Pendahuluan
Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki lambang khas sebagai representasi visual identitas, nilai, dan sejarah pergerakannya. Lambang ini tidak hanya memiliki fungsi simbolik, tetapi juga mengandung nilai-nilai historis dan estetika seni rupa. Unsur-unsur visual dalam lambang NU mencerminkan perkembangan historis, pemikiran keulamaan, serta strategi visualisasi nilai spiritual dalam bingkai seni rupa Islam. Maka penting menggarisbawahi lambang NU sebagai artefak visual yang tidak hanya bermakna simbolik, tetapi juga sebagai warisan historis seni rupa yang menyimpan narasi tentang perjuangan, dakwah, dan kebudayaan Islam di Indonesia.

Lambang Nahdlatul Ulama (Sumber: NU Online)
Lambang Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu artefak visual Islam yang sarat makna simbolik dan menjadi penanda identitas keulamaan serta warisan estetika Islam Nusantara. Dirancang pada awal abad ke-20 oleh KH. Ridwan Abdullah seorang santri sekaligus seniman visual lambang ini lahir dari pertemuan antara pengalaman spiritual, tradisi pesantren, dan kesadaran artistik yang kontekstual. Proses penciptaannya tidak hanya melibatkan pertimbangan estetis, tetapi juga spiritualitas, sebagaimana termanifestasi dalam praktik istikharah dan mimpi yang mengilhami visualisasi lambang.
Dalam konteks sejarah seni rupa Islam di Indonesia, lambang NU menandai fase penting di mana peran santri mulai menonjol sebagai subjek kreatif yang merepresentasikan nilai-nilai keislaman melalui medium visual. KH. Ridwan memadukan unsur seni tradisional, seperti kaligrafi Arab, dengan visualisasi simbolik berupa bola dunia, sembilan bintang, dan tali melingkar. Pendekatan visual ini menunjukkan adanya kesadaran estetik yang organik di lingkungan pesantren, sekaligus refleksi atas dinamika sosial-keagamaan yang berkembang pada masa itu.
Kajian ini berangkat dari pendekatan historis seni rupa, dengan menempatkan lambang NU sebagai konstruksi visual yang lahir dari pergulatan ideologis, spiritual, dan kultural. Melalui pendekatan ini, lambang NU dibaca sebagai ekspresi visual Islam Nusantara yang memadukan kosmologi Islam, nilai sufistik, serta strategi pencitraan organisasi keagamaan modern. Tujuannya adalah mengungkap bagaimana simbol-simbol visual dalam lambang ini menjadi medium representasi identitas keulamaan serta kontribusi santri dalam pembentukan idiom seni rupa Islam Indonesia awal abad ke-20.
Sejarah Singkat Proses Penciptaan Lambang NU
Pada tahun 1926 Muktamar pertama Nahdlatul Ulama (NU), organisasi ini belum memiliki lambang resmi sebagai identitas visual. Menjelang pelaksanaan Muktamar kedua (1927), KH. Hasyim Asy’ari kemudian memberikan amanat kepada Kiai Ridwan untuk merancang lambang NU. Amanat tersebut didasarkan pada kemampuan Kiai Ridwan yang dikenal luas sebagai seorang yang mahir dalam seni lukis dan gambar.
Dalam proses penciptaan lambang, KH. Hasyim Asy’ari memberikan dua kriteria utama yang harus dipenuhi: pertama, lambang harus orisinal dan tidak meniru simbol atau bendera organisasi lain; dan kedua, desain tersebut harus memancarkan sifat haibah—yakni memiliki wibawa visual yang bersifat timeless, tidak lekang oleh waktu dan indah secara estetis.
Meski telah berupaya keras selama berbulan-bulan, Kiai Ridwan belum juga menemukan bentuk lambang yang sesuai dengan harapan Kiai Hasyim. Dalam kondisi waktu yang semakin sempit dan tekanan yang meningkat, Kiai Ridwan akhirnya memilih jalur spiritual yang jamak ditempuh oleh para santri, yakni memohon petunjuk melalui shalat istikharah. Dalam tidur setelah istikharah tersebut, beliau bermimpi melihat di langit sebuah citra bola dunia yang dikelilingi sembilan bintang, dengan satu bintang terbesar terletak di bagian atas.
Citra visual dari mimpi tersebut segera dituangkan oleh Kiai Ridwan dalam bentuk lukisan. Setelah rampung, hasil tersebut diserahkan kepada KH. Hasyim Asy’ari. Menyaksikan lambang itu, Kiai Hasyim menunjukkan kekaguman yang mendalam. Namun dengan penuh kerendahan hati, Kiai Ridwan menjelaskan bahwa gambar tersebut bukanlah hasil kreativitas pribadinya, melainkan buah dari petunjuk ilahiah yang diperoleh melalui mimpi setelah istikharah.
Karena diyakini sebagai isyarat dari Allah SWT, Kiai Hasyim segera menyetujui rancangan tersebut. Namun, untuk memastikan ketepatan simbolik dan keabsahan spiritualnya, beliau meminta Kiai Ridwan untuk mengonsultasikannya kepada Kiai Nawawi dari Sidogiri. Ditemani oleh Kiai Wahab, Kiai Ridwan pun melakukan perjalanan menuju Sidogiri. Setelah maksud kedatangan disampaikan, Kiai Nawawi yang mengetahui bahwa lambang tersebut telah mendapat restu dari Kiai Hasyim tidak mengubah bentuk visual yang ada. Meski demikian, ia memberikan masukan penting berupa penambahan ayat Al-Qur’an dari Surah Ali Imran ayat 103: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”. Ayat ini diinterpretasikan sebagai pesan agar NU menjadi perekat umat Islam. Berdasarkan masukan tersebut, Kiai Ridwan menambahkan unsur visual berupa tali yang mengikat bola dunia sebagai lambang persatuan (Mun’im DZ, 2017).
Secara simbolik, lambang NU menggambarkan bola dunia sebagai representasi bumi tempat manusia dilahirkan dan hidup, sebagaimana disebut dalam Surah Thaha ayat 55: “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan dari itu pula Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55). Meskipun unsur utama lambang adalah bola dunia, namun permukaan bumi yang tampak dalam visual tersebut menunjukkan peta Indonesia. Ini mengandung makna bahwa NU lahir dan berakar dari bumi Nusantara (Iryana, 2022).
Dalam kajian semiotik lambang tersebut, Rois Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar menyoroti satu elemen penting: huruf Ḍād (ض) dalam tulisan Nahdlatul Ulama yang digambarkan melintasi bola dunia dengan ukuran yang panjang dan mencolok. Hal ini dimaknai sebagai simbol bahwa NU akan “mem-Ḍād-kan dunia”, yakni menyebarkan nilai-nilai Islam khas Ahlussunnah wal Jamaah ke seluruh dunia. Secara fonetik, huruf Ḍād juga memiliki makna simbolik dalam tradisi Islam, mengingat Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang paling fasih dalam melafalkan huruf tersebut (Majalah Aula, 2022).
Penciptaan Lambang Nahdlatul Ulama: Visual, Spiritualitas, dan Simbolik
Lambang Nahdlatul Ulama (NU) tidak hadir sejak awal pendirian organisasi ini pada 1926. Identitas visual resmi baru mulai dirancang menjelang pelaksanaan Muktamar ke-2 NU pada 1927, atas inisiatif Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Tugas tersebut diberikan kepada KH. Ridwan Abdullah, seorang santri yang dikenal memiliki kemampuan dalam seni lukis dan gambar. Dalam proses kreatifnya, KH. Hasyim Asy’ari memberikan dua kriteria utama: lambang harus orisinal dan tidak meniru simbol organisasi manapun, serta memiliki karakter yang estetik, ideologis, dan mampu melampaui zaman.

KH. Ridwan Abdullah, Surabaya (Sumber: Jawa Pos)
Ridwan mengalami kesulitan dalam merumuskan visual yang sesuai. Dalam kondisi tekanan waktu dan mental, ia memilih jalan spiritual dengan melakukan istikharah. Dalam tidurnya, ia memperoleh gambaran visual berupa bola dunia yang dikelilingi sembilan bintang dan sebuah bintang besar di atasnya. Ilham ini segera direalisasikan dalam bentuk lukisan dan diserahkan kepada KH. Hasyim, yang menyetujui rancangan tersebut dengan penuh takzim. Atas perintah KH. Hasyim, lambang tersebut ditashih ke KH. Nawawi Sidogiri. Beliau tidak mengubah elemen visual apa pun, namun memberikan saran teologis penting yaitu menambahkan penggalan ayat “Wa’tashimuu bihablillahi jamii’an wala tafarraquu” (QS. Ali Imran: 103). Ayat tersebut kemudian divisualisasikan dalam bentuk tali melingkar yang mengikat bola dunia, melambangkan ukhuwah dan ikatan keimanan global yang fleksibel. KH. Wahab Chasbullah turut memberi masukan agar tali tersebut tidak terlalu ketat sebagai simbol keluwesan ulama dalam merespons perubahan zaman.
Rancang bangun visual ini menampilkan sintesis antara ilham spiritual, nilai-nilai Islam, simbolisme Nusantara, dan pemaknaan estetik. Oleh karena itu, lambang NU dapat dikaji sebagai artefak visual-religius yang tidak hanya merepresentasikan identitas organisasi, tetapi juga merefleksikan ideologi keislaman yang khas, yakni keterhubungan antara nilai tauhid, otoritas ulama, dan komitmen kebangsaan.
Pada hari pelaksanaan Muktamar, Kiai Ridwan tampil sederhana namun meyakinkan, dengan mengenakan jas pinjaman dan sorban. Pidato otentiknya menjadi dokumentasi verbal atas simbolisme lambang NU:
“Assalamualaikum Wr. Wb. Mohon maaf para Kiai, saya akan menjelaskan makna dan lambang NU. Ada 5 bintang, yang paling besar dan berada di atas adalah Nabi Muhammad SAW. Bintang yang empat adalah sahabatnya. Di bawah tulisan ada 4 bintang yang melambangkan 4 mazhab. Kalau dijumlah semuanya 9 bintang yang melambangkan Wali Songo. Tali yang melingkari dunia menandakan persatuan perjuangan di jalan Allah. Untaian tambang bersumjah 99 melambangkan asma’ul husna. Tulisan ‘ulama’ yang melintang di jagad ditulis huruf ‘Ain terbuka menunjukkan ilmu selalu terbuka dan ulama harus terbuka terhadap kebenaran serta terus belajar dari ayunan hingga wafat.” — Kiai Ridwan.

Susunan PBNU periode pertama, 1926 (Sumber: Bangsa Online)
Analisis Visual Lambang NU
Lambang Nahdlatul Ulama tidak hanya berfungsi sebagai identitas visual organisasi, tetapi juga merupakan representasi dari sistem nilai, sejarah spiritual, dan konstruksi simbolik yang khas dalam khazanah Islam Nusantara. Fokus kajian ini adalah untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang struktur visual, nilai-nilai filosofis, dan konteks historis dari lambang NU. Kajian visual dilakukan terhadap lambang yang diciptakan oleh KH. Ridwan Abdullah, yang dalam sumber sejarah disebut berukuran 4 x 6 meter dengan kain berwarna dasar hijau (Kholil, 2015). Penelaahan ikonografi dan simbolisme dari visual utama: bola dunia, sembilan bintang, tali melingkar, dan kaligrafi Arab bertuliskan “Nahdlatul Ulama” yang melintang, akan dianalisis dengan pendekatan historis dan simbolisme estetis.

Lambang NU yang dibuat oleh KH. Ridwan Abdullah,
Ukuran 4 x 6 meter, warna dasar kain warna hijau (Kholil, 2015).
- Komposisi Visual dan Simbolisme
Bola Dunia: Mewakili bumi sebagai ruang kehidupan manusia, tetapi dalam konteks NU, ini juga menunjukkan misi dakwah yang mendunia. Namun uniknya, peta Indonesia tampak di permukaan bola, menandakan akar lokal dari gerakan ini. Dalam teori estetika Timur, bentuk bulat melambangkan kesempurnaan dan ketuhanan, paralel dengan konsep tauhid sebagai inti teologi NU.
Secara sederhana deskripsi lambang NU antara lain adalah bola dunia dimana bumi sebagai tempat manusia lahir dan hidup. Hal ini sesuai dengan surah Thaha ayat 55: “Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkanmu pada waktu yang lain”. Meskipun NU menggunakan lambang bola dunia, tetapi yang tampak di permukaan adalah peta Indonesia, hal ini menandakan bahwa NU lahir di Indonesia.
Sembilan Bintang: Melambangkan jumlah sembilan walisongo. Bintang terbesar di atas melambangkan Nabi Muhammad didampingi empat bintang di atas representasi empat sahabat, serta empat bintang di bawah representasi empat mazhab. Secara visual, penyusunan bintang membentuk konfigurasi spiritual yang menunjukkan struktur kepemimpinan dan kehormatan. Dalam simbolisme sufistik, bintang juga sering merepresentasikan cahaya ilahi dan petunjuk.
Tali yang Mengikat: Visualisasi dari ayat Ali-Imran 103. Tali melingkar pada bola dunia menunjukkan prinsip persatuan umat Islam. Secara visual, bentuk tali yang membelit menciptakan ritme dan gerakan melingkar (spiral), dalam estetika Islam mencerminkan perjalanan spiritual dan kesatuan kosmis. Sebagai simbol persatuan dalam kerangka tauhid.

Gambar Tali Lambang NU
Dalam sejarah Kiai Nawawi Sidogiri menambahkan ayat Al-qur’an surah Ali-Imron (103): “…dan berpegang teguhlah kalian dengan tali (agama) Allah dan janganlah bercerai berai”. Kemudian Kiai Ridwan dan Kiai Wahab bersepakat ayat tersebut tidak ditulis secara harfiah, melainkan dalam bentuk tali sebagai tali Allah yang mengikat bola dunia. Tali dibuat longgar karena para ulama NU sebagai pengendali organisasi harus lebih luwes dan lentur dalam mengikuti perkembangan dan perubahan zaman, maka dari itu tali dibuat longgar bukan simpul tali mati. Dua simpul ikatan di bagian bawah melambangkan hubungan vertikal kepada Allah sebagai Tuhan yang maha esa dan hubungan horizontal dengan sesama umat manusia.
Kaligrafi Arab (Ḍād yang Memanjang): Tulisan “Nahdlatul Ulama” menggunakan huruf Arab klasik, dengan karakter huruf Ḍād yang diperpanjang melintasi bola dunia. Dalam perspektif estetika Islam, kaligrafi bukan hanya bentuk teks, tetapi juga ekspresi ruhani. Huruf Ḍād menjadi penanda identitas karena dalam bahasa Arab, hanya ada satu huruf ini, menjadikan umat Islam sebagai “ummatun ḍād” (umat ḍād). Keputusan memperpanjang ḍād secara visual menciptakan garis dominan horizontal yang memberikan keseimbangan komposisi terhadap bentuk bulat bola dunia.
- Warna dan Psikologi Visual
Lambang NU menggunakan warna dasar hijau. Dalam Islam dan dalam seni rupa tradisi Timur, hijau adalah simbol kehidupan, kesuburan, kedamaian, dan keberkahan. Hijau juga sering dikaitkan dengan surga, sesuai dengan representasi Qur’ani. Dasar warna hijau dipilih karena kesukaan Nabi Muhammad SAW, sekaligus mencerminkan kesakralan dan ketenangan spiritual. Warna ini memberikan efek psikologis menenangkan dan penuh harapan, menguatkan citra NU sebagai organisasi yang membawa kesejukan dan ketenangan dalam masyarakat.
- Nilai Estetik Tradisional dan Modern
Secara estetika, lambang NU menggabungkan nilai-nilai seni rupa tradisional (khususnya seni Islam dan Nusantara) dengan prinsip desain modern. Unsur kesimetrisan dan keseimbangan visual sangat dijaga, mencerminkan prinsip mizan (keseimbangan) dalam Islam. Fungsi ornamental hadir secara fungsional dalam kaligrafi dan tali, bukan sekadar dekoratif, tetapi juga penuh makna. Sementara itu, penggunaan simbol global (bola dunia) dan struktur logo yang sederhana namun kuat juga menunjukkan pendekatan desain yang modern dan universal.
- Transendensi dan Keabadian Visual
Syarat “haibah” (wibawa) yang diberikan KH. Hasyim Asy’ari terbukti terpenuhi dalam desain ini. Lambang NU memiliki kekuatan transendental dalam visualnya. Ia tidak lekang oleh waktu, tidak membosankan, dan tetap dapat diterima oleh generasi demi generasi. Dalam terminologi estetika klasik, karya seperti ini memiliki nilai sublim yang menyentuh aspek spiritual, intelektual, dan emosional sekaligus.

Simpulan Analisis Visual Lambang NU
Lambang Nahdlatul Ulama merupakan hasil sinergi antara inspirasi spiritual, kearifan simbolik, dan musyawarah kolektif antar ulama dan santri. Proses penciptaan lambang NU merupakan peristiwa sejarah seni rupa dari kalangan santri pada awal abad ke-20 di Nusantara. Dengan komposisi visual yang kaya makna, lambang ini bukan sekadar identitas visual organisasi, tetapi juga mencerminkan pandangan dunia (weltanschauung) Islam Nusantara yang moderat, inklusif, dan berakar kuat pada tradisi keilmuan dan spiritualitas.
Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa Lambang Nahdlatul Ulama merupakan karya visual yang mengandung nilai historis dan estetika seni rupa yang sangat signifikan. Secara historis, lambang ini lahir dari proses spiritual dan intelektual yang mendalam, melalui perenungan, istikharah, serta dialog antara para ulama besar, khususnya KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ridwan Abdullah. Proses penciptaannya mencerminkan semangat zaman serta karakter khas dari Islam Nusantara yang memadukan tradisi lokal tokoh santri dengan nilai universal Islam.
Kajian menunjukkan bahwa lambang NU tidak hadir secara kebetulan, melainkan merupakan konstruksi visual yang dipengaruhi oleh wacana keislaman tradisional, nilai sufistik, serta konteks sosial-politik awal abad ke-20. Simbolisasi sembilan bintang merujuk pada Wali Songo sebagai tokoh sentral penyebaran Islam di Nusantara, sedangkan tambang berjumlah 99 merupakan representasi Asmaulhusna yang menegaskan kedalaman nilai spiritual.
Lambang merupakan representasi simbolik yang tidak hanya berfungsi sebagai identitas visual, tetapi juga sebagai artikulasi ideologis dan teologis. Dari sudut pandang seni rupa, Lambang NU adalah representasi simbolik yang kaya akan makna. Unsur-unsur visual seperti bola dunia, sembilan bintang, tali pengikat, dan kaligrafi Arab, membentuk komposisi yang harmonis serta sarat makna spiritual dan sosial. Penggunaan bentuk geometris, warna hijau sebagai simbol keberkahan, serta prinsip keseimbangan dan ritme dalam penyusunan elemen visual menunjukkan bahwa lambang ini tidak hanya berfungsi sebagai identitas organisasi, tetapi juga sebagai ekspresi estetika yang transenden.
Dengan demikian, lambang NU bukan sekadar simbol institusional, melainkan juga artefak seni rupa yang memiliki kedalaman historis, religius, dan estetis. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih luas tentang peran seni dalam membentuk identitas kultural dan spiritual masyarakat Muslim Indonesia.
Pustaka
Hafiun, M., & Yusrianto, A. (2021). Dinamika Sejarah NU dan Tentangnya Kini. Penerbit: Tangga Ilmu.
Iryana, W. (2022). Sejarah Pergerakan Nasional. Penerbit: Prenada Media.
Kholil, abdul. (2015). Kiai Ridlwan Abdullah Peran dan Teladan Pelukis Lambang NU. Pustaka Idea.
Mun’im DZ, A. (2017). Fragmen Sejarah NU. Jakarta: Pustaka Compass Yayasan Compass Indonesiatama.
Nazir, M. (2009). Metode Penelitian. Penerbit: Ghalia Indonesia.
Religion of Twenty Solusi Kedamaian Jagat Raya. (2022, November). Penerbit: Majalah AULA.
https://alif.id/read/m-zainal-anwar/sejarah-nu-majalah-swara-nahdhatoel-oelama-dan-laporan-keuangan-publik-b228644p/
https://radarsurabaya.jawapos.com/surabayapedia/775232455/mengenal-sosok-kh-ridwan-abdullah-sang-pencetus-logo-nu
https://nu1926.blogspot.com/2011/01/napak-tilas-lambang-nu.html?m=1
https://www.bangsaonline.com/berita/116267/beredar-viral-susunan-pbnu-periode-pertama-1926-aslikah








