Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti diskusi (sinau bareng) sampai larut malam, acara yang diinisiasi komunitas Maiyah Jamparing Asih ini mengangkat tema yang cukup menarik perhatian saya, acara itu bertajuk “Kompas Sejara: Navigasi Resah”.
Dalam forum tersebut, saya menangkap satu pola yang terasa begitu akrab: bagaimana sejarah perjuangan organisasi sering kali diangkat dengan penuh romantisme. Kisah-kisah masa lalu diposisikan sebagai standar ideal, seolah menjadi tolak ukur tunggal untuk menilai generasi hari ini.
Saya mulai bertanya dalam hati: apakah kita memang perlu terus mengglorifikasi masa lalu? Atau jangan-jangan, tanpa disadari, kita sedang membatasi kemungkinan masa depan?
Itulah resah yang saya bawa dan terpikirkan sejak saat mengikuti acara tersebut.
Dari berbagai percakapan yang saya dengar, bahkan saya tanyakan langsung kepada senior, terlihat bahwa dalam banyak organisasi—baik yang bergerak di bidang agama, sosial/kemahasiswaan, ekonomi, kerakyatan, maupun politik—narasi tentang kejayaan masa lalu kerap diulang. Generasi sebelumnya digambarkan begitu militan, tangguh, dan ideologis. Sementara itu, generasi sekarang, khususnya Generasi Z, sering dibandingkan dengan nada yang kurang menguntungkan.
Bagi saya, sejarah memang penting. Ia adalah sumber identitas dan pelajaran. Namun, ketika sejarah ditempatkan terlalu tinggi, saya melihat ada risiko: ia berubah menjadi beban. Kisah masa lalu yang kita dengar sering kali sudah disederhanakan—yang muncul adalah keberhasilan, sementara konflik dan kegagalan jarang dibicarakan. Akibatnya, generasi sekarang tidak hanya diminta melanjutkan perjuangan, tetapi juga menyamai versi masa lalu yang belum tentu utuh.
Saya melihat ini sebagai standar yang tidak sepenuhnya adil
Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa konteks zaman telah berubah drastis. Dalam realitas ekonomi hari ini, generasi muda hidup di tengah ketidakpastian kerja dan tekanan finansial yang kompleks. Dalam politik, ruang gerak tidak lagi hanya soal turun ke jalan, tetapi juga tentang bagaimana bertarung di ruang digital yang dipenuhi algoritma dan polarisasi. Belum lagi disinformasi pengetahuan dan wacana hoax berkepanjangan, ditambah tren-tren-an yang tiada jeda. Secara sosial, Generasi Z tumbuh dalam arus informasi tanpa batas, dengan kesadaran tinggi terhadap kesehatan mental dan nilai inklusivitas.
Dengan kondisi seperti ini, menurut saya, cara berjuang tentu tidak bisa disamakan dengan masa lalu. Dan jawaban ini telah diafirmasi salah satu senior saya yang cukup nyentrik, dengan gaya yang khas dan tampilan sederhananya. “Generasi Z itu punya harapan, mereka kreatif”, begitu jawabnya kira-kira.
Di sisi lain, saya juga sering mendengar anggapan bahwa Generasi Z terlalu sensitif atau kurang tahan banting. Namun, semakin saya perhatikan, penilaian itu lebih banyak berangkat dari perbedaan cara ekspresi, bukan hilangnya nilai. Justru saya melihat generasi ini memiliki kesadaran yang berbeda: lebih kritis terhadap kekuasaan, lebih selektif dalam berorganisasi, dan lebih sadar akan keseimbangan hidup. Mereka juga sangat adaptif terhadap teknologi, yang membuka cara baru dalam membangun jaringan dan menyuarakan gagasan.
Di titik ini, saya merasa organisasi perlu bercermin. Apakah kita ingin menjadi ruang hidup yang terus berkembang, atau justru menjadi monumen masa lalu?
Menurut saya, organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu berdialog lintas generasi. Bukan untuk saling membandingkan, tetapi untuk saling memahami. Sejarah seharusnya menjadi referensi, bukan batasan. Ia menjadi pijakan, bukan beban.
Dalam menghadapi tantangan ekonomi, politik, dan sosial hari ini, saya melihat bahwa retorika perjuangan saja tidak cukup. Dibutuhkan inovasi, kolaborasi, dan keberanian mencoba pendekatan baru. Dan di sinilah saya melihat peran penting Generasi Z—mereka membawa potensi untuk memperluas gerakan melalui teknologi, membangun solidaritas lintas batas, serta menghadirkan perspektif yang lebih segar dan bermakna.
Karena itu, saya mulai berpikir: mungkin yang perlu kita ubah bukan generasinya, tetapi cara kita memandang generasi tersebut.
Alih-alih terus mengulang kejayaan masa lalu, saya merasa sudah saatnya organisasi menggeser narasi. Bukan lagi tentang siapa yang paling setia pada sejarah, tetapi siapa yang paling mampu menjawab tantangan hari ini. Sebab bagi saya, harapan tidak lahir dari nostalgia, melainkan dari keberanian untuk beradaptasi.
Setiap generasi memiliki caranya sendiri dalam memberi makna pada perjuangan. Dan jika kita terus mengglorifikasi masa lalu secara berlebihan, yang tercipta bukan jembatan, melainkan jarak.
Saya percaya, jika organisasi ingin tetap hidup dan relevan, maka yang dibutuhkan bukan sekadar tuntutan terhadap generasi baru, tetapi juga kepercayaan kepada mereka.
Sejarah tidak perlu ditinggalkan, tetapi juga tidak perlu dipuja secara berlebihan. Cukup dijadikan pijakan. Sementara langkah ke depan, biarlah ditentukan oleh mereka yang hidup di zamannya.
Dan saya melihat, sangat mungkin, justru melalui tangan Generasi Z, harapan itu menemukan bentuknya yang paling relevan dengan realitas hari ini.







