Sebelum Republik Kehilangan Rakyatnya

Ada negeri yang hancur karena perang. Ada negeri yang tumbang karena revolusi. Tetapi ada negeri yang lebih menyedihkan: negeri yang perlahan-lahan kehilangan rakyatnya sementara para penguasanya masih sibuk merayakan keberhasilan di atas panggung. Indonesia sedang berada di titik itu. Bukan karena gedung-gedungnya runtuh. Bukan karena benderanya berhenti berkibar. Bukan karena lagu kebangsaan tak lagi dinyanyikan. Yang runtuh adalah kepercayaan. Hari ini jalan-jalan kembali dipenuhi suara. Mahasiswa turun. Masyarakat bergerak. Spanduk dibentangkan. Megafon dinyalakan. Kekuasaan kembali berhadapan dengan rakyat yang merasa terlalu lama tidak didengar. Lalu pertanyaan yang selalu muncul adalah: Mengapa mereka berdemo? Saya justru ingin membalik pertanyaan itu: Mengapa sebuah negara membuat rakyatnya harus berteriak agar didengar? Sebab tidak ada orang yang turun ke jalan tanpa alasan. Di balik satu kepalan tangan ada kekecewaan. Di balik satu spanduk ada tuntutan. Di balik ribuan langkah kaki ada akumulasi luka yang tidak pernah selesai. Demonstrasi bukan penyakit demokrasi. “Ia adalah demam. Dan demam tidak perlu dimusuhi. Demam harus dicari penyebabnya. Sayangnya, kita sering lebih sibuk menurunkan suhu daripada menyembuhkan penyakit. Kita mengamankan jalan, tetapi tidak menyelesaikan kegelisahan. Kita menjaga pagar, tetapi lupa mengapa rakyat datang ke depan pagar. Kita membicarakan ketertiban, tetapi jarang membicarakan keadilan. Padahal ketertiban tanpa keadilan hanyalah kesunyian yang dipaksakan. Dan rakyat tidak diciptakan untuk menjadi sunyi. Mereka berhak bertanya. Mereka berhak marah. Mereka berhak mengkritik. Mereka berhak mengatakan bahwa negara sedang salah arah. Karena negara bukan milik penguasa. Indonesia bukan milik presiden. Bukan milik DPR. Bukan milik partai politik. Bukan milik aparat. Indonesia adalah milik rakyat. Mereka yang duduk di kursi kekuasaan hanya memegang mandat. Mereka bukan pemilik negeri. Mereka adalah orang-orang yang suatu hari akan turun dari kursinya dan kembali menjadi warga biasa. Jangan pernah lupa itu. Sebab kursi kekuasaan memiliki satu sifat yang sangat kejam: ia selalu sementara. Yang abadi adalah akibat dari keputusan yang dibuat di atasnya.

Dan di sinilah kebobrokan negeri ini harus dibicarakan dengan jujur. Negara tidak menjadi bobrok hanya ketika korupsi terjadi. Negara menjadi bobrok ketika korupsi mulai dianggap biasa. Ketika pejabat ditangkap, kita terkejut. Besok kita lupa. Lalu datang kasus baru. Nama baru. Skandal baru. Kita kembali marah. Kemudian lupa lagi. Begitulah korupsi bekerja di negeri ini: bukan hanya mencuri uang, tetapi mencuri kemampuan masyarakat untuk merasa jijik. Korupsi perlahan membunuh kepekaan. Sampai akhirnya pencurian uang rakyat hanya menjadi berita sore. Padahal setiap rupiah yang dicuri dari negara memiliki korban. Di balik anggaran yang hilang ada sekolah yang tidak dibangun. Ada jalan yang tidak diperbaiki. Ada obat yang tidak tersedia. Ada rakyat miskin yang semakin miskin. Ada anak yang kehilangan kesempatan. Korupsi adalah pencurian masa depan yang dilakukan hari ini. Dan ketika negara gagal memberikan rasa keadilan, jangan heran jika jalan raya menjadi ruang pengadilan bagi rakyat. Mereka membawa tuntutan bukan karena mereka membenci Indonesia. Justru karena mereka masih merasa Indonesia layak diselamatkan. Yang lebih menakutkan adalah ketika rakyat berhenti marah. Ketika mereka berhenti berdemo. Berhenti bertanya. Berhenti peduli. Berhenti percaya. Sebab kemarahan masih berarti ada harapan. Tetapi ketidakpedulian adalah tanda bahwa harapan sudah mulai dikuburkan.  Kita harus mengatakan sesuatu yang tidak nyaman: negara ini terlalu sering meminta rakyat bersabar.

Bersabar menghadapi harga. Bersabar menghadapi ketimpangan. Bersabar menghadapi birokrasi. Bersabar menghadapi hukum yang berbelit. Bersabar melihat korupsi. Bersabar melihat pejabat hidup jauh lebih nyaman daripada rakyat yang mereka wakili. Sampai kapan? Rakyat tidak hidup dalam kalender kekuasaan. Rakyat hidup hari ini. Perut lapar hari ini. Tagihan datang hari ini. Anak membutuhkan biaya hari ini. Pekerjaan dicari hari ini. Keadilan dibutuhkan hari ini. Sementara negara sering menjawab dengan janji tentang masa depan. Itulah jurang yang semakin lebar. Penguasa berbicara tentang angka. Rakyat berbicara tentang kehidupan. Penguasa berbicara tentang stabilitas. Rakyat bertanya tentang keadilan. Penguasa berbicara tentang pembangunan. Rakyat bertanya? siapa yang menikmati hasil pembangunan. Dan ketika dua bahasa itu tidak lagi bertemu, jalan raya akan berbicara. Namun rakyat juga tidak boleh kehilangan akal sehat. Demonstrasi adalah hak. Kekerasan bukan hak. Kritik adalah demokrasi. Fitnah bukan demokrasi. Perlawanan terhadap ketidakadilan adalah keberanian. Membakar negeri sendiri bukan keberanian. Kita tidak sedang mencari kehancuran. Kita sedang mencari perbaikan. Karena Indonesia terlalu berharga untuk diserahkan kepada kemarahan yang tidak memiliki arah. Tetapi pemerintah juga harus berhenti menggunakan ketertiban sebagai alasan untuk membungkam kritik. Negara yang kuat bukan negara yang mampu membuat rakyat takut. Negara yang kuat adalah negara yang tidak takut kepada rakyatnya sendiri. Jika sebuah pemerintah takut pada spanduk, berarti ada yang salah dengan pemerintah. Jika sebuah pemerintah takut pada mahasiswa, berarti ada yang salah dengan cara pemerintah memahami demokrasi. Jika sebuah pemerintah takut pada pertanyaan, mungkin ada persoalan yang belum selesai di balik jawabannya. Kritik bukan ancaman terhadap negara. Kritik adalah alarm. Dan hanya kekuasaan yang sedang nyaman dengan kesalahannya yang menganggap alarm sebagai musuh. Hukum juga harus kembali kepada tempatnya. Hukum bukan senjata kekuasaan. Hukum bukan alat untuk menakut-nakuti rakyat. Hukum seharusnya menjadi batas bagi kekuasaan. Sebab hukum yang hanya tajam kepada orang miskin bukan keadilan. Hukum yang tunduk kepada uang bukan keadilan. Hukum yang gentar kepada jabatan bukan keadilan. Itu hanyalah kekuasaan yang mengenakan jubah hukum. Indonesia tidak membutuhkan negara yang lebih galak. Indonesia membutuhkan negara yang lebih adil. Tidak membutuhkan lebih banyak pagar. Membutuhkan lebih sedikit jarak antara penguasa dan rakyat. Tidak membutuhkan lebih banyak slogan. Membutuhkan lebih banyak keberanian untuk memperbaiki kesalahan.

Sebab negeri ini tidak akan hancur hanya karena rakyat turun ke jalan. Negeri ini akan hancur jika rakyat tidak lagi percaya bahwa jalan pulang masih ada. Itulah yang harus ditakuti. Bukan suara demonstrasi. Tetapi suara hati yang perlahan berkata: Untuk apa saya peduli? Ketika kalimat itu mulai tumbuh di jutaan kepala, republik sedang menghadapi kehancuran yang tidak terlihat. Gedung masih berdiri. Bendera masih berkibar. Pemerintah masih bekerja. Tetapi hubungan batin antara rakyat dan negaranya mulai putus. Dan negara tanpa kepercayaan rakyat hanyalah bangunan besar yang kehilangan penghuni jiwanya.  Karena itu, kepada mereka yang memegang kekuasaan, dengarkanlah. Jangan tunggu rakyat memenuhi jalan untuk memahami kegelisahan mereka. Jangan tunggu kemarahan menjadi kerusuhan. Jangan tunggu ketidakpercayaan menjadi kebencian. Jangan tunggu rakyat kehilangan harapan. Perbaiki hukum. Bersihkan kekuasaan. Lawan korupsi. Tegakkan keadilan. Hormati kritik. Dan berhentilah memperlakukan rakyat seperti penonton dari sebuah pertunjukan yang mereka sendiri membiayai. Rakyat bukan penonton. Rakyat adalah pemilik republik. Dan kepada rakyat, jangan menyerah. Jangan biarkan negeri ini dicuri oleh koruptor. Jangan biarkan demokrasi dicuri oleh oligarki. Jangan biarkan hukum dicuri oleh kekuasaan. Jangan biarkan kemarahan dicuri oleh provokator. Tetaplah berdiri. Tetaplah berpikir. Tetaplah bertanya. Tetaplah melawan ketika ketidakadilan datang. Karena sebuah republik tidak dibangun oleh rakyat yang diam. Ia dibangun oleh rakyat yang berani berkata: tidak, ketika kekuasaan mulai melampaui batas. Hari ini Indonesia masih berdiri. Tetapi ia sedang diuji. Dan ujian terbesar republik bukanlah seberapa lama pemerintah dapat bertahan menghadapi demonstrasi. Ujian terbesar republik adalah: seberapa lama rakyat masih mau percaya. Jangan sampai jawabannya menjadi: tidak lagi. Sebab ketika republik kehilangan rakyatnya, tidak ada lagi yang perlu dibakar. Yang terbakar terlebih dahulu adalah harapan. Lalu kepercayaan. Lalu rasa memiliki. Dan pada akhirnya, republik itu sendiri. Bendera mungkin masih berkibar. Lagu kebangsaan mungkin masih dinyanyikan. Gedung-gedung kekuasaan mungkin masih berdiri. Tetapi negeri itu telah kehilangan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh apa pun: jiwa rakyatnya. Maka sebelum terlambat dengarkanlah. Sebelum rakyat berhenti berbicara. Sebelum rakyat berhenti berharap. Sebelum republik kehilangan rakyatnya.