Krisis Organisasi di Generasi Zaman Now

Saat pertengahan pertumbukan antara angin dan hujan, Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora menyelenggarakan Sekolah Kepemimpinan Organisasi. Halangan angin dor-dar tak menghadang semangat para peserta untuk menghadiri acara tersebut. Palendika Alandira selaku ketua DEMA-F membuka acara dengan intriknya, ia membeberkan berbagai fenomena reduksionis minat organisasi di arena pergulatan pemikiran. Menurutnya, fenomena yang saat ini terjadi disebabkan kurangnya partisipasi aktif dari anggota yang mendaku jabatan, pun faktor eksternal yang membungkus organisasi sebagai suatu pemborosan waktu di masa perkuliahan.

Bertemakan Tumbuhlah Mendaki Seribu Upaya ’kan Kau Nikmati, diambil dari lirik lagu Perunggu yang berjudul Pastikan Riuh Akhiri Malammu. Acara ini, bertujuan sebagai langkah awal akan pemahaman dan pentingnya organisasi baik skala internal maupun eksternal, melihat dari tema tersebut, ia juga menegaskan bahwa organisasi merupakan pemupukan bibit-bibit intelektual non-formal disertai pengukuhan prinsipal mahasiswa terhadap fenomena eksternal.

“Harapan kami, membangun kembali semangat organisasi dan mengembalikan faktor internal yang dapat berpengaruh di masa lanjut perkuliahan.” tungkasnya, dari ketua panitia penyelenggara acara Sekolah Kepemimpinan Organisasi.

Hujan semakin menjadi-jadi di tengah perhelatan acara, riak-riak diskusi mulai memanas. Di tengah-tengah pematerian pertama, antusias peserta untuk bertanya dan menanggapi terasa semakin menggila. Pematerian pertama yang disampaikan memuat “Knowledge Management” suatu kajian berfokus pada pembahasan pengetahuan individu yang berubah menjadi intelektual komunal hingga berakhir menjadi sebuah karya, baik dalam bentuk ilmiah maupun kerja kreatif (program).

Ruang kopi semakin terasa hangat, dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul ke permukaan. Semangat bertanya, menunjukkan antusiasme peserta yang tinggi pada acara tersebut. Yang menarik, pertanyaan itu mengarah pada fungsi organisasi dan masa depan organisasi. Sesi diskusi hening sejenak, melalui jawaban sang pemantik yang mencoba menjabarkan pengalaman yang ia rasakan ketika berorganisasi. Ia menegaskan, bahwa manajemen intelektual dan fondasi keyakinan prinsip menjadi titik berat bagi diri seorang organisatoris. Terusnya, ia mengamini konflik-konflik ketika berorganisasi.

“Dalam berorganisasi, kita mestilah menghadapi konflik baik individual maupun kolektif. Tapi yang perlu diketahui, sesaat kita menghadapi konflik, kita mestilah mencari jalan keluar bersama untuk meredam itu. Maka, pentingnya musyawaroh organisasi harus dilakukan untuk menghadapi konflik.” dengan lugas ia menjawab.

Berlanjut ke pematerian ke dua dengan muatan “Event Systems & Brand Identity” bertujuan untuk memahami kegiatan kreatif mulai dari proses perancangan, penguatan identitas, dan perencanaan matang. Tak bisa dipungkiri, sistem keorganisasian sering kali menemui konflik ketika ia tak berjalan sesuai rencana awal, ataupun faktor eksternal yang tak dapat dihandle secara baik. Dengan itu, pematerian kedua mencoba menjabarkan sistematika perencanaan, hingga penanggulangan masalah berbasis musyawarah.

“Bersamaan organisasi, dinamika mestilah ditanggapi secara sadar dan aktif. Bukan dengan satu perspektif, melainkan pelbagai perspektif yang ada di diri masing-masing organisatoris. Salah satu cara jitu, untuk penanggulangan masalah ialah musyawarah.” bersamaan dengan rintik hujan yang mulai surut.

Hujan mulai surut, dan kopi kembali dituang. Pembahasan kedua yang menuntut berbagai perspektif sebagai induk komunikasi deliberatif, untuk manajemen konflik. Seperti yang dikatakan seorang novelis terkenal; “Dari segala keburukan, yang paling buruk adalah mengakui perspektif seseorang sebagai jalan keluar atau satu-satunya kebenaran atas realita”. Dengan itu, peserta diajak untuk memahami perbedaan pendapat, hingga mencari benang merah dari ribuan kusutannya.

Perhelatan akhirnya acara, dibersamai dengan angin malam yang datang. Pematerian ketiga bertajuk “Strategic Communication” membahas bagaimana strategi pembungkusan media. Di era digitalisasi, framing media merupakan hal penting baik bagi seindividu ataupun komunal. Pada pematerian terakhir ini, peserta diajak untuk memahami sistematika kebenaran wacana berita, dan cara framing media untuk kebutuhan kampanye ataupun propaganda media. Tujuan itu, membawa para peserta untuk mengatasi dan mencari fakta dan data yang tercecer luas di seluncur internet.

FGD (focus group disscusion) menjadi agenda penutup untuk membawa peserta lebih interaktif. Di sini, peserta diajak untuk berkelana dalam wahana pemikiran dari materi-materi yang telah dipaparkan. Para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, bertujuan untuk mengetahui pembacaan para peserta terhadap realitas dengan pisau bedah materi-materi yang telah disampaikan. Mereka mulai melingkar, dan keheningan pun pupus seketika, para peserta mulai menunjukkan kembali eksistensinya. Menanggap satu sama lain, peserta mulai membedah realitas organisasi dengan data faktual melalui jejaring internet. Foto bersama dengan para hadirin beserta angin malam disertai rintikan hujan, menutup acara dengan khidmat. Tempat yang diisi riak-riak diskusi mulai kembali hening dan para hadirin mulai kembali pada tempat berlabuhnya masing-masing.

Mahasiswa yang suka ngopi, baca, menulis, juga menabung buku. Hobinya mengutuki dunia dengan cara membuat wacana kritis.