Lebaran Tanpa Ibu

Sudah lima kali bulan sabit datang dan pergi, menandai awal dan akhir dari Ramadhan yang dipilih Gusti Allah sebagai bulan yang istimewa dan suci. Sudah berulang kali lantunan takbir naik ke langit malam, mengetuk rumah-rumah dan jatuh di jalan-jalan yang dulu penuh suara. Tapi untukku, setiap suara itu seperti membentur tembok kosong, bagai memanggil seseorang yang tak lagi bisa pulang.

Sudah lima tahun, aku menjalani puasa dan lebaran tanpa kehadiran ibu.

Ada hal-hal yang tak bisa diajarkan waktu. Salah satunya: cara menerima kepergian. Waktu tidak pernah benar-benar menyembuhkan dan jadi penawar, ia hanya membiarkan luka belajar bernafas dengan tenang. Di meja makan, tak ada lagi suara ibu yang bertanya apakah aku sudah cukup makan. Di malam takbiran, tak ada lagi yang mempersiapkan baju baruku untuk dipakai esok hari. Di pagi lebaran, tak ada tangan yang mengelus rambutku sambil berkata: “Maafkan ibu, Nak.”, tak ada limpahan doa. Tak ada mata yang basah oleh haru saat kami saling berpelukan. Yang ada hanya ziarah dan batu nisan yang diam.

Kepada ibu aku sungguh kangen. Kangen yang tak bisa dilunasi oleh foto, video, atau mimpi, atau khayal, atau doa-doa yang kupanjatkan di tiap menyungkurkan diri di hadapan Allah Yang Maha Tinggi. Kadang aku merasa masih bisa mencium wangi bajunya, atau mendengar suaranya memanggil dari dapur dan kamar. Tapi semua itu tinggal bayang. Dan bayang-bayang, seperti juga kangen, tak pernah bisa diraih oleh pelukan.

Barack Obama pernah menulis saat kehilangan ibunya: “Ada sesuatu dari kepergiannya yang membuat seluruh dunia terasa sedikit goyah, seperti sebuah nada yang meleset sedikit dalam melodi yang akrab.” Dan memang begitulah rasanya: dunia tetap berjalan, orang-orang tetap tersenyum, para tetangga tetap bekerja, tapi ada sesuatu yang miring dalam hariku. Nada yang tak pernah pas kembali.

Kahlil Gibran menulis, “Kata terindah di bibir umat manusia adalah ‘Ibu’, dan panggilan terindah adalah ‘Ibuku’.” Tapi kini kata itu tak bisa lagi kupanggil dengan ringan. Ia mewujud jadi doa. Ia jadi luka. Ia jadi air mata abadi hingga aku dijemput malaikat untuk menemui Tuhan Semesta Alam..

Lebaran bagiku kini bukan soal pakaian baru, kue-kue manis, juga makanan-makanan lezat. Ia menjadi pertemuan antara kesedihan dan syukur. Ia menjadi pernikahan antara luka dan bahagia. Aku bersyukur pernah mengenal cinta sehangat pelukan ibu. Tapi aku juga sedih, karena cinta itu kini hanya bisa kupanggil saat berziarah.

Aku bersimpuh di makam Ibu, dengan baju rapi tapi hati remuk. Kulengkingkan doa dengan suara pelan dan terbata-bata. Orang-orang bersalaman, saling mengucap maaf. Tapi maaf paling dalam justru tak pernah terucap, karena tak ada ibu untuk kudatangi, kugenggam tangannya, dan kupeluk erat: memohon ampun, melimpahkan ribuan terima kasih atas segenap cintanya.

Jean-Jacques Rousseau berkata, “Orang pertama yang menerima ciuman seorang ibu adalah penyair yang pertama dilahirkan dunia.” Barangkali itu benar. Tapi setelah kehilangan ibu, seorang anak bisa jadi puisi yang kehilangan sajaknya, menjadi kata-kata yang sudah tak bernyawa.

Aku menangis. Kadang diam-diam, kadang tak tertahan. Tapi barangkali itulah cinta yang sesungguhnya: yang tetap menangis meski tak dilihat, yang tetap kangen meski tak ditanggapi. Seperti kata Rainer Maria Rilke, “Air mata adalah bunga dari hati.” Maka biarlah aku menangis. Sebab di situlah cinta menemukan bentuknya yang paling murni, bukan dalam tawa, tapi dalam kehilangan.

Puasa telah mengajarkanku menahan lapar dan haus. Tapi tak ada ajaran yang mampu menahan kangen. Kangen yang tak kunjung selesai, kangen yang setiap tahun hadir dengan takbir, dengan wangi kue, ketupat dan bunga melati, dan dengan suara hatiku yang memanggil: “Bu, aku kangen. Pulanglah, meski hanya dalam mimpi.” Tapi ibu tak datang. Dan aku belajar bahwa kehilangan bukan berarti tak ada. Kehilangan justru membuktikan betapa dalamnya kehadiran itu pernah ada. Wahai, kematian hanya ringan dalam film dan karya sastra, tapi dalam kehidupan nyata, ia tetap saja menggetarkan.

Aku tak tahu apakah air mataku sampai pada ibu. Tapi jika cinta punya jalan pulang, biarlah ia meniti tetes ini, satu per satu. Dan suatu hari nanti, di tempat yang tak lagi mengenal waktu dan jarak, semoga aku bisa kembali memeluk ibu tanpa harus melepaskan, memasuki kembali rahimnya tanpa pernah ditinggalkan.

Ibu, kau tak pernah mati dalam hidupku. Hingga larut usiaku nanti, kau menanggung cintaku..