Harmoni Pikiran dan Keyakinan: Kunci Mewujudkan Impian

Dari banyaknya hal di dunia ini, ada beberapa yang menarik perhatian setiap orangnya. Namun, pernahkah suatu hal tersebut sulit atau tidak terealisasikan?

Atau pernahkah Anda merasa sudah berusaha keras, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan? Anda punya banyak rencana, tapi sulit sekali untuk memulainya. Mengapa menurut Anda hal itu bisa terjadi?

Faktor yang paling mempengaruhi seseorang terdapat pada pikiran nya. Apa yang seseorang pikirkan, apa yang membuatnya yakin, apa yang membuatnya bisa mencapai hal-hal yang ia inginkan, itulah kuncinya.

Tubuh manusia diibaratkan sebuah proyektor presentasi. Proyektor akan memaparkan apa yang akan dipresentasikan di sebuah layar kosong. Sebelum melakukan presentasi, pastinya sudah disiapkan dulu materinya. Nah, materi itu disebut input sedangkan yang ditampilkan ke layar itu output nya. Biasanya kebanyakan orang fokus langsung pada output nya dibanding ke input nya. Mereka fokus pada hasilnya dulu. Padahal titik utama nya ada di input. Input itu adalah pikiran kita yang mempengaruhi output nantinya.

Lalu, bagaimana sebenarnya cara kerja “input” dalam diri kita? Sebuah kutipan mengatakan, “Hidup sesungguhnya adalah tentang memiliki keyakinan dan pola pikir yang seirama. Keduanya harus selaras agar apa pun yang Anda pikirkan dapat menjadi kenyataan.”

Dalam analogi proyektor, kita tahu bahwa “input” adalah kunci. Namun, input dalam diri manusia terdiri dari dua lapisan: pola pikir di permukaan dan keyakinan di lapisan terdalam. Pola pikir atau mindset adalah cara kita memandang situasi dan menyusun strategi, misalnya seorang pelajar yang mendapat nilai jelek bisa berpikir, “Saya perlu belajar lebih giat” (growth mindset) atau “Saya memang bodoh” (fixed mindset). Mindset pertama menganggap sesuatu yang tidak sesuai harapannya adalah sebuah langkah agar bisa lebih baik dengan perbaikan yang dimulai dari dirinya. Mindset kedua lebih memilih untuk menetapkan kalau dirinya tidak bisa berkembang, atau bahasa mudahnya (nge-stuck).

Sementara itu, keyakinan adalah fondasi fundamental yang seringkali tidak kita sadari, seperti keyakinan “Apakah saya pantas sukses?” atau “Apakah dunia ini aman bagi saya?” Masalah muncul ketika kedua lapisan ini tidak selaras. Seseorang bisa saja memiliki pola pikir yang hebat. Katakanlah, ia rajin membaca buku motivasi dan berkata, “Saya bisa sukses!”Namun jauh di lubuk hatinya, ia menyimpan keyakinan lama yang berkata, “Orang dari keluarga saya memang tidak ada yang sukses.” Akibatnya, energi mentalnya habis untuk perang batin, bagaikan mobil dengan setir yang dibanting ke kanan (pola pikir ingin sukses), tetapi rodanya terkunci ke kiri (keyakinan bahwa dirinya tidak pantas sukses). Mobil itu hanya akan bergetar, tetapi tidak maju ke mana pun. Inilah jawaban mengapa usaha keras seringkali tidak membuahkan hasil: bukan karena kurang berusaha, tetapi karena ada pertentangan diam-diam di dalam “input” diri sendiri. Untuk menyelaraskannya, kita perlu tiga langkah. Pertama, identifikasi keyakinan lama yang membatasi dengan bertanya, “Keyakinan negatif apa yang selama ini saya pegang?” Kedua, tantang dan ubah keyakinan tersebut dengan bukti-bukti baru dan ganti dengan keyakinan yang lebih memberdayakan. Ketiga, aksi bertahap untuk membuktikan keyakinan baru itu nyata. Setiap keberhasilan kecil akan menjadi bukti bagi pikiran bawah sadar kita, memperkuat harmoni antara pola pikir dan keyakinan.

Perjalanan mewujudkan impian ternyata bukan hanya tentang kerja keras di dunia luar, tetapi juga tentang kerja rapih di dunia dalam. Pola pikir adalah strategi, sementara keyakinan adalah fondasi yang menopangnya. Ketika keduanya selaras, energi kita terfokus dan efektif. Ketika tidak selaras, kita hanya akan memutar-mutar di tempat, lelah tetapi tak kunjung sampai. Kembali ke kutipan awal, kehidupan yang mampu mewujudkan mimpi adalah kehidupan di mana apa yang kita pikirkan dan apa yang kita yakini sebagai kebenaran adalah satu kesatuan yang harmonis. Jadi, mulailah untuk tidak hanya sibuk memperbaiki “output” di layar, tetapi beranilah memeriksa dan merapikan “input” di dalam proyektor diri Anda. Karena pada akhirnya, harmoni antara pikiran dan keyakinanlah yang akan menerangi layar kehidupan Anda dengan gambaran terbaik dari impian yang menjadi kenyataan.

mahasiswi kelahiran Jakarta, 31 Maret. Berawal dari penasaran, kini hobi berkubang dalam novel, terutama buku-buku Tere Liye yang mengajarkan bahwa kesederhanaan adalah kemenangan.