Sentimentalisme dan Pelukan Rezim yang Tak Pernah Mati

Pada pertengahan 1990-an, ketika sastra koran dan majalah sedang berkembang pesat, nama Sony Karsono mulai bergema di kalangan pecinta sastra, terutama mereka yang gemar berburu cerita-cerita yang menabrak batas norma. Lahir di Prigen, Pasuruan pada 8 April 1971, Sony memulai karir kepenulisannya pada 1994 melalui artikel-artikel sosial dan budaya di media seperti Surabaya Post, Jawa Pos, Karya Dharma, dan Suara Karya. 

Namun, kejenuhannya pada format artikel membuatnya berpaling pada cerpen, yang memberinya ruang lebih luas untuk mengeksplorasi imajinasi. Debut cerpennya, Seikat Kembang Egois, muncul pertama kali di majalah Mode edisi Februari 1995, disusul Meteorit yang terbit di Kompas tujuh bulan setelahnya. 

Dengan gaya kepenulisan yang absurd, amoral, dan penuh kejutan, cerpen-cerpen Sony yang ditulis antara tahun 1995 sampai 1997 berserakan di berbagai koran dan majalah. Namun, seperti sosok yang hanya singgah sebentar di sebuah panggung sebelum menghilang ke balik tirai, Sony menghilang dari lanskap sastra tanah air, meninggalkan para pembaca setianya dengan banyak pertanyaan. 

Lima tahun berselang, namanya kembali mencuat lewat Surabaya Johnny (2002) yang termuat di majalah Kidung milik Dewan Kesenian Jawa Timur. Namun, alih-alih menjadi pertanda kembalinya ia ke dunia sastra, cerpen itu justru menjadi karya fiksi terakhirnya yang diketahui publik. Cerpen-cerpennya terus beredar secara underground dalam bentuk kliping dan fotokopian antar penggemar.

Teka-teki tentang “ke mana Sony pergi?” bertahan hingga dua dekade, sampai akhirnya Penerbit CV. Pustaka Anagram pada 2023 merilis Sentimentalisme Calon Mayat, buku kumpulan cerpen setebal 147 halaman dengan ukuran 14 x 20,3 cm yang menghimpun delapan karya Sony yang sebelumnya tercecer. Judul buku ini diambil dari salah satu cerpennya yang pernah masuk dalam Pistol Perdamaian: Cerpen Pilihan Kompas 1996. 

Sentimentalisme Calon Mayat—sebuah judul yang langsung memancing rasa ingin tahu. Siapa yang dimaksud dengan “calon mayat”? Apakah ini merujuk pada seseorang yang sedang menanti ajalnya? Atau sekadar metafora tentang manusia yang setiap hari melangkah lebih dekat menuju kematian? Lalu, mengapa “sentimentalisme”? Apakah buku ini berisi cerita-cerita melankolis menjelang akhir hidup? Atau ini justru sindiran terhadap cara manusia menghadapi kefanaan?

Pertanyaan-pertanyaan itu semakin bergaung saat saya mulai menyelami isi kumpulan cerpen ini.  Ada delapan cerita yang termuat di dalamnya, yaitu Sentimentalisme Calon Mayat, Meteorit, Melankoli, Sukra, Seikat Kembang Egois, Insomnia, Tirai, serta Surabaya Johnny: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (Seperti Dipaparkan kepada Pieter Jansma). Buku ini pernah menyabet sejumlah penghargaan bergengsi, seperti Penghargaan Sastra Cerpen Kemdikbudristek (2023), Anugerah Sastra Sutasoma (2023), serta dinobatkan sebagai Buku Prosa Pilihan Tempo pada tahun yang sama. Bahkan, buku ini kini masuk dalam Kurikulum Merdeka sebagai bahan bacaan di Sekolah Menengah Atas.

Karya-karya Sony Karsono dalam buku ini merupakan bentuk respon transgresif terhadap realitas Orde Baru. Karakter-karakternya yang liar, sinting, dan menentang norma merupakan sebuah keberanian yang langka di era tersebut. 

Dalam sebuah wawancara dengan kritikus musik dan sastra, Adib Arkan (12 Agustus 2023), Sony mengakui bahwa pengalamannya hidup di bawah rezim Orde Baru sangat memengaruhi karya-karyanya. Hal ini mengingatkan pada konsep “habitus” menurut Bourdieu, yaitu kecenderungan yang terbentuk dari pengalaman dan pembiasaan, yang berlangsung secara alamiah baik disadari maupun tidak, dan berkembang dalam lingkungan sosial tertentu (Haryatmoko dalam Jatmiko dan Abdullah, 2021: 104).

Sony tumbuh dalam masyarakat yang dikendalikan oleh sistem otoriter, penuh aturan, dan ketakutan. Dengan demikian, gaya dan tema dalam karya-karya Sony dapat dipahami sebagai ekspresi dari habitus yang terbentuk dalam tekanan sosial-politik era Orde Baru.

Ia selalu bertanya-tanya: “apa yang bisa menjadi antitesis dari cara hidup Orde Baru?”

Dari pertanyaan itulah, lahir dunia-dunia dalam cerpennya, dunia yang melawan tatanan, menolak tunduk pada norma, dan memparodikan kekakuan masyarakat dengan absurditas serta amoralitas. Bagi Sony, selain sebagai alat berekspresi, sastra juga bisa menjadi medium perlawanan. Kritik perlu dilakukan bukan karena karya ini lemah, melainkan karena terlalu kuat, dan kekuatannya itu perlu diurai, dipertanyakan, serta ditakar ulang agar tidak sekadar menjadi simbol perlawanan yang kehilangan daya gigitnya dalam ruang baca pendidikan formal.

Sentimentalisme Calon Mayat adalah pembuka kumpulan cerpen ini, mungkin juga menjadi lubang pertama saya jatuh, terseret masuk ke dalam dunia yang absurd. Cerita dibuka dengan narasi kenangan masa kecil Johan yang ditinggalkan oleh ayahnya, ia tumbuh menjadi pribadi yang rapuh. Satu adegan yang paling ganjil adalah ketika Johan mengagumi dan menyetubuhi mayat perempuan di rumah sakit.

”Angin bertiup buas, menyingkap betis dan paha sang mayat. Oh! Kaki Marilyn Monroe? Bukan! Tapi kaki putih, padat, kencang, dan licin itu memompa berahiku.” (Sentimentalisme Calon Mayat, hal. 5-6).

Tubuh mati yang dijadikan objek hasrat ini menjadi simbol “subaltern” seperti dikemukakan oleh Spivak. Istilah ini mengacu pada kelompok masyarakat yang mengalami penindasan secara sosial, politik, dan geografis oleh pihak berkuasa (Setiawan, 2018: 13). Spivak pernah bertanya dalam judul esainya, Can the Subaltern Speak?. Di dunia Johan, jawabannya adalah tidak. Mereka hanya bisa diam, terbujur kaku, dan dijadikan layar proyeksi atas kekuasaan. Sebagaimana dijelaskan dalam logika biopolitik Foucault, tubuh adalah wilayah utama di mana kekuasaan bekerja (Syahrin, dkk., 2020: 278).

Cerpen ini juga menggambarkan potret tekanan batin Johan yang tidak pernah cocok dengan konstruksi lelaki maskulin ala Orde Baru. Seperti yang diungkap Kartika dan Iqbal (2023: 49), budaya Orde Baru mengidealkan laki-laki sebagai sosok yang tampan, mapan, dan jantan.

“Eh, Johan. Coba lihat rambut dada Mel Gibson! Hmmm, jantannya!”

“Ya, Sita, tak seperti aku: seonggok tulang loyo yang sebentar lagi modar.” (Sentimentalisme Calon Mayat, hal. 7).

Johan bukan lelaki yang mampu “menggenggam dunia”. Ia bahkan tidak mampu menggenggam dirinya sendiri. Teori “ambivalensi” Bhabha relevan dengan narasi ini. Williams dan Chrisman (dalam Mifthah, 2016: 20) mengungkapkan, istilah ambivalensi awalnya berasal dari psikoanalisis dan merujuk pada keadaan batin yang terus bergeser antara dorongan untuk meraih sesuatu dan dorongan yang berlawanan untuk menolaknya. Dalam cerpen ini, Johan terjebak dalam tarik-menarik antara keinginan untuk menyesuaikan diri dengan narasi dominan (maskulinitas ala Orde Baru) dan ketidakmampuan untuk merealisasikan citra tersebut. 

Johan adalah tubuh yang retak karena narasi dominan maskulinitas yang dikonstruksi pada masa itu. Ia kehilangan makna dirinya sebagai laki-laki dan manusia. Bahkan tindakan terakhirnya, menabrakkan mobil ke bus, menjadi bentuk terakhir dari keputusasaan yang tidak bisa lagi dituturkan secara verbal sehingga ia memilih untuk mengekspresikannya melalui tindakan destruktif.

Setelah cerpen pertama ditutup dengan akhir yang tragis, Sony tidak memberi waktu bagi pembaca untuk bernapas. Ia langsung menghantam lagi lewat cerpen kedua, Meteorit, yang terasa lebih liar dan mengguncang nalar. Tokoh Djarot, bangkit kembali dari kematian dengan kain kafan yang masih membalut tubuhnya.

“Djarot, demikian lelaki itu dikenal, terbangun dalam bebatan kafan anyir.” (Meteoritt, hal. 9).

Dalam balutan kain kafan itu, kita bisa membaca alegori tentang rezim Orde Baru yang tak pernah benar-benar mati, hanya berganti jubah saja. Sosok Djarot menjelma sebagai hantu kekuasaan yang hadir dalam kehidupan masyarakat dengan aroma busuk yang tak pernah hilang.

Pemilihan sudut pandang orang ketiga serba tahu dalam cerpen ini semacam kamera Tuhan yang melihat semuanya, memperkuat kesan bahwa cerita ini hendak memperlihatkan absurditas sistem sosial dan politik secara utuh, bukan hanya dari sisi batin tokoh. 

Cerpen ketiga, Melankoli, menampilkan gambaran suram tentang kegagalan maskulinitas dan keabsurdan peran gender dalam masyarakat era Orde Baru, mirip dengan tema cerpen pertama. Tokoh laki-laki “Aku” menjadi simbol dari laki-laki yang terseret dalam ekspektasi sosial yang tidak sanggup ia penuhi, baik sebagai suami, komedian, maupun sebagai representasi laki-laki ideal pada masa itu.

Salah satu adegan paling absurd dalam cerpen ini muncul ketika tokoh utama melelang dirinya di sebuah toko pizza dan “dibeli” oleh pegawai toko itu, yang kemudian menjadi istrinya. 

“Mengapa kalian diam saja? Lihatlah tubuhku! Belilah tubuhku!” (Melankoli, hal. 23).

Narasi ini membalik logika patriarki yang berlaku, di mana justru laki-laki dijadikan sebagai objek. Hal ini menohok sistem sosial warisan Orde Baru yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan domestik dan negara, tetapi sekaligus dibebani dengan standar keberhasilan yang menekan. Cerpen ini memperlihatkan kegagalan laki-laki dalam memenuhi peran tersebut. Seperti terlihat dalam kutipan berikut.

“Tubuhku libur,” sahutku. “Tubuhku cuti.”

“Aku ingin mengonsumsi tubuhmu.”

“Maaf. Aku telanjang sekarang. Tapi tubuhku lenyap.” (Melankoli, hal. 22)

Dari kutipan tersebut, tampak tubuh yang lebih memilih untuk menghilang dari perannya. Puncaknya adalah ketika tokoh menyembelih alat kelaminnya, sebagai bentuk penolakan terhadap konstruksi gender hegemonik.

“Aku bertekad menghapus sejarah dalam kelaminku. Maka pada suatu pagi, tanpa menangis, kusembelih kelaminku dengan sebilah belati.” (Melankoli, hal. 25).

Teori maskulinitas hegemonik Connell merujuk pada citra laki-laki ideal yang dikonstruksi oleh masyarakat (Drianus, 2019: 41). Identitas laki-laki di Indonesia pada era Orde Baru dibentuk melalui propaganda maskulinitas, yaitu kuat, mampu memimpin, dan dominan dalam ranah rumah tangga. Namun, dalam cerpen ini, gambaran itu terbalik. Yang tampak justru laki-laki yang gamang, kehilangan kendali atas tubuh dan peran, serta tidak sanggup memenuhi citra ideal yang diwariskan Orde Baru. Maka, tokoh utama melakukan tindakan nyeleneh berupa penyembelihan alat kelamin. Selain menjadi bentuk dari rasa depresi yang ia alami, tindakan nyeleneh itu juga menggambarkan bentuk protes terhadap peran gender yang membebani dan tidak manusiawi.

Lain halnya dengan ketiga cerpen sebelumnya, cerpen Sukra menyuguhkan distopia yang sarat kritik terhadap proyek modernisasi Orde Baru. Pertemuan Sukra dengan seksolog hologram menjadi awal absurditas dari cerpen ini. 

“Aku hanya hologram yang disemburkan mesin kecerdasan buatan. Aku mentormu dalam gegap-gempita simulasi cinta Renjana Release 5.” (Sukra, hal. 28).

Dari sini, pembaca langsung diseret ke dunia futuristik yang memparodikan masa depan penuh teknologi. Cerita ini bisa dibaca sebagai sindiran terhadap logika pembangunan Orde Baru yang mengagung-agungkan teknologi, tetapi mengabaikan dimensi kemanusiaan. Penekanan terhadap tubuh yang dikontrol, disiksa, dan akhirnya dimusnahkan oleh negara direpresentasikan dalam penyiksaan brutal terhadap Sukra. 

“Bertubi-tubi tubuh Sukra digasak pentungan tentara. Segenggam semut api dijejalkan ke pelupuk matanya…Lehernya dibetot, dipelintir, dan diinjak. Zakarnya ditebas. Jasadnya dicampakkan ke pinggiran Kota Lama, di Tempat Pembuangan Akhir, tempatnya pemerintah kota mengasingkan para mutan, psikopat, penyandang HIV-AIDS, dan pecandu narkotika.” (Sukra, hal. 34).

Adegan ini mencerminkan praktik eksklusi politik pada masa Orde Baru, mirip seperti tapol 1965 atau kelompok marginal lain. Negara bertindak sebagai entitas yang menentukan nilai tubuh, siapa yang berhak hidup dan siapa yang dianggap “sampah” dalam sistem sosial dan politik.

Kota Lama, yang digambarkan penuh teror dan kesuraman juga semakin memperkuat distopia Orde Baru dalam cerpen ini.

“Berkafankan kabut merah, Kota Lama bergetar dalam oplosan jerit alarm pabrik, lolong sirine ambulans, dan dentam palu hidrolik menancapkan tiang pancang ke bumi.” (Sukra, hal. 35).

Penggambaran ini merupakan alegori terhadap kehancuran sistemik akibat kekuasaan yang mengabaikan rakyat kecil. Kota Lama menjadi simbol keterpurukan bangsa akibat eksploitasi dan kekerasan struktural yang menyamar sebagai modernisasi.

Beralih dari dunia futuristik pada cerpen Sukra, cerpen Seikat Kembang Egois menampilkan kegamangan batin seorang pemuda bernama Johan yang berusaha memenangkan hati seorang gadis bernama Levana dengan menghadiahkan bunga mawar merah. Dalam perjalanannya ke rumah Levana, Johan dihadapkan dengan dilema moral, antara menolong lelaki tua yang sekarat di bus atau tetap berfokus pada hasrat pribadinya.

“Seandainya aku pemuda budiman, kupilih si tua ini, tapi aku remaja kasmaran. Jelas pilihanku menyerahkan seikat kembang untuk Levana.” (Seikat Kembang Egois, hal. 46).

Diksi “remaja kasmaran” di sini menegaskan betapa Johan lebih memilih untuk memenuhi hasrat pribadinya daripada nilai kemanusiaan. Inilah wajah modernitas yang dibentuk oleh warisan kolonial—individualistik, egosentris, dan cenderung meminggirkan suara-suara yang lemah. Edward Said dalam Orientalism menegaskan bagaimana kolonialisme membangun biner antara yang “beradab” dan yang “primitif,” antara “modernitas” dan “tradisionalitas.” (Cipta dan Kurniawan, 2025). 

Johan, yang berusaha meniru modernitas romantis Barat dengan memberi bunga mawar merah, justru gagal menemukan makna sejati dari “kasih” yang seharusnya menyertai tindakan tersebut. Tampak jelas bagaimana modernitas yang diidam-idamkan Johan justru terjerembap dalam absurditas sosial yang penuh keterasingan. Ia menggambarkan para penumpang bus dengan ironi yang getir:

“Sikap tubuh mereka kaku, kulit mereka pink pucat, dan mereka terpaksa senyum dengan tatap mata kosong yang tampak seragam—mengingatkanku pada boneka-boneka fiberglass dalam etalase sejumlah butik mal Tunjungan Plaza.” (Seikat Kembang Egois, hal. 41).

Suasana ini mengingatkan pada konsep “mimikri” Homi K. Bhabha. Para penumpang bus adalah representasi dari manusia pascakolonial yang meniru modernitas kolonial, tetapi kehilangan keotentikan. Mereka bagai “boneka fiberglass”, tampak hidup namun kosong. Dengan kulit pink pucat dan senyum kosong, mereka menjadi simbol manusia yang kehilangan makna karena meniru modernitas yang dipaksakan.

Sementara itu, lelaki tua yang sekarat di bus mencerminkan “subaltern” sebagaimana dibahas oleh Spivak dalam Can the Subaltern Speak?. Lelaki tua itu, yang membutuhkan bantuan, tidak mampu bersuara, atau lebih tepatnya, suaranya tidak didengar. Johan lebih memilih memuaskan keinginannya sendiri daripada menolong orang lain. Ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai individualistik, sebagai warisan kolonial, telah mengalahkan solidaritas sosial.

Beralih ke Insomnia yang kembali memperlihatkan bagaimana ideologi Orde Baru menata ulang relasi sosial, terutama dalam hal peran gender. Sony tidak memilih jalan yang gamblang. Ia tidak langsung menunjuk-nunjuk atau menuding. Sebaliknya, ia menghadirkan kisah yang tidak kalah absurd dari cerita sebelumnya. Bagaimana tidak? Sony menggambarkan tokoh utama, Lobo Karioka, jatuh cinta pada boneka silikon di sebuah sex shop. Ia beli, ia nikahi, lalu mereka “punya tiga anak”. 

“Boneka silikon itu kubeli dan kubawa pulang naik taksi. Kami menikah dan punya tiga anak.” (Insomnia, hal. 50).

Apakah ini sekadar humor gelap? Tidak. Sony, dengan narasi yang ia buat, sedang menyindir dalam-dalam konstruksi relasi gender yang dibentuk oleh ideologi Orde Baru, di mana boneka silikon itu adalah metafora perempuan ideal dan “sempurna” ala rezim. Patuh, tidak bersuara, dan tidak menuntut. 

Setelah hidup bersama selama 39 tahun, boneka itu “meninggal”. Lobo kembali ditelan sunyi.

“Aku patung jerami terpaku di sawah, dipatuki gelatik. Aku merasa tak pernah hidup.” (Insomnia, hal. 51).

Kita tidak tahu apakah Lobo benar-benar kesepian, atau justru baru menyadari betapa hampa hidupnya. Tapi satu hal yang jelas, ini adalah gambaran krisis maskulinitas. Lelaki seperti Lobo, yang hidup dalam kerangka dominasi Orde Baru, tidak siap menghadapi relasi yang setara. Ia mencari pelarian pada figur yang tidak pernah melawan. Ketika figur itu pergi, ia pun terpuruk.

Buku ini ditutup dengan cerpen yang alih-alih bersuara lirih, justru meledak seperti nyanyian rock keras. Surabaya Johnny: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (seperti Dipaparkan kepada Pieter Jansma), begitu judulnya. Panjang dan terdengar seperti laporan resmi. Gaya penulisannya seperti autobiografi fiktif, tapi tak lain adalah parodi terhadap buku-buku “serius” era Orde Baru yang penuh propaganda.

Kita diajak mengenal Johnny, seorang pujangga yang nyentrik, liar, dan menolak keteraturan. Johnny adalah semacam gambaran sastrawan yang muak. Muak pada hidup yang monoton, dan lebih dari itu, muak pada aturan yang membatasi kebebasan berekspresi. Sejak muda, Johnny sudah menunjukkan gejala perlawanan terhadap kehidupan yang dianggapnya membosankan itu. Dunia yang terlalu rapi, atau pura-pura rapi, tidak memikatnya sama sekali.

Melalui tokoh Johnny, Sony menyuarakan keresahan sastrawan yang merasa sastra telah kehilangan nadinya karena ditekan oleh kekuasaan. Bahwa sastra bukan hanya berbentuk puisi-puisi indah dengan kalimat puitik, tetapi seharusnya juga menjadi media untuk bersuara, bahkan berteriak.

Ia menolak bentuk hegemoni, yang diam tapi mencekik. Seperti yang diungkapkan oleh Gramsci, hegemoni adalah kepemimpinan yang dibentuk melalui ideologi dan budaya yang seolah disepakati bersama (Maratussholihah, dkk., 2024: 274). Seolah sukarela, padahal diam-diam memaksa. Geleuk (2020) menambahkan, hegemoni berfungsi menutupi kenyataan adanya dominasi. Maka dalam dunia Johnny, tidak ada lagi puisi yang bersih dan steril. Yang ada hanyalah puisi brutal. Lihat bagaimana ia digambarkan:

“Penyair maksiat tentang kaum budak kota yang keok dalam duel kontra kapitalisme neoliberal…” (Surabaya Johnny, hal. 74).

Barangkali memang, seperti yang ia pikirkan, hidup hanya bisa dirayakan apabila kita menolak tunduk. Cerpen ini berbicara tentang kolonialisme internal, penjajahan tanpa penjajah asing, tetapi oleh negara sendiri atas pikiran rakyatnya. 

Cerita-cerita dalam kumpulan cerpen Sentimentalisme Calon Mayat secara keseluruhan menyuarakan perlawanan terhadap “hantu Orde Baru” dengan cara yang liar, gelap, dan penuh satire. Secara isi, kekuatan kumpulan cerpen ini terletak pada keberaniannya membongkar tabu, otoritas, dan norma sosial melalui karakter-karakter yang nyentrik. Namun, pendekatan yang absurd dan amoral terkadang memberikan kesan ekstrem yang bisa membuat pembaca kehilangan pegangan jika tidak memahami konteks sosial-politik di baliknya.

Secara bentuk, narasi-narasi dalam buku kumpulan cerpen ini ditulis dengan gaya yang metaforis dan menggugah, tetapi juga menantang. Kalimat-kalimatnya tidak mengalir mulus seperti karya kebanyakan; justru itulah bentuk resistensinya terhadap gaya penulisan yang “tertib” ala Orde Baru.

Dibanding karya sastra sejenis dari masa yang sama, cerpen-cerpen Sony Karsono memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Ia memilih bahasa yang gaduh dan brutal. Hal ini menjadi sebuah langkah yang menempatkannya di luar pakem penulis “aman” pada masanya. Dalam konteks sejarah sastra Indonesia, kumpulan cerpen Sentimentalisme Calon Mayat adalah bentuk dokumentasi rasa frustasi dan keterasingan generasi yang tumbuh di bawah bayang-bayang rezim Orde Baru. Ia juga menjadi artefak perlawanan yang memaksa kita untuk membaca sejarah dari sudut pandang para “pengganggu”.


DAFTAR PUSTAKA

Cipta, S., & Kurniawan, P. (2025). Meninjau Kembali Pemikiran Edward Said tentang Studi Orientalisme dalam Pandangan Poskolonial. Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial, 292-301.

Drianus, O. (2019). Hegemonic Masculinity (Wacana Relasi Gender dalam Tinjauan Psikologi Sosial). PSYCHOSOPHIA: Journal of Psychology, Religion, and Humanity, 36-50.

Geleuk, M. (2020). Bentuk-Bentuk Hegemoni pada Tokoh Periferal dalam Novel “Pasung Jiwa” Karya Okky Madasari. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 65-78.

Jatmiko, R., & Abdullah, M. (2021). Habitus, Modal, dan Arena dalam Cerbung Salindri Kenya Kebak Wewadi Karya Pakne Puri Tinjauan Bourdieu. Sutasoma: Jurnal Sastra Jawa, 100-115.

Karsono, S. (2023). Sentimentalisme Calon Mayat. Jakarta Utara: CV. Pustaka Anagram.

Kartika, K., & Iqbal, M. (2023). Toxic Masculinity di TikTok. Aksiologi: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, 48-62.

Maratussholihah, Z., Rengganis, R., & Yuwana, S. (2024). Potret Hegemoni Negara dalam Kumpulan Cerpen Corat-Coret di Toilet Karya Eka Kurniawan. Deiksis, 273-285.

Mifthah, M. (2016). Novel Mausimu Al-Hijrah Ila Asy Syamali Karya At-Tayyib Salih: Sebuah Tinjauan Poskolonial. Tesis. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada.

Setiawan, R. (2018). Subaltern, Politik Etis, dan Hegemoni dalam Perspektif Spivak. Poetika: Jurnal Ilmu Sastra, 13-25.

Syahrin, M., Farauqi, M., & Jamal, S. (2020). Analisis Biopolitik dan Kontrol Populasi Penduduk Melalui Program Keluarga Berencana di Kota Samarinda. Jurnal Politik Profetik, 274-295.

Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Menaruh minat pada dunia tulis-menulis, sastra, dan pembacaan karya. Baginya, tulisan adalah ruang untuk menelusuri makna dan memahami kehidupan melalui kata-kata.