Kompleksitas ToE dalam Perspektif Penulis

Theory of everything (ToE) adalah sebuah gagasan komprehensif yang bertujuan untuk menghimpun dua instrumen teori besar utama dalam sejarah evolusi ilmu fisika.

Secara orientatif, fisika dapat dipisah menjadi dua tabir. pertama adalah periode fisika klasik, yang ditandai dengan penemuan-penemuan paling monumental & fundamental. seperti ketika newton mulai memformulasikan hukum gravitasi universal nya melalui 3 hukum gerak gravitasi klasik, atau Nicholas Copernicus yang dikenal sukses memetakan prinsip fisika dasar klasik mengenai mekanisme objek makro (exoplanet).
Fisika modern ditandai dengan—munculnya dualitas kolektif antara fisika klasik dan teori kuantum. kehadiran kuantum pada awal abad 20 adalah sebuah terobosan & Magnum opus luar biasa dari sederet ilmuwan jenius terkenal. Tokoh yang paling mencolok dalam sejarah perkembangan dunia fisika modern adalah Max Planck (1903). moment dari keberhasilan nya telah menjadi pertanda dari kelahiran fisika modern. moment itu dicatat ketika sang max Planck berhasil mengukur efek radiasi yang dipancarkan oleh sebuah benda.
Dalam paradigma dia, Dunia atom lebih kompleks dari sekadar reposisi Dinamis antara Proton & Elektron pada satu dimensi mikro. max Planck mengungkap, jika area benda hitam yang tampak—distorsi tersebut sebenarnya merupakan pembatas yang berfungsi untuk menyerap seluruh jenis energi yang diterimanya.
Energi energi yang diserap itu diasosiasikan oleh max Planck sebagai distribusi paket paket yang tersusun secara diskrit. hal itu yang kemudian disebut sebagai (kuanta). Kemudian masalah masalah fisika modern juga tak mampu dibaca oleh fisika klasik yang hanya terpaut pada aspek fisikal makro.
Dari kedua definisi diatas, dapat dinilai bahwa fisika klasik dan fisika modern adalah dua area discovery fisika. fisika modern menyandarkan analisisnya secara lebih komprehensif tentang materi fisika klasik yang dianggap kurang cukup dalam membedah realitas dunia ini secara runtut dan kompleks.

Apa itu Theory of everything (ToE)?

ToE pada dasarnya mengungkap rahasia kosmik secara menyeluruh. ToE hanya berposisi sebagai (Side Referential) untuk melihat keterkaitan kontinum antara Relativitas Einstein yang cenderung berfokus pada norma norma kosmik (makro), dan mekanika kuantum yang berdasar pada pendekatan pendekatan intuitif dan probabilitas. Hal ini dapat terjadi karena quantum mechanics (QM) menggunakan atribut desain probabilitas abstrak dari para fisikawan modern di zaman itu.
ToE dapat dinyatakan sebagai aspek yang didominasi oleh dua opsi sekaligus. pertama, dia bisa jadi ekuivalen ( ≡ ) terhadap kerangka kerja realitas makro dan mikro. atau justru tak dapat di inisiasi sama sekali, artinya bisa saja A ≠ B yang karena— B tidak memiliki properti kovarian simetris terhadap A.
Pada intinya, kegelisahan penulis adalah sebuah bentuk refleksi mendalam tentang kemungkinan rigid antara kombinasi Relativitas dan Mekanika kuantum. sebab, kedua aspek demikian secara ringkas dapat membawa pemahaman manusia yang terbatas tentang alam—jadi punya untuk mampu melihat seluruh mekanisme teknis dibalik panorama semesta yang tampak ikonik dan eksentrik ini.

Beberapa kandidat teori dalam lanskap ToE

A. String theory

String theory adalah probabilitas epistemik yang tetap solid dalam menggambarkan cara kerja kuantum. string teori memakai atribut dawai/vibrasi untuk menggantikan nilai nilai eksklusif dan transparan dari dimensi kuantum. Teori string melihat bahwa alam semesta kuantum pada dasarnya hanya terdiri dari deretan dawai-dawai/atau yang tampak mirip seperti senar gitar. dimana gerakannya tampak distorsif dan serba tak menentu.
String teori dimasukkan sebagai kandidat ToE karena teori ini memiliki dasar yang ketat dalam penempelan label abstrak kuantum itu sendiri. dalam persepsi saya, String teori memiliki kemungkinan besar terhadap variasi mikro Relativitas. namun dasar untuk menyatakan Teori string benar itu belum dapat dinilai rigoritas nya terhadap GR Einstein.

B. M Theory

M Theory adalah salah satu kandidat kokoh untuk melihat kemungkinan relatif antara Relativitas dan kuantum. teori ini pertamakali diusulkan oleh seorang fisikawan bernama Edward witten (1995).
M Theory pada umumnya menjabarkan sebuah kerangka kerja fisis matematis terhadap diferensiasi variatif Superstring (dawai super) dan super gravitasi (11 dimensi) didalam struktur formal kompleksitas matematika.
M Theory adalah variasi yang lebih kompleks dari string biasa. jika normal string hanya mengimajinasi ruang spatial 10 dimensi, maka M theory justru menambah satu paket ekstensi yang lebih tinggi. yaitu 10 dimensi ruang spasial, dan satu—ekstensi dimensi ekstra waktu.
M theory memiliki kapasitas yang sangat kompleks dari string biasa. String theory hanya berkutat pada satu ruang skala, yaitu kuantum. maka M theory justru sebaliknya, teori ini bekerja untuk masalah masalah high ekstra. Objek objek ekstra yang dimasukkan dalam variasi M theory adalah sebuah istilah yang yang disebut sebagai bran (membran).
Secara personal, penulis memiliki sebagian besar keyakinan terhadap—kemungkinan M theory di masa depan. karena M theory sendiri juga seringkali dihubungkan pada masalah multiverse. alam semesta digambarkan dalam teori ini sebagai (membran) atau alam semesta yang mengapung pada dimensi tinggi.

C. Loop quantum gravity (LQG)

Teori ini cukup menarik bagi saya, pertama adalah karena LQG sangat cocok untuk membedah mekanisme gravitasi pada skala mikro. publik selama ini kerap didoktrin, jika waktu terus melaju secara linear (kontinu). Gravitasi kuantum justru berbeda, LQG lebih melihat bahwa Gravitasi sebenarnya tidak hanya mempengaruhi waktu pada skala makro, akan tetapi juga berdampak secara mikro.
LQG dapat dinyatakan diskrit secara persepsi. LQG dalam deformasi (time discreate) dikatakan bersusun karena mekanisme gravitasi makro dan mikro memiliki perbedaan yang signifikan. Artinya dalam parameter LQG diskrit, ruang waktu dapat dianggap sebagai paket paket waktu yang saling terpisah satu sama lain.
LQG juga menyoroti tentang jaringan/semacam simpul (loop) yang terbentuk secara perlahan pada tingkat mikro. Jaringan jaringan simpul tersebut terbentuk sekitar 10-³⁵ Konstanta Planck.
LQG juga melihat potensi bahwa blackhole sebetulnya tidak dapat dikatakan sebagai titik utama dalam melihat (the origin of this universe). LQG justru menganggap, bahwa konsep singularitas dalam black-hole harus dihapus. Ini dilakukan supaya para fisikawan bisa melihat titik vital jelas dari distribusi sistem yang terjadi pada inti lubang hitam itu sendiri.
Pada dasarnya, prinsip ketiga LQG hanya melihat korespondensi yang lebih jelas terhadap variabel variabel yang ditinggalkannya dalam titik singularitas lubang hitam. Masalah ini saya anggap tampak mirip seperti dorongan teoritis yang dibawa oleh Stephen Hawking dan Roger penrose dalam Teorema Hawking – penrose mereka. Bahwa lubang hitam —harus memiliki rincian yang komprehensif dan terukur. dari efek cakram gas, hingga ke struktur paling tersulit (Area vakum hitam berbentuk bola padat).
Dari beberapa kandidat theory yang saya masukkan, ini berpotensi menjadi kemungkinan bahwa ToE bisa jadi suatu saat akan terakumulasi secara ketat atau justru tidak berakhir pada detail teknis dan masuk akal sama sekali. Ke khawatiran saya hanyalah sebuah refleksi individual, bahwa—apakah Relativitas Einstein memiliki korespondensi akurat dengan trouble/formalisme formalisme kompleks dan serba deterministik dalam dunia kuantum?
Saya tidak dapat menjangkau hipotesis ToE ini secara jelas, akan tetapi dari ketiga kandidat diatas. semuanya memiliki potensi untuk valid secara teoritis, namun tidak pasti secara tempo. Karena saya melihat, bahwa sains memiliki tempo waktu yang sangat panjang dan sirkular. Adanya gejolak sains saat ini, memiliki dasar argumen untuk menggantikan teori sains klasik yang sudah berdiri selama berabad-abad.
Kekhawatiran ini telah coba saya tanyakan ke salah satu fisikawan teoritis terkenal yang sekaligus mengambil andil sebagai komunikator sains. orang itu bernama Sean Carol. pada email yang saya sampaikan kepadanya, saya mengusulkan sebuah pertanyaan yang kemudian mendarah daging didalam kegelisahan penulis. Kegelisahan yang terbungkus dalam bentuk pertanyaan itu kemudian berbunyi:
“Mr. Sean, you are a physicist and science communicator whom I greatly admire. Your videos always appear at the top of my YouTube feed.
Hello, my name is Ferdiansyah. Here, I would like to share my concerns with Mr. Carol regarding the probability of the Theory of Everything. Is it possible that one day Einstein’s Theory of Relativity and quantum physics could be causally linked?
This has been a source of anxiety for me, given that the Theory of Everything is—a physical hypothesis that cannot yet be comprehensively captured by existing physical equations.
How do you envision or see the possibility of these two major theories in the world of physics becoming connected in the future?
Thank you, Mr. Sean “
Pertanyaan penutup dari segala kemungkinan yang bisa terjadi adalah bahwa, mungkinkah ToE bisa benar benar terintegrasi secara utuh?
Apakah alam semesta kita sebetulnya dapat dijelaskan secara keseluruhan melalui satu Formulasi tunggal kompleks yang menggelagar seperti pedang tajam yang terhunus bijaksana?
Tidak ada yang tahu, namun—ToE suatu saat memang akan berakhir pada kemungkinan benar dan salah.
Seorang mahasiswa Komputer, dengan latar belakang fisika ketat. Juga penulis dan programmer