Dijajah Jalur Aksara: Bagaimana Belanda Merubah Orang Sunda Lewat Mesin Cetak

Kalau hari ini kita sering ngomel soal algoritma TikTok, Instagram, Atau X yang katanya bisa mencuci otak dan menyetir opini publik, percayalah, bapak-bapak kolonial Belanda di abad ke-19 sudah seuri ngabarakatak (tertawa terbahak-bahak) melihat keluguan kita. Jauh sebelum Mark Zuckerberg bikin Facebook, orang-orang Belanda sudah tahu betul rumus paling purba dalam ilmu komunikasi: “Siapa yang menguasai media, dia yang menguasai kepala.”

Kenyataan pahit tapi menarik ini dibongkar habis-habisan oleh Mikihiro Moriyama dalam bukunya, Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Sastra Sunda Abad ke-19. Lewat kacamata komunikasi, buku ini sebenarnya bukan cuma ngomongin sejarah sastra, tapi ngomongin praktik komunikasi hegemonik kelas kakap.

Sebelum Belanda ikut campur lebih dalam, masyarakat Sunda itu penganut tradisi lisan yang kental. Cara mereka berkomunikasi dan mewariskan pengetahuan itu lewat wawacan atau tembang. Sifatnya komunal. Satu orang nembang, yang lain kumpul, dengerin sambil ngariung, nyeruput kopi, atau nginang. Dalam teori komunikasi Walter Ong, ini namanya budaya orality (kelisanan). Informasi itu milik bersama dan mengikat solidaritas.

Lalu, datanglah mesin cetak bawaan Belanda

Pemerintah kolonial dengan agen utamanya seperti K.F. Holle merasa tradisi lisan ini nggak efisien buat birokrasi dan modernisasi ala mereka. Mereka butuh orang-orang yang bisa baca tulis instruksi dari pemerintah. Maka, dimulailah apa yang disebut Moriyama sebagai “Semangat Baru”. Mesin cetak didatangkan, dan aksara cetak mulai dibakukan dari yang awalnya memakai huruf Cacarakan (aksara Jawa yang disundakan), hingga pelan-pelan aksara Latin dipaksakan masuk. Buku-buku cetak pun mulai disebar ke sekolah-sekolah bumiputra.

Di titik inilah, orang komunikasi pasti langsung teringat sabda suci Marshall McLuhan: “The medium is the message” (Media adalah pesannya itu sendiri).

Teknologi cetak mengubah total cara Orang Sunda berpikir dan berkomunikasi. Yang awalnya komunal (ngariung dengerin tembang), pelan-pelan bergeser jadi individual. Orang mulai baca buku sendirian dalam diam. Budaya cetak menciptakan jarak, objektivitas, dan rasionalitas baru. Modernitas dipompa masuk, tapi tentu saja, modernitas yang sesuai dengan standar dan kebutuhan administrasi kolonial.

Nu leuwih pikasebeleun (yang lebih menyebalkan) lagi, Belanda nggak cuma ngasih mesin cetaknya, tapi mereka juga menunjuk diri sebagai “polisi bahasa”. Mereka menentukan bahasa Sunda mana yang dianggap “benar” dan mana yang “kasar”. Mereka memilih dialek Priangan sebagai bahasa Sunda standar yang resmi, lalu dicetak masal.

Dalam studi komunikasi kritis, inilah wujud hegemoni kultural paling rapi. Penguasaan itu nggak selalu lewat paksaan lho, tapi lewat persetujuan (consent). Makanya, K.F. Holle sangat cerdik. Dia nggak kerja sendirian, melainkan merangkul elite lokal, para menak Sunda seperti Raden Haji Muhamad Musa untuk menjadi penulis buku-buku cetak tersebut.

Belanda memproduksi “kebenaran” lewat teks-teks cetak, dan membuat kaum bumiputra merasa sedang diedukasi, padahal identitasnya sedang dikonstruksi ulang. Penjajahan pikiran paling paripurna adalah ketika yang menjajah terlihat seperti saudara sendiri, kan? Singkatnya, Belanda menjajah tidak lagi cuma pakai bedil dan meriam, tapi pakai huruf, tata bahasa, dan mesin cetak! Sebuah public relations campaign kolonial yang luar biasa sukses.

Buku Semangat Baru dari Moriyama ini menyadarkan kita bahwa bahasa dan media cetak tidak pernah netral. Mereka adalah alat komunikasi kekuasaan. Kolonialisme abad ke-19 di Tanah Pasundan berhasil masuk ke ubun-ubun justru karena mereka membajak cara masyarakat lokal berkomunikasi, dan menggantinya dengan medium baru yang mereka kontrol sepenuhnya.

Jadi, Akang, Teteh, dan sobat kritis sekalian, kalau zaman dulu Orang Sunda diatur cara berpikirnya lewat mesin cetak dan elite lokal, pertanyaannya: hari ini kita sedang dijajah dan diseragamkan cara berpikirnya oleh siapa? Oleh Media Sosial? Atau oleh buzzer di kolom komentar?