Etika Perusakan Morphling Sastra

Cengkraman erat teknologi, melanda seluruh muka bumi untuk berubah, dan mereset pabrik secara konstan. Fenomena hari ini, tak terasa menyusup dari gejala Silicon Valley teknologi yang liar, mengubah dunia hanya sekejap. Perubahan relatif singkat, membuat kecemasan sosial semakin menggerutu. Tak ada waktu untuk menghela napas hari ini, sebab, bila kita berhenti sejengkal jari saja, dunia akan say goodbye tanpa jejak. Sekian pertumbuhan yang gelagat statistik pun tak dapat menerjemahkannya, teknologi merambah menjadi ancaman nyata kehidupan riil yang ada di muka bumi. Entah dari golongan para lord-lord sepuh, ataupun anak kemarin sore seperti saya. Kecemasan yang terjadi, menjadi penanda bahwa hari ini tak ada batasan usia untuk mengalami kecanduan distopia. Esoteris windows menerjemahkan kehidupan kita dalam angka-angka biner yang keji, hidup kita diatur dalam permainan algoritma yang rancu. Tapi, kesibukan cendekiawan atteknolojia tak dapat meresepkan pencegahan dini untuk dirambahkan pada energi sosial.

Kontemplasi atteknolojia, membuat tulisan ini hadir sebagai autokritik dari tataran pedoman kamus yang dihilangkan, yaitu Humanisme. Akal imitasi yang berubah menjadi manusia imitasi, mempercepat lini sayap kanan dan kiri kejebolan. Maka yang perlu ditanyakan, ke mana ilmu Humaniora saat ini. Wacana humanisme yang menjadi poros kelakuan, hancur lebur pada percepatan yang signifikan. Humaniora yang dicenayangkan sebagai menteri penerangan, berubah menjadi serpihan debu dalam tatanan praktis. Ke mana sastra hari ini? Pacuan kata yang berjuta-juta imbuhan menjadi basi, membuat keracunan massal penyebab rabies ketertundukan pada kalimat-kalimat melankolis kematian.

Dari pada itu, sebagai deklarasi hari matahari baru, sastra harus dibentuk menjadi hantu-hantu liar tanpa kekangan. Morphling sastra, sebagai etika perusakan baru untuk mengelabui akal mesin. Padanan yang tak terjamah oleh search engine, sekadar gelagap haha-hihi menjadi panduan arah mati angin untuk menyerbu. Itulah etika perusakan yang saya pahami hari ini, melalui pemikiran jitu analisis dari ilusi vital dan seni perusakan, kolaborasi antara kedua itu menjadi wacana yang akan saya panenkan dalam hak milik kerakyatan intelektual. Dengan bercurhat dengan tembok, saya sebut dengan etika perusakan morphling, melalui praktisi penimbangan Negara Haha-Hihi Mustofa Bisri.

Etika Perusakan Morphling

Melalui pendaduan awal, dengan menimbang segala pertumbuhan, saya akan coba mengkolaborasikan Jean Baudrillard dan Guy Debord untuk menciptakan Etika Perusakan Morphling. Berawal dari dunia sibernatik dan hegemon yang Baudrillard terapkan, menjelaskan beberapa peta fragmentik masalah hari ini. Melalui simulacra atau gaya sibernatik, ia melihat perkembangbiakan teknologi membuat overload penetas dari telur kebaikan. Demi memahami protagonis global yang menguasai sealam dunia, mari kita haturkan pemahaman singkat tentang simulakra radikal.

Pemicu kegelisahan yang hadir saat ini, karena keterbatasan pengilhaman manusia atas ekses teknologi sebagai pendamping hidup. Simulakra hadir sebagai ring tinju antara pemikiran kemajuan beserta pemikiran liar, cyber space atau jaringan sibernatik yang menguasai dunia seperti tujuan Adudu dari animasi Boboiboy, meningkatkan kerakusan naluri alamiah manusia sebagai penguasa tunggal dunia. Penciptaan yang diawali untuk alat bantu bisnis, berubah kebablasan menjadi kesialan yang amat sial. Sejarah ini dimulai ketika ada proyeksi Sillicon Valley, ketika ruang hidup seorang pekerja dilihat sebagai tikus putih dalam Penapticon. Permulaan mengenaskan, seperti manusia pada umumnya, terjatuh pada lubang yang sama, tangan-tangan usil mereka mulai merambah pada celah proyek ini. Menghasilkan sebuah perusahaan raksasa tanpa batas ambang usia, ia menusuk seperti lebah yang menargetkan dari segala sisi.

Penusukan yang berhasil menjebol celah menjadi jalan masuk, menghasilkan telur-telur dari kelahiran jalan sibernatik. Proses awal yang berkancah seperti medali emas, memicu intuisi jahat dari sebagian orang, untuk memonopoli dan bermain dadu dalam arena perjudian massal. Hal itu, memicu dominasi yang tak terhingga, Baudrillard menyebutnya sebagai tekanan hamba sahaya yang tak ada ambang batas. Dominasi dari perebutan kekuasaan kasat mata, menjadi siluman-siluman yang menyamar di antara hewan. Dominasi ini, kelak yang melahirkan Hegemon dari kacamata ketertundukkan sukarela, dari seorang hamba sahaya tak ada ambang batas. Karena kehidupan yang mulai tampak pasang, mereka terpaksa untuk menjalankan. Seperti kata pepatah dipoyok dilebok, hal itulah terjadi saat ini. Kecanduan distopia massal, mengilhami esotoris perusahaan diuntungkan memperdalami teknologi secara signifikan.

Ketika ketertundukan sukarela berlangsung, muncul sebuah cercah harapan dari lorong yang sempit. Etika perusakan, sebagai alternatif untuk menghancurkan kecanduan distopia massal. Itulah yang disebut dengan Debord sebagai etika perusakan. Sejatinya, etika perusakan yang berawal dari avant garde seni, memicu konspirasi global seperti kasus Eipsten. Debord menawarkan resep rahasia kraby patty kepada masyarakat distopia hari ini. Melalui simbolisasi etika perusakan, ia memicu konflik serius yang dipandang oleh para elite global—ceunah. Etika perusakan sebagai jalan baru, dipahami dari perusakan simbol-simbol yang berkaitan dengan sumbu suatu masalah. Melalui perusakan simbol, ia mengguncang peradaban Prancis, dan memaksa elite global untuk melirik gerakan non-sense ini. Ketika etika perusakan dipahami, pengaplikasian ini dapat dilakukan dalam disiplin apa pun. Melalui sastra, saya mencoba sintesis antara simulakra, distopia, dan etika perusakan menjadi corak yang dapat dipahami.

Etika Perusakan Morphling saya menyebutnya, dilihat dari apa yang telah terpaparkan dengan amburadul di atas, maka tak jauh beda dengan etika perusakan morphling. Dari root antara masalah utama dan alternatif solusi yang dihadirkan, saya mengakhiri kesimpulan dengan Etika Perusakan Morphling. Dengan fokus, menyembelih simbol yang berkaitan dengan sumbu utama masalah, melalui arena digital yang dijadikan sebagai senjata tuan mereka. Etika perusakan sastra yang sering saya gunakan disebarkan melalui arena digital, secara singkat itulah Etika Perusakan Morphling. Dari senjata utama hegemon mereka yaitu atteknolojia, sebagai arena perang simbol dari etika perusakan, menghasilkan senjata makan tuan mereka. Maka dari pada itu, saya akan mengajak para sekawan untuk memahami etika perusakan morphling secara lebih rigid dari salah satu karya sastra yang terkenal yaitu Negara Haha-hihi Mustofa Bisri.

Negara Haha-Hihi Hipotesa

Pemahaman etika perusakan morphling, dapat diterapkan melalui salah satu karya sastra, yaitu Negara Haha-Hihi. Dilatar belakangi dengan konflik sosial yang terjadi, puisi yang dilahirkan pada zaman ketercanduan kemajuan menjadi sorotan utama saya kali ini. Zaman percepatan menimbulkan ekses yang memperparah keadaan makhluk hidup, membuat sebagian para punggawa kata-kata melontarkan nyanyian kematian pada mereka. Puisi yang hampir sepenuhnya mengisahkan keadaan, menjadikan ia sebagai puisi tak lekang waktu yang terus dipakai demi melancarkan serangan bertubi-tubi. Mulai dari kemuakan, kemunafikan, janji palsu, kepintaran yang dipakai untuk menjinakan, dan kebodahan yang dipelihara tentram sebagai tentara bayangan. Itulah cipta karsa Mustofa Bisri, proses kreatif yang mengharukan untuk dituliskan di sini.

Lebih jauh, setelah mengetahui latar kreatif, mari kita beranjak dalam mode aplikasi hemat batrai dalam puisi ini. Dengan beberapa diksi yang memukau, ia melontarkan kritikan tajam dan penuh estetik. Tanpa basa-basi, diksi-diksi mengilustrasikan fenomena sosial yang ada. Lalu, selaras dengan etika perusakan morphling, medium sastra yang kala itu merajai penyebaran informasi, menjadi alat penting untuk direbut kekuasaannya. Etika perusakan yang ada, tercermin dari diksi seperti pepatah-pepitih yang dipelintir. Sehingga melahirkan cipta visual yang mengenaskan dari dongeng-dongeng kebenaran menjadi link-link penipuan. Ketika massa ketercanduan distopia telah direbut, pelancaran aksi akan membuka celah-celah lebar selanjutnya. Dan massa itu, menjadi titik balik medium sastra sebagai alat penghujam dan penyadaran sosial. Kesepakatan awal antara Negara Haha-Hihi dan Etika Perusakan Morphling, dapat dilihat secara seksama dalam perusakan simbol pepatah, dan perebutan medium hegemon utama menjadi alat penyadaran sosial.

Pada titik ini, lahirnya etika perusakan morphling terjadi sesaat saya mengalami kecapean dari scrolling instagram yang buntu. Dari situ, saya mencoba berkontemplasi dengan guling dan tembok tersayang sebagai ilusi Debord dan Baudrillard ketika disatukan. Panduan jelas bagi saya, ketika sastra lahir sebagai medium kejujuran, sekarang terkooptasi oleh simbol-simbol ketertundukan. Secara cemas, saya melancarkan pencegahan awal melalui etika perusakan morphling, bertujuan untuk melawan narasi utama yang menyajikan sastra sebagai alat pengungkap ilusi cinta palsu. Pemaknaan amburadul di saat ini, memicu konflik batin bagi saya untuk membitukan hasrat keterputusasaan.

Mahasiswa yang suka ngopi, baca, menulis, juga menabung buku. Hobinya mengutuki dunia dengan cara membuat wacana kritis.