
Judul: Al-Hizbul Hasyyimi wa Ta-sisu al-Daulah al-Islamiyyah
Penulis: Sayyid al-Qimny
Penerbit: Yayasan Hindawi
Tahun Terbit Pertama: 1996
Tahun Terbit edisi digital: 2019
Jumalah Halaman: 82 Halaman
Tautan: https://www.hindawi.org/books/80746828/
Awal Mula
Bahwa Muhammad bukanlah pemula proyek negara Islam. Bahwa wahyu bukanlah titik nol. Jauh sebelum sang Nabi lahir, sebuah faksi politik berbasis darah dan visi yang telah bekerja selama beberapa generasi, meletakkan fondasi, membangun aliansi, dan meramu ideologi yang kelak akan menyatukan Jazirah Arab di bawah satu bendera. Faksi itu adalah keluarga Hasyim. Dan itulah tesis yang ditawarkan Sayyid al-Qimny dalam karyanya al-Hizbul Hasyyimi wa Ta-sisu al-Daulah al-Islamiyyah.
Karya ini menawarkan alternatif cara membaca sejarah Islam. Tidak lagi kisah suci yang dimulai dari Gua Hira, tapi dimulai dari drama politik panjang yang aktor utamanya adalah kakek dan paman Nabi. Jika revolusi Bolshevik adalah proyek penjungkirbalikan tatanan masyarakat yang digerakkan oleh partai pelopor, maka revolusi Islam dalam bacaan al-Qimny merupakan proyek penjungkirbalikan tatanan kesukuan Arab yang digerakkan oleh keluarga Hasyimi. Hanya saja, revolusi ini memakai jubah kenabian.
Kisah ini dimulai tidak dari sang kakek Nabi Abdul Muthaliib, bukan pula dari Buyut Nabi Hasyim, melainkan dari Qushay bin Kilab. Sang arsitek pertama yang memimpikan penyatuan Quraisy dari keterpecahan. Sebelum Qusyhay, Mekah hanyalah pos transit karavan. Setelah Qushay, Mekah menjadi pusat kekuasaan. Ia membangun Darun Nadwa, semacam lembaga konsultasi politik yang menggantikan majelis kesukuan. Di tangannya, seluruh tuas kekuasaan, penjagaan Ka’bah, penyediaan air dan makanan bagi peziarah, komando militer, menyatu. Untuk pertama kalinya, Mekah punya pemerintahan terpusat. Ini negara-kota mini di tengah lautan badui.
Hanya saja Qushay mengambil langkah yang lebih cerdik dari sekadar mengonsolidasi kekuasaan. Ia menjadikan Ka’bah sebagai sentral religiusitas, mengundang berhala-berhala suku lain untuk ditampung di sana. Pusat perdagangan dan pusat ibadah bertemu. Para pedagang yang datang untuk berniaga juga datang untuk berhaji. Qushay paham bahwa kekuasaan politik memerlukan legitimasi sakral ketika itu, dan Ka’bah adalah mesin sakral tersebut.
Namun, langkah Qushay itu merupakan semacam respon, di mana Jazirah Arab ketika itu dipenuhi oleh puluhan Ka’bah, rumah-rumah suci yang menjadi pusat pemujaan dari tiap kabilah. Ada Ka’bah Najran di selatan, Ka’bah Ghatafan di tengah, Ka’bah Syaddad al-Iyadi, Ka’bah Dzusy Syara, Ka’bah al-Lat di Thaif, dan banyak lagi. Masing-masing punya dewa pelindung, masing-masing punya musim haji dan ritual sendiri. Setiap kabilah terikat secara spiritual pada ka’bahnya, dan secara politis terikat pada sesembahannya. Inilah lanskap religius Arab pra-Islam yang terfragmentasi, di mana setiap pusat sakral adalah benteng identitas kesukuan yang kokoh. Menyatukan Arab di bawah satu kekuasaan, secara teknis, berarti menundukkan ka’bah-ka’bah ini. Dan Mekah, berkat lokasinya yang berada di persimpangan jalur dagang utama, memiliki keunggulan geografis yang tidak dimiliki ka’bah-ka’bah lain.
Startegi Qushay bukanlah menghancurkan pesaing, tapi menelannya. Dengan menampung seluruh berhala dari berbagai suku di dalam dan sekitar Ka’bah Mekah, ia mengubah kuil Quraisy menjadi monumen nasional. Setiap pedagang yang singgah menemukan tuhannya sendiri di sana. Setiap kabilah yang datang berdagang juga beribadah. Perlahan, Ka’bah Mekah bergeser dari pusat kultus lokal menjadi magnet bagi seluruh kultus tanah Arab. Ka’bah-ka’bah lain mulai kehilangan pengunjung, kehilangan sesaji, dan akhirnya kehilangan makna. Perpindahan pusat spiritual ini tidak dilakukan melalui perang suci, tapi dengan strategi dagang dan politik akomodatif yang brilian.
Proyek ini mencapai babak baru ketika Abdul Muthalib melangkah jauh dengan ideologi hanifiyah. Jika Qushay menjadikan Ka’bah Mekah sebagai rumah bersama bagi para Tuhan, Abdul Muthalin mulai mempertanyakan Tuhan-Tuhan itu. Seruan monoteisme menyasar pada persoalan legitimasi ka’bah-ka’bah pesaing, jika hanya ada satu Tuhan yang universal, untuk apa ada banyak rumah suci? Jika ibrahim adalah bapak monoteisme dan moyang bangsa Arab, untuk apa ada banyak sesembahan? Gagasan ini secara implisit mendegradasi ka’bah-ka’bah lain menjadi sekadar bangunan batu tanpa makna. Seluruh energi spiritual yang sebelumnya tersebar ke berbagai pusat pemujaan kini perlahan menuju satu titik, Mekah, rumah Tuhan Yang Esa, yang diwarisi dari Ibrahim melalui Ismail.
Puncaknya terjadi ketika Islam datang dan secara eksplisit menghancurkan berhala-berhala. Penaklukan Mekah bukan sekadar kemenangan militer, tapi juga kemenangan definitif satu pusat atas semua pusat. Ka’bah-ka’bah yang dulu menjadi tuan tanah suci kini diratakan. Perintah haji yang menutup semua musim ziarah lain mengunci dominasi spiritual Mekah untuk selamanya. Negara yang dibangun di atas fondasi ini adalah negara dengan satu pusat, satu arah kiblat, satu ritual. Dan semua itu dimulai bukan dari wahyu, melainkan dari perhitungan politik panjang sebuah keluarga yang paham bahwa menguasai ka’bah adalah menguasai Arabia.
Strategi Ideologi-Politik sang Kakek
Ketika tongkat estafet sampai ke Abdul Muthalib bin Hasyim, situasi telah berubah. Persaingan antar-klan Quraisy semakin tajam. Klan Abdi al-Dar dan Abdi Syams yang merupakan rival utama Keluarga Hasyim mulai bergerak dengan manuver-manuver politiknya. Abdul Muthalib sadar, untuk memenangkan pertaruhan ini, aliansi ekonomi dan darah saja tidak cukup. Mustilah ada lompatan ideologis.
Dan di sinilah ia “menemukan” sumur Zamzam. Al-Qimny membaca kisah Zamzam bukan sebagai mukjizat yang jatuh dari langit dalam mimpi sang Kakek, tapi sebagai penemuan arkeologis-politis. Dengan Zamzam, Abdul Muthalib mengklaim legitimasi baru: ia adalah penerus tradisi suci yang terkubur, pembuka kembali berkah yang telah hilang sejak zaman Jurhum di lembah Mekkah. Lebih dari itu, ia mulai menyerukan kembali hanifiyah, kepercayaan monoteistik yang diklaimnya sebagai tradisi agama Ibrahim. Sebuah kritik terhadap paganisme Quraisy, sekaligus alternatif dari Yudaisme dan Kristen yang diasosiasikan dengan kekuatan asing. Satu Tuhan untuk seluruh bangsa. Ideologi pemersatu.
Langkah ini tidak berhenti di wilayah teologis. Sang Kakek paham betul pentingnya kekuatan militer. Ia membangun aliansi dengan suku-suku di Yatsrib, khususnya keluarga Najjar dari Khazraj. Pernikahan dengan Salma binti Amr adalah kontrak dan transaksi politik. Kelak, ketika sang Nabi membutuhkan basis pertahanan, Yatsrib lah yang menjadi Madinah (polis). Selain itu, perjalanan Abdul Muthalib ke Yaman untuk bertemu Saif bin Dzi Yazan adalah pengakuan diplomatik awal. Di sana, konon, ia menerima bisikan tentang nasib besar seorang keturunan dari tulang sulbinya.
Narasi tentang “nabi yang dinantikan” menyebar di Jazirah Arab menjelang abad ketujuh. Al-Qimny tidak melihat ini sebagai mukjizat ramalah, ini merupakan kebutuhan sosial-politik masa itu. Semakin mendesak keinginan untuk bersatu, semakin kuat pula harapan akan datangnya sang pemimpin besar yang bisa melampaui sekat-sekat kesukuan. Hanifiyah, dengan doktrinnya yang menolak keberhalaan dan menyeru kepada Sang Esa, memproduksi kondisi psikologis masa, umat membutuhkan seorang utusan dari kalangan mereka sendiri.
Ketika Muhammad bin Abdullah menyatakan dirinya sebagai utusan sang ilahi, ia sedang mengisi satu posisi yang telah lama menjadi penantian dan dipersiapkan. Jaring pengaman sosial sudah dibangun oleh kakeknya. Jaringan aliansi Yatsrib sudah tersedia. Ideologi monoteistik sudah punya akarnya dalam kesadaran sebagian elit Arab. Tugas Muhammad adalah merebut momentum, dan selebihnya adalah sejarah.
Agama ‘yang’ Politis
Salah satu aspek paling kontroversi dari karya al-Qimny adalah bagaimana ia memperlakukan doktrin agama. Ia tidak menyangkal keimanan tokoh-tokohnya, tetapi analisisnya selalu bergerak ke ranah fungsional. Wahyu, dalam kerangka ini, juga merupakan alat mobilisasi politik yang efektif. Perintah shalat, zakat, jihad semunya memiliki implikasi sosial dan militer.
Bahkan konflik dengan kaum musyrik Quraisy dibacanya sebagai kelanjutan dari persaingan antar-klan yang telah berlangsung sejak zaman Qushay. Ketika Abu Jahal dari keluarga Makhzum memusuhi Muhammad, ia sejatinya sedang melanjutkan permusuhan lama terhadap keluarga Hasyim. Ketik Abu Sufyan dari keluarga Abdi Syams memimpin perlawanan di awal, ia adalah representasi dari klan yang sejak dulu menolak klaim kepemimpinan Hasyim. Perang Badar dan Uhud, dalam perpsektif ini, bukan hanya pertempuran antar iman dan kekafiran, melainkan juga babak pamungkas perang saudara Quraisy.
Al-Qimny juga menyoroti tokoh-tokoh hanif lain seperti Zaid bin Amr bin Nufail, Umayyah bin Abi al-Shalt sebagai rival yang juga mengincar posisi kenabian yang dinantikan. Mereka adalah peserta dalam perlombaan ideologis yang sama, hanya saja sejarah memenangkan Muhammad.
Tentu pembacaan ini tidak dimaksudkan sebagai cara pandang teologis. Ini adalah sejarah dengan sisi materialisnya, yang melihat agam sebagai bagian dari dinamika sosial, bukan sebagai variabel independen yang turun dari langit tanpa sebab-sebab duniawi. Mungkin bisa jadi alternatif pembacaan ini reduktif bahkan vulgar tapi juga tentu juga memberikan alternatif bacaan dari sejarah yang mapan.
Justru, menariknya dari al-Qimny adalah bagaimana ia menyusun data-data dari sumber klasik seperti Ibn Hisyam, al-Thabari, al-Mas’udi lalu membacanya dalam kerangka ‘politik modern’. Istilah “hizb” yang dilekatkan pada keluarga Hasyim adalah pilihan sadar, yang hendak menyajikan perangkat analisis politik modern, bahwa bisa digunakan untuk merangkai periode sejarah yang selama ini hanya disentuh dengan pembacaan sakral.
Mungkin, buku ini meninggalkan kesimpulan yang cukup meresahkan sekaligus memikat, bahwa proyek negara Islam adalah hasil dari perencanaan jangka panjang sebuah elite politik yang tahu betul bagaimana memanfaatkan kondisi sosial, ekonomi, dan psikologis masyarakat Arab. Di tangan mereka, agama menjadi instrumen dan wahyu menjadi puncak legitimasi. Selebihnya, adalah kisah tentang bagaimana ide yang bermula dari sumur tua, gurun pasir, dan rumah pertemuan kecil akhirnya menaklukkan dunia imperium dunia.






