Aku Bingung
Malam berderu sambar dingin penghayatan,
Bulu kuduk telah meradang,
Tiada angin bertahan pada hening,
Hembusan napas gemerlap malam menghilang
Suara dongeng kecil meratap,
Menyaksikan nyanyian bumi dan getar,
Lautan cahaya menghabiskan ruang,
Apa saat ini lunak hati tlah datang
Rayuan rembulan menutupi wajan,
Bintang datang cemerut pun hilang,
Lagi dan lagi terlelap dalam kehenigan,
Apa saat ini pangkuan hati datang
Napas bersontak liar dan lagu berhenti putar,
Ketukan demi ketukan hanyutkan badan,
Kesakitan, kepiluan telah gusar,
Apa saat ini aku diam dan ratap muka
Bung rebut kembali!
Keadilan di negeri sudah tak ada arti
Pengadilan bisa dibayar upeti
Nalar, nasihat, dan kritik telah mati
Penjajah disanjung sendiri
Kali ini, apa kita diam lagi?
Luka-luka begitu datang bertubi
Hutan rimbun terus digunduli
Dan Laut biru, ombak, karang penuh disampahi
Bung hari ini teriak kembali!
Perut keroncong tak tertahankan lagi
Lihat mereka bung! Sekarat hingga mati
Pepatah-petitih datang untuk mengelabui
Bung sampai kapan lagi?
Kita diam dan menonton situasi ini
Tegakkan kembali, revolusi kobarkan lagi!
Mari bung rebut kembali!
Jual Mimpi
Saat kecil ibu sering lantunkan dongeng
astronot terjebak di planet entah berantah,
Raja di negeri dongeng yang rupawan,
Hingga vampire buruk rupa kuasa gelap
Katanya, aku harus menggapai segala cita
Semenjak, tubuhku membesar, dan kepalaku penuh
Aku sadar, angan itu tak akan pernah ada di hidupku
Aku sadar, bahwa dunia bagai flamboyan merah mencuat
Lelah, penuh, sumpek, terpaksa aku menerima
Aku tak pernah membayangkan haluku lagi
Sedari kecil, buku menemaniku, membangun pikiranku
Dulu aku tak mengerti, maksud buku
Hari ini, buku bermaksud menyuruhku menjual mimpi
Aku sekarang merasa hampa, namun tertekan
Tak ada halu yang bisa memuaskan dan melelapkanku
Obat tidur tak akan mempan untuk membangun citaku, terpaksa aku harus menjualnya sekarang!





