Bu, Yah…
maafkan anakmu ini
di usia yang sudah kepala dua
belum juga menjadi apa-apa.
Di saat teman-teman seusia sudah berdiri tegak
punya pekerjaan, punya penghasilan,
bisa memberi, bisa membanggakan—
aku masih belajar berjalan,
masih sering bergantung,
masih terasa menyusahkan.
Maafkan ya, Bu…
Maafkan ya, Yah…
Tapi tolong, jangan pernah lelah mendoakan.
Doakan anakmu ini agar kelak menjadi “orang”
yang bukan hanya berhasil untuk diri sendiri,
tapi juga berguna bagi banyak hati.
Doakan agar langkahku diluruskan,
rezekiku dilapangkan,
dan niatku dijaga tetap tulus.
Aku ingin sukses—
bukan sekadar tentang harta,
tapi tentang bisa membuat Ibu tersenyum bangga,
Ayah menepuk pundakku dengan lega,
adik-adik merasa punya sandaran.
Terima kasih, Bu…
atas sembilan bulan yang kau jaga dengan nyawa.
Atas doa yang tak pernah kau hentikan.
Atas sabar yang tak pernah kau hitung.
Terima kasih, Yah…
atas peluh yang mungkin tak pernah kami tahu beratnya.
Atas pundak yang selalu siap jadi benteng.
Atas tanggung jawab yang kau pikul diam-diam.
Bu, Yah…
panjang umur ya, InsyaAllah.
Tinggallah lebih lama di dunia ini,
agar kelak kalian melihat
masa kejayaan anakmu.
Biarkan aku yang bekerja keras nanti.
Biarkan aku yang memikirkan beban.
Biarkan aku yang menjadi tulang punggung
saat Ayah dan Ibu ingin beristirahat.
Aku ingin melihat kalian santai di masa tua,
tanpa cemas tentang materi,
tanpa lelah memikirkan hari esok.
Percayalah,
meski hari ini aku belum jadi apa-apa,
aku tidak akan berhenti berusaha.
Aku akan terus berjalan,
pelan tapi pasti,
hingga bisa membahagiakan
dua manusia paling berjasa dalam hidupku.
Untuk Ibu dan Ayah—
cintaku tak pernah kecil,
hanya mimpiku yang masih sedang tumbuh.





