Umat Islam menyakini ibadah puasa itu sifatnya pribadi (hablu minallah) dan hanya milik Tuhan sendiri yang menjamin ganjaran atas puasa ramadan ini.
Namun, momentum ramadan ini sejatinya harus menjadi kawah candradimuka (madrasah ruhaniyah) guna melahirkan peradaban Islam berbasis keimanan yang kukuh dan tidak menciderai aspek kemanusiaan ini justru “melukai” umat Islam.
Pasalnya, kehadiran puasa ini hanya dijadikan komoditi (iklan) oleh pengusaha, pemilik modal (televisi, media cetak, online) untuk menjual ayat-ayat Tuhan selama bulan ramadan.
Dinamika Komoditi Ramadan
Pada bulan suci ini terjadi peningkatan signifikan dalam konsumsi masyarakat, baik konsumsi barang maupun media. Pola menonton televisi berubah, dengan prime time maju dari pukul 19.00 menjadi 18.00, lonjakan penonton pada jam sahur (02.00–05.00) sebesar 36,2%.
Secara umum konsumsi televisi meningkat di hampir semua jam, kecuali saat tarawih yang turun 8%, lalu kembali naik setelah pukul 21.00.
Data AC Nielsen tahun 2018 menunjukkan tiga perubahan utama saat Ramadan. Pertama, perubahan kebiasaan mengakses media. Jumlah penonton televisi naik 17% dengan durasi menonton bertambah menjadi rata-rata 5 jam 19 menit per hari.
Untuk sinetron dan hiburan, program religi mengalami peningkatan signifikan, muncul kecenderungan menonton bersama keluarga. Pada radio, terjadi peningkatan pendengar program religi sebesar 11% dan kenaikan umum 13% untuk seluruh program.
Kedua, terjadi kenaikan konsumsi barang, mulai dari smartphone, kendaraan, produk perawatan diri, sampai peningkatan belanja pakaian, makanan, dan tiket hotel secara online. Ketiga, belanja iklan dari berbagai produk terus meningkat tajam.
Ramadan menjadi momentum yang membawa dampak positif bagi lembaga penyiaran, pengiklan, produsen, mendorong peningkatan kualitas program siaran. (www.kpi.go.id).
Dalam tulisan “Ramadan sebagai Industri, dari Religiusitas ke Komodifikasi” menjelaskan komersialisasi Ramadan merupakan realitas dalam sistem ekonomi modern yang sulit dihindari.
Tantangan utamanya bukan menolak aktivitas ekonomi, melainkan menjaga keseimbangan antara kepentingan pasar dan integritas spiritual agar Ramadan tetap menjadi momentum transformasi moral.
Menjelang (selama) Ramadan, hingga Idulfitri, konsumsi rumah tangga meningkat signifikan. Sektor ritel, fesyen muslim, makanan-minuman, transportasi, sampai platform digital mengalami lonjakan aktivitas. Fenomena ini menunjukkan pergeseran religiusitas dari pengalaman personal menjadi komoditas pasar.
Dalam perspektif teori komodifikasi, simbol dan nilai religius (ornamen islami, narasi hijrah, dan pesan kebersamaan) yang dikemas menjadi strategi pemasaran yang efektif membangun kedekatan emosional dengan konsumen. Industrialisasi ini tidak sepenuhnya negatif karena turut mendorong pertumbuhan industri halal dan membuka peluang ekonomi.
Namun, masalah muncul ketika orientasi pasar lebih dominan daripada makna spiritual, sehingga Ramadan berisiko direduksi menjadi sekadar “musim belanja”.
Media sosial semakin memperkuat proses ini melalui konten bertema Ramadan yang viral dan bermuatan monetisasi. Di sisi lain, korporasi memanfaatkan momentum Ramadan dengan kampanye emosional yang mengaitkan konsumsi dengan nilai keluarga dan rekonsiliasi.
Tentunya, kondisi ini menunjukkan bagaimana nilai religius dapat diproduksi ulang menjadi strategi akumulasi keuntungan dalam dinamika ekonomi kontemporer. (RRI, 18 Februari 2026)
Parahnya, bulan suci umat Islam itu kini menjadi ajang strategis untuk memasarkan berbagai produk industri. Kapitalisme yang semakin lihai berusaha menangkap peluang memanfaatkan ikon (simbol agama) demi mengeruk keuntungan bisnis.
Idi Subandy Ibrahim, pengamat komunikasi dan gaya hidup menjelaskan ramadan sekarang memang telah dikomodifikasi besar-besaran. Segala sesuatu yang terkait ritual puasa disulap jadi komoditas untuk diperjualbelikan. Sadar atau tidak, masyarakat masuk dalam pusaran arus konsumsi itu.
Puasa yang semestinya mengajarkan hidup sederhana akhirnya dijadikan momen pentas gaya hidup yang boros dan glamor. Kesalehan dipamerkan lewat artefak simbolis yang instan, seperti jilbab (hijab), baju koko, (surban).
Spiritualitas ramadan berubah menjadi ’spiritualitas bersenang-senang’. Puasa dimaknai lewat kemeriahan yang dangkal. Justru komodifikasi itu ternyata berjalan seiring dengan formalisme agama. Muncul kelompok-kelompok Islam radikal yang bergerilya menutup panti pijat, diskotik, rumah makan pada siang hari dengan dalih dianggap mengganggu ibadah puasa.
Gerakan ini meresahkan penganut agama lain (pemeluk Islam) sendiri yang kebetulan tidak berpuasa karena alasan syariat.
Kelompok ini mengumpulkan ayat-ayat suci untuk membenarkan diri sendiri seraya memberangus orang lain. Saat puasa, semangat agama yang penuh kasih sayang menjelma jadi spiritualitas untuk ’berperang’. (Kompas, 14/9/2008).
Mari kita bandingkan dengan Tesis karya Hidayat Surya Abadi (2019) dari Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya membahas fenomena komodifikasi agama dalam iklan televisi Ramadan.
Penelitian ini berangkat dari pesatnya pertumbuhan industri pertelevisian di Indonesia yang turut mendorong lahirnya iklan-iklan komersial dengan kemasan naratif, tidak lagi sekadar menawarkan produk secara langsung.
Dalam perkembangannya, sejumlah iklan memanfaatkan nilai-nilai sakral agama sebagai konsep kreatif, pesan komersial dibalut dalam simbol dan cerita yang merefleksikan budaya, komunikasi sosial masyarakat.
Dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes, penelitian ini mengkaji hubungan penanda, petanda, dan tanda dalam iklan Ramadan Ramayana tahun 2017 berjudul “Bahagianya adalah Bahagiaku”.
Hasilnya menunjukkan mitos dan ideologi yang dibangun dalam iklan itu melanggengkan sistem konsumtif dan kapitalisme melalui kemasan nilai-nilai religius. Konsep simulacrum membuat pesan komersial berdurasi 3 menit 15 detik itu tampak wajar dan alamiah. Meskipun realitas yang ditampilkan sering kali ambivalen dengan kehidupan nyata. (www.digilib.uinsa.ac.id)
Kendalikan Diri, Raih Ilahi
Sebagai bentuk latihan rohani, puasa menjadi instrumen untuk menguji tingkat ketangguhan seseorang dalam mengontrol, ucapan, perilaku, dorongan nafsu duniawi menyesatkan dan menyebabkan dosa.
Sayyed Hossein Nasr mengemukakan “Ini yang sulit dalam puasa yang menjadi ujung tombak nafsu badani, pengendalian al-nafsu al-amarah”
Ketika berpuasa, kecenderungan untuk memberontak yang ada dalam jiwa secara bertahap digunakan dengan cara memasrahkan diri secara sisitematis ke arah perintah Allah. Karena setiap saat merasakan lapar, jiwa orang-orang Islam diperingatkan bahwa nafsu badan yang ada dalam dirinya diabaikan demi memenuhi perintah Allah.
Itulah sebabnya puasa tidak hanya berkaitan dengan makanan, minuman, tapi juga pengendalian diri dari segala bentuk nafsu dan keinginan yang bersifat badani. Oleh karena itu, hanya pribadi-pribadi yang akan berhasil mengendalikan diri sajalah yang mampu menjalani ibadah puasa.
Demikianlah, ibadah puasa itu memiliki keistimewaaan dan kemuliaan karena ia berkaitan langsung dengan Allah. Dalam hadis qudsi Allah berfirman “Puasa adalah untukku dan akulah yang akan menggung pahalanya.”
Imam Al-Ghazali mengatakan puasa adalah milik Allah dalam dua hal; Pertama, puasa itu meninggalkan segala kesenangan yang halal. Sifat utama kewajiban puasa adalah ketersembunyiannya dalam pandangan orang lain.
Puasa adalah satu-satunya ibadah yang tidak dapat dilihat orang lain kecuali Allah karena puasa merupakan amalan batiniah yang dilakukan dengan pertahanan dan kesabaran.
Kedua, ibadah puasa adalah milik Allah karena merupakan alat menerangi musuh Allah, yaitu ego manusia yang bekerja lewat nafsu, amarah yang menjadi semakin kuat dengan makan dan minum.
Karena itu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setan itu mempengaruhi anak-anak Adam dengan merasuki aliran darah, maka sumbatlah jalan aliran darah itu dengan lapar (puasa).”
Kemampuan dalam mengendalikan segala dorongan nafsu badani merupakan salah satu indikasi seseorang berhasil dalam menjalani ibadah puasa ini. (Komaruddin Hidayat etc, 2001:267-268).
Bila kita kuat memaknai puasa ramadan sebagai wahana mengendalikan diri dari segala iklan bentuk angkara murka, nafsu, keinginan niscaya tidak akan ada lagi upaya menjual ayat-ayat dan risalah Tuhan untuk kepentingan pribadi (harta, tahta) dan popularitas semata.
Dengan demikian, kehadiran puasa diharapkan menjadi modal utama untuk pengendalian diri supaya kita mendapatkan jaminan dan pahala dari Tuhan. Semoga.




