadi subjek (sang pencerita), dan objek yang mendengarkan ( murid ) (Freire, 1993). Isi pelajaran yang dibahas ialah menyangkut nilai dan dimensi empiris realitas. Dalam proses cerita, para guru cenderung tidak hidup dan kaku; mereka berbicara tentang realitas yang seolah-olah tidak bergerak, statis, terbagi-bagi, dan mudah diprediksi. Mereka mengeluarkan topik yang asing bagi pengalaman eksistensial para murid. Tugas mereka hanya mengisi otak para murid dengan narasi mereka. Secara keseluruhan, isi dari narasi mereka terlepas dari realitas, terpisah dari keseluruhan hal yang membuat murid mendapatkan makna.
Narasi (dengan guru sebagai narator) ini membuat murid hafal narasi. Ini lebih buruk lagi. Cara ini membuat murid menjadi “wadah” untuk didisi oleh seorang guru. Lebih banyak guru itu mengisi, maka lebih baik guru tersebut. Lebih penuh wadah yang diisi, maka lebih baik murid tersebut. Sifat utama pendidikan naratif ini adalah keindahan kata-kata, bukan kekuatan pengubahnya.
Pendidikan kemudian menjadi aktifitas seperti menabung, murid berperan menjadi tempat untuk ditabung dan guru berperan sebagai penabung. Alih-alih untuk berkomunikasi, guru malah mengeluarkan pernyataan dan membuat murid harus dengan sabar menerimanya. Inilah konsep pendidikan model bank yang telah dikritisi Paulo Freire karena melihat aspek murid menjadi objek utama yang harus mendengarkan pernyataan dari sang guru. Dalam konsep tersebut, konsep pendidikan gaya “bank”, pengetahuan adalah sebuah hadiah yang diberikan oleh mereka yang merasa dirinya berilmu kepada mereka yang dirasa tidak berilmu. Ketidakpedulian terhadap orang lain inilah yang menjadi sifat ideologi penindasan, yang menolak pendidikan dan pengetahuan sebagai proses pencarian. Guru menganggap dirinya sebagai lawan dari murid; dengan memandang muridnya bodoh, mereka menegaskan eksistensi mereka. Murid yang terasingkan seperti budak dialektika Hegel menerima kebodohan yang disematkan kepada mereka sebagai alat penegasan eksistensi guru, namun tidak seperti budak, mereka tidak sadar bahwa mereka mendidik gurunya.
Pendidikan pembebasan raison d’être, di satu sisi, berperan sebagai rekonsiliasi; pendidikan harus dimulai dengan solusi dari pembedaan antara guru dan murid. Dengan mendamaikan kedua kutub pembedaan tersebut, masing-masing pihak akan bersama-sama menjadi guru dan murid. Solusi diatas tidak ditemukan (dan tidak akan ada) pada konsep pendidikan gaya “bank” merawat dan merangsang tumbuhnya pembedaan diatas melalui sikap dan tindakan berikut, yang menjadi gambaran masyarakat tertindas secara keseluruhan :
- Guru Mengajar dan murid diajar
- Guru mengetahui segalanya dan murid tidak mengetahui apa-apa;
- Guru berpikir dan murid dipikirkan
- Guru berbicara dan murid patuh mendengarkan
- Guru didiplin dan murid didisiplinkan;
- Guru memilih dan memaksa pilihannya, dan murid menerima;
- Guru berbuat dan murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya
- Guru memilih isi pelajaran dan murid ( tanpa diminta pendapatnya) menerima pelajaran itu;
- Guru mencampur adukan wewenang ilmu pengetahuan dan wewenang jabatannya, yang dilakukannya untuk menghalangi kebebasan murid
- Guru adalah subjek proses belajar, sementara murid hanya sekadar objek.
Tak mengejutkan jika konsep pendidikan gaya bank ini, menganggap manusia sebagai makhluk yang mudah disesuaikan dan diatur. Jika seorang murid banyak menerima masukan dari gurunya, maka ia akan lebih sedikit mengembangkan kesadaran kritis yang merupakan hasil dari intervensi mereka sebagai pengubah dunia. Cenderung para murid menganggap bahwasanya dunia hanya seperti yang telah dipaparkan oleh gurunya, dalam pandangan terpisah dari realitas yang diajarkan ke dalam diri mereka. Kemampuan pendidikan gaya bank dalam meminimalisir dan mematikan kekuatan kreativitas dari murid (Freire, 1993). Kaum penindas menggunakan “humanitarisme” untuk memanfaatkan dan mempertahankan situasi menguntungkan ini. Dengan begitu, mereka menolak segala percobaan dalam pendidikan yang merangsang daya kreatif siswa , pendidikan yang tidak puas dengan pandangan yang terbatas. Sesungguhnya tujuan kaum penindas adalah mengubah kesadaran kaum tertindas, bukan situasi yang menindas mereka. Semakin mudah kaum tertindas dikuasai oleh penindas, akan semakin mudah pula mereka dikuasai. Untuk bisa membebaskan sistem pendidikan modal bank, perlunya humanisasi pendidikan agar bisa memperbarui pola dan sistemnya, yang perlu diselesaikan. Ada tiga hal yang harus diketahui dalam hal dehumanasi pendidikan melalui kategori kesadaran manusia yaitu :
- Kesadaran Magis : Kesadaran yang melihat dari luar faktor manusia (baik faktor alamiah ataupun spiritual) sebagai penyebab dari ketidakberdayaan (sosial masyarakat). Dalam artian, tahap kesadaraan yang diterimanya menyerahkan sepenuhnya dirinya karena merasa bahwasanya hal tersebut merupakan takdir ilahi.
- Kesadaran Naif : Kesadaran yang melatarbelakanginya ialah manusia itu sendiri, karena manusia itu sendiri sumber dan akar penyebab masalahnya.
- Kesadaran Kritis : Kesadaran ini disebabkan oleh sebuah sistem atau struktur, di mana kebijakan dan peraturan tidak sesuai dengan humanisasi sehingga melatarbelakangi hal ini. Seperti masalah kemiskinan, kriminalitas, pengangguran, korupsi.
Kemudian Paulo Freire mengemukakan sebuah solusi atas problem tersebut melalui pemikirannya dengan pendidikan dialogis-humanis yaitu:
- Adanya interaksi antara peserta didik dan pendidik.
Interaksi, agar timbul sebuah dialog antara keduanya
Pendidik, Humanisasi pendidikan, Peserta didik
- Adanya pengkajian realitas yang harus diperbaiki akan membentuk pola humanisasi pendidikan.
Pola selanjutnya yang dikemukakan olehnya ialah, pendidikan-terhadap masalah: problem realitas yang dialami peserta didik, kemudian problem ini dibahas dalam konsep pengajaran yang akan dilakukan oleh pendidik. Maka inilah yang disebut dengan problem solving (interaksi dialogis), mencari solusi dari sebuah masalah yang terjadi.
- Upaya Pencegahan Dehumanisasi
Untuk menghindari hal tersebut, pola pendidikan dan sistemnya harus diubah. Konsep konservatif yang telah mengakar harus direvolusioner agar tercipta pola pendidikan yang lebih baik ke depannya, karena hal ini sangat berdampak pada para peserta didik (pelajar), dan sejatinya, sifat kritis sangat diperlukan untuk membuat seorang peserta didik memiliki pola pikir yang maju. Peter McLaren, seorang teoritikus pendidikan kritis yang menggabungkan analisis kelas, ras, dan gender dalam kritik terhadap kapitalisme global dan neoliberalisme. Ia juga mengembangkan konsep pedagogi revolusioner (revolutionary pedagogy) untuk mendorong perubahan sosial radikal melalui pendidikan (Mushodiq, 2021). Maka untuk menghindari hal ini perlunya penerapan karakteristik kepada pendidik dan peserta didik; karakteristik disisni mempunyai maksud agar nilai. Pendidikan kritis memiliki beberapa karakteristik, antara lain (Ali, 2019) :
- Pendidikan kritis bersifat problem-posing, yaitu mengajukan masalah-masalah nyata yang dihadapi oleh siswa dan masyarakat sebagai titik awal pembelajaran. Pendidikan kritis tidak bersifat problem-solving, yaitu memberikan solusi-solusi siap pakai yang tidak mempertimbangkan konteks dan kepentingan siswa dan masyarakat.
- Pendidikan kritis bersifat dialogis, yaitu mengutamakan dialog antara guru dan siswa, serta antara siswa dengan siswa, sebagai cara untuk membangun pengetahuan bersama. Pendidikan kritis tidak bersifat monologis, yaitu tidak menganggap guru sebagai sumber pengetahuan yang mutlak dan otoriter.
- Pendidikan kritis bersifat reflektif, yaitu mendorong siswa untuk merefleksikan pengalaman, pemikiran, dan tindakan mereka sendiri dan orang lain. Pendidikan kritis tidak bersifat reseptif, yaitu menerima pengetahuan tanpa kritik dan tanpa hubungan dengan realitas.
- Pendidikan kritis bersifat transformatif, yaitu bertujuan untuk mengubah kondisi sosial, politik, dan budaya yang tidak adil dan tidak demokratis. Pendidikan kritis tidak bersifat reproduktif, yaitu mempertahankan status quo dan mengabaikan kepentingan dan hak-hak siswa dan masyarakat.
Itulah beberapa karakteristik yang harus dipahami agar kelak hal-hal yang melenceng bisa dihindari dan dicegah.
Kesimpulan yang bisa diambil dari perspektif pendidikan kritis melalui pemikiran Paulo Freire ialah:
- Melalui metode pemikiran Paulo Freire, perihal konsep penerapan pembelajaran perlunya sebuah dialogis humanis antara peserta didik dan pendidik karena pada hakikatnya keduanya saling memiliki kebutuhan.
- Rasa iba terhadap kaum yang dilemahkan oleh sistem itu perlu ditanamkan sekaligus dipelajari dalam sebuah lembaga pendidikan agar pola pikir seorang pelajar akan kritis terhadap tanggapan terhadap segala isu yang bergulir di masyarakat.
- Sistem yang mengesensikan pola sistem kelas sosial dalam budaya pendidikan harus dihilangkan, justru harus diakultrasikan dan diselaraskan.
- Penerapan konsep pematangan konsep pendidikan kritis yang sangat logis bisa dicapai ketika kapabilitas seorang murid dibiarkan dan perlu juga diperhatikan agar tidak sampai keluar dari ranah norma.
- Egosentris antara keduanya perlu dihilangkan dan jangan pernah menggunakan lembaga pendidikan sebagai tempat mencari kekuasaan
REFERENSI
Ali, M. R. (2019). Pendidikan Kritis dalam Pandangan Mansour Faqih. ISEEDU, 16.
Amrullah, A. (2023). Inkorporasi Pendidikan Kritis Ke Dalam Pembelajaran Bahasa Asing. yogyakarta: JEJAK PUSTAKA.
ArahJuang. (2020). Tolak Omnibus law Mahasiswa dan Buruh Demo Balaikota Malang . ArahJuang (hal. 1). Malang: ArahJuang.com.
Dr. Ali Muttaqin, M. (2016). IMPLIKASI ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN DALAM. JURNAL FILSAFAT, 1-26.
Freire, P. (1993). Pendidikan Kaum Tertindas. Yogyakarta: NARASI.
Hidayat, R. (2013.). Pedagogi kritis : sejarah, perkembangan dan pemikiran. jakarta: Raja Grafindo Persada.
Kompasiana. (t.thn.). Aliran Progresivisme, Esensialisme, Perenialisme, dan Pemikiran Tokoh-tokoh Filsafat.
Muhammad, A. M. (2019). Pendidikan Kritis dalam Pandangan Mansour Faqih. Jurnal Ilmiah, 16.
Mushodiq, M. A. (2021). Pendidikan Kritis Revolusioner Peter Mclaren dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam. Tadrib, 1-13.
Sejarah dan Sosial. (2023, september senin). Pengertian dan Macam-macam Kelas Sosial. News, hal. -.
Sri Hartati, S. M. (2022). KEADILAN HUKUM BAGI ORANG MISKIN. https://badilag.mahkamahagung.go.id/artikel/publikasi/artikel/keadilan-hukum-bagi-orang-miskin, 1.
Supardan, D. (2008). MENYINGKAP PERKEMBANGAN PENDIDIKAN SEJAK MASA KOLONIAL HINGGA SEKARANG: Perspektif Pendidikan Kritis. GENERASI KAMPUS, -.
Supardan, D. (2019). SEJARAH BERPIKIR KRITIS DAN SEJARAH KRITIS, DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN. https://sejarah.upi.edu/artikel/dosen/sejarah-berpikir-kritis-dan-sejarah-kritis-dalam-perspektif-pendidikan/, -.
Wikipedia. (2023). Biografi Paulo Freire. Wikipedia (hal. -). -: id.m.wiwkipedia.org.
Yasmin, P. (2021). PENELITIAN PSPK : ANAK DARI KELUARGA MISKIN SULIT AKSES SEKOLAH BERKUALITAS. detikedu (hal. -). Jakarta: detik.com







