Apa yang Anda pikirkan, jika kemalasan menjadi sebuah alternatif untuk memecah kebuntuan?
Tatkala, diskusi yang digelar di kopi newcam, menjadi sebuah tantangan untuk merumuskan solusi alternatif yang dibisa dipakai.
Diskusi malam itu, sangat hangat dan asyik untuk dinikmati. Selain hadirnya pelbagai pikiran yang keluar dari setiap audiens, terdapat pertanyaan besar mengenai “bagaimana kita dapat berjuang hari ini?”. Kendati diskusi selesai, pertanyaan itu masih menjadi tanda tanya besar.
Setelahnya, saya coba meramu kembali pelbagai tulisan-tulisan yang dihimpun pada catatan massal dalam buku saku yang saya punya. Tercetuslah, bagaimana kita melakukan sebuah aksi bukan dengan bentuk turun ke jalan, melainkan hanya bermalas-malasan di tempat tidur ataupun menghabiskan waktu di rumah saja tanpa melakukan kerja-kerja produktivitas (baca:Bekerja).
Tulisan ini muncul dari ide si pemalas yang mati bunuh diri sebab ia tak punya pemasukan untuk kehidupannya, yaitu P. Lafargue. Lahir di Santiago de Cuba tahun 1842, dengan darah campuran, serta menempuh pendidikan di Prancis. Ia menikahi Laura, putri kedua bapa kede Marx, hingga dianggap sebagai anak angkat seorang Engels, yang memberi sokongan dana, stabilitas ekonomi, serta mewariskan beberapa tanahnya untuk keluarga Lafargue.
Waktu terus berlanjut, dan harta yang dihimpun dari keluarga Engels habis di tahun 1911. Lafargue dan keluarganya mengakhiri hidup mereka dengan menyuntikkan sianida dan meninggalkan pucuk surat dengan judul “perjanjian bunuh diri rasional”. Di masa hidupnya, ia menetaskan gagasan “Hak untuk Malas” sebagai anti-thesa pada budaya kerja keras yang mana menurutnya telah merugikan banyak pekerja.
Kemalasan Adalah Sifat Naluriah
Pada nyatanya, seseorang mau bagaimana pun mempunyai rasa malas namun ia terkadang menghiraukan rasa tersebut sebab ia terlalu memaksakan diri untuk berproduksi hingga ia tak menyadari bahwa rasa malas merupakan hal lumrah yang dapat terjadi ketika manusia masih berjalan di muka bumi.
Sebab, budaya-budaya yang ditanamkan dalam pikiran kita membentuk rasa kemalasan sebagai sesuatu yang jahat dan wajib dihindari, itulah mengapa tulisan ini hadir untuk membedah kemalasan. Konsep hak untuk bermalas-malasan, pada praktiknya berbeda dengan Weapon of the Weak J. Scott, berfokus pada sesuatu yang dilakukan dalam situasi tak kasat mata atau tak terlihat oleh kaum majikan, untuk memicu perlambatan kerja hingga produktivitas. Namun, konsep Lafargue menekankan aktivitas terbuka untuk mengurangi waktu kerja dan meningkatkan luang kerja.
Dalam tulisannya terpampang jelas, “Dengan bekerja, justru dapat meningkatkan kemiskinanmu, dan kemiskinanmu membuat peluang mereka memaksakan kerja melalui kekuatan hukum, dan kekuatan hukum untuk memaksa kerja dipenuhi banyak masalah, kekerasan, dan kebisingan, sebab zaman kita terlalu sakit, zaman kesengsaraan dan kerusakan. Maka lebih baik aku bermalas-malasan untuk hidup serta tak menafikan potensi-potensi diriku yang indah, dan mereka yang bekerja keras telah menyisakan diri mereka yang subur hanya untuk tergila-gila dengan bekerja”.
Melalui catatan tersebut, bisa diasumsikan bahwa ada sesuatu yang ganjil dalam aktivitas kerja, nyatanya dengan bekerja tak semua orang dapat merasakan nikmatnya hidangan malam yang disediakan di meja makan, walau ia bekerja sepenuh hari, walau ia lebih keras dalam bekerja, walau ia lebih berkeringat dalam bekerja. Sebuah paradoks bukan?
Bermalas-malasanlah Wahai Anak Muda
Jika Lafargue hadir zaman ini, mungkin ia akan berkata “Bermalas-malasanlah wahai anak muda”. Di zaman yang menuntut kita untuk serba sat-set dan tak peduli tentang bakat, kreativitas, hingga keberagaman. Pada akhirnya kita dituntut untuk wajib melakukan setiap bidang yang ada dalam pekerjaan.
Bagaimana jika kemalasan menjadi sebuah alternatif yang perlu dicoba oleh setiap para kaum buruh di penjuru dunia dan apa yang akan terjadi? Jikalau berandai-andai mungkin pabrik-pabrik akan ditutup, negara akan hancur, serta setiap kapital akan kehilangan para nilai lebihnya.
Di lain sisi, pertanyaan yang akan hadir ketika produsen terputus, bagaimana para kaum buruh bisa memenuhi kebutuhan fisiologisnya? Oleh karenanya, solusi alternatif tentang bermalas-malasan mestilah berwaktu yang pasti, serta menyediakan cadangan makanan untuk jangka waktu tersebut. Lalu bagaimana bila produktivitas terus berjalan sebab hari ini telah ada pengganti tenaga manusia? Maka dengan bermalas-malasan serta kehilangan mata pencahariannya, ini akan membuka suatu kehendak umum untuk melakukan sebuah aksi besar-besaran yang dapat memicu perubahan. Bayangkan bila setiap orang tak dapat memenuhi perutnya, lalu mereka bersepakat untuk melakukan aksi bersama serta turun ke jalan untuk memulai perubahan.
Namun, itu hanya andai-andai saya sebagai penulis, sebab saya pikir tindakan semacam ini dapat memicu kekacauan di mana-mana bila dilakukan bersama-sama, dan bila dilakukan dalam skala kecil hanya mengakibatkan aksi kecorobohan yang fatal. Sejatinya, tulisan ini hadir sebab saya kesal menjalani kehidupan yang monoton dan dipaksa untuk berproduksi pada setiap semester dengan dalih demi kebaikan bersama. Dan perlu diingat, bahwa Lafargue menulis hak untuk malas untuk mengisi luang waktunya ketika di penjara.
Pada akhirnya, tulisan yang bermalas-malasan ini hadir sebab saya tak mampu untuk menghimpun daya tekan untuk menolak sebuah keputusan, karena situasi hari ini yang saya hadapi telah berbeda dengan Lafargue hadapi. Hingga setiap perubahan mempunyai periodenya sendiri, dan massanya sendiri. Namun saya tetap meyakini, konspirasi mob dapat menciptakan mass jika kehendak umum dapat diterima seperti Arendt bilang dalam Totalitarianisme, dan itulah yang tetap saya tunggu dan yakini sampai hari ini.
Selamat membaca dengan bermalas-malasan.






