Reduksionisme Makna Kaderisasi?

Dalam konsepsi hiper-realitas, diksi kaderisasi mengalami stigma. Kaderisasi dicap sebagai indoktrinasi dan fanatisme. Padahal jika ditelisik secara konseptual, kaderisasi merupakan proses pendidikan yang bertujuan membentuk kapasitas intelektual, kepemimpinan, dan tanggung jawab kolektif. Yang bermasalah bukan kaderisasinya, namun praktik penyelenggaraannya ketika menyimpang dari tujuan tersebut. 

Kasus buruk lebih gampang menjadi viral dibanding praktik kaderisasi yang berjalan mulus dan baik, makanya setidaknya dalam beberapa konten faktual, banyak beredar idiom “Sepi karena apa? Karena fakta”. Itu menjadi bukti bahwa fakta yang non-adrenalin jarang sekali ramai dan masuk algoritma. Algoritma media sosial cenderung mengurasi konten yang sesuai dengan keyakinan kita sebelumnya. Hal ini mengisolasi pengguna dari fakta dan atau pandangan yang berbeda. Suatu isu pun, gampang dianggap menjadi fakta sosial ketika diviralkan oleh figur tertentu bukan karena validitasnya. Seorang mahasiswa yang kritis, selalu menelisik isu secara objektif dan faktual, maka kiranya, ketika mahasiswa terjerumus oleh hal demikian, maka ia kehilangan esensi kemahasiswaannya.

Akibatnya, fenomena Availability Bias terbentuk, yaitu kecenderungan orang menilai suatu fenomena berdasarkan contoh yang paling mudah diingat, bukan berdasarkan keseluruhan data. Stigma kemudian berkembang lebih cepat daripada evaluasi berbasis bukti objektif.

Kondisi tersebut selaras dengan teori stigma yang dikemukakan oleh Erving Goffman. Dalam pandangan Goffman, stigma merupakan proses pelabelan sosial yang menyebabkan individu atau kelompok direduksi hanya pada atribut tertentu hingga identitasnya dipandang secara negatif. Label yang terus-menerus direproduksi melalui interaksi sosial akan membentuk persepsi publik, meskipun tidak selalu merepresentasikan realitas yang utuh. Dalam konteks kaderisasi, berbagai kasus penyimpangan yang terjadi di sebagian kecil ruang kaderisasi kerap dijadikan representasi atas keseluruhan proses kaderisasi. Akibatnya, masyarakat lebih mudah mengingat label indoktrinasi, fanatisme daripada melihat tujuan utama kaderisasi sebagai proses pendidikan, pembentukan karakter, pengembangan intelektual, serta regenerasi kepemimpinan. Ketika stigma telah mengendap dalam kesadaran publik, penilaian terhadap kaderisasi tidak lagi didasarkan pada substansi, melainkan pada label yang telah lebih dahulu dilekatkan.