Melangkah di Atas Puing: Perjalanan yang Tak Selalu Lurus

Catatan kecil tentang hari-hari yang berat, malam yang sunyi, dan arti pemulihan yang sesungguhnya. Ada hari di mana hidup terasa seperti rutinitas mekanis yang melelahkan. Keadaan memaksaku untuk menelan obat pahit secara tepat waktu. Pikiran-pikiran gelapku terus berputar dan aku memilih untuk memejamkan mata agar dunia luar sepenuhnya tak terlihat olehku. Aku seperti berada di ujung titik tak berdasar, bahkan bertahan hidup saja rasanya sudah membutuhkan seluruh energi yang aku miliki.

Malam panjang rasanya kerap bertamu membawa badai. Pikiran itu riuh tidak mau berhenti, menciptakan gelisah yang sulit diredam, sementara aku dipaksa berdamai dan tidur dalam dekapan sang gelap. Rasanya melelahkan berjuang berperang melawan musuh tak kasat mata yang tinggal di kepalaku sendiri.

Sering kali aku merasa gagal saat hari buruk datang padahal hari hari sebelumnya aku baik-baik saja. Aku mulai bertanya:

Kenapa aku jatuh lagi? Aku gagal ya? Usahaku kurang maksimal ya?

Ada kalanya kesembuhan tidak hadir sebagai sebuah kejutan yang terang benderang. Ia datang dalam bentuk kesunyian; menelan pil pahit setiap hari dari profesional yang membantuku melewati gelapnya dunia. Aku senang ada yang membantu tapi sayangnya aku hidup dalam budaya yang mendewakan garis lurus. Semua percaya bahwa hidup bergerak dari titik satu ke titik satunya dengan pemikiran

“hari ini harus lebih baik dari kemarin dan besok harus lebih terang dari hari ini”

Padahal, pemulihan itu tidak pernah linier. Seperti alam yang punya musim gugur dan musim dingin atau musim lainnya. Hati ini sebetulnya berhak untuk lelah. Mundur beberapa langkah bukan berarti aku gagal melanjutkan perjalanan. Aku hanya sanggup bernafas dan duduk di sofa pun bukan hal yang sia-sia, itu adalah caraku bertahan hidup dan itu termasuk proses pemulihan.

Tidak perlu terburu-buru menuntut diri untuk langsung menjadi utuh. Berproses itu berantakan, pelan, dan kadang melelahkan. Jadi, kalau hariku hari ini terasa berat, aku akan biarkan saja. Hal itu bukan bukti bahwa aku gagal, Itu hanya bagian dari ritme tubuh yang sedang mencari keseimbangannya kembali. Besok atau lusa atau kapanpun, aku tetap akan melangkah pelan untuk melanjutkan perjalananku. Tidak ada tenggat waktu untuk sembuh, semua akan sampai pada garis akhir.

Berilah diri ini ruang untuk bernapas. Biarkan diri ini merasakan jantung yang terus berdetak. Mungkin tujuan dari perjalanan ini bukan untuk kembali menjadi diriku yang dulu, tetapi untuk menjadi versi terbaik dari diriku. Maka biarkanlah saat ini diri sendiri melangkah dengan tempo yang aku suka, tidak perlu berlari, tidak perlu sibuk membuktikan apapun kepada siapa pun. Aku berhak belajar tentang diriku, tentang hidupku, tanpa terus takut pandangan orang lain.

Christiara Febriliani, lahir di Klaten, 3 Februari 1997. Ia merupakan seorang lulusan Sarjana Hukum dari Universitas Sebelas Maret (UNS) yang menyukai dunia tulis-menulis dengan minat pada isu kesehatan mental dan pengalaman manusia dalam menghadapi kehidupan. Baginya, menulis merupakan cara untuk memberi suara pada hal-hal yang kerap sulit diungkapkan dan membuka ruang bagi pemahaman yang lebih luas mengenai dunia kesehatan mental.