“Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanya anak yang tidak mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar.”
“Kasih saja murid yang paling bodoh. Nanti saya tunjukan bagaimana cara ngajar.”
~Prof. Yohanes Surya Ph.D
“Benarkah anaknya yang kurang mampu belajar, atau kita yang belum mampu menemukan cara mengajarkannya?”
Pertanyaan sederhana ini sebenarnya menyimpan persoalan besar dalam dunia pendidikan. Sebab, sampai pada hari ini masih ada anak yang yang ketika mendapatkan nilai rendah, kesulitan memahami pelajaran, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir dan menguasai sesuatu, langsung diberi label sebagai anak yang “bodoh”, “malas”, atau “tidak mampu”.
Menurut saya, bukan berarti anak tidak bisa belajar. Bisa jadi kita sebagai orang dewasa belum menemukan cara belajar yang paling sesuai untuk membantunya memahami sesuatu.
Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda. Ada anak yang lebih mudah memahami sesuatu ketika melihat gambar, benda secara konkret. Ada yang lebih memahami ketika mendengarkan penjelasan. Ada pula yang baru benar-benar memahami ketika mereka mencoba mempraktikannya sendiri. Pembelajaran bisa dikemas melalui permainan, eksperimen, cerita, diskusi, atau berbagai aktivitas yang membuat anak terlibat secara aktif.
Artinya ketika seorang anak belum memahami materi melalui satu metode, bukan berarti anak tersebut tidak mampu memahami materi tersebut.
Mungkin Cara Mengajarnya yang Perlu Diubah
Sayangnya, dalam praktiknya kita masih sering menemukan pola pembelajaran yang hanya menggunakan satu pendekatan. Anak diminta menghafal dan mengerjakan soal. Ketika anak belum mampu mencapai hasil yang diharapkan, respon yang muncul justru berupa kemarahan.
“Sudah diajari berkali-kali kok masih nggak bisa?”
“Teman-temannya bisa, kenapa kamu nggak bisa?”
Kalimat seperti itu bagi seorang anak, dapat membentuk cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Anak yang terus-menerus disebut bodoh, bisa mulai percaya bahwa dirinya memang bodoh.
Anak yang terus dibandingkan dengan teman-temannya, bisa mulai merasa bahwa dirinya tidak cukup baik.
Anak yang selalu dimarahi ketika melakukan kesalahan, bisa menjadi takut untuk mencoba. Proses belajar akan selalu melakukan kesalahan.
Tidak semua anak akan memahami sesuatu dalam waktu yang sama. Ada yang sekali dijelaskan langsung paham, ada yang memerlukan dua kali penjelasan, ada yang memerlukan contoh konkret, ada yang memerlukan waktu lebih panjang untuk memahami sebuah konsep.
Kita sering mengukur kemampuan anak hanya melalui hasil akhirnya. Anak mendapatkan nilai 90 dianggap pintar, anak mendapatkan nilai 50 dianggap kurang mampu.
Nilai hanya menggambarkan sebagian kecil dari proses belajar seorang anak. Ada kemampuan berpikir , kreativitas, kemampuan bertanya, kemampuan problem solving, keterampilan berkomunikasi, rasa ingin tahu, dan berbagai potensi lain yang tidak selalu dapat terlihat dari angka diatas kertas.
Hal yang sama juga terjadi dalam lingkungan keluarga. Masih banyak orang tua yang mengajarkan anak dengan cara yang mereka paling anggap efektif. Misalnya, anak diminta menghafalkan materi berulang-ulang. Ketika anak belum mampu menghafalnya, orang tua mulai marah.
Mungkin anak tersebut memerlukan pendekatan yang berbeda. Dari pada anak diminta mengahafal terus-menerus, mungkin bisa mencoba dengan menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari, pembelajaran dapat dikemas dengan permainan edukatif, atau bisa menggunakan benda konkret.
Tujuannya adalah untuk membantu anak menemukan cara untuk memahami. Kita harus berpikir “Apa yang kita harus lakukan supaya anak ini bisa?”
Terkadang anak bukan tidak mampu belajar, kita yang belum menemukan pintu masuk menuju cara berpikirnya.
Untuk seorang pendidik, bukan tugasnya untuk mengetahui siapa yang pintar dan siapa yang kurang pintar, tetapi mencari cara agar sebanyak mungkin, agar anak dapat menemukan bahwa mereka sebenarnya mampu belajar.






