Aku dan Hadot, Antara Kecemasan dan Kecerdasan

Berada di ambang usia 39 tahun—batas akhir yang sering kali menjadi lonceng kematian bagi harapan birokratis seorang dosen di negeri ini untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN)—adalah sebuah krisis yang mencekik. Terlebih lagi, ketika masa muda dan pengabdian telah Anda curahkan, lalu yang Anda dapatkan sebagai balasannya hanyalah janji-janji manis dari para pejabat yang kini terbukti murni sebagai omong kosong belaka. Perasaan dikhianati oleh sistem, kelelahan, dan kemarahan ini sangatlah valid dan manusiawi.

Namun, jika kita membedah penderitaan ini melalui kacamata hermeneutika dan pemikiran Pierre Hadot, kita akan menemukan sebuah realitas yang menohok: penderitaan terdalam Anda saat ini tidak semata-mata berasal dari ketiadaan Nomor Induk Pegawai (NIP) atau status ASN itu sendiri. Penderitaan ini mengakar dari bagaimana kita, sebagai manusia modern, telah menyerahkan kunci kebahagiaan dan definisi harga diri kita kepada sebuah institusi, kepada selembar Surat Keputusan (SK), dan kepada mulut para birokrat. Kita menderita karena kita membiarkan nilai kita sebagai seorang pendidik didefinisikan oleh negara, bukan oleh diri kita sendiri.

Di sinilah Pierre Hadot menawarkan penawarnya. Hadot mengingatkan kita bahwa filsafat pada zaman kuno khususnya Stoa yang sangat ia dalami serta diciptakan bukan sebagai hiburan intelektual, melainkan sebagai therapeia, sebuah obat bagi jiwa yang sakit akibat ilusi-ilusi duniawi. Jika kita menjadikan pemikiran Hadot sebagai “cara hidup” (manière de vivre), maka ruang kerja Anda yang dipenuhi kekecewaan ini harus diubah menjadi sasana latihan spiritual. Masalah ASN dan janji palsu pejabat bukanlah akhir dari karier Anda, melainkan justru “bahan baku” yang paling sempurna untuk mempraktikkan filsafat secara nyata.

Langkah pertama dalam latihan spiritual ini adalah mempraktikkan apa yang oleh Hadot disebut sebagai pemisahan radikal antara apa yang ada di dalam kendali kita dan apa yang berada di luar kendali kita (Dikotomi Kendali). Umur Anda yang merangkak menuju 39 tahun, regulasi pemerintah, kuota CPNS atau PPPK, dan kebijakan kampus adalah hal-hal eksternal yang sama sekali tidak tunduk pada kehendak Anda. Selama Anda menambatkan harapan pada sesuatu yang dipegang oleh orang lain—dalam hal ini, para pejabat kementerian—Anda akan selalu menjadi budak dari kecemasan. Kemuliaan Anda sebagai manusia merdeka hanya bisa direbut kembali jika Anda menarik semua ekspektasi itu ke dalam ranah internal: yaitu dedikasi mengajar Anda, integritas keilmuan Anda, dan respons moral Anda terhadap ketidakadilan ini.

Mengenai janji-janji pejabat yang terbukti omong kosong, filsafat kuno yang dibangkitkan Hadot mengajarkan kita untuk tidak terkejut. Mengapa kita harus merasa hancur ketika seorang politisi atau birokrat berperilaku selayaknya politisi dan birokrat? Sudah menjadi sifat alami dari sistem kekuasaan untuk memelihara harapan palsu demi menjaga mesin birokrasi tetap berjalan murah. Mengharapkan kejujuran mutlak dan kepedulian eksistensial dari sebuah struktur birokrasi adalah sebuah kesalahan kognitif kita sendiri. Melalui pemahaman ini, kita berhenti mengasihani diri sendiri karena kita menyadari bahwa pejabat tersebut tidak menghancurkan kita; kitalah yang melukai diri sendiri dengan menaruh ekspektasi pada “omong kosong” tersebut.

Untuk menghentikan kecemasan akan batas usia 39 tahun yang terus menghantui, Hadot menyarankan latihan Praemeditatio Malorum (Pra-meditasi atas kemalangan). Mari kita hadapi ketakutan terbesar Anda secara langsung dan rasional di detik ini: Bagaimana jika Anda benar-benar tidak akan pernah diangkat menjadi ASN sampai kapan pun? Tataplah kemungkinan terburuk itu lekat-lekat. Apakah matahari berhenti terbit? Apakah pengetahuan yang Anda miliki tiba-tiba menguap? Apakah mahasiswa berhenti membutuhkan bimbingan Anda? Tidak. Kehidupan terus berjalan. Dengan menerima kemungkinan terburuk tersebut, hantu “usia 39 tahun” itu akan kehilangan daya terornya. Anda melucuti senjata sistem yang selama ini menyandera ketenangan batin Anda.

Selanjutnya, Anda harus mempraktikkan Prosoche, yaitu perhatian penuh pada momen saat ini. Lonceng usia 39 tahun adalah konstruksi waktu masa depan yang membebani pikiran Anda. Namun, ketika Anda melangkah masuk ke dalam ruang kelas, berdiri di depan puluhan mahasiswa yang haus akan ilmu, usia 39 tahun dan status ASN itu tidak ada artinya. Di detik ketika Anda menjelaskan sebuah teori atau membimbing mahasiswa yang kebingungan, Anda memegang kendali penuh atas realitas. Prosoche memaksa Anda untuk hadir seutuhnya di momen tersebut, merayakan keindahan mentransfer ilmu tanpa dikotori oleh kecemasan akan status kepegawaian hari esok.

Jika beban ketidakadilan ini masih terasa menyesakkan dada, cobalah lakukan latihan The View from Above (Pandangan dari Atas) yang sangat direkomendasikan Hadot. Bayangkan kesadaran Anda terbang tinggi menembus atap kampus, melayang ke atas awan, dan memandang ke bawah. Dari atas sana, lihatlah betapa kecil dan fananya gedung kementerian, aturan kepegawaian, tumpukan syarat administrasi BKD, dan para pejabat yang pongah itu. Dalam skala kosmos yang maha luas dan sejarah umat manusia yang ribuan tahun, tidak diangkat menjadi ASN di sebuah negara pada awal abad ke-21 adalah peristiwa yang sangat kecil bak setitik debu. Pandangan kosmis ini akan mengembalikan proporsi masalah Anda, melahirkan ketenangan, dan menyapu bersih rasa benci yang menggerogoti hati.

Melalui semua latihan tersebut, Anda sedang membangun apa yang disebut Marcus Aurelius dan Hadot sebagai “Benteng Batin” (The Inner Citadel). Sistem birokrasi yang korup dapat mengeksploitasi tenaga honorer Anda. Para pejabat dapat menahan kesejahteraan finansial yang seharusnya menjadi hak Anda. Namun, mereka sama sekali tidak memiliki akses untuk menembus Benteng Batin Anda. Mereka tidak bisa memaksa Anda menjadi dosen yang sinis, pemarah, atau membenci ilmu pengetahuan. Integritas Anda sebagai seorang pendidik, cinta Anda pada kebenaran, dan kelembutan hati Anda murni adalah kekuasaan berdaulat Anda sendiri. Jangan berikan kunci benteng itu kepada sistem yang tak berwajah.

Pemikiran Hadot menuntut kita untuk mendefinisikan ulang esensi dari profesi kita. Mengapa Anda menjadi dosen? Jika Anda masuk ke dunia akademik sekadar untuk mencari keamanan status sipil dan tunjangan pensiun, maka Anda akan hancur oleh sistem hari ini. Namun, Hadot mengingatkan bahwa seorang filsuf/pendidik sejati dalam tradisi kuno adalah seorang Psikagog (pembimbing jiwa). Tugas utama Anda bukanlah mengabdi pada mesin negara, melainkan merawat dan membentuk jiwa-jiwa muda (mahasiswa) agar menjadi manusia yang bernalar dan bermoral. Status non-ASN tidak akan pernah bisa membatalkan fungsi eksistensial dan sakral Anda sebagai seorang guru kehidupan.

Tentu saja, mempertahankan sikap luhur di tengah realitas perut yang lapar dan sistem yang tidak adil ini akan membuat Anda terlihat sangat aneh di mata rekan-rekan sejawat yang gila jabatan. Anda akan menjadi apa yang Hadot sebut sebagai Atopos (Sang Alien atau figur yang tidak bisa diklasifikasikan). Biarkan masyarakat atau kolega Anda kasihan melihat Anda yang menua tanpa seragam Korpri. Anda, sebagai seorang Atopos, akan menatap balik mereka dengan belas kasih, karena Anda tahu mereka terjebak dalam ilusi bahwa kebahagiaan terletak pada sebuah lambang negara di dada kiri mereka, sementara Anda telah menemukan kebahagiaan sejati dalam otonomi keilmuan.

Inilah saatnya mengubah kemarahan Anda menjadi Eros—hasrat dan gairah yang menyala-nyala terhadap pencarian kebenaran (Sophia). Karena pintu validasi birokrasi telah tertutup rapat oleh batas usia, maka ini adalah momen kemerdekaan yang sesungguhnya! Anda kini mengajar murni karena Eros, karena Anda mencintai ilmu pengetahuan itu sendiri. Anda tidak lagi mengajar demi mengejar poin sertifikasi, kum jabatan, atau menjilat pimpinan agar diloloskan formasinya. Ketidakterikatan Anda pada harapan palsu ASN justru membersihkan niat Anda. Mengajar kini menjadi sebuah perayaan cinta pada kebijaksanaan, bukan transaksi administratif.

Terlebih lagi, kondisi penderitaan Anda ini adalah kurikulum terbaik yang bisa Anda ajarkan kepada mahasiswa Anda. Menurut Hadot, wacana filosofis adalah omong kosong jika tidak divalidasi oleh kehidupan nyata sang pengajar. Ketika mahasiswa Anda melihat bahwa dosennya tetap berdiri tegak, mengajar dengan brilian, penuh semangat, dan bermartabat meskipun ditekan oleh sistem dan tidak diangkat menjadi ASN di usia 39, Anda sedang mempraktikkan filsafat yang paling agung. Anda sedang mengajarkan stoisisme dan ketangguhan mental secara live kepada mereka. Anda membuktikan bahwa nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh stempel pemerintah.