Anomali Pendidikan di Negeri yang Mayoritas Beriman pada Tuhan

Setiap pagi, aku berdiri di depan kelas, memandang puluhan pasang mata yang baru saja selesai menunduk, merapal doa dengan khusyuk. Di negeri ini, Tuhan selalu dilibatkan dalam setiap pembukaan hari dan setiap awal pembelajaran. Namun, ironisnya, saat lembar ujian mulai dibagikan atau tugas proyek diberikan, doa-doa itu seolah menguap di udara, digantikan oleh bisikan sontekan, plagiarisme yang dinormalisasi, dan jalan pintas yang dibenarkan.

Inilah realitas telanjang yang kuhadapi sebagai seorang pendidik. Aku berada di episentrum sebuah paradoks raksasa: sebuah anomali pendidikan di negeri yang mayoritas penduduknya mengaku beriman pada Tuhan. Jika dunia pendidikan internasional membedah anatomi sistem kita, apa yang mereka temukan mungkin adalah sebuah mimpi buruk. Bagaimana tidak? Kita mencetak jutaan lulusan setiap tahun, mengisi ruang-ruang kelas vokasi hingga universitas, namun tertatih-tatih di dasar peringkat literasi global dan skor PISA.

Sastrawan Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaannya yang tajam tentang “Manusia Indonesia” pernah menyoroti salah satu ciri masyarakat kita: hipokrit atau munafik. Sifat ini, sadar atau tidak, dilanggengkan secara sistematis dalam ekosistem belajar kita. Kita memuja angka di atas kertas—bahkan jika harus memanipulasi rubrik penilaian dan kisi-kisi kelulusan—demi sebuah laporan yang memuaskan hierarki birokrasi, sambil mengabaikan esensi dari kejujuran itu sendiri.

Di saat bangsa lain berlomba memerdekakan nalar, kita masih betah terjebak pada apa yang dikritik keras oleh tokoh pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, sebagai “pendidikan gaya bank” (banking concept of education). Peserta didik diperlakukan bagai celengan kosong yang setiap hari diisi dengan hafalan materi dan doktrin kepatuhan, tanpa diberi ruang untuk mempertanyakan, mengkritisi, atau berpikir logis. Anak-anak diajarkan untuk sekadar taat pada instruksi dan dicetak menjadi pekerja yang penurut, alih-alih manusia merdeka yang berdaya cipta.

Agama dan moral diajarkan sebatas teori untuk diujikan, bukan nilai untuk dihidupi

Sangat menyayat hati ketika aku mengingat kembali gagasan luhur Bapak Pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, dengan filosofinya yang masyhur: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan. Kenyataannya hari ini seringkali berkebalikan. Figur pendidik kerap terhimpit oleh beban administratif yang menumpuk dari pergantian kurikulum, sehingga kehilangan waktu, energi, dan ruang batin untuk benar-benar menuntun jiwa siswanya. Sistem yang kaku membuat kita terjebak: di depan memberi ancaman nilai, di tengah membangun kompetisi akademik yang tidak sehat, dan di belakang memberi tekanan.

Nelson Mandela pernah berucap, “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia.” Namun, pertanyaannya kini, jika senjata itu berkarat oleh formalitas birokrasi dan pelurunya hampa dari nilai-nilai integritas kemanusiaan, dunia seperti apa yang sedang kita bangun?

Mimpi buruk pendidikan ini akan terus berlanjut selama kita masih menganggap sekolah sekadar pabrik ijazah, dan menganggap ritual keagamaan sebatas rutinitas tanpa refleksi moral. Sebagai bagian dari sistem ini, aku menyadari bahwa membongkar anomali tersebut adalah sebuah jalan sunyi. Namun, perubahan itu harus dimulai dari ruang kelasku sendiri—dengan mengembalikan Tuhan bukan hanya dalam barisan doa sebelum belajar, tetapi menghadirkan-Nya dalam setiap tindakan jujur, pemikiran kritis, dan integritas di sepanjang proses manusia mencari makna.