Tentang Sebuah Pensil

Satu ketika, seorang bocah melihat neneknya menulis sepucuk surat. Tangan renta itu bergerak pelan, seperti sedang meraba-raba sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata. Tak disangka, muncul pertanyaan polos dari bocah yang lugu itu. “Nek, apakah engkau menulis tentang apa yang sedang kita lakukan? Apakah engkau menulis tentang aku?”

Sang nenek berhenti sejenak—seketika hening, seperti jeda yang sering terabaikan. Ia menatap cucunya dengan sorot mata yang dalam. Sepasang mata yang telah menyimpan banyak hal manis asam garam. Nenek itu berkata, “Benar, ini tentangmu. Tapi ada yang lebih penting dari cerita yang kutulis ini nak. Lihatlah pensil yang kupakai ini. Nenek harap, kelak engkau bisa menjadi seperti pensil ini.”

Bocah itu memandangi pensil itu lama. Tak ada kilau cemerlang. Tak ada kemewahan. Tak ada daya magis yang mengitarinya. Kayu biasa. Grafit biasa. Ia mengernyit. “Tapi nek, pensil itu pensil biasa yang sama saja dengan pensil lain.” Bocah itu heran. “Kadang,” jawab nenek, “perbedaan ada pada bagaimana kita memandang sesuatu. Dan kadang, yang tampak biasa menyimpan hal penting yang sering luput kita perhatikan.” Ia mengetuk ujung pensil itu ke meja. Lembut. “Pensil ini setidaknya punya lima keistimewaan. Engkau mungkin belum memerlukannya sekarang. Tapi suatu hari, kelak dirimu akan mengerti.”

“Nak,” Kata nenek, “pensil tidak bisa menulis sendiri. Ada tangan yang memegangnya. Begitu juga hidupmu. Engkau akan tumbuh, belajar, berjalan ke mana-mana. Tapi selalu ada Yang Maha Menggerakkan di balik langkahmu.” Bocah itu mengangguk. “Jadi, aku tidak sendirian ya nek?” Nenek itu mengucap lembut, “Betul, seluruh hidupmu dibimbing oleh tangan lain, yang lebih halus dari yang kasatmata. Kita hanya mengikuti garis yang telah diguratkan-Nya.”

Bergerak perlahan nenek itu meraut pensilnya perlahan. Serpihan kayu jatuh pelan. “Apakah engkau lihat? Pensil ini memang harus diraut dulu. Rasanya sakit andai pensil itu bisa merasa dan berbicara. Tapi setelah itu, ia akan jadi lebih tajam. Hidup pun begitu. Ada hal-hal yang tidak enak, tidak nyaman. Tapi semua itu akan membuatmu lebih kuat.” Bocah itu memegang serpihan kayu kecil yang jatuh. “Kalau begitu, sakit itu perlu?” Tanya sang bocah. “Yang penting,” jawab nenek, “engkau tidak berhenti hanya karena rasa sakit.”

Nenek itu lalu menunjuk penghapus kecil di ujung pensil. “Lihat nak, penghapus ini pun mengingatkan kita bahwa salah itu tidak apa-apa. Yang penting engkau mau memperbaiki. Jangan takut mengakui kesalahanmu. Orang baik bukan yang tidak pernah salah, tapi yang tahu bagaimana memperbaikinya.” Bocah itu menarik napas. “Jadi aku boleh salah?” “Boleh. Yang tidak boleh adalah pura-pura benar.” Ucap sang nenek.

Nenek mengetuk bagian tengah pensil. “Nak, yang menulis dan menggurat tulisan itu bukan kulit luarnya, tapi bagian dalamnya. Begitu juga manusia. Orang melihat apa yang di luar. Tapi yang menentukan itu hati, pikiran, niat. Jaga bagian dalammu baik-baik. Di sana tempat perjalanan hidupmu sebenarnya dimulai.” Bocah itu memegang dadanya. “Maksudnya yang di sini?” Nenek mengangguk. “Ya. Yang di situ.”

Akhirnya nenek melanjutkan menuliskan satu dua kalimat lagi. “Engkau lihat garis-garis ini? Sekali ditulis, ia meninggalkan bekas. Begitupun hidup nak. Perkataanmu, pilihamu, langkahmu—semua meninggalkan jejak. Maka berpikirlah sebelum berbuat.” Bocah itu menatap tulisan yang tergurat itu lama-lama. “Kalau begitu aku harus hati-hati ya?” Tanyanya. “Bukan hanya hati-hati,” kata nenek, “tapi juga sadar.”

***

Pensil, barangkali bagi kebanyakan orang, hanya sebuah alat tulis yang ringan. Kita belajar menulis sejak kecil dengan alat itu, lalu perlahan meninggalkannya begitu pena, keyboard, bahkan layar sentuh datang menawarkan kecepatan dalam menulis. Mahasiswa saya sekalipun jarang saya dapati memakai pensil. Mungkin benda itu sudah dianggap seperti nostalgia yang tak mendesak untuk diingat. Atau dianggap alat tulis seorang bocah TK.

Namun Coelho, dalam “The Story of the Pencil”, justru mengajak kita kembali pada benda kecil itu. Mungkin karena yang kecil sering menyimpan kearifan. Atau karena dunia yang serba besar ini sering lupa pada hal-hal remeh yang justru membentuk kita. Coelho memilih sosok bocah dan nenek—dua titik waktu yang letaknya jauh, tapi saling menaut. Bocah sebagai yang “akan menjadi”, dan nenek sebagai yang “telah melalui.” Keduanya berdialog seperti dua sisi ingatan manusia. Dan tanpa penjelasan panjang, kita maklum: figur nenek selalu menghadirkan sentuhan keibuan, sebuah dunia yang sabar, yang tahu menunggu.

Pertanyaannya: mengapa nenek? Mengapa bukan kakek? Mungkin Coelho sekadar memilih simbol yang akrab. Atau mungkin, tanpa dikatakan, ia sedang berbicara tentang ibu—sumber awal banyak cerita. Dari mulut merekalah dongeng, petuah, dan hikayat pertama kali keluar sebelum buku-buku modern mengambil alih. Dalam banyak riwayat dan kepercayaan, ibu ditempatkan pada tempat yang tinggi. Mereka adalah tiang keluarga, tiang masyarakat, kadang tiang peradaban. Melalui tangan merekalah tradisi kecil—dongeng menjelang tidur, kisah-kisah yang dituturkan di beranda rumah, hikayat tentang kebaikan—mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya. Semua perlahan memudar dalam derasnya teknologi, tapi tidak pernah benar-benar hilang.

Mungkin kini, suara ibu sering kalah oleh suara deru teknologi. Cerita digantikan animasi. Hikmah sudah dimaknai. Namun tetap saja ada sesuatu yang tak bisa digeser: pengaruh seorang ibu terhadap anaknya—pengaruh yang diam-diam membentuk, seperti pensil yang menggores tanpa suara.

Surga, kata sebuah sabda, berada di bawah telapak kaki mereka. Kalimat yang pendek tapi sanggup mengguncang siapa pun yang bersedia diam sejenak untuk merenung. Dan karena itu, wahai ibu dari anak-anakku—yang kelak disebut waktu sebagai “nenek” oleh generasi berikutnya—ajarkanlah mereka kebijaksanaan yang mungkin kini sulit ditemukan: kebijaksanaan yang dahulu dituturkan lisan, yang dibawa oleh tangan-tangan tua, yang tidak pernah tamat oleh zaman.

Sebab pada akhirnya, kita semua—seperti pensil sederhana—hanya ingin meninggalkan jejak yang pantas dikenang.