Tuhan Tidak Bermain Dadu (Bagian 2): Tapi Manusia Selalu Berjudi dengan Alam Semesta

Setelah lama merenungkan ungkapan Einstein bahwa “Tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta”, saya mulai menyadari satu hal yang mungkin terasa ironis: mungkin benar Tuhan tidak sedang berjudi dengan kehidupan, tetapi manusialah yang justru terus-menerus melakukannya.

Setiap hari, sadar atau tidak, manusia mempertaruhkan sesuatu. Waktu dipertaruhkan demi mimpi. Perasaan dipertaruhkan demi cinta. Masa depan dipertaruhkan demi keputusan, keputusan yang bahkan sering dibuat tanpa kepastian. Kita hidup bukan hanya dalam dunia hukum sebab-akibat, tetapi juga dalam dunia pilihan yang penuh risiko.

Di situlah saya mulai melihat paradoks manusia modern. Kita ingin hidup pasti, tetapi terus membuat keputusan dalam ketidakpastian. Kita ingin jaminan, tetapi tetap melangkah di jalan yang tidak sepenuhnya kita pahami. Dan mungkin, seluruh kehidupan manusia sebenarnya adalah bentuk perjudian eksistensial yang paling sunyi.

Perjudian yang saya maksud bukan semata soal meja kasino, kartu, atau taruhan uang. Itu hanya simbol kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar: kecenderungan manusia mempertaruhkan hidupnya pada kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu berhasil.

Bukankah ketika seseorang jatuh cinta, ia sedang berjudi dengan hatinya sendiri? Tidak ada yang bisa menjamin bahwa kesetiaan akan dibalas dengan kesetiaan. Tidak ada rumus ilmiah yang bisa memastikan bahwa dua manusia akan bertahan selamanya. Namun orang tetap mencintai. Tetap berharap. Tetap mengambil risiko untuk terluka.

Begitu pula ketika seseorang memilih pekerjaan, pindah kota, membangun usaha, bahkan ketika memutuskan untuk percaya kepada orang lain. Semua itu adalah taruhan terhadap masa depan yang tidak pernah benar-benar pasti. Di sinilah saya mulai berpikir: mungkin manusia memang tidak bisa hidup tanpa berjudi. Sebab hidup sendiri adalah kemungkinan yang terus bergerak.

Jika Einstein percaya bahwa alam semesta tunduk pada hukum-hukum rasional, maka manusia justru hidup di wilayah yang lebih rumit. Kita bukan partikel yang hanya mengikuti lintasan fisika. Kita memiliki kecemasan, ambisi, ketakutan, dan harapan. Kita sering bertindak bukan berdasarkan kepastian, tetapi berdasarkan keyakinan yang bahkan kadang tidak rasional.

Ironisnya, manusia modern mengaku mencintai logika, tetapi hidupnya penuh spekulasi. Kita membuat rencana lima tahun seolah masa depan bisa dikendalikan, padahal satu kabar buruk saja mampu mengubah seluruh arah hidup. Kita menabung demi hari tua, menjaga tubuh agar sehat, membangun relasi sosial, semua demi mengurangi risiko. Namun pada akhirnya, tidak ada manusia yang benar-benar bisa memastikan apa yang akan terjadi besok pagi.

Dan mungkin karena itulah manusia menciptakan begitu banyak sistem: agama, filsafat, sains, hukum, bahkan teknologi. Semua itu pada dasarnya adalah usaha untuk menenangkan rasa takut terhadap ketidakpastian. Kita ingin percaya bahwa hidup memiliki pola, bahwa dunia dapat diprediksi, bahwa penderitaan punya alasan.

Tetapi semakin saya memikirkan hidup, semakin saya sadar bahwa manusia sering kali tidak benar-benar mencari kepastian. Yang kita cari sebenarnya adalah rasa tenang. Kita ingin merasa bahwa pilihan kita tidak sia-sia. Bahwa perjuangan kita memiliki arti. Bahwa luka-luka yang kita alami bukan sekadar hasil dari kekacauan semesta.

Namun hidup tidak selalu memberi jawaban secepat yang kita inginkan. Ada orang baik yang justru hancur lebih dulu. Ada orang jahat yang tampak hidup nyaman. Ada mimpi yang gagal meski telah diperjuangkan sepenuh hati. Dan di titik-titik seperti itu, manusia mulai merasa bahwa hidup adalah perjudian yang kejam.

Saya sering melihat bagaimana manusia mempertaruhkan dirinya demi sesuatu yang belum tentu pasti, lalu kecewa ketika realitas tidak berjalan sesuai harapan. Padahal sejak awal, kehidupan memang tidak pernah menawarkan garansi.

Mungkin inilah perbedaan terbesar antara Tuhan dan manusia. Jika Tuhan adalah keteraturan itu sendiri, maka manusia adalah makhluk yang terus bergerak di antara kemungkinan-kemungkinan. Tuhan tidak bermain dadu karena Ia mengetahui keseluruhan permainan. Sedangkan manusia terus melempar dadu karena tidak pernah benar-benar tahu hasil akhirnya.

Dan anehnya, justru dalam ketidaktahuan itulah manusia menemukan keberanian.

Seseorang tetap bermimpi meski pernah gagal. Tetap mencintai meski pernah dikhianati. Tetap berharap meski berkali-kali kecewa. Ada sesuatu dalam diri manusia yang menolak menyerah pada ketidakpastian. Sesuatu yang membuat kita terus melangkah meski sadar bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya aman.

Barangkali, itu yang disebut harapan.

Harapan adalah bentuk perjudian paling manusiawi. Ia tidak lahir dari kepastian, tetapi dari keberanian untuk tetap percaya di tengah kemungkinan gagal. Dalam harapan, manusia mempertaruhkan emosinya kepada masa depan yang bahkan belum tentu datang.

Namun saya juga menyadari bahwa tidak semua perjudian manusia berakhir indah. Ada yang kehilangan dirinya sendiri demi ambisi. Ada yang mempertaruhkan moral demi kekuasaan. Ada yang menjual nurani demi kenyamanan sesaat. Dalam bentuk ini, perjudian manusia berubah menjadi kerakusan eksistensial: keinginan untuk mengendalikan hidup secara mutlak.

Padahal mungkin hidup memang tidak diciptakan untuk sepenuhnya dikendalikan. Kita hanya diberi kesempatan untuk menjalaninya, memaknainya, dan belajar darinya.

Semakin dewasa, saya merasa bahwa kebijaksanaan bukanlah kemampuan memprediksi seluruh masa depan, melainkan kemampuan menerima bahwa sebagian hidup memang akan selalu berada di luar kendali kita. Bahwa ada hal-hal yang hanya bisa dijalani, bukan dipastikan.

Mungkin Tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta. Tetapi manusia, dengan seluruh kecemasan dan harapannya, akan selalu melempar dadu dalam hidupnya sendiri.

Ketidakpastian dan Ilusi Kendali

Manusia modern sering merasa dirinya jauh lebih maju dibanding generasi-generasi sebelumnya. Kita memiliki teknologi canggih, kecerdasan buatan, sistem ekonomi global, hingga kemampuan membaca genom manusia. Namun di balik semua kemajuan itu, ada satu hal yang tetap tidak berubah: manusia masih tidak mampu mengendalikan hidup sepenuhnya.

Pandemi beberapa tahun lalu menjadi contoh yang sangat telanjang. Dunia yang merasa begitu modern mendadak lumpuh oleh sesuatu yang bahkan tidak terlihat oleh mata. Ekonomi runtuh, rumah sakit penuh, orang-orang kehilangan keluarga, pekerjaan, bahkan kehilangan arah hidup. Dalam sekejap, manusia dipaksa sadar bahwa seluruh rasa aman yang dibangun selama ini ternyata sangat rapuh.

Di titik itu saya mulai berpikir, mungkin manusia sebenarnya hidup dalam ilusi kendali.

Kita membuat jadwal hidup seolah semuanya dapat dipastikan. Kita menyusun target usia, target karier, target pernikahan, target kesuksesan, seakan-akan hidup adalah garis lurus yang bisa diatur sesuka hati. Padahal kenyataannya, hidup lebih mirip lautan yang ombaknya tidak pernah benar-benar bisa ditebak.

Ironisnya, semakin manusia berusaha mengendalikan semuanya, semakin besar pula kecemasan yang muncul. Kita takut gagal, takut tertinggal, takut miskin, takut tidak dicintai, takut masa depan hancur. Ketakutan itu lahir karena manusia ingin memastikan sesuatu yang memang sejak awal tidak pernah dijanjikan kepastian.

Barangkali inilah mengapa banyak orang modern terlihat lelah secara batin. Bukan karena hidup selalu lebih berat, tetapi karena kita terlalu memaksa diri untuk mengendalikan segala sesuatu.

Padahal ada banyak hal di dunia ini yang memang tidak bisa diatur sepenuhnya: perasaan orang lain, waktu, kematian, keberuntungan, bahkan arah kehidupan itu sendiri.

Manusia dan Obsesi Menjadi “Tuhan”

Semakin saya mengamati kehidupan, semakin terlihat bahwa manusia sering kali bukan hanya ingin memahami dunia, tetapi juga ingin menguasainya secara mutlak.

Kita ingin mengendalikan alam, mengendalikan ekonomi, mengendalikan opini publik, bahkan mengendalikan cara orang lain berpikir. Dalam banyak hal, manusia tampak seperti makhluk yang sulit menerima keterbatasannya sendiri.

Mungkin karena itulah keserakahan terus lahir dalam sejarah manusia.

Atas nama kemajuan, manusia mengeksploitasi alam tanpa batas. Hutan ditebang, sungai dirusak, laut dipenuhi sampah, udara dipenuhi polusi. Semua dilakukan demi memenuhi ambisi pertumbuhan tanpa akhir. Kita berjudi dengan bumi seolah planet ini tidak memiliki batas daya tahan.

Padahal alam semesta selalu memiliki cara untuk mengingatkan manusia bahwa ia bukan pusat dari segalanya.

Bencana ekologis, perubahan iklim, krisis air, hingga cuaca ekstrem perlahan menjadi alarm bahwa manusia tidak bisa terus-menerus mempertaruhkan masa depan hanya demi kepentingan sesaat.

Dalam konteks ini, perjudian manusia menjadi jauh lebih berbahaya. Bukan lagi sekadar perjudian emosional atau pribadi, tetapi perjudian kolektif terhadap masa depan peradaban itu sendiri.

Dan yang paling ironis, sering kali manusia mengetahui risikonya, tetapi tetap melakukannya.

Harapan Sebagai Bentuk Perlawanan

Meski begitu, saya tetap percaya bahwa manusia bukan hanya makhluk yang dipenuhi kerakusan. Di dalam diri manusia juga ada kemampuan luar biasa untuk bertahan dan memperbaiki diri.

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, manusia masih mampu menciptakan harapan.

Ada orang-orang yang tetap membantu sesama meski hidupnya sendiri sulit. Ada yang tetap memperjuangkan keadilan meski berkali-kali dibungkam. Ada yang tetap menjaga kejujuran meski dunia sering memberi keuntungan kepada kebohongan.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin tampak sederhana, tetapi sebenarnya di situlah letak kemanusiaan diuji.

Harapan bukan berarti percaya bahwa semuanya akan berjalan sempurna. Harapan adalah keberanian untuk tetap hidup dengan bermakna meski dunia sering kali tidak adil.

Dan menurut saya, itu adalah bentuk perlawanan paling sunyi yang dimiliki manusia.

Karena pada akhirnya, manusia tidak pernah benar-benar tahu bagaimana hidup akan berakhir. Kita hanya bisa memilih bagaimana cara menjalaninya.

Menerima Ketidakpastian Sebagai Bagian dari Kehidupan

Semakin dewasa, saya mulai memahami bahwa kedamaian mungkin tidak lahir dari keberhasilan mengendalikan hidup, tetapi dari kemampuan berdamai dengan ketidakpastian.

Tidak semua pertanyaan harus segera memiliki jawaban. Tidak semua luka langsung menemukan obatnya. Tidak semua perjuangan akan berakhir kemenangan.

Namun hidup tetap berjalan.

Dan mungkin justru di situlah manusia belajar menjadi lebih bijaksana: ketika ia berhenti menuntut hidup agar selalu sesuai dengan keinginannya.

Kita boleh bermimpi besar, bekerja keras, dan merencanakan masa depan. Tetapi pada saat yang sama, kita juga perlu sadar bahwa ada wilayah-wilayah kehidupan yang tidak bisa sepenuhnya kita kuasai.

Menerima kenyataan itu bukan berarti menyerah. Justru di situlah manusia belajar rendah hati.

Bahwa kita hanyalah bagian kecil dari semesta yang begitu luas.

Bahwa hidup tidak selalu tentang menang atau kalah.

Dan bahwa mungkin, makna kehidupan bukan ditemukan ketika semua hal berhasil dikendalikan, melainkan ketika manusia tetap mampu menjaga nuraninya di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.

Dadu yang Akan Selalu Dilempar Manusia

Pada akhirnya saya sadar, manusia mungkin memang tidak akan pernah berhenti berjudi dengan hidupnya. Kita akan terus membuat pilihan, mengambil risiko, mencintai, berharap, gagal, lalu mencoba lagi. Dadu itu akan terus dilempar, generasi demi generasi.

Namun mungkin yang paling penting bukanlah bagaimana menghindari seluruh risiko kehidupan, melainkan bagaimana tetap menjadi manusia di tengah seluruh ketidakpastian itu.

Tetap memiliki empati di tengah kerasnya dunia.

Tetap memiliki hati nurani di tengah godaan kekuasaan.

Tetap memiliki harapan meski kenyataan tidak selalu berpihak.

Karena bisa jadi, makna terdalam kehidupan bukan terletak pada kepastian hasil akhirnya, melainkan pada keberanian manusia menjalani seluruh prosesnya dengan jujur dan penuh kesadaran.

Dan selama manusia masih mampu berharap, mungkin semesta ini belum sepenuhnya kehilangan cahaya.

Seorang pembelajar, yang masih haus akan ilmu pengetahuan dan sedang merenungi makna hidup tentang apa artinya menjadi seorang manusia. Pekerjaan saya sebagai advokat HAM di lembaga bantuan hukum di kota saya Sambas, Kalimantan Barat.