Visual Manusia General

Pemandangan sosial media begitu buruk, hingga menyebabkan kita sakit mata. Melihat penggunaan kosa-kata yang memilukan, sampai efek dramatisir yang berlebihan. Hingga tak jarang kita melihat, generalisir media melalui kode-kode budaya atau simbol-simbol tertentu. Misalnya, seseorang yang memakai pakaian hitam-hitam bisa dicap dengan aliran tertentu, atau parahnya seseorang yang membaca buku-buku tertentu dicap sebagai penganut alirannya. Efek dari pada generalisir ini menyebabkan kepanikan massal yang tak berdasar, hingga diskriminasi individu melalui asosiasi, bahkan acap kali menyebabkan penghakiman sosial tanpa alasan yang rasional.

Hari ini, stereotip tertentu dipakai untuk menghakimi dan berprasangka terhadap simbol-simbol yang tak melulu berkaitan dengan sesuatu. Meluasnya kebencian massal yang irasional hingga pembentukan logika abu-abu yang kronis. Tak dapat dipungkiri, keberadaan media membawa kita pada era baru tentang pergeseran paradigma, matinya kepakaran sudah barang tentu di dunia kali ini. Tak jarang pula, seseorang mendefinisikan sesuatu berdasarkan selera yang dianut mereka. Lebih fatalnya, data-data aktual yang dihadirkan untuk interpelasi mesti dimatikan oleh teori konspirasi sebagian kelompok yang berasaskan asumsi semata atau sapri “pendapat saya pribadi” yang tak cakap untuk menilai melalui kepakarannya.

Sedikitnya, tulisan ini akan membahas bagaimana paradigm shifting  terbentuk melalui asumsi-asumsi irrasional. Dan kepercayaan terhadap selera yang dipaksakan pada suatu kelompok untuk memenuhi hasrat diri sendiri. Kuasa yang tercecer di masyarakat serba fleksibel, memperparah keadaan hari ini. Aneh rasanya ketika di jaman keterbukaan informasi, seseorang masih mempercayai satu pendapat sebagai kebenaran mutlak dan tak bisa diperdebatkan dalam forum-forum diskusi yang galak, kecenderungan seseorang di jaman keterbukaan informasi, malahan membuat seseorang tersebut lebih tertutup untuk mengakses sesuatu, sungguh paradoks nyata.

Meretas Mitos Media

Kehadiran media, membuka ruang ekspresif semakin masif. Media sekarang dipenuhi oleh dialog-dialog kekanak-kanakan atau mature, istilah yang dipakai Godwin untuk menggambarkan suatu percakapan yang substansif, dan non-substansif. Kebebasan berekspresi hari ini dibelokkan menjadi kesetaraan di kedalaman kepakaran, tak jarang kebebasan ekspresi digunakan sebagai dalih untuk diskriminasi dan penghakiman melalui selera-selera irrasional.

Selain itu, kemunculan internet membuka ruang kebebasan, kebebasan untuk saling berbagi gagasan memang menjadi fondasi kuat untuk kehidupan bernegara. Namun, kebebasan internet membuka celah kecil untuk risiko yang jarang disadari. Bahwa orang yang tak peduli dan tak pakar akan menyalahgunakan perangkat komunikasi massa untuk kepentingan mereka sendiri dan menyebarkan kebohongan serta mitos-mitos yang tak dapat dihalau oleh pakar-pakar mana pun.

Namun lain sisi, internet merupakan anugerah luar biasa bagi sebagian orang. Keajaiban internet dapat dirasakan dan berlaku untuk mereka yang sudah terlatih meriset, setidaknya mereka yang mengetahui apa yang perlu dicari di dalamnya, dan tujuan untuk menggunakan search engine tersebut.

Mitos-mitos dan konspirasi yang membanjiri media digital hari ini sulit untuk dihalau oleh siapa-pun. Kita perlu mengetahui bahwa mitos-mitos dan konspirasi-konspirasi di seluncuran media kerap mengganggu masyarakat. Dengannya, masyarakat hari ini terbiaskan, bias untuk menghadapi banjir bandang informasi, jikalau internet diibaratkan sebagai artileri, maka internet merupakan artileri yang paling canggih untuk membor-bardir kepala kita. Kita tak bisa lagi mengalahkan mitos-mitos dan konspirasi yang terus menggempur dunia riil kita hari ini, seakan-akan menit demi menit, sebuah informasi berubah-ubah hingga terjadi bias antara mitos dan fakta dari informasi tersebut.

Setelah itu, keaslian makna sejati dari informasi tersebut terhalangi oleh mitos-mitos dan simbol-simbol visual yang estetik. Kita lebih sering mengclick sebuah informasi yang sesuai selera kita, baik secara visual ataupun mitos yang dihadirkan oleh halaman tersebut. Tanpa disadari, kejadian ini menghambat kita untuk mencapai keaslian makna dari informasi tersebut. Bahkan pakar-pakar yang mendalami internet bisa saja kalah dalam menghalau konspirasi-konspirasi yang bermuara di seluncuran media.

Internet yang memunculkan stigmatisasi, hingga bias informasi karena disrupsi antara fakta dan konspirasi memunculkan masalah baru yang belum dapat diidentifikasi untuk pengobatannya. Oleh karenanya, demitologi media perlu dihadirkan untuk menghancurkan konspirasi-konspirasi yang beredar di seluncuran media.

Di tengah kondisi VUCA “Volatile, Uncertain, Complex, dan Ambigious”, segala hal sangat cepat berubah, serba tak pasti, kompleks, dan situasi-situasi semakin ambigu. Selain itu dunia kini menghadapi BANI “Brittle, Anxious, Non-linear, dan Incomprehensible”, Brittle yang berarti keras tapi rapuh, merupakan ilusi dari kekuasaan. Negara-negara modern tak mampu mengendalikan berbagai dampak dari perkembangan-perkembangan yang terjadi di dunia kali ini. Anxious sebagai kecemasan massal, yang menunjukkan ilusi dari kesejahteraan, negara-negara yang mendaku sebagai adikuasa kini tak dapat mengendalikan kesejahteraan, bahkan kesejahteraan materil tak melulu identik dengan kebahagiaan, selain itu kecemasan massal, yang menyebabkan peningkatan kasus stres dan bunuh diri semakin meningkat karena ekses perkembangan yang telah meninggalkan kita, hingga dunia kita hari ini bertransformasi dengan sendirinya tanpa melibatkan manusia-manusia di dalamnya. Non-Linear menunjukkan ilusi pengetahuan sebagai kesenjangan. Hari ini kepakaran sulit dibedakan karena hadirnya jejaring yang kompleks, hubungan antar pengetahuan tak dapat diidentifikasi karena ilusi vital yang mengerubungi kita. Hingga menyebabkan pengidentifikasian kepakaran semakin sulit, terkecuali jikalau kita melihat seseorang tersebut dalam keadaan riil yang dapat mengidentifikasi kepakarannya. Incomprehensible sebagai ilusi kebenaran, manusia general di situasi bias kini tak dapat menghindari informasi-informasi yang membanjiri kepalanya. Hingga aksioma, informasi, dan berita tak dapat lagi menunjukkan kebenaran sebelum kita memverifikasi secara mandiri.

Dengan itu, demitologi media merupakan upaya untuk meretas kembali sistem kemapanan media yang dikerubungi oleh konspirasi hingga mitos sampai ilusi kebenaran. Demitologi yang dikembangkan oleh Rudolf Bultman merupakan tradisi dari hermeneutik yang berfokus untuk menghilangkan mitos-mitos demi tercapainya makna sejati. Melingkar pada media, demitologi dimaksudkan untuk menghilangkan mitos-mitos yang beredar di dalamnya. Dengan pendekatan ini seorang pembaca atau penerima informasi mesti menjadi subject matter untuk menyikapi teks yang berkembang. Agar pemaknaan sejati dapat hadir melalui pembacaan yang mendalam, sebab sebuah makna tak akan pernah tunggal dan pembacaan selalu melingkar dalam teks.

Selain demitologi, adapula desakralisasi simbol. Simbol yang hadir dalam media saat ini, menjadi sesuatu yang disakralkan, hingga kritik tentang simbol terus berkembang. Dalam pembacaan teks Ricouer membagi tiga tahapan yaitu; tahap pra-konfigurasi; konfigurasi; dan pasca konfigurasi. Pada tahapan pra-konfigurasi, seorang yang nantinya akan menulis akan membayangkan sebuah peristiwa yang menjadi background assumptions pada tahapan ini teks masih diibaratkan sebagai sesuatu yang imajiner. Setelahnya konfigurasi, ketika seorang yang telah melewati pra-konfigurasi akan menghadirkan asumsi awal menjadi sebuah tulisan yang dapat dimaknai secara bersama dengan tujuan yang berfokus pada pra-konfigurasi tersebut. Ketika teks telah beredar dalam ranah publik maka tahapan ini disebut pasca konfigurasi, yaitu ketika teks telah kehilangan kuasa atas kepemilikan seseorang. Teks tersebut menghadirkan pemaknaan yang berbeda-beda sesuai perspektif dan selera si pembaca, maka hadirlah  apa yang disebut kematian seorang penulis. Ketika tahapan ini sudah tercapai, simbol-simbol yang awalnya tersakralkan dengan hadirnya penulis sebagai kuasa utama. Hancur berkeping-keping ketika teks sudah beredar pada pembacaan umum. Hingga desakralisasi simbol merupakan cara untuk mentransvaluasi suatu kemapanan yang menjadi tonggak utama pada masanya. Simbol-simbol yang dulu dipuja-puja sebagai kebenaran, retak dan pecah berkeping-keping ketika desakralisasi simbol telah hadir. Pembacaan media perlu untuk desakralisasi simbol, sebab ketika khalayak pembaca masih diliputi oleh mitos-mitos dan konspirasi yang mengekang horizon mereka, makna sejati yang disampaikan tak akan pernah hadir.

Dengannya, media merupakan wahana permainan baru untuk dibongkar lebih dalam. Sebab, selain memunculkan dominasi dan monopoli kekuasaan baru, ia hadir sebagai penghapus yang menyebabkan kelupaan massal. Ketika manusia general hari ini menyadari akan kuasa media dan mencoba untuk membongkarnya, maka bias-bias yang terjadi dapat diminimalisir pada titik benar dan salah dapat teridentifikasi. Manusia general, mestilah menghindari sikap-sikap overgeneralisir dan oversimplistik, karena permasalahan yang hadir sekarang hanya sekadar permukaan, dan belum mencapai akar sesungguhnya.

Mahasiswa yang suka ngopi, baca, menulis, juga menabung buku. Hobinya mengutuki dunia dengan cara membuat wacana kritis.