Ikatan Panjang India dan Nusantara

Bagi kebanyakan orang Indonesia, kata “India” mungkin langsung memunculkan bayangan wajah Shah Rukh Khan atau lagu Kuch Kuch Hota Hai yang telah lama menjadi wajah India paling akrab di mata publik Nusantara. 

Namun, kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada 6–8 Juli 2026 menyimpan agenda yang jauh lebih sarat makna, yakni penegasan hubungan peradaban antara India dan Nusantara. Puncaknya terjadi pada 8 Juli, ketika kedua pemimpin negara meresmikan proyek pemugaran candi-candi Hindu di kompleks Prambanan yang berusia lebih dari seribu tahun itu, dengan dukungan lembaga arkeologi India (Archaeological Survey of India). 

Pertanyaan menggelitiknya, mengapa sebuah candi Hindu di negeri berpenduduk mayoritas Muslim justru menjadi panggung diplomasi dua negara demokrasi terbesar di Asia? Jawabannya terletak pada bagaimana masa silam dimanfaatkan sebagai modal politik hari ini. Inilah yang disebut diplomasi budaya (soft/cultural diplomacy). India dan Nusantara memang sudah lama menjadi dua kawasan yang saling terikat. Lalu, bagaimana sebaiknya kita memaknai ikatan panjang antara dua kawasan ini?

Selama puluhan tahun, hubungan budaya India dan Nusantara dijelaskan lewat gagasan “Indianisasi”. Sejarawan Prancis, George Coedès, menggambarkan Asia Tenggara sebagai kawasan yang “di-India-kan”. Menurut pandangan ini, Nusantara meniru bentuk kerajaan, agama, dan bahasa Sanskerta dari India, dan hanya menjadi penerima yang pasif dari peradaban yang lebih tua. 

Namun, pakar bahasa Sanskerta asal Amerika Serikat, Sheldon Pollock, Guru Besar di Columbia University, menawarkan pandangan yang berbeda. Ia mengajukan gagasan “Kosmopolis Sanskerta” (Sanskrit Cosmopolis). Ini kira-kira sebuah “dunia bersama” yang dahulu disatukan oleh bahasa Sanskerta, membentang dari Afghanistan hingga Pulau Jawa.

Menurut Pollock, antara sekitar tahun 300 hingga 1300 Masehi, bahasa Sanskerta menjadi bahasa utama untuk sastra dan politik di wilayah yang sangat luas itu. Tetapi ada satu hal penting di sini. Bahasa ini menyebar tanpa penjajahan, tanpa perang, dan tanpa satu kerajaan besar yang memaksakannya. Berbeda dengan bahasa Latin yang menyebar mengikuti pasukan tentara Romawi, bahasa Sanskerta justru menyebar karena orang meniru dan menyukainya. Para raja di Jawa sendiri yang memilih memakainya, agar kekuasaan mereka tampak berwibawa dan mendunia. 

Jadi bagi Pollock, Sanskerta tidak sekedar diimpor dari India. Bahasa itu tumbuh Bersama di banyak tempat, dan orang Nusantara ikut menciptakannya, bukan hanya menerima. Hal ini terlihat dari sastra Jawa Kuno (kakawin), prasasti berbahasa Sanskerta, dan relief Ramayana yang terpahat di dinding Prambanan. Pada akhirnya, Epos Ramayana di Prambanan adalah Ramayana khas Nusantara.

Namun, ikatan antara kedua kawasan itu tidak berhenti pada budaya Sanskerta. Ada lapisan lain yang masih hidup hingga hari ini, yaitu lapisan Islam. Peneliti Islam di Asia Tenggara, Ronit Ricci, dalam bukunya Islam Translated, meminjam kerangka Pollock dan menerapkannya pada dunia Islam. Ia menyebutnya “Kosmopolis Arab” (Arabic Cosmopolis) yang membentang dari Asia Selatan sampai Asia Tenggara. 

Jika dahulu Sanskerta menyatukan dunia Hindu-Buddha, maka bahasa Arab menyatukan dunia Islam, dari anak benua India hingga kepulauan Nusantara, melalui kitab-kitab keagamaan yang saling diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, Jawa, dan Tamil. Sama seperti Sanskerta, Islam pun menyebar bukan lewat penaklukan tentara, melainkan lewat perjalanan para ulama, pedagang, dan teks yang berpindah dari pelabuhan ke pelabuhan.

Contohnya adalah kitab Fathul Mu’in karya Syekh Zainuddin al-Malibari, ulama abad ke-16 dari Malabar di India Selatan, dan hingga kini masih dibaca dan dikaji di pondok-pondok pesantren di seluruh Nusantara. Sejarawan asal India, Mahmood Kooria, menelusuri bagaimana kitab fikih dari Malabar itu mengarungi Samudra Hindia hingga sampai ke Nusantara. Inilah jalur keilmuan yang mengikat erat Asia Selatan dan Asia Tenggara. Dan sekali lagi, orang Nusantara tidak sekadar menjadi pembaca. Salah satu ulama besar Nusantara Syekh Nawawi al-Bantani, bahkan menulis kitab penjelasan (syarah) atas karya al-Malibari tersebut.

Sayangnya, dari dua lapisan warisan itu, kita cenderung hanya mengingat yang pertama. Candi Prambanan, Borobudur, dan kisah-kisah wayang begitu lekat dalam ingatan kita sebagai warisan India, sementara lapisan Islamnya kerap terlupakan. Padahal pengaruhnya bagi Nusantara tidak kalah penting, kitab Fathul Mu’in yang masih dibaca di pesantren hingga kini adalah salah satu buktinya. 

Dari sini kita bisa memaknai kunjungan Modi. Narasi diplomasi budaya kerap tergelincir menjadi hubungan yang bertingkat, seolah India sebagai sumber peradaban, dan Nusantara sebagai cabang yang sekadar menerima. Padahal sejarah panjang kedua kawasan justru menunjukkan sebaliknya. Jauh sebelum ada garis batas negara, India dan Nusantara sudah menjadi satu dunia yang saling terhubung lewat Samudra Hindia. Mula-mula melalui budaya Sanskerta yang bercorak Hindu-Buddha, lalu melalui tradisi Islam yang datang bersama bahasa Arab. 

Dalam kedua gelombang besar itu, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Nusantara tidak pernah menjadi wadah kosong yang pasif. Ia selalu mengolah setiap warisan dari luar menjadi sesuatu yang khas miliknya sendiri. Sebab sejak dahulu, Nusantara memang bukan sekadar penonton dalam sejarah dunia. Ia ikut menjadi salah satu pelakunya.


Sumber

Sheldon Pollock, The Language of the Gods in the World of Men: Sanskrit, Culture, and Power in Premodern India. 2006

George Coedès, The Indianized States of Southeast Asia. (Edisi terj indonesia, 2010)

Ronit Ricci, Islam Translated: Literature, Conversion, and the Arabic Cosmopolis of South and Southeast Asia. (Edisi terj Indonesia, 2017)

Mahmood Kooria, Islamic Law in Circulation: Shafi’i Texts across the Indian Ocean and the Mediterranean. 2022

Bergelar Sarjana Humor dan Master Segala Ilmu dari Kampus Udar Ider. Dosen Sejarah, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN SGD BDG