Tobat atas Dosa Antroposentris

Pandangan sains dan tafsir teks keagamaan yang bercorak antroposentris memberikan dampak pada eksploitasi alam yang berujung pada kerusakan lingkungan yang terjadi di seluruh dunia. Isaac Newton membayangkan alam semesta tak lebih dari sebuah jam mekanik raksasa yang dingin. Manusia, dalam narasi besar ini, menempatkan dirinya sebagai pengamat sekaligus penakluk di luar mesin tersebut. Namun, saat krisis iklim dan ketimpangan sistemik mulai mengepung peradaban modern, narasi mekanistik ini semakin tidak relevan. Fritjof Capra melalui karyanya, The Web of Life, menawarkan sebuah pergeseran paradigma: dari melihat dunia sebagai kumpulan objek, menjadi melihat dunia sebagai jaring-jaring relasi yang tak terputus dan terhubung satu sama lain.

Salah satu tesis utama Capra adalah bahwa krisis global yang kita hadapi hari ini, kerusakan lingkungan, bencana sosial dan ekologis—bukanlah masalah yang berdiri sendiri. Kita sering terjebak dalam pola pikir parsial, mencoba memperbaiki satu baut yang longgar tanpa menyadari bahwa seluruh mesin sedang mengalami malfungsi. Capra mendekati masalah menggunakan pendekatan multidisipliner dan interdisipliner.

Dalam sebuah sistem, ketika kita merusak satu simpul dalam jaring kehidupan, getarannya akan merambat ke seluruh struktur. Di sinilah makna “taqdir” kolektif muncul: peradaban modern tidak bisa memilih untuk menyelamatkan ekonominya sambil mengabaikan ekologinya. Keduanya adalah satu tarikan napas. Jika kita gagal menyadari interdependensi ini, maka kehancuran sistemik adalah sebuah keniscayaan.

Autopoiesis dan Kognisi: Kehidupan adalah Proses Belajar

Gagasan lain yang diusung Capra adalah konsep autopoiesis, yang ia pinjam dari biologiawan Humberto Maturana dan Francisco Varela. Berbeda dengan mesin yang dirakit oleh tangan manusia, sistem kehidupan memiliki kemampuan untuk memproduksi, mengatur, dan memelihara dirinya sendiri secara mandiri. Kehidupan bukan sekadar struktur fisik, melainkan sebuah proses yang terus-menerus.

Dalam pandangan Capra kognisi atau pikiran bukanlah hak istimewa makhluk berotak besar saja. Setiap interaksi antara organisme dengan lingkungannya adalah sebuah proses belajar. Pikiran adalah proses kehidupan itu sendiri. Implikasinya sangat dalam: manusia bukan lagi “pemilik pikiran” yang berdiri di atas alam yang dianggap “tidak berpikir”. Sebaliknya, alam semesta adalah sebuah kesadaran kolektif yang luas.

Capra menolak gagasan konvensional bahwa “pikiran” (mind) atau “kesadaran” adalah hak istimewa dan eksklusif yang hanya dimiliki makhluk dengan sistem saraf kompleks atau “berotak besar” (manusia). Bagi Capra, kognisi bukanlah sebuah entitas atau benda yang bersemayam di dalam otak, melainkan sebuah proses kehidupan itu sendiri.

Setiap interaksi yang dilakukan oleh organisme hidup—bahkan oleh bakteri bersel tunggal sekalipun—terhadap lingkungannya merupakan sebuah aktivitas kognitif. Ketika sebuah organisme merespons perubahan suhu, mencari nutrisi, atau menghindari ancaman, ia sedang melakukan proses belajar dan pemaknaan terhadap dunianya. Dengan demikian, kognisi adalah aktivitas yang terlibat dalam pengaturan diri (self-generation) dan pemeliharaan diri sistem kehidupan.

Ketika Capra menyatakan, “We can never speak about nature without, at the same time, speaking about ourselves,” ia sedang membicarakan cermin eksistensial. Apa yang kita lakukan terhadap alam, adalah yang kita lakukan terhadap kita sendiri. Seringkali, perdebatan mengenai lingkungan terjebak dalam antroposentrisme—bahwa kita harus menjaga alam agar manusia tetap bisa makan, minum, dan bernapas. Capra melangkah lebih jauh menuju Deep Ecology (Ekologi Mendalam). Di sini, alam memiliki nilai intrinsik yang tidak tergantung pada kegunaannya bagi manusia.

Capra percaya bahwa untuk memulihkan kemanusiaan kita yang tercerabut oleh industrialisme yang gersang, kita harus kembali menempatkan diri kita sebagai bagian dari jaring kehidupan. Ini adalah sebuah perjalanan spiritual sekaligus saintifik. Pemisahan diri dari alam adalah ilusi yang mematikan; ia adalah “taqdir buruk” yang kita ciptakan dari arogansi intelektual. Sebaliknya, “membumikan” kembali diri kita sehingga memiliki keterikatan dengan alam adalah jalan keselamatan.

Capra menawarkan konsep komunitas manusia yang berkelanjutan. Konsep berkelanjutan di sini bukan berarti “bertahan selamanya dalam pertumbuhan ekonomi yang eksponensial,” melainkan merancang sistem sosial, bisnis, dan teknologi yang tidak mengganggu kemampuan alam untuk menopang kehidupan. Jika sebuah peradaban dibangun dengan melawan hukum-hukum ekologi (seperti hukum termodinamika atau siklus nutrisi), peradaban itu sedang menuju garis akhir sejarahnya sendiri.

Sebagai penutup, gagasan Capra dalam The Web of Life adalah “alarm” pengingat bagi kita, Capra mengingatkan bahwa kita bukan sekadar tamu di planet ini, melainkan bagian yang saling terhubung dengan sel-sel lainnya. Kita dana lam raya ini terikat pada satu takdir ekologis, menjaga alam adalah menjaga kemanusian, begitupun sebaliknya. Memahami jaring kehidupan berarti memahami bahwa tidak ada kemenangan individu di atas kerusakan alam tempat kita hidup. Menjaga bumi dan isinya, pada akhirnya, adalah upaya paling jujur untuk menyelamatkan diri kita dan generasi kita di masa depan.

Alumni Kajian Strategis Ketahanan Nasional Universitas Indonesia | Jama'ah Kebuliah