Saya, juga barangkali teman saya Fauzan Anwar adalah orang yang selalu gelisah, resah, gerah akan keadaan bangsa. Melihat kepicikan, kemiskinan, penindasan, kelakuan elit politik membuat isi kepala kami selalu berisik. Namun, saya sadar atas satu kalimat yang terdengar cukup naif. “Berbahagialah hari ini. Itu sudah cukup.”
Kalimat yang tidak terdengar sebagai hasil perenungan panjang. Tidak juga terasa seperti kesimpulan dari tradisi filsafat yang berat dengan argumentasi mendakik-dakik. Dan dari kesederhanaannya, ia seperti memotong kesadaran saya atas kebiasaan berpikir terlalu jauh dan yang terlalu ambisius. Terlalu visioner seperti halnya bung Fauzan Anwar.
Semakin saya menyelami banyak hal, dari seruan moral agama hingga, membaca teori sosial, berselancar menggunakan filsafat, menggunakan teori intradisipliner, transdisipliner dan menautkannya dengan keadaan hingga sampai pada kesimpulan dan memvonis ini “tidak ideal”, semakin terasa bahwa hidup malah sering dibawa ke arah yang terlalu konseptual. Dari Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd yang berbantahan akan fungsi akal, Immanuel Kant dengan rasionalitas dan batas-batas nalar, sampai Jean-François Lyotard yang meruntuhkan kepercayaan akan narasi besar—semuanya menawarkan cara memahami dunia yang tajam, tapi juga menuntut energi yang tidak sedikit. Entahlah.
Posmodernisme sendiri bekerja dengan cara yang kadang menyebalkan. Ia tidak memberi pegangan tetap. Ia membongkar, menggeser, dan mempertanyakan ulang apa yang sebelumnya dianggap “mapan.” Kebenaran tidak lagi tunggal, identitas tidak stabil, dan realitas tidak juga bisa dibaca dengan satu sudut pandang saja. Alih-alih membuat segalanya terang benderang, pendekatan-pendekatan itu sering mempertontonkan betapa cair dan rapuhnya fondasi yang selama ini dianggap kokoh.
Kondisi yang sebenarnya sejalan dengan kritik ala Frankfurt yang melihat modernitas bukan sekadar kemajuan, tetapi juga mekanisme dominasi yang samar-samar memuakkan. Rasionalitas berubah fungsi menjadi alat kontrol, dan manusia akhirnya perlahan kehilangan otonomi di tengah sistem yang ia bangun sendiri. Masalahnya, saat semua kerangka besar itu dipahami sekaligus, hasilnya tidak melulu “pencerahan.” Terlalu banyak kemungkinan tafsir justru membuat arah hidup terasa kabur. Bahkan membuat isi kepala dan hati terus terbentur.
Dalam situasi seperti itu, kalimat sederhana di awal bekerja sebagai koreksi. “Berbahagialah hari ini.” bukan sebagai penolakan terhadap kompleksitas dan menanggalkan “idealisme,” melainkan sebagai batas. Ada titik di mana isi kepala yang “mendakik-dakik” itu perlu sedikit jeda agar hidup tetap bisa dijalani dengan “apa adanya”, bukan dipikirkan lalu mengubahnya sekaligus.
Barangkali inilah yang sebenarnya sejalan dengan kritik atas obsesi modern akan masa depan. Hidup sering diposisikan sebagai proyeksi jangka panjang yang harus direncanakan secara strategis dan dioptimalkan secara terus-menerus. Sangat mungkin akibatnya hari ini dipandang hanya menjadi alat, bukan pengalaman. Padahal, tekanan terbesar justru hadir dalam keseharian yang konkret. Lingkungan sosial yang dinamis, tuntutan ekonomi, dan ekspektasi yang tidak pernah benar-benar selesai. Belum lagi distraksi digital yang semakin intens.
Smartphone misalnya, ia bukan sekadar alat komunikasi. Benda itu adalah perpanjangan dari sistem kapitalisme data. Setiap aplikasi bekerja dengan logika atensi—mengunci perhatian selama mungkin, mengumpulkan preferensi, dan mengubah perilaku menjadi komoditas. Dalam kerangka ini, individu tidak lagi sepenuhnya otonom, melainkan bagian dari arus produksi data yang terus berjalan.
Kondisi tersebut mempersempit ruang refleksi personal. Waktu habis untuk merespons, bukan memahami. Perhatian terpecah, terdistraksi dan kebahagiaan mudah tergantikan oleh rangsangan instan. Maka, berbicara tentang kebahagiaan tidak cukup jika hanya dipahami sebagai emosi sesaat. Ia perlu diletakkan sebagai sikap yang sadar. Bukan sekadar euforia. Bukan pelarian. Dan bukan bentuk penyangkalan terhadap “masalah-masalah hidup.” Kebahagiaan, dalam bentuk ini lebih dekat pada kemampuan menjaga kendali atas diri sendiri. Ada kesadaran bahwa tidak semua hal bisa diatur, tetapi respons terhadapnya tetap bisa dipilih.
Pendekatan ini tidak identik dengan relativisme total. Posmodernisme sering disalahpahami sebagai pembenaran atas semua pilihan. Padahal, tanpa batas nilai, kehidupan kehilangan arah. Yang lebih relevan adalah kemampuan menempatkan kebenaran secara proporsional—tidak absolut, tetapi juga tidak nihil.
Dalam praktiknya, tentu saja ini tidak mudah dan menuntut kedewasaan. Tidak semua kesalahan perlu dikoreksi secara langsung. Tidak semua kebobrokan sistem yang dinilai oleh pikiran ini perlu diselesaikan secara instan. Tidak semua kebenaran perlu dipaksakan. Ada pertimbangan konteks, relasi, dan dampak yang ikut bermain. Keseimbangan semacam ini jarang dibahas dalam teori, tetapi sangat menentukan arah hidup dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, tekanan sosial tetap bekerja dengan kuat. Standar tentang keberhasilan, kelayakan, dan identitas terus diproduksi dan direproduksi. Individu didorong untuk menyesuaikan diri, sering tanpa ruang untuk mempertanyakan. Kemampuan mengambil jarak dari tekanan tersebut akhirnya menjadi penting. Bukan untuk menghindar, tetapi untuk menjaga otonomi. Ada momen ketika penilaian eksternal tidak perlu dijadikan pusat orientasi.
Kebahagiaan kemudian tidak lagi bergantung pada validasi sosial, melainkan pada konsistensi internal. Pemahaman ini membawa konsekuensi bahwa hidup tidak akan pernah sepenuhnya rapi. Akan selalu ada kontradiksi, ketidakpastian, dan batas yang tidak bisa ditembus.
Namun, ketidaksempurnaan itu tidak otomatis meniadakan kemungkinan untuk merasa cukup. Bahagia tidak perlu menunggu kondisi ideal. Ia muncul dari kemampuan menerima kompleksitas tanpa kehilangan arah. Upaya ini jelas tidak mudah. Dibutuhkan latihan berpikir, kedisiplinan emosional, dan kesediaan untuk terus merevisi cara memandang hidup.
Tidak semua orang memilih jalur yang sama. Tidak semua membutuhkan proses yang panjang atau mahal. Namun satu hal yang pasti. Jika hari ini bisa dijalani dengan kesadaran, dengan kontrol yang cukup atas diri sendiri, dan tanpa sepenuhnya tunduk pada tekanan luar, maka itu sudah memadai.
Berbahagialah hari ini. Itu sudah cukup.





