Baru-baru ini, saya menyelesaikan sebuah buku mengenai Dialectical Behavior Therapy (DBT), khususnya pada bagian keterampilan toleransi penderitaan atau distress tolerance skill. Ada satu temuan yang sangat memikat perhatian saya. Dari sekian banyak cara untuk menghadapi emosi negatif yang meluap-luap, salah satu anjuran paling ekstrem yang ditawarkan adalah melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi seperti High-Intensity Interval Training (HIIT). Tujuannya sederhana namun sangat masuk akal, yakni untuk mereset sistem saraf dan memaksa pikiran agar terdistraksi dari keputusasaan.
Entah kenapa, setelah membaca bagian tersebut, ingatan saya seketika melayang pada sosok Bahar dalam novel Janji. Bagi Anda yang pernah menyelami karya ini, tentu masih lekat dalam ingatan bagaimana Bahar harus menghadapi hantaman batin yang begitu dahsyat akibat kehilangan sosok Delima. Pada masa kelam itu, ia tanpa sadar telah mempraktikkan distress tolerance skill dalam bentuk yang paling nyata dan ekstrem. Bahar memilih untuk mengalihkan seluruh pikiran serta perasaannya pada aktivitas fisik paling berat yang ia ketahui, yakni bekerja sebagai buruh di pertambangan bawah tanah.
Di dalam gelap dan pengapnya tambang tersebut, ia memeras keringat hingga tak tersisa ruang sedikit pun di kepalanya untuk meratapi kepergian Delima. Ia benar-benar tidak memberikan waktu bagi dirinya sendiri untuk tenggelam dalam duka. Jika kita cermati kembali melalui kacamata psikologi, mekanisme koping yang dijalankan Bahar adalah sebuah langkah yang sangat tepat. Ia berhasil meredam badai emosinya melalui cara yang tidak merugikan sekaligus menghindarkan dirinya dari perilaku destruktif.
Namun, sisi yang jauh lebih menarik dari perjalanan Bahar justru terjadi di fase berikutnya. Sebuah gempa bumi meruntuhkan tambang itu, menutup total aksesnya, dan memaksa Bahar berhenti dari pelarian fisiknya. Ketika ritme koping keras itu tak lagi bisa berjalan, ia tidak lantas terjerumus kembali pada keputusasaan. Sebaliknya, Bahar justru berevolusi dan memilih jalan pemulihan yang menurut saya jauh lebih utuh dan holistik.
Untuk mencapai tahap pemulihan holistik ini, pendekatan yang ia ambil bertransformasi menuju penguatan nilai spiritualitas dan kepedulian sosial. Ia mendekatkan diri pada Tuhan dan mendedikasikan sisa hidupnya untuk masyarakat sekitar. Pendekatan ini terbukti menjadi landasan koping yang membawanya pada kehidupan yang jauh lebih bermakna. Bahar menunjukkan kepada kita esensi dari sebuah kutipan yang sangat saya gemari: seseorang benar-benar mati ketika orang-orang melupakannya. Bahar menolak untuk mati dengan cara seperti itu.
Ia perlahan menjelma menjadi sosok teladan yang terus hidup dalam kenangan banyak orang. Ia mengelola sebuah warung makan, tetapi hasil jerih payahnya sama sekali tidak ia nikmati untuk memanjakan diri. Keuntungan warung itu hanya ia gunakan sekadar untuk makan dan menabung demi mewujudkan impian pergi haji, sementara selebihnya ia salurkan secara penuh untuk menolong orang lain. Momen paling epik yang menggetarkan hati adalah ketika tabungan haji yang telah ia kumpulkan dengan susah payah selama kurang lebih tujuh tahun, dengan ringan hati ia serahkan begitu saja untuk membantu kelangsungan sebuah rumah yatim.
Rangkaian transformasi dan tindakan luar biasa inilah yang pada akhirnya membuat banyak pembaca sepakat menempatkan Janji sebagai salah satu karya top tier dari sang penulis. Setiap orang mungkin akan menemukan lapisan makna yang berbeda-beda saat membaca kisah ini. Namun bagi saya, narasi tentang Bahar adalah sebuah cerminan sempurna mengenai bagaimana manusia melampaui penderitaannya. Ia memulai perjalanannya dari pelarian fisik yang melelahkan, hingga akhirnya bermuara pada penerimaan diri yang damai lewat cinta kasih tanpa pamrih.





