Dalam menyelami karya Sastra dunia, termasuk sangat lambat bagi diri pribadi saya. Dibanding pembacaan Mang Lutfi Mardiansyah atau Ajengan Syihabul Furqon, misalnya, saya hanya setitik debu. Tetapi, membaca karya-karya Sastra Indonesia dan dunia, terus saya perjuangkan, demi menyusuri sisi batin manusia paling dalam, dan tentu saja, menapaki hati manusia yang rumit dan kompleks.
Saya ingin membagi sebetik isi buku yang bertahun-tahun lalu saya khatamkan dengan kekhusyukan, dan beberapa waktu lalu saya membacanya ulang: Rumah dan Dunia karya Rabindranath Tagore, yang kini diterbitkan dengan judul Bimala. Dalam karyanya ini, Tagore yang merupakan sastrawan pertama peraih Nobel yang berasal dari asia itu, coba menegaskan kepribadian perempuan timur dalam novel ini. Terutama tentang ‘Pengabdian’ perempuan dalam Rumah Tangga, yang oleh Barat disebut ‘Penindasan’ dan ketidaksetaraan derajat.
Dengan meminjam tokoh perempuan yang bernama Bimala, Tagore sepertinya, terpana pada pengabdian seorang perempuan yang menjadi khas Masyarakat Timur. Dan saya ingin membaginya kepada Anda semua tentang beberapa ungkapannya. Saya tak akan menafsirkannya, karena itu bikin saya capek menuliskannya.
Nikhil, suami dari Bimala, yang pernah belajar di Europa, berpikiran maju dan modern, pernah dengan tegas berkata kepada istrinya, “Setiap hari kamu hanya mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, menghayati kehidupanmu seputar tata cara dan kesibukan rumah tangga. Bukan untuk itu kamu dilahirkan!”
Kita dengarkan apa yang dikatakan Bimala tentang sebuah pengabdian perempuan di sebuah dunia yang bernama Rumah Tangga.
“Pengabdian adalah kecantikan, dalam aspek batiniyahnya.”
“Ketika aku melayani suamiku, kemudian ia menerima dan menikmatinya, maka pelayanan itu tenggelam dalam keindahan yang melampaui semua pembahasan, kesangsian, dan perhitungan.”
“Saat perempuan mengabdi kepada suaminya, itu bukan demi mendapatkan pahala. Ini adalah hati kewanitaan, yang harus memuja supaya bisa meminta.”
“Aku adalah ratu bagi suamiku, aku duduk di sampingnya. Tetapi kegembiraanku yang nyata, yaitu bahwa tempatku adalah di ‘kakinya'”
“Suamiku tak membiarkan aku memujanya. Tapi justru di sinilah letak keagungannya. Para suami yang menekankan hak memperoleh pengabdian dari para Istri, mereka adalah seorang pengecut! Dan ini merupakan kehinaan bagi kedua belah pihak.”
“Cinta adalah penggelandang, yang mampu memekarkan bunga dalam terpaan debu jalanan. Maka yang lebih kubutuhkan dalam cinta adalah memberi, bukan menerima.”
“Pengabdian bukan berarti ketidaksamaan. Justru malah meninggikan derajat pengabdian itu.”
“Aku bangga dengan pengabdianku ini, karena inilah yang membuat suamiku sujud di depan muka pintuku.”
“Cintaku, sungguh mulia hatimu karena tidak memgharapkan pengabdianku. Tetapi bila kamu terima pengabdianku, itu berarti anugrah bagiku.”
“Para lelaki terlalu sibuk di luar rumah. Mereka tidak banyak mengetahui makna kehidupan yang ada di dalamnya. Untuk hal-hal seperti ini, harusnya mereka lebih mendengarkan kata-kata istri.”
“Perempuan bukan saja dewa api rumah tangga, melainkan api dari jiwa itu sendiri.”
“Kecantikan bukanlah untuk memikat hati orang. Tapi karena kecantikan adalah keagungan.”
“Kebahagian sejati bagi seorang perempuan adalah ketika mampu menguasai laki-laki. Maka hanya dengan merendahkan diri dalam pengabdian, jiwa perempuan akan terselamatkan.”
Seperti karya sastra pada umumnya, ia tidak sedang menawarkan teori atau mengancam pikiran. Dia hanya bertugas membagi cerita dan memberi pilihan. Kalimat-kalimat Tagore tentang keagungan pengabdian seorang perempuan, boleh saja dihujat atau dipuja, dicaci atau dicinta, didakwa atau dirindu. Semua terserah kita, terserah pembaca, bagaimana memandangnya. Tetapi saya kira, kita musti sepakat sama-sama pada dawuh Rabindranath Tagore tentang kelahiran balita, “Setiap bayi tiba, itu adalah petanda bahwa Tuhan belum putus asa kepada manusia..”




