Sastra Sebagai Bentuk Perdamaian

Kekacauan zaman menginfeksi segala sektor, sehingga para makhluk hidup berada dalam ancaman. Mulai dari kebiasaan antara riil dan imaginer, gap antara moralitas dan rasionalitas, kesemuan antara baik dan buruk, dan segala bentuk keterpurukan. Berada di ambang batas, kita terpaksa untuk melanjutkan hidup di bawah tekanan dan imajiner yang sulit dicapai. Memaksa segala keterpurukan menjadi hal lumrah, diatur dengan cucian melankolis kematian. Hal-hal basi menjadi keseharian, karena yang berbeda dianggap suatu ancaman. Gerakan yang selalu impoten, karena di bawah tekanan dalil-dalil yang katanya rasional. Penciptaan standar ganda, membuat sebagian orang mengutuki dirinya sendiri. Keterbunuhan massal, anomie dari titik kehancuran ambang realitas. Fakta ditegakkan sebagai manipulasi yang tak terbatas. Mitos dilambangkan bentuk keterbelakangan. Pengharapan dibentuk dalam keterbelakangan mental. Kemustahilan dipacu dalam titik egois. Lalu manusia, dipaksa untuk menerima dan berada dalam zona keterpurukan.

Lalu di mana penghakiman akan berlanjut? Bahasa digunakan untuk membius keselamatan, hal moral dibuat untuk menyengsarakan, rasionalitas dipaksa untuk menumbuhkan kepercayaan. Zaman lebih edan dari biasanya, selebihnya Tuhan selalu maha asyik. Penindasan, kehancuran, zona krisis iklim, menjadi sarapan hari-hari untuk didengarkan. Alat bodoh yang menayangkan segala keburukan, dan kita dipaksa untuk mencaci tanpa memperbaiki. Ketika reparasi dilakukan, segelintir orang menanyakan tentang keuntungan. Masa bodoh tentang keuntungan, mereka lanjutkan dengan label pengkhianat kemanusiaan. Solidaritas hanya simbol keterputusasaan, sisanya, hanya pikir diri yang paling menguntungkan. Lalu di mana media kejujuran? Tersalah gunakan oleh segelintir kontra revolusioner, impoten gerakan yang digaungkan, pencipta kepalsuan untuk dibius pada setiap orang.

Sastra, hancur pada tarian kematian. Tarian yang dipenuhi amarah kebencian, sebagai topeng dari kehancuran sosial. Keterbatasan gerak, membuat ia harus tunduk pada bahan baku racun. Membatasi segala pelampauan, dan bentuk harapan. Sastra akan saya balikan menjadi perdamaian yang abadi. Di tulisan penuh pertanyaan tersembunyi, mari kita letakan jiwa kembali. Demi mendeklarkan jiwa kejujuran atas perdamaian. Hari ini, pandji sastra haruslah putih mengkilat, untuk meramalkan, memastikan, menghanguskan, segala bentuk impunitas kebahasaan.

Sebuah Bentuk Kejujuran Sastra

Ambang kekacauan mematri kembali, kita terpaksa untuk bersembunyi dalam bayang-bayang. Kejujuran menjadi hal langka, dan penyamaran menjadi hal lumrah untuk dilakukan. Menyoal kembali dengan hal sederhana, marilah kita lakukan. Redefinisi kejujuran dengan menjauhkan dari kamus akal, mendekatkan pada bahasa jiwa. Mari lakukan bersama, mengeja kembali arti kedamaian, tanpa mengikuti organisasi diatasnamakan perdamaian dunia. Mulai dari jiwa-jiwa yang telah menghilang oleh imajinasi modernitas, tapi sejarah selalu menghaturkan mereka untuk dibicarakan.

Sebelum perdamaian ada awalan, bahasa jiwa namanya. Sulit ditemukan pada hari ini memang, karena keterbatasan ilmu pada zona kenyamanan rasional. Bahasa jiwa, artikanlah seperti rasa cinta pada seseorang yang paling kau cintai. Bahasa yang berbeda dari yang kita pakai sehari-hari, dilakukan melalui hati terdalam. Bahasa jiwa terkadang tak dapat dimengerti, karena keluar dari perasaan, bukan dari akal yang basi. Terkadang juga sulit untuk dibicarakan, karena keterbatasan medium lingkungan yang memadai. Dogma tengah untuk mendewakan suatu yang fisik, bahasa jiwa dipahami sebagai pertentangan atas dogma material. Immaterial sebagai bahan, karena kita dipaksa untuk membayangkan, itulah bahasa jiwa.

Bahasa jiwa merupakan kejujuran hati, karena diisi oleh harapan yang tertinggi. Karena harapan saat ini, sulit mendapatkan tempat. Kita terpaksa untuk melupakan, sebab keterbatasan hal materil dalam kehidupan. Posisi penting bagi pengharapan untuk membentuk bahasa jiwa. Tanpa harapan, tak bisa terbentuk. Mari menanam kejujuran dan harapan, pupuk lebih dalam, dan sebarkan secara masif, sehingga, penyesuaian akan pasti di masa mendatang. Bahasa ini bukan lahir dari keterbatasan, melainkan sebuah kelebihan dari jiwa. Setelah memahami bahasa jiwa, mari kita ke ambang selanjutnya.

Kacamata cinta, terbentuk setelah bahasa jiwa didapatkan. Cinta mungkin sulit diartikan, terkadang cinta terlihat pada bahasa universal yaitu gelagat tubuh. Gelagat yang paling riil saya temui, karena cinta, menimbulkan sebuah pengharapan yang jarang ditemui. Karenanya, antar manusia dapat melebur tanpa harus menghilangkan keterbatasan yang dimiliki. Cinta juga dapat dipahami terhadap selain manusia, karena cinta merupakan bahasa universal yang dimiliki setiap makhluk dunia. Dan, proses perjalanan cinta, menjadi hal yang paling dikenang bagi setiap makhluk dunia. Proses itu menjelaskan arti ketersungguhan, dan diproses perjalanan, dapat ditemui jalan misteri yang tak dapat dijelaskan.

Cinta berakhir dalam ketulusan tertinggi, tanpa sebuah wujud fisik, dan kekausalan. Itulah kemurnian cinta, yang sulit dijangkau bagi manusia sekarang. Karena, pemaksaan berlebih pada wujud yang terlihat, dan keterputusasaan yang dilanggengkan. Intuitif alami manusia adalah cinta, dilahirkan tanpa kata, seorang ibu dapat memahami kita, walau dengan rengekan. Itulah sejatinya ketercintaan sebagai tanda yang lebih dari tak keterbatasan.

Setelah cinta, terbentuklah perdamaian tanpa syarat—bukan bayar puluhan milyar untuk mencapai perdamaian. Inilah lingkup sastra tertinggi, mungkin susah didapatkan hari ini. Sastra perdamaian merupakan bentuk dari cinta, dan bahasa jiwa. Keadilaan sebagai dasar perdamaian, dan semua orang berhak menentukan haknya untuk mencapai kedamaian. Sastra menempati posisi itu, tanpa melihat keadaan, posisi jabatan, dan kalangan. Sastra medium yang paling cocok untuk menyuarakan dan bersua dengan kedamaian. Melaluinya, harapan, cinta, dan bahasa jiwa bersatu padu dalam satu wajan.

Pada hari yang dinantikan, sastra akan muncul sebagai deklarasi perdamaian—bukan hanya omon-omon tanpa kepastian. Perdamaian dibawanya tanpa syarat, karena semua makhluk mempunyai hak atas kedamaian. Kedamaian itu melanggeng dalam bahasa, tanpa aturan baku, keunikan, keberagaman, yang dapat dipastikan dalam setiap makhluk. Perdamaian sastra, muncul tanpa darah dan konflik berkepanjangan. Pastikan hal itu datang, suarakan tentang gerakan perdamaian, dengan estetika sastra hasil patri sendiri. Karena setiap makhluk berhak menyuarakan, meminta kedamaian, dan ruang, untuk keberlanjutan dari kehidupan—bukan represi berlapis di tanah kelahiran sendiri.

Janji dari Sastra Perdamaian

Perdamaian akan menjanjikan satu hal penting tanpa syarat, bukan seperti pemilu rayaan. Janji itu adalah ruang aman bagi setiap makhluk, yang melebur dalam keadilan jasmani dan ruhani. Seperti profetika sastra, sebagai pembebasan hasrat terpendam. Profetika sastra berlandaskan atas tanggung jawab sosial dan spiritual, demi harapan imisator kehidupan.

Pembangunan kedamaian sastra terbentuk melalui caranya masing-masing, entah melalui transendensi, cinta sesama, cinta kehidupan. Tapi dengan tujuan pasti, menyoal hak-hak moral makhluk sebagai sesuatu yang wajib dipahami. Perdamaian sastra terbangun dengan itu, menyoal hak-hak moral dasar sebagai makhluk. Karena, menyoal hak-hak moral dasar merupakan barang langka pada zaman kehancuran. Ambisi akan pencapaian yang kekal, melupakan manusia dari hal yang sederhana. Semua dibangun pada tatanan besar, menyingkirkan hal yang perlu dikoreksi dalam lingkup terdekat. Karena itu, pembangunan hak-hak moral dasar, sebagai tujuan utama dari perdamaian.

Secara halus, sastra perdamaian merupakan penyokong atas moral-moral yang telah ditinggalkan. Moral sederhana sebagai hak atas semua hidup, dalam tataran terkecil. Sebagai mana manusia memanusiakan, sastra membentuk hal-hal itu diajarkan. Tanpa terkecoh dengan hal-hal yang besar, sastra membangun fondasi terkecil kehidupan untuk dirayakan. Menguras segala harapan untuk diwujudkan, dan menyangkal hal yang dibatasi dalam bentuk keterwujudan, kembali pada dasar yang fundamental untuk disuarakan. Pada tataran konsep perdamaian, bahasa jiwa, cinta, keadilan, merupakan hal dasar untuk dipahami. Kehampaan zaman, membuat hal terkecil itu terabaikan. Untuk mengusung sastra perdamaian, mari kita suarakan untuk menyadari hak-hak moral dasar sebagai makhluk keterbatasan. Dengan itu, sastra perdamaian sebagai tujuan akhir dari semua keinginan.

Mahasiswa yang suka ngopi, baca, menulis, juga menabung buku. Hobinya mengutuki dunia dengan cara membuat wacana kritis.