Meninjau Ulang Kisah Khidir dan Musa: Menggugat Penyalahgunaan Kisah sebagai Hierarki Spiritual

Belakangan saya kembali membaca kisah Nabi Musa dan Khidir. Sebuah Kisah yang sebenarnya sudah sangat akrab sedari kecil, bahkan mungkin terlalu akrab. Kita sering mendengarnya sebagai kisah tentang seorang nabi besar yang berguru kepada seorang hamba misterius yang memiliki “ilmu hakikat”. Dari situ saya rasa tanpa sadar muncul sebuah hierarki spritual di mana Musa dianggap sebagai gambaran syariat, sementara Khidir dianggap sudah sampai hakikat.

Saya kemudian terpaku di situ. Iyaa gituh?? Ahh asa teu Kitu… 

Saya mulai dari beberapa bisikan pertanyaan yang muncul dalam horizon penasaran ini yakni jika Khidir lebih tinggi karena memiliki ilmu yang tidak dimiliki Musa. Apakah itu berarti ia lebih utama daripada Musa? Kalau Musa sampai harus nyantri ke Khidir, terus berarti syariat yang dibawa Musa masih kalah di bandingkan hakikat yang dimiliki Khidir? dan kalau seseorang sudah sampai pada level hakikat,kemudian boleh lakuin sesuatu yang secara lahiriah bertentangan dengan syariat?. Serta dalam bahasan kali ini pula saya mengambil posisi diri sebagai mubaligh dulu bukan peneliti, jadi kedepannya akan sangat berbau menyengat Apologetik sekali bersumber pada nuansa lintas corak baik al-Ma’tsur maupun ar-ra’yu untuk menjaga kemurnian ajaran Rasul dari mulai Jamiul bayan karya Thabari, Tafsir Al-Qur’an al-Adzim milik Ibn Katsir, Ibn Athiyah penyortir riwayat Thabari sebagai bil ma’tsur serta al-Jami’ Li ahkamil Qur’an punya Qurthubi, dan as-Sa’di pelengkap dari karya tafsir kontemporer untuk ar-ra’yu.   

Nah, semakin saya membaca beberapa kitab tafsir ulama semakin saya merasa gambaran populer tersebut perlu dipikirin ulang euy. Thabari ketika menafsirkan pertemuan Musa dan Khidir memberikan penjelasan yang asoyy-geboy (baca: bagus) sekali kalau kata kawan saya mah. Dawuh Thabari, Allah hendak memperkenalkan kepada Musa bahwa di antara hamba-hamba-Nya ada orang yang memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki Musa. Ia menulis:

فاراد اللهُ تعريفَه أن من عبادِه في الأرضِ من هو أعلمُ منه، وأنه لم يكنْ له أن يَحْتِمَ على ما لا علمَ له به، ولكن كان ينبغي له أن يكِلَ ذلك إلى عالِم

Kurang lebih Allah ingin memperkenalkan kepada Musa bahwa ada di antara hamba-Nya di bumi yang mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Musa. Bagi spektrum saya, titik tekan ayat ini justru bukan Khidir lebih keren dari Musa tetapi pertunjukan akan keterbatasan pengetahuan manusia. Dan ternyata Sa’di lebih eksplisit lagi. Ia mengatakan bahwa Khidir memang diberi ilmu yang tidak diberikan kepada Musa, tetapi Musa tetap lebih mengetahui dalam banyak perkara terutama dalam ilmu-ilmu keimanan dan ushul. Why? Ku ku Kunaon? Naha ceunah? Karena Musa termasuk Ulul Azmi, betul tidak?! (Bertanya dengan nada Ghufron).

Di sini saya merasa ada perbedaan penting antara lebih mengetahui dalam suatu perkara dengan lebih utama secara mutlak. Seseorang bisa mengetahui satu hal yang tidak diketahui orang lain tanpa otomatis menjadi lebih tinggi dalam segala hal. Contoh nyooo seorang Dokter tau sesuatu yang tidak diketahui ahli bahasa, begitupun ahli bahasa tahu sesuatu yang tidak diketahui dokter. Apakah otomatis salah satunya lebih utama secara mutlak? Belum tentu toh!

Bahkan al-Qurthubi secara ugal-ugalan mengingatkan agar kita tidak menyangka bahwa proses belajar Musa kepada Khidir berarti Khidir lebih utama daripada Musa. Beliau mengingatkan:

ولا يُظَنُّ أنَّ في تعلُّمِ موسى من الخَضِرِ ما يدلُّ على أنَّ الخَضِرَ كان أفضلَ منه، فقد يَشِذُّ عن الفاضلِ ما يعلَمُه المفضولُ

(((Silahkan translate sendiri. Diajar atuh da tos ageung)))

Nah! Loh?! eh!! … Ternyata ada sesuatu yang menurut saya sangat wadidaw di sini. Orang yang lebih utama bisa saja tidak mengetahui sesuatu yang diketahui orang yang kedudukannya lebih rendah. So, belajar kepada seseorang tidak otomatis berarti menyerahkan seluruh otoritas kepadanya. Fahammmm !!!?

Saya mulai melihat perjalanan Musa pada Khidir bukan sebagai perjalanan seorang nabi yang turun level untuk berguru kepada orang yang lebih tinggi. Melainkan Musa sedang diperlihatkan bahwa pengetahuannya tidak mencakup seluruh realitas yang Allah kehendaki. Ibn Athiyah membantu memperjelas perbedaan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa ilmu Khidir berkaitan dengan perkara batin yang telah diwahyukan kepadanya sementara ilmu Musa berkaitan dengan hukum dan fatwa berdasarkan apa yang tampak dari perkataan dan perbuatan manusia:

كان علمُ الخضرِ معرفةَ بواطنَ قد أوحيت إليه لا تعطي ظواهرَ الأحكام أفعالَه بحسبها. وكان علمُ موسى عليه السلام علمَ الأحكامِ والفتيا بظاهرِ أقوالِ الناسِ وأفعالِهم

Sebab Musa ketika melihat perahu dirusak tidak langsung berkata “Oh, ini hakikat yang belum saya pahami.” Ia justru mempertanyakan tindakan tersebut. Terus Ketika melihat seorang anak dibunuh, ia kembali memprotes. Sa’di bahkan menggambarkan bahwa Musa diliputi الحمية الدينية, yaaa semacam kegairahan atau pembelaan keagamaan ketika melihat seorang anak yang menurut apa yang tampak tidak melakukan dosa. Kalau Musa salah hanya karena menilai sesuatu berdasarkan hukum lahiriah, bukankah itu berarti syariat dan hukum lahiriah ditempatkan sebagai sesuatu yang lebih rendah? Tapi enya kituuu tafsir para ulama membawa kita ke sana? Nya kadee boonggg hehe… 

TIDAK SEMUDAH ITU FERNANDO!! (Ganti ah, lagi males pake Ferguso)

Ketika Khidir akhirnya menjelaskan semua tindakannya, ia mengatakan:

وما فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي

“Anee kagak lakuin gimane kemauan anee sendiri.”

Ibn Katsir menjelaskan Khidir tuh melakukan tindakan tersebut karena diperintah dan diberi pengetahuan tentangnya sama Allah. Thabari juga menegaskan bahwa tindakan itu dilakukan عن أمر الله berdasarkan callingan  Allah bukan hasil pemikiran pribadi Khidir. Nah, perlu digaris bawahi. Khidir bukan sedang menunjukkan bahwa orang yang sudah mencapai hakikat bebas dari syariat. Ia justru menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan berasal dari dirinya sendiri. Saya keberatan kalau kisah Khidir kemudian dijadikan semacam kartu bebas untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan syariat. Seseorang melakukan sesuatu yang aneh, lalu ketika dipertanyakan cukup menjawab “ente belum sampe makom anee” Masuk akal gak? Kagak atuh ah gimana!

KHIDIR MENJELASKAN ATAS MUSA YANG PENUH PERTANYAAN

Kalau kita mengikuti pola kisah justru Khidir memberikan penjelasan. Seperti Perahu itu dirusak karena ada penguasa yang akan merampas perahu yang masih bagus. Qurthubi bahkan menarik pelajaran fikih dari peristiwa ini:

ففي هذا من الفقه العملُ بالمصالح إذا تحقَّق وجهُها، وجوازُ إصلاحِ كلِّ المالِ بإفسادِ بعضِه

Ada pelajaran fikih dalam tindakan tersebut yaitu wajib mempertimbangkan maslahat ketika sisi maslahatnya jelas, bahkan membolehkan menjaga keseluruhan harta dengan merusak sebagian darinya. Apa yang sering disebut “ilmu hakikat Khidir” ternyata setelah dijelaskan dapat dibaca dengan bahasa maslahat dan pertimbangan hukum. Tidak harus dibuat mistis, ghaib, hakikat, kasyaf, jurig, kuntilanak, terawangan, dan tetek beungek lainnya. Tidak harus dijadikan sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang tertentu, kayak Abahmu aja yang punya surga.

TAPI DAN TAPIIII NIH YEE…

Namun saya tidak sedang mengatakan bahwa seluruh persoalan Khidir selesai hanya dengan kaidah fikih. Ada unsur wahyu dan pengetahuan khusus yang memang Allah berikan kepadanya. Di sinilah kita perlu membedakan antara asal pengetahuan dan isi pengetahuan. Asalnya memang khusus tetapi setelah dijelaskan sebagian hikmahnya bisa dipahami secara rasional dan bahkan dibahas dalam kerangka fikih. Jangan langsung pake buat nyabulin sama eksploitasi anak orang loh yaa.  Maka menurut pembacaan saya persoalannya bukan “syariat versus hakikat”. Khidir tidak sedang membangun agama alternatif bernama hakikat. Musa juga bukan orang yang hanya memiliki kulit syariat sementara Khidir memiliki isi agama. 

KHIDIR ADALAH JALAN NINJAKU !

Sebagian pihak yang saya temui atau lebih tepat nya oknum sufi plenger bin kucluk dimana kelompok ini mengenakan kisah Khidir-Musa sebagai legitimasi perbuatan nya untuk melanggar syari’at Nabi Muhammad SAW.  Di sini saya kira jawabannya jauh lebih jelas. Thabari ketika menafsirkan خاتم النبيين menjelaskan Nabi Muhammad sebagai nabi yang menutup kenabian:

الذي ختَمَ النبوّةَ فطَبَعَ عليها، فلا تُفتَحُ لأحدٍ بعدَه إلى قيامِ الساعة 

Kenabian telah ditutup oleh beliau. Jadiiii, kisah Khidir teh gak bisa dipake buat menciptakan otoritas keagamaan baru setelah Rasulullah. Kalau seseorang mengaku memperoleh ilmu hakikat lalu merasa boleh keluar dari syariat Nabi Muhammad, justru klaim tersebut perlu diuji bukan diterima hanya karena dibungkus istilah spiritual apalagi dengan embel-embel bersih hati wkwkwk. Ceurik jigana rasul ningal nage. 

 

KUY!!! REFLEKSI BARENG-BARENG

Di titik ini saya malah merasa kisah Musa dan Khidir memiliki kritik epistemologis yang cukup dalam. Kita sering berdebat tentang siapa yang paling alim? siapa yang sudah mencapai hakikat? siapa yang masih berada pada level syariat? Padahal pertanyaan yang lebih mendasar tuh gini “dari mana kita tahu bahwa seseorang benar-benar memiliki pengetahuan tersebut?”

Kalau jawabannya hanya “Karena dia mengaku telah sampai, saya sudah kasyaf, saya hakikat antum syari’at” problemnya belum selesai atuh.  Bila jawabannya “Karena kyai dawuh begitu, pangersa bilang demikian”. Kita masih harus bertanya atas dasar apa mereka mengatakan demikian?

Lalu jika dalil yang digunakan justru kesimpulan yang ingin dibuktikan bukankah kita berpotensi masuk ke dalam logical fallacy (cacad berpikir) jenis circular reasoning? Simpelnya ginih, Kita mengatakan seseorang memiliki hakikat karena ia dianggap wali, tapi kemudian kita membenarkan klaim kewaliannya karena ia dianggap memiliki hakikat. Musa di sisi saya justru mengajarkan satu sikap yang sering hilang dalam perdebatan spiritual yaitu bertanya ketika melihat sesuatu yang tidak jelas. Khidir juga menunjukkan bahwa pengetahuan yang benar tidak harus dilindungi dengan kesombongan epistemik. Ketika waktunya tiba, ya jelaskan! Gitu aja kok repot. 

Khidir memiliki pengetahuan yang Allah berikan kepadanya. Musa memiliki ilmu, risalah, dan kedudukan yang sangat tinggi. Tetapi keduanya tetap berada dalam struktur yang sama. Manusia berhadapan dengan ilmu Allah yang jauh lebih luas daripada apa yang mampu mereka ketahui danan mungkin justru disitu letak asyik nya.

QUOTES PANUTUP AH SAKEDIK DARI KAKANG:

Jangan merasa paling alim hanya karena mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Jangan pula menjadikan sesuatu yang belum kita pahami sebagai alasan untuk menganggap diri telah mencapai tingkat spiritual tertentu. Setttt…!! Reketek..! Bauttt…! WOW !!


Refrensi:

فأراد اللهُ تعريفَه أن من عبادِه في الأرضِ من هو أعلمُ منه، وأنه لم يكنْ له أن يَحْتِمَ على ما لا علمَ له به، ولكن كان ينبغي له أن يكِلَ ذلك إلى عالِم

تفسير الطبري جامع البيان – ت التركي ٣٢١/١٥ – ابن جرير الطبري (ت ۳۱۰)

وكان قد أعطي من العلم ما لم يعط موسى، وإن كان موسى عليه السلام أعلم منه بأكثر الأشياء، وخصوصا في العلوم الإيمانية، والأصولية، لأنه من أولي العزم من المرسلين، الذين فضلهم الله على سائر الخلق، بالعلم، والعمل، وغير ذلك

تفسير السعدي – تيسير الكريم الرحمن ٤٨١/١ – عبد الرحمن السعدي (ت ١٣٧٦) الكهف – ٦٢

قال القاضي أبو محمد: كان علم الخضر معرفة بواطن قد أوحيت إليه لا تعطي ظواهر الأحكام أفعاله بحسبها. وكان علم موسى عليه السلام علم الأحكام والفتيا بظاهر أقوال الناس وأفعالهم.

تفسير ابن عطية – المحرر الوجيز في تفسير الكتاب العزيز

٥٢٩/٣ – ابن عطية (ت (٥٤٢)

فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلامًا﴾ أي: صغيرا ﴿فَقَتَلَهُ﴾ الخضر، فاشتد بموسى الغضب، وأخذته الحمية الدينية، حين قتل غلاما صغيرا لم يذنب. ﴿قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا﴾ وأي: نكر مثل قتل الصغير، الذي ليس عليه ذنب، ولم يقتل أحدًا؟! وكانت الأولى من موسى نسيانا، وهذه غير نسيان، ولكن عدم صبر.

تفسير السعدي – تيسير الكريم الرحمن ٤٨١/١ – عبد الرحمن السعدي (ت ١٣٧٦) الكهف – ٦٢

﴿رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي﴾ أَيْ: هَذَا الَّذِي فَعَلْتُهُ فِي هَذِهِ الْأَحْوَالِ الثَّلَاثَةِ، إِنَّمَا هُوَ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ بِمَنْ ذَكَرْنَا مِنْ أَصْحَابِ السَّفِينَةِ، وَوَالِدَيِ الْغُلَامِ، وَوَلَدَيِ الرَّجُلِ الصَّالِحِ، ﴿وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي﴾ لَكِنِّي أُمِرْتُ بِهِ وَوُقِفْتُ عَلَيْهِ

تفسير ابن كثير – ت السلامة ۱۸۷/٥ – ابن كثير (ت (٧٧٤)

فَفِي هَذَا مِنَ الْفِقْهِ الْعَمَلُ بِالْمَصَالِحِ إِذَا تَحَقَّقَ وَجْهُهَا، وَجَوَازُ إِصْلَاحِ كُلِّ الْمَالِ بِإِفْسَادِ بَعْضِهِ

تفسير القرطبي – الجامع لأحكام القرآن ٣٦/١١ – القرطبي (ت ٦٧١)

وقولُه: ﴿وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمرِي﴾. يقولُ: وما فعلتُ يا موسى جميعَ الذي رأيتَني فعَلتُه عن رأيِي ومن تِلْقاءِ نفسى، وإنما فعَلتُه عن أمرِ اللهِ إياىَ به.

تفسير الطبري جامع البيان – ت التركي ٣٦٦/١٥ – ابن جرير الطبري (ت (۳۱۰)

قوله تعالى مخبرًا عن موسى وصاحبه وهو الخضر: أنهما انطلقا لما توافقا واصطحبا، واشترط عليه ألّا يسألة عن شيء أنكره، حتى يكون هو الذي يبتدئه من تلقاء نفسه بشرحه وبيانه

تفسير ابن كثير – ط أولاد الشيخ ۱۷۲/۹ – ابن كثير (ت (٧٧٤

وَلَا يُظَنُّ أَنَّ فِي تَعَلُّمِ مُوسَى مِنَ الْخَضِرِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْخَضِرَ كَانَ أَفْضَلَ مِنْهُ، فَقَدْ يَشِذُّ عَنِ الْفَاضِلِ مَا يَعْلَمُهُ الْمَفْضُولُ، وَالْفَضْلُ لِمَنْ فَضَّلَهُ اللَّهُ، فَالْخَضِرُ إِنْ كَانَ وَلِيًّا فَمُوسَى أَفْضَلُ مِنْهُ، لِأَنَّهُ نَبِيٌّ وَالنَّبِيُّ أَفْضَلُ مِنَ الْوَلِيِّ، وَإِنْ كَانَ نَبِيًّا فَمُوسَى فضله بالرسالة.

تفسير القرطبي – الجامع لأحكام القرآن ۱۷/۱۱ – القرطبي (ت(٦٧

الذي ختَم النُّبوَّةَ فطبَع عليها، فلا تُفْتحُ لأحدٍ بعدَه إلى قيامِ الساعة

تفسير الطبري جامع البيان – ت التركي ۱۲۱/۱۹ – ابن جرير الطبري (ت ۳۱۰)