Diakui atau tidak, perbedaan pendapat tentang penetapan awal Ramadan 1447 H apakah hari Selasa (17 Februari Juli 2026) untuk pengikut Jemaah Tarekat Naqsyabandiyah di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Rabu (18 Februari 2026) bagi Jamaah An-Nadzir di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dan orang Muhammadiyah atau Kamis (19 Februari 2026) bagi Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam dan pemerintahan RI (Kementerian Agama) dengan segala dalih dan landasannya ini menjadi bukti nyata atas khasan keislaman Indonesia yang tak bisa terbantahkan.
Pasalnya, shaum tidak hanya bersifat ritual personal (hablu minallah) semata, tetapi memberikan dimensi kemanusiaan (hablu minnas), mulai dari peduli terhadap fakir, miskin, gerakan perubahan sosial, solidaritas sampai kesinambungan ajaran agama-agama.
Momentum puasa di bulan Ramadan ini sejatinya harus menjadi kawah candradimuka (madrasah ruhaniyah) yang dapat melahirkan peradaban Islam Nusantara berbasis keimanan yang kukuh dan tidak menciderai kemanusiaan dengan tidak melakukan perbuatan tak terpuji, kotor, lalim dan berdosa.
Menahan Diri
Menurut Ahmad Tafsir, Guru Besar UIN SGD Bandung menjelaskan puasa itu intinya akan melatih kita mengendalikan angan-angan dan khayalan. Pengendalian ini sangat sangat tidak mudah karen aia sering aktif tanpa disengaja. Tidaklah sembarangan puasa mampu memberikan dampat seperti itu.
Dalam satu pengajian di Madura atas undangan Bupati untuk menyambut datangnya ramadan. Pada permulaan ceramahnya Ahmad Tafsir berkata di tengah-tengah hadirin (ulama) yang bersorban dan bergamis putih. “Apa tidak salah anda mengundang saya untuk menyambut bulan puasa? Mukmin di Nusantara ini belajar kepada orang Madura dalam melaksanakan puasa, sebab mukmin Madura terbiasa “nyawal”, yaitu puasa enam hari pada awal bulan Syawal yang tidak menjadi kebiasaan mukmin di luar Madura.”
Pada penghujung tausiahnya Ahmad Tafsir berkata “Sudah begini saja, saya kehabisan bahan, bila benar Anda ingin meningkatkan diri melalui amalan Ramadan tahun ini cobalah hormati orang yang tidak puasa.” Ternyata kalimat “sederhana” inilah yang menarik perhatian mereka yang berlanjut dengan diskusi kecil di ruang istirahat setelah selesai ceramah.
Bayangkan suatu ketika Anda duduk dalam sebuha kendaraan umum. Penumpang di dekat Anda tidak puasa. Ia makan makanan kecil, minum dan merokok. Apa perasaan Anda yang sedang puasa? Bila Anda merasa sedikit benci pada orang itu, Anda “normal.” Tetapi rasa benci Anda itu dapat menjadi penyebab batalnya puasa Anda hari itu. Karena itu hormatilah orang yang tidak puasa.
Puasa Ramadan dan puasa pada umumnya, adalah “pelengkap”, “penyempurna” usaha-usaha pada maqom sebelumnya (syahadat, shalat, zakat). Tujuan besar yang hendak dicapai dengan melaksanakan puasa Ramadhan ialah agar kita benar-benar dapat mengandalikan diri. Ini sungguh penting dalam kehidupan ini. Banyak kejadian yang sangat merugikan kita gara-gara kita kurang mampu mengendalikan diri. Sebenarnya orang yang sungguh-sungguh mampu mengandalikan diri adalah mereka yang telah mencapai tingkat tinggi dalam penyucian diri.
Agar puasa itu dapat memberikan dampak kemampuan pengendalian diri, puasa itu mesti ditunaikan dengan penuh kesabaran. (Ahmad Tafsir, 2012: 71-73)
Memupuk Inti Berpuasa
Umat Islam menyakini orang yang berpuasa tidak boleh mempunyai pikiran jahat. Orang berpuasa harus menjaga hati dari sifat dengki, hasud, benci tanpa alasan yang dibenarkan syari dan dendam; menatap mata dari pandangan yang dilarang oleh agama.
Seperti pertunjukan yang merangsang hawa nafsu; menjaga lidah dari perbuatan yang jorok, gibah, tidak mengadu domba (namimah). Jadi pada hakikatnya puasa sebagimana tersirat dalam makna kata dasar ash-shiyam, pengendalian diri (self control).
Ingat, menahan diri menjadi inti ajaran puasa, ternyata merupakan masalah mendasar dan klasik dalam problematik kemanusiaan secara umum, bahkan pada zaman modern sekalipun. Masalah ketidakmampuan menahan diri, sebagaimana diilustrasikan Al-Quran, ini menjadi titik permulaan terjadinya Drama Kosmis (Kejatuhan Manusia) dari surga ke bumi ini.
Dalam idiom Al-Quran disebut drama al-hubûth dan dalam bahasa Inggris disebut doctrine of fall. Nabi Adam dan Hawa, sebagai simbol nenek moyang manusia, terbukti tidak mampu menahan dan mengendalikan dirinya dari godaan setan sehingga akhirnya mereka digelincirkan ke dalam perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt.
Sumber segala potensi yang mendorong manusia melakukan pelanggaran adalah godaan berupa makan, minum, dan seks. Ketiga masalah itu disimbolisasikan dalam ajaran berpuasa sebagai hal-hal yang harus ditahan atau dinyatakan dapat membatalkan puasa, sebagaimana sudah menjadi kesepakatan para ulama fiqih.
Pada kenyataannya hampir seluruh masalah kemanusiaan yang ada sekarang pun terjadi akibat ketidakmampuan manusia menahan diri dari ketiga godaan tersebut. Sumber lain, kalau kita mau telusuri, sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat yang memerintahkan berpuasa, adalah ketidakmampuan manusia menahan diri dari dorongan dan godaan harta.
Itulah sebabnya, barangkali, masalah puasa dikatakan sebagai masalah, gerakan back to basic. Sebab ini menyangkut masalah menahan dan mengendalikan diri dari potensi-potensi yang akan dapat menggelincirkan manusia pada kejatuhan moral dan spiritual. (Ensiklopedi Nurcholish Madjid Jilid III, 2006:2780-2781).
Menghidupkan Nilai Universal
Dengan demikian, puasa Ramadan merupakan refleksi untuk menghidupkan nilai-nilai moral dan etik. Bila kita kuat memaknai puasa ramadhan sebagai wahana mengendalikan diri dari segala bentuk angkara murka, nafsu, keinginan niscaya tidak akan ada lagi upaya menertibkan keyakinan orang lain yang tidak (menjalankan) puasa karena perbedaan kebudayaan dan keagamaan.
Apa pun bentuknya. Apakah dengan cara praktik razia, sweeping, pengrusakan, penghancuran terhadap tamu hotel, gepeng, minuman keras, warung makan, tempat hiburan malam, rumah kos, panti pijat, pekerja seks dan segala perbuatan yang dianggap sebagai penyakit masyarakat dengan dalih “hormatilah orang yang berpuasa dan pemuliaan bulan ramadan”
Kiranya, petuah Rasulullah tentang pentingnya menjaga diri saat shaum perlu kita renungkan secara bersama “Barang siapa tidak mampu meninggalkan dengki (perkataan kotor) dan mengerjakannya, maka sesungguhnya Allah Swt. tidak memiliki kepentingan baginya untuk meninggalkan makanan dan minumannya” dan hadis yang diriwayatkan oleh Umar Ibn Khaththab r.a., “Banyak orang berpuasa, tetapi dari puasanya ia tidak mendapatkan sesuatu, kecuali rasa lapar dan dahaga.”
Inilah pelajaran berharga dari adanya puasa untuk mengendalikan diri dalam menyikapi segala perbedaan penetapan awal shaum dan atas nama “pemuliaan bulan ramadan” mari kita berusaha menghargai, menghormati orang yang (tidak) melakukan puasa. Selamat menjalankan ibadah shaum. Marhaban Ya Ramadhan 1447.







