Obesitas permasalahan dunia menjadi sarana pelampiasan bagi beberapa penulis, melalui kacamatanya, penulis sering menceritakan kondisi sosial yang terjadi. Tutur kata dalam penceritaan masalah duniawi sering kali dilakukan melalui simbolisasi mulut manusia, bagaimana jika penceritaan itu keluar dari mulut non-manusia? Itulah yang terjadi pada novel yang baru-baru ini sedang menanjaki tangga dalam sejarah kesusastraan Indonesia, Ajengan Anjing namanya.
Fabelisasi anjing sebagai tokoh membuat kita berada dalam kacamata yang tak pernah diduga oleh siapa pun, menceritakan bagaimana kontestasi sosial dunia berubah melalui kacamata anti mainstream ini. Sebagai anjing pengamat sosial, Harak sang anjing buruh tani mengalami reversi kolektif akan kehidupan, menonton adegan-adegan duniawi, Harak mengajak kita untuk menelusuri pergeseran sosial tentang perubahan paradigma duniawi melalui kacamata anjing.
Kesempatan langka saya dapatkan, ketika saya dapat menghadiri perwangkongan tentang anjing-anjing sedunia. Ya, pada saat itu saya menyaksikan dengan kepala lutut kaki saya tentang gambaran kasar dan halusnya pembuatan novel ini, sang author (Ridwan Malik) mengaku, bahwa novelnya itu terinspirasi dari kejadian seorang perempuan muslimah yang memelihara anjing-anjing liar di pekarangannya, juga ia menceritakan kegelisahan pribadinya tentang pergeliatan duniawi, ya, bisa saya katakan tentang filsafat jomblowi.
Pada tulisan semerawut kehidupan ini, mari kita membuka bingkisan terdalam novel Ajengan Anjing melalui paradigma framing kontroversi. Sebelum masuk, saya akan memperhatikan beberapa unsur intrinsik yang seyoganya kita bedah terlebih dahulu. Melalui latar penceritaan, sang penulis melatarinya dengan dunia pesantren dan kehidupan terdekatnya yang penuh lika-liku peradaban, selain itu, sastra yang setujuh puluh persennya membahas persilatan pesantren, juga memiliki penokohan yang ciamik, ya, seekor anjing bernama Harak, mungkin kata itu diambil dari Harakadeweng—mengira-ngira dengan sekira-kiranya, seperti teori fisika. Ya mungkin, segitu saja dahulu spoiler yang bisa saya ceritakan, lanjut saja memasuki perwacanaan kali ini.
Sosial Framingisasi Kontroversi D.Hallin
Menyoal framingisasi sebagai tandingisasi gentengisasi, kali ini akan saya rujukan pada seorang cendekiawan yaitu Daniel Hallin. Pembacaan framing Hallin dibersamai perspektif sosiolog, melalui dimensi sosiolog, framing dijelaskan sebagai pembuat citra di khalayak umum. Dimensi ini juga, merujuk pada dramaturgi Erving Goffman, ia menyoal framing dengan alegori kerangka presentasi simbol yang memiliki daya persuasif. Framing ini, menyoal realitas bak drama India, masing-masing aktor mendapat peran yang wajib menjiwai karakter. Lebih jauh, framing dalam sastra melebihi sinetron yang ditayangkan oleh politikus Indonesia. Framing sastra, mewajibkan para author untuk membelah isi pemikirannya dalam pelbagai tokoh yang dituliskan. Tentu sangatlah sulit dilakukan, tapi, dunia selalu memaksa kita untuk mengimani “tak ada sesuatu yang mustahil”.
Kembali pada Hallin, ia menyertakan framing sebagai cipta kondisi lalu-lintas perduniawian. Rubrikasi Hallin, berfokus pada skema sosial yang terjadi—entah dari peranan, ataupun peristiwa. Dalam pemahaman Eriyanto dalam bukunya Analisis Framing, ia menjelaskan bagaimana bahasa dipahami sebagai sosial framing yang paling kuat. Eriyanto menjelaskan melalui Berger, realitas tak pernah dibentuk secara ilmiah melainkan alamiah. Perduniawian bukan semata-mata kehendak Tuhan tanpa campur tangan lainnya, tapi terbentuk dan dibentuk oleh tangan-tangan usil manusia, juga ia menambahkan cuplikan dari Riyo Mursanto yang memperjelas posisi realita sebagai perinangan manusia yang tak pernah selesai dan berbeda dari hewan sesaat ketika ia dilahirkan dibatasi oleh naluriahnya.
Hallin membagi tiga framing sosial menjadi; wilayah penyimpangan, wilayah kontroversi, dan wilayah konsensus. Menjalani wilayah penyimpangan, ia menceritakan bagaimana suatu wara-wiri pewicaraan dikucilkan dalam konteks sosial-historis, ini dapat terlihat dalam tindak tanduk manusia memperlakukan manusia lainnya, dalam contoh perlakuan seseorang terhadap seseorang yang menganut pemikiran queer, atau tukang besi naik menteri misalnya—satire sedikit. Selanjutnya wilayah kontroversi, yang digamblangkan sebagai arena negoisasi wacana, wilayah ini perlu persetujuan umum perihal realitas dipandang, seperti hukuman mati dalam pelaksaan hukuman tindak pidana yang jerat, atau perihal keasliaan ijazah seseorang yang pernah menjabat sebagai presiden/wakil, menteri, dan dsb. Pada tahap akhir, wilayah konsensus diperjelas sebagai realitas yang dipahami dan disepakati secara kesepakatan komunal, melalui beberapa perspektif antar manusia di dalamnya, wilayah terdalam ini diperlihatkan dalam bentuk skripsi sebagai kewajiban untuk menuntaskan perkuliahan, atau jalanan penuh lubang yang sering dijumpai di jalanan Bandung jelasnya.
Framingisasi mulai dari Erving Goffman sampai Hallin, mencapai kesimpulan pada titik ini. Framing dapat dikatakan sebagai cara objek diperkenalkan pada publik, dari dimensi sosial framing perlu daya persuasif demi menggaet khalayak publik—bagaimana caranya, saya pun tidak tahu. Dalam konsepsi framing ala Hallin, ia mengklasifikasi framing pada tiga tahap; wilayah penyimpangan sebagai tahap terluar; wilayah kontroversi sebagai tahap kedua; dan wilayah konsensus sebagai wilayah terdalam. Lebih lanjut, dalam setiap tahapan framing sosial, terdapat kesepakatan publik untuk melegitimasi kehendak bersama. Kesepakatan publik atas fenomena sosial menjadi kata kunci dalam framing, baik dalam wilayah terluar sampai terdalam. Maka dalam sastra, framing dapat dikatakan sebagai cipta kondisi penceritaan sosial, baik dari latar, tokoh dan lainnya. Unsur penceritaan atau framing ini merupakan kunci keberhasilan sastra untuk menarik peminatnya, ini dapat ditemukan melalui judul, latar, tokoh, alur, sebagai sarana cipta kondisi oleh author. Mari beranjak dalam pengaplikasian framing dalam sastra melalui jejak karya sastra.
Ajengan Anjing Cipta Kondisi
Novel yang menghadirkan cerita seekor anjing sebagai tokoh utama dan latar yang jarang digunakan, menciptakan framing keunikan novel ini. Harak seekor anjing yang menceritakan kehidupannya saat ajal menjemput, membawa kita untuk menelanjangi persilatan duniawi yang unik. Dilatari dunia sosial sehari-hari, kita dibawa untuk memahami perubahan-perubahan sosial yang terjadi. Keunikan terjadi ketika sang tokoh utama yang seekor anjing menjadi penutur utama perubahan sosial, fabelisasi penutur utama ini yang menjadikan novel ini terasa beda dari yang lainnya. Mungkin, fabelisasi tokoh dapat dijumpai dalam sastra anak, tetapi, dalam novel ini fabelisasi yang juga menjadi penutur utama memuat kontras-kontras yang jarang dilihat.
Selain itu, kerja kreatif dari sang penulis yang mendalami peran seekor hewan membuat saya menohok. Tak pernah terpikirkan, kalimat yang dapat digunakan saat pertama kali membaca novel ini. Ya, ini bukan pupujian yang berlebihan, melainkan rasa kagum yang saya rasakan sesaat ketika membaca dan mengetahui latar belakang penulisan novel ini.
Beranjak dari situ, mari kita aplikasikan tentang framing pada novel ini. Melalui analisis, saya melihat framing yang digunakan penulis pada unsur-unsur intrinsik, penulis mengisyaratkan sesuatu yang berada dalam tahap kedua yaitu kontroversi, perlu dipertimbangkan kembali untuk menusuk lebih dalam yaitu tahap konsensus. Setelah framing dari intrinsik, kita dapat melihat dalam judulnya Ajengan Anjing memiliki daya persuasif yang sangat kuat, ini menjelaskan bagaimana novel ini menerapkan teknikal framing yang ciamik.
Tahap akhir framing, novel ini membawa kita menyelami penceritaan yang jarang digunakan. Selain itu, kita dapat memahami lebih jauh realitas sosial melalui kacamata yang berbeda. Disuguhi framing yang indah, novel ini melukis daya persuasifnya sendiri. Sisi lain, latar belakang penulisan novel yang dijelaskan oleh penulis, menekan cipta kondisi yang kuat terhadap pemaknaan realitas sosial. Akhirnya, novel dengan gaya kepenulisan yang khas, juga latar belakang yang inspiratif, membawa kita untuk memahami lebih jauh tentang kondisi sosial terdekat kita. Olehnya, novel ini menghadirkan rasa yang sering dianggap kecil di sosial, kepekaan reflektif penulis terhadap keadaan sosial menjadi daya tarik lainnya selain gaya kepenulisannya.







