Kegembiraan Simbol dalam Protes

Saat seseorang mengunjungi tempat tertentu, yang konon katanya terdapat suatu aktivitas astral di tempat tersebut, yang ia dapatkan melalui berita-berita yang berseliweran dalam masyarakat. Hingga mengurungkan niatnya, untuk mengunjungi tempat tersebut, sebab informasi yang belum terverifikasi secara jelas, yang hanya bermodalkan konon katanya. Namun, suatu hal yang kecil tersebut mempunyai efek yang luar biasa dan jarang kita sadari sedari hidup.

Tentunya, efek luar biasa tersebut muncul dikarenakan sistematika bahasa yang memengaruhi kondisi dan mengaktifkan atribusi terhadap simbol. Bahasa hingga akhirnya menciptakan sebuah efek terhadap indra-indra dalam kehidupan manusia, layaknya mesin yang ditenagai listrik seperti itulah bahasa mengaktivasi kehidupan di dunia metal ini. Seperti suatu barang yang dapat dijual lebih laris, ketika ia mendapatkan sandangan tertentu, dalam contoh baju ini konon katanya menjadi warisan sesepuh dahulu makanya baju ini sangat bernilai dan sakti.

Mitos yang muncul tak ujug-ujug datang seperti itu, melainkan gosip dan permainan bahasa atau yang sering disebut dengan mistis memengaruhi keadaan mitos tersebut, dan tentunya ia berasal dari keseharian dan cara bahasa dipergunakan dalamnya. Peranan penyebaran gosip di masyarakat tentu menjadi faktor krusial dalam perkembangan suatu mitos selain bahasa. Sebab, semakin kuat mitos, bergantung pada besaran penyebaran mistis dalam sebuah kehidupan.

Maka, tak ayal sebuah mitos memerlukan popularitas untuk memperbesar kekuatan mistisnya. Semakin ia dibicarakan dan digunakan, semakin besar pula pengaruh mistis dalam mitos tersebut. Selain popularitas dari mitos, pelestarian dan kepercayaan relasi mistis terhadap simbol menjadi modal penyebaran dan perkembangan suatu mitos. Mitos pada akhirnya, tumbuh hidup atau layu bergantung pada kelestarian dan penyebaran, dan mitos dalam simbol sehari-hari menumbuhkan psike masyarakat sebagai sarana pembelajaran yang kontinu.

Simbol, Mitos dan Pengeroposan Generasi Abang-Abangan

Ketika fungsi mitos telah dibedah secara menyeluruh dan merinci, baiknya kita melanjutkan pada tatanan praksis pada simbol mistis dalam gerakan sosial yang menjadi katarsis di catatan kecil ini. Dunia kali ini sedang dalam perubahan besar, generasi-generasi baru datang dengan cara-cara unik mereka untuk memprotes dan melawan. Mereka tak hadir dengan protes-protes yang telah turun-temurun dilaksanakan katanya, kehadiran mereka menjadikan protes sebagai keseharian yang dibawa. Aksi-aksi mereka tak melulu turun ke jalan, layaknya protes-protes konvensional, mereka membawa nuansa yang segar menghadirkan simbol-simbol protes yang bergulir terus-menerus secara sibernatik dalam garis besarnya.

Generasi abang-abangan sudah saatnya mengalami pengeroposan, cara pandang tradisional mereka mesti diganti. Protes-protes yang mesti menggulung di suatu tempat, sudah harus tergantikan menjadi spora yang menyebar. Ia tak bisa memaksakan kehendak terdahulunya merebut gedung DPR sebagai deklarasi kemenangan. Hari ini, generasi kami yang akan memimpin jalanan dan protes-protes, dan kami mempunyai cara tersendiri untuk menyalurkan hasrat-hasrat itu, kami memang bebal, tak ada kamus deklarasi kemenangan pasti seperti apa, namun tujuan kami tetap sama yaitu kesetaraan dan keadilan di semua pihak.

Simbol tiga jari kami bukan semata-mata datang begitu saja, mitos itu berkembang sedemikian rupa dari film sampai revolusi sejarah negara Asean. Hendaklah mengeropos sepenuhnya abang-abangan, kami memiliki jalan pendidikan politik tersendiri. Kami memaknai protes sebagai jalan kegembiraan, simbol-simbol dan meme kami hadirkan sebagai bentuk perlawanan, sebab hari ini pamflet sederhana lebih sakti dari pada buku Das Capital si jenggot perompak itu. Kami tak akan terpaku pada romantika zaman baheula, karena ruang silih berganti, dan arena terus berubah.

Namun, mesti kalian sadari bahwa simbol dan meme kami lebih ampuh ketimbang teori-teori yang meliuk-liuk dalam pikiran. Jika kalian masih ragu dengan kesaktian mitos simbol dan meme kami, lihat saja kasus-kasus yang menyangkut timpa teks kemarin. Ya sedikitnya, menggambarkan betapa takutnya rezim kali ini dengan simbol dan meme, mereka mungkin mengartikan meme dan jokes layaknya rudal menimpa gedung putih yang menjadi simbol keangkuhan mereka.

Suara-suara kami tak perlu terdengar keras di toa-toa atau pun mobil komando aksi, sebab ketika kami mengacungkan tiga jari itu lebih dimengerti “Untuk apa kami turun ke jalanan”. Itu semua dimulai ketika kami menyebarkan gosip di sosial media, simbol seperti tiga jari dan meme kami hadirkan sebagai bentuk protes. Meme tersebut hadir untuk menyederhanakan isu-isu kompleks, dan ia hadir sebagai demitologisasi untuk menghancurkan citra-citra kesakralan para simbol-simbol angkuh.

Partisipasi digital melalui meme lebih dirasakan kehadirannya, kiranya ibu-ibu dapat membagikan postingan di platform tertentu ke grup keluarga mereka, atau bocil-bocil kematian bercuit di section Instagram melalui meme politik yang menggembirakan. Itulah bagaimana meme dan simbol tiga jari merupakan hasil dari penyebaran gosip dan relasi mistis di dalamnya. Karenanya kebudayaan digital seperti meme dan jokes-jokes politik lebih gampang diserap, ketimbang kelas revolusi yang berjilid-jilid dilakukan.

Tentu, kami tak datang dengan ruang kosong di benak, meme mesti diliputi intrik-intrik politik yang dicampurkan dengan bacaan-bacaan sederhana kami. Tak perlu repot-repot menanyakan kapan kami akan bertindak, sebab menyebarkan suatu cuitan mengenai ketidakadilan di media maya merupakan upaya kami mengorganisir massa. Jika itu masih disebut dengan ilusi protes di jalan juang, maka kami bersepakat bahwa perlawanan tak hanya sebatas di dunia maya. Namun, cara tradisional memahami perlawanan dengan spesifik itu yang kami tentang, karena perlawanan kami lebih menyehari dan lebih menyenangkan ketimbang teriak-teriak tanpa ada partisipasif dan daya dobrak pasti.

Sederhana saja, biarkan kami menempuh jalan sendiri, sebab protes dan perlawanan adalah keseharian yang menggembirakan, tak perlu sangkal kehadiran kami sebagai pembawa nuansa baru. Karena, meme kami lebih sakti dari pada tulisan-tulisan panjang yang hanya dibicarakan segelintir orang. Sampai jumpa di jalanan, dan sehat selalu, biarkan simbol-simbol kami lebih mencekam dari pada buku-buku tebalmu.

Mahasiswa yang suka ngopi, baca, menulis, juga menabung buku. Hobinya mengutuki dunia dengan cara membuat wacana kritis.