2016 Awal berkenalan dengan Hariang kecil, Mughni membangun pondasi yang kokoh untuk kelanjutan kisah yang dibenamkan dalam cerita Perpustakaan Kelamin. Novel ini hadir menyirami kegersangan jiwa-jiwa yang menyendiri dan kesepian kala itu, salah satunya aku. Ya, aku masih ingat betul bagaimana Hariang memilih, bersiasat, memutuskan, “beristikharah”, dengan menghitung sepuluh jarinya, kupikir itu sangat lucu dan edan. Mulanya kuanggap, Mughni hanya bercanda dengan mempertontonkan adegan tersebut, tapi rupanya, itu menjadi isyarat bagaimana di kemudian hari, Hariang dewasa harus melakukan banyak pertaruhan dalam hidupnya.
Sebagaimana perjalanan matahari, Hariang terus menanjak menuju sore yang teduh. Mughni dengan lakon yang dia ciptakan terus bahu-membahu dan berpeluh menuju arah yang sama, ya, membacalah karena kita tak lagi purba. Membaca bukan hanya milik mereka yang duduk di bangku sekolah formal, tapi bagi siapa pun yang ingin menatap makna melalui aksara. Dan membacalah, sebelum membaca itu dilarang.
Sedari awal Mughni memang ingin memasukkan “sisi tersembunyi” dunia perbukuan pada novelnya. Ada cerita, ada pengetahuan. Ada kisah, ada wacana. Gaya yang dilakukan Mughni sebetulnya bukan yang pertama, sebelumnya ada novel Dunia Shopie, misalnya, yang selain kita menyusuri kisah hidup gadis SMP bernama Shopie, kita pun mau tak mau, suka tak suka, harus melahap sajian-sajian filsafat dalam surat-surat panjang yang disodorkan Gaarder pada pembacanya. Sedangkan Mughni, lewat alur, lewat dialog-dialog, memang ingin memberi tahu kita tentang apa yang ada di balik buku, benda yang selama ini mengelilingi hidup dan kesehariannya.
Kalau kita melihat Perpustakaan Kelamin setengah-setengah, kita akan menyaksikan bagaimana Mughni begitu mengagungkan buku-buku. Di matanya, buku bagai benda pengusung pengetahuan yang tanpa cela dan paripurna, siapa saja yang mendekap eratnya, selamatlah ia. Akan tetapi, jika kita melihat Perpustakaan Kelamin secara utuh, hingga khatam, kita akan tersadarkan, bahwa Mughni memperlihatkan buku sebagai benda yang bisa diagungkan, tapi bisa juga dinistakan. Buku bisa memberi kekuatan, sekaligus bisa memberi kelemahan. Buku bisa membuat seseorang tercerahkan, tapi bisa juga membuatnya masuk ke jurang ketersesatan. Buku bisa membuat si penulisnya dibanjiri kehormatan dan harta, tapi bisa juga membuat ia sengsara bahkan meregang nyawa.
Awal cerita Perpustakaan Kelamin (2016) begitu tajam ketika ia menancapkan bagaimana tajamnya sebuah pertanyaan. “Pada darahku, tanya menjadi kekuatan yang haram untuk didua.” Demikian Hariang membuka cerita. Hingga semua lakon dalam Perpustakaan Kelamin pertama nampak begitu kritis dengan keluasan berpikir, tidak semua cerita menjadi baik ketika menumpahkan air mata, tapi dalam langkah pertama, Hariang adalah air mata itu sendiri.
Dari awal berkisah Mughni kulihat tidak terlalu menggambarkan bentuk tubuh para lakon seperti kebanyakan penggubah, tapi ia memperlancip ide dan gagasan para lakonnya hingga terbayang cerdas dan cemerlang. Drupadi misalnya, kita tidak pernah diberi gambaran utuh, apakah ia memakai kerudung atau tidak? Mughni tak menegaskan itu. Atau Hariang, seperti apa wajahnya? Apakah ia tampan atau jelek? Kita tak diberitahu secara detail. Mughni seperti membiarkan para pembaca dengan imajinasi dan gambarnya masing-masing mengenai “kebertubuhan” para tokoh. Yang pasti, ia hanya ingin menggambarkan pikiran dan ide macam apa yang tertancap pada kepala tokoh-tokohnya.
Ibu, tentang ibu, aku begitu berterimakasih, bagaimana ibu dalam kisah ini begitu mulia dengan ketabahan melebihi ketabahan bumi ditemani prinsip yang lebih teguh dari bangunan batu. Syajaratul Ilmi, Pohon Ilmu, cintamu sungguh tak mati-mati, kau terus-menerus menyorotkan cahaya keibuan pada Hariang, semua yang keluar dari bibirmu benar, sungguh cakrawala pengetahuan.
Bagusnya novel ini tidak tampak menggurui, ia mengajak, bergandengan lebih dekat untuk mengenal ‘kenapa aku bertanya?’. Kamu yang telah terperangkap dalam ruang yang dibangun Mughni tidak bisa mengelak bahwa Tuhan menciptakan perempuan dalam keadaan tidak bercanda, ya, Drupadi menjemput dendam yang meledak-ledak dalam diri Hariang pada Perpustakaan (Dua) Kelamin (2019), ia mendayung sampan yang jelas-jelas berlawanan arah dengan cinta dan ketabahan, ia terus-terusan menyalakan maaf dan kepercayaan, bahwa mencintai adalah melengkapi dan menerima.
Drupadi lebih tegas mengawal Hariang yang berjibaku membangun karya tulisnya, tidak ada lelah, hanya puncak cinta yang terlihat begitu romantis di sore hari. Megah, di pelaminan. Di Akhir Perpustakaan Kelamin (2020), aku melihat Drupadi yang lain, ia hidup, memberi banyak kepungan cahaya keibuan pada jiwa Hariang. Benar apa yang dikatakan Hariang, “Drupadi tak hanya teman di atas ranjang, ia juga sahabat bertukar pikiran. Drupadi tak hanya pendamping, ia juga pelindungku.”
Salah satu adegan yang membuatku gemetar, adalah ketika memasuki hari paling jahanam dalam kehidupan Hariang: bagaimana ia dihakimi dan dihancurkan di tengah ribuan orang, lalu hanya Drupadi satu-satunya yang menjadi pembela demi menjaga kehormatan lelaki yang dicintainya. Oh Tuhan, betapa jatuh cintanya Drupadi pada Hariang, betapa ia berani meletupkan kata-kata yang sangat kuat dan hebat, tapi kau harus menyusurinya sendiri.
Aku pikir berat memang, bagi penulis untuk berpisah dengan tokoh yang ia ciptakan, tapi itu harus, penulis harus menyelamatkan diri dari gelombang hebat yang suatu hari bisa saja menghempaskan dirinya. Bagiku, saat tahu Mughni menyempurnakan cerita Hariang dalam bentuk trilogi, aku bahagia.
Akhir, sebenarnya apa yang kita sebut akhir itu, adakah akhir yang sejati? Atau kita terus berulang-ulang menjadi baru? Mungkin bagi Mughni inilah akhir dari Perpustakaan kelamin, tapi dia menghidupkan ribuan, jutaan atau mungkin triliunan imajinasi baru. Mughni menyadari betul, bahwa mengakhiri sebuah cerita tak seperti membantingkan pintu kepada si pembaca.
Meski cerita Hariang telah ia selesaikan, ia tetap memberi ruang untuk dipertanyakan. Ia masih memberi cerita yang sengaja digantungkan. Ia sengaja memberi celah kepada si pembaca untuk melanjutkan cerita ini lewat imajinya masing-masing. Cara seperti itu sudah Hariang peringatkan di bagian akhir dengan kata-katanya yang manis, “Tidak semua luka harus dibagi, ada yang musti kau simpan dalam sepi. Tidak semua pengalaman dan kebenaran harus dituliskan secara telanjang, ada yang musti kau simpan dalam rekayasa dan kebohongan.”
Salah satu yang menarik di buku terakhir ini, bagaimana Mughni memindahkan “sudut pandang” atau siapa yang menjadi narator: yang mulanya “Aku” Hariang pada bab satu hingga tiga belas, lalu berpindah menjadi “Aku” Tokoh Lain di bab terakhir. Nampak sekali, Mughni tak tahan dan tak tega mengungkapkan klimaks cerita sebagai seorang Hariang, sebab ini berkaitan dengan kehormatan ibunya yang bertahun ia sembunyikan pada buku memoarnya. Akhirnya, ia harus meminjam mulut dan hati si Tokoh Lain untuk menceritakan apa yang belum terungkap, menggenapkan apa yang ganjil, dan menyempurnakan sisa cerita yang belum selesai. Bisa kurasakan, menjadi Hariang dalam buku terakhir ini, adalah luka dan derita paling purna untuk tetap ditabahi dan dihadapi Mughni meski bermandikan darah dan air mata.
Oh, tanah basah sisa air mata kemarin, alangkah indah kisah yang Mughni anggap sebagai perpisahan, air mata mana yang sanggup menahan diri untuk tidak meledak, jikalau harus berpamitan aku ingin berbisik, terima kasih untuk ciuman panjang dan bertubi-tubi pada dengkur kepurbaan, Mughni membangunkanku tepat waktu.
Karya manusia wajib untuk tidak sempurna, sebagaimana novel Perpustakaan Kelamin yang Mughni cipta. Tak bisa kulupa apa yang pernah Mughni katakan padaku, “Saya sedang menulis buku, bukan menyusun wahyu. Jadi apa pun gugatan orang tentang Perpustakaan Kelamin, sepedas dan seedan apa pun, akan saya terima meski ngeri. Hahaha.” Sebagaimana buku-buku lainnya, buku Mughni pun bisa mendatangkan pujian sekaligus cacian, bisa dipuja sekaligus dinista, si pembaca bisa mendapat cahaya atau justru malapetaka.
Menyadari itu semua, sebagaimana para ulama yang kerap berucap “Wallahua’lam bi shawab” di akhir tulisannya, Mughni pun meminjam mulut Hariang untuk mengungkapkan perasaan itu, “Drupadi, seandainya nanti kau bertemu dengan seseorang yang membaca Perpustakaan Kelamin, sampaikan salamku untuknya. Jika ia mendapati cacat dan cela pada bukuku ini, kusungkurkan hatiku untuk memohon maaf. Dan jika ia mendapat sedikit cahaya darinya, kuharap itu menjadi alasan Tuhan agar sudi menyembuhkan mahaluka yang tak mampu kusangga.”







