Hegemoni Kapital dan Pelanggaran Ideologis dalam Ekosistem Seni Kontemporer

Medan seni rupa kontemporer sering kali merayakan dirinya sebagai utopia yang paling demokratis, sebuah ruang inklusif tempat segala bentuk ekspresi, identitas, dan pemikiran boleh merdeka. Namun, di balik dinding-dinding galeri yang bersih dan retorika kuratorial yang progresif, ekosistem ini kerap kali menyembunyikan realitas yang jauh lebih feodal: asimetri relasi kuasa antara pekerja intelektual-kreatif dan pemilik modal. Institusi seni, yayasan, maupun kolektif budaya, dalam banyak kasus, tidak benar-benar berdiri di atas fondasi kesetaraan yang mapan. Ketika pemeliharaan ruang seni bergantung pada patronase finansial tunggal, ruang kreatif tersebut secara perlahan bertransformasi menjadi medan pertempuran ideologis yang asimetris, di mana integritas kemanusiaan dan spiritualitas diuji di hadapan kuasa kapital.

Kekerasan dalam medan seni rupa tidak selalu mewujud dalam represi fisik yang kasat mata, melainkan sering kali hadir dalam bentuk kekerasan simbolik. Ia bekerja dengan halus, menyusup melalui celah-celah struktural, dan memanfaatkan ketergantungan ekonomi organisasi untuk memaksakan dominasi ideologis. Fenomena ini mengemuka ketika pemilik modal, investor, atau pengawas institusi yang memegang kendali finansial tertinggi, melampaui batas etis profesional mereka dengan melakukan infiltrasi dogmatis atau teologis yang agresif terhadap pengelola struktural di bawahnya. Tawaran materiil duniawi disodorkan sebagai alat tukar untuk sebuah konversi keyakinan, sementara di saat yang sama, narasi pelecehan terhadap simbol-simbol spiritualitas lokal dilontarkan ‘tanpa basa-basi’. Di titik inilah, ruang seni bukan lagi menjadi tempat penyemaian estetika, melainkan ruang pemaksaan ideologis berselubung modal yang rapi. Sebuah reproduksi modernitas-kolonialitas yang merampas kedaulatan iman dan batin subjek kreatif.

Menghadapi invasi dogmatis yang mendadak di tengah kepungan relasi kuasa yang timpang bukanlah perkara sederhana. Ketika seorang pekerja budaya memilih untuk diam dalam momen konfrontasi tersebut, diamnya bukanlah sebuah tanda ketundukan, kepasrahan, atau runtuhnya prinsip hidup. Sebaliknya, dalam pembacaan psikologi trauma dan sosiologi organisasi, tindakan menahan diri adalah sebuah respons defensif yang bermartabat. Di dalam kepala sang intelektual, barisan teori, dalil, dan argumen sejarah mungkin bergolak siap membalas, namun posisi struktural menuntutnya untuk mengutamakan keselamatan organisasi dan kebergantungan program yang melibatkan hajat hidup orang banyak. Menolak transaksional iman dan memilih menyelesaikan tanggung jawab profesional hingga akhir adalah bentuk perlawanan etis yang sangat senyap. Ia menunjukkan bahwa ada wilayah sakral dalam diri manusia yang tidak memiliki label harga, sekaya apa pun investor yang mencoba membelinya.

Namun, kepahitan yang sesungguhnya dari struktur seni yang korup sering kali baru muncul setelah sang pekerja budaya memilih keluar secara terhormat demi menjaga jarak etis tersebut. Ekosistem sosial yang telanjur bergantung pada sirkulasi kapital cenderung membentuk mekanisme proteksi kelompok yang pragmatis. Untuk mengamankan aliran dana dan kenyamanan sirkel, lingkaran internal institusi kerap kali melakukan penyangkalan kolektif. Alih-alih melakukan refleksi atas pelanggaran etika yang dilakukan oleh sang patron finansial, mereka justru memproduksi tindakan pengucilan digital (cancel culture) dan pembunuhan karakter terhadap pihak yang mundur. Taktik manipulasi psikologis (gaslighting) dilancarkan secara sistematis dengan melempar narasi tandingan yang melabeli kesaksian korban sebagai tindakan yang “delusional” atau tidak stabil. Patologisasi ini adalah alat politik sosiologis yang sengaja diciptakan untuk mendiskreditkan modal intelektual seseorang, agar publik abai terhadap borok sistemik yang sedang terjadi di dalam tubuh organisasi tersebut.

Meninggalkan medan seni rupa sepenuhnya akibat trauma dari perlakuan manipulatif sekelompok oknum oportunis tentu menjadi godaan yang besar. Ruang kreatif terasa telah dikotori oleh nalar transaksional yang dangkal. Namun, mengalah dan melangkah pergi justru akan memberikan kemenangan mutlak bagi hegemoni modal tersebut. Medan seni rupa yang luas tidak boleh disamakan dengan satu sirkel yayasan yang beracun. Pengetahuan, wawasan akademik, dan kedaulatan spiritual yang dimiliki oleh pekerja budaya adalah modal kultural yang sah dan jauh lebih abadi daripada tumpukan materi milik investor. Pengalaman traumatik ini, pada akhirnya, harus disublimasikan menjadi perisai intelektual baru melalui kritik dekolonial yang utuh. Melalui penulisan yang jernih, kritik seni yang tajam, dan pameran berbasis riset yang membongkar opresi struktural, sebuah kesaksian personal dapat diangkat menjadi kesadaran kolektif. Menulis dan terus berkarya tanpa kompromi adalah cara paling elegan untuk membentengi medan seni masa depan, sekaligus menegaskan bahwa kedaulatan batin manusia tidak akan pernah bisa dikooptasi oleh mata uang mana pun.

Wildan F. Akbar adalah pegiat seni dan budaya, serta peneliti independen yang berfokus pada kajian estetika Islam dan kebudayaan Nusantara. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, dan meraih gelar Magister Seni Rupa dari Institut Teknologi Bandung. Melalui praktik riset dan kerja kuratorialnya, Wildan mengkaji relasi antara spiritualitas, simbolisme, dan identitas lokal dalam seni rupa kontemporer Indonesia. Ia merupakan pendiri komunitas Bormove (Boarding Movement), sebuah wadah yang mengembangkan wacana dan praktik seni berbasis nilai-nilai pesantren serta menghadirkan dialog antara tradisi dan modernitas dalam konteks seni rupa kontemporer. Sebagai seniman, Wildan kerap mengeksplorasi tema identitas, spiritualitas, dan kesadaran sosial melalui karya dua dimensi, instalasi, dan proyek berbasis komunitas. Pada tahun 2019, ia menerbitkan buku antologi puisi berjudul “Diamku, Gerakku” yang memadukan refleksi batin dan pergulatan eksistensial seniman urban. Selain aktif berkarya dan mengkuratori pameran, Wildan juga menulis esai dan refleksi tentang seni, budaya, dan spiritualitas sebagai bentuk kontribusi intelektualnya terhadap dunia seni rupa Indonesia.