Keheningan Tanpa Batas

Rimbun dedaunan, diterpa angin badai. Berpapasan bersamanya, hujan turun begitu dahsyat. Sembari menadah ke atas, kau terdiam di lorong tepat di sudut ruangan. Menatap langit yang menitikan hujan, sembari berpikir panjang akan nikmat apa yang kau kelabui. Menit demi menit berlalu, seperti pepatah katakan “waktu akan menyembelihmu”.

Langit mulai meredakan amarah, suasana pagi itu kembali seperti semula, ada yang keluyuran mencari kelas, ada yang duduk di samping ruangan, dan ada perpustakaan yang tak ada pengunjung, tepatnya kau berdiam di sela-sela aktivitas yang dianggap normal. Sambil mencari-cari celah untuk menjauh dari kenormalan, kau berpapasan dengan kawanmu. Tempat sudah ditemukan, lekas bersila dan berbincang cukup singkat, karena waktu tak pernah memberikan kesempatan kedua untuk kembali pada pelukannya. Kembali menyendiri, menatap kosong langit-langit yang dipenuhi jaring laba-laba. Sesekali, dirimu mengecek tulisan yang beredar di pantai tak kasat mata. Menemukan beberapa artikel untuk disimpan dan disimak secara lebih detil. Seorang pak tua melewatimu, sembari menyapa. Kau bergegas menghampirinya dan bersalaman, sambil mengikutinya ke ruangan kelas.

Di sana, tak ada keheningan yang tercipta, ia membawa mahasiswa untuk berani berpendapat, tak membatasinya untuk berpikir dan bersuara, tak ada yang benar dan salah, karena sejatinya pertemuan antara pengajar dan diajar adalah melakukan pemaknaan dunia tanpa ada dominasi pihak-pihak lain, oleh itu manusia menemukan esensi ia hidup, dan belum selesai akan siklus kehidupannya.

Waktu terus berpacu pada jalurnya, menyisakkan debu di kursi-kursi bangku perkuliahan. Laras panjang menunjukkan sore hari, waktunya kau kembali ke alam sendiri, bersama alam menitikan jemari kembali, mewarnai hari dan melukisnya. Sore itu, kau mengunjungi kedai kopi di seberang jalan, aroma kopi amat terasa dari pojok trotoar hingga kau memasuki tempat itu, lalu memesan kopi hitam pahit untuk menemani dunia yang teramat pahit ini.

Sembari menghabiskan sore bersama kopi, kau mulai kembali membuka lembaran-lembaran catatan usang dari buku yang telah menemanimu selama perkuliahan. Membaca kembali, beberapa bahasan terkadang tak ditemukan dalam buku, mungkin bunyi itu keluar spontan bersama sang pemiliknya, murni dari keinginannya dan hasratnya, hingga organ bunyi terpaksa untuk mengeluarkannya. Tak seperti sore-sore lainnya, kali ini kau memilih sendiri, membaca dan menikmati waktu kesendirianmu. Mungkin benar, terkadang manusia membutuhkan waktu sendiri di kala dunia sudah semakin ramai dan sempit. Waktu sendiri menjadi bagian penting dari meditasimu, mencatat segala keluhan yang kau punya, jujur pada diri sendiri, hingga menenggelamkanmu di sore itu.

Cerah sudah memudar, malam pun tiba. Kau beranjak kembali ke tempat persembunyianmu, bersamaan itu, niat tuk tidur telah kau pegang erat-erat. Menempuh perjalanan, tanpa memalingkan pandangan ke arah lainnya, hingga sampai pada tempat persembunyian. Kaki menghentak pada pintu, dan kursi retak menyambut dirimu demi memanjakan malam. Tangan tak kuasa untuk menahan nafsunya, kau memulai untuk menitikkan jari dibongkahan besi usang.

“Hari itu, diriku melebur dan membumi, tak ada kuasa lebih untuk memikirkan hal besar. Pertanyaan mendasar, untuk apa, bagaimana. Menjadi haluan hari itu, aku memikirkan dan menikmati tiap waktu yang terpangkas. Ah, lelap sudah diriku pada celah hitam. Aku memaksakan diri untuk hidup, layaknya zombie. Hampa angin ruang saat aku menulis ini, tak ada asa yang menebalkan jidatku, dan tak ada mimpi yang membuatku terbang. Hidup di kursi reyot mengajarkanku untuk mengeja dunia, mendikte diri, dan menghancurkan ilusi.”

Hingga tertidur pulas di kursi retak…

Mahasiswa yang suka ngopi, baca, menulis, juga menabung buku. Hobinya mengutuki dunia dengan cara membuat wacana kritis.