Pernah ga terbesit satu pertanyaan pada diri anda: “Mengapa urutan surah dalam Mushaf Al-Quran tidak disusun secara kronologis berdasarkan urutan turunnya? Lantas siapa pula yang menentukan urutan surah dalam Al-Quran yang seperti kita kenal sekarang mulai dari surah pertama Al-Fatihah sampai diakhiri surah An-Nas?
Urutan Surah dalam Mushaf Al-Quran Bersifat Tauqifi atau Ijtihadi?
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, sebagian berpegang pada pendapat bahwa urutan surah dalam mushaf Al-Quran bersifat Tauqifi, dan sebagian lainnya berpendapat Ijtihadi.
Apa yang dimaksud dengan Tauqifi dan Ijtihadi?
Sederhananya, jika Tauqifi itu artinya urutan surah yang kita kenal sekarang mulai dari surah Al-Fatihah sampai An-Nas itu disusun atas dasar petunjuk dari Rasulullah SAW.
Sedangkan Ijtihadi artinya, urutan surah dalam Al-Quran disusun atas dasar Ijtihad para ulama terdahulu dalam menyusun mushaf Al-Quran.
Atas dasar apa ulama meyakini bahwa urutan surah dalam Mushaf Al-Qur’an bersifat Tauqifi?
Hal ini didasarkan pada beberapa dalil, dan yang menurut penulis cukup make sense adalah dua hal berikut ini:
Pertama, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Ibnu Abbas berkata:
“Rasulullah Saw adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril As menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah Saw orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus” (HR. Bukhari).
Dalam narasi hadits tersebut, mengindikasikan bahwa pada setiap tahun Rasulullah SAW membacakan seluruh ayat atau surah dalam Al-Quran di hadapan malaikat Jibril a.s. sesuai dengan urutan yang sekarang ada. Bahkan di masa tahun wafatnya, Rasulullah SAW melakukannya sebanyak dua kali. Dalam peristiwa mudarashah (Tadarus) ini, sahabat Zaid bin Tsabit menjadi saksi dan di masa kemudian, sahabat Zaid lah nantinya yang menjadi ketua pelaksana pembuatan mushaf Al-Quran di masa Khalifah Utsman Bin Affan.
Kedua, Jika pada masa Rasulullah SAW Al-Qur’an belum tersusun rapi urutan surahnya, bagaimana mungkin para sahabat dapat mengkhatamkan keseluruhan Al-Quran dalam waktu relatif singkat seperti 3 hari atau 7 hari dengan kondisi surah yang masih belum berurutan.
Maka dari itu, Sebagian ulama berpendapat bahwa urutan surah dalam Al-Qur’an sudah ada sejak masa Nabi dan tersusun melalui petunjuk dari Rasulullah SAW. Adapun ulama yang berpegang pada pendapat Tauqifi ini seperti Abû Bakr al-Anbârî (w. 328 H), Abû Ja’far an-Naẖẖâs (w. 338 H) dan Ibn H̲ ajar al-‘Asqalânî (w. 852 H).
Atas dasar apa ulama meyakini bahwa urutan surah dalam Mushaf Al-Qur’an bersifat Ijtihadi?
Sedangkan ulama yang meyakini urutan surah dalam Al-Qur’an bersifat Ijtihadi itu didasarkan dari beberapa dalil juga. Salah satu dalil tersebut misalnya, riwayat dari Hudzaifah r.a. Hudzaifah r.a. bercerita bahwasannya ketika Rasulullah SAW menjadi imam sholat, Rasulullah membaca surah Al-Baqarah lalu dilanjut Surah An-Nisa dan kemudian Surah Al-Imran, yaitu dengan urutan berbeda dengan yang ada dalam mushaf saat ini.
Al-Qâdhî ‘Iyâdh (w. 544 H) mengatakan: “Dalam riwayat tersebut terdapat dalil bagi yang berpendapat bahwa urutan surah-surah al-Qur’an adalah hasil ijtihad dari kaum muslimin ketika mereka menulis mushaf, dan urutan tersebut bukan dari urutan Nabi SAW melainkan Nabi SAW menyerahkannya kepada umat setelahnya. Ini adalah pendapatnya Imâm Mâlik dan dipilih oleh Abû Bakr al-Bâqilânî.
Hikmah di balik urutan surah yang tidak kronologis
Penyusunan surah dalam Al-Qur’an yang tidak mengikuti urutan waktu turunnya wahyu (kronologis) bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari mukjizat ilahi. Struktur ini dirancang untuk menciptakan harmoni antara pengajaran hukum, penguatan akidah, serta kemudahan dalam mempelajarinya.
Berikut adalah beberapa hikmah di balik mengapa surah dalam Al-Qur’an disusun seperti yang kita baca saat ini:
- Struktur yang Sistematis untuk Pembelajaran
Jika Al-Qur’an disusun berdasarkan waktu turunnya, pembaca akan mendapati campuran antara surah pendek dan panjang secara acak. Dengan susunan saat ini (surah panjang di awal dan surah pendek di bagian akhir) tercipta pola yang lebih metodis. Ini sangat memudahkan pemula maupun penghafal dalam menguasai teks secara bertahap.
- Metodologi Pendidikan Bertahap (Tadarruj)
Meskipun wahyu pertama berfokus pada fondasi iman di Makkah, penempatannya dalam mushaf memungkinkan pembaca untuk melihat gambaran besar syariat terlebih dahulu (Madaniyah), namun tetap diakhiri dengan pengingat esensial tentang ketauhidan. Ini mencerminkan proses pembentukan jati diri seorang Muslim, yaitu memperkuat iman sebelum menjalankan aturan hukum yang kompleks.
- Keselarasan Makna (Munasabah)
Urutan surah bersifat tauqifi (berdasarkan petunjuk Allah dan Rasul-Nya). Meski turun dalam rentang 23 tahun secara terpisah-pisah, setiap surah memiliki keterkaitan tema dengan surah sebelum dan sesudahnya. Hubungan antar-ayat ini membentuk satu kesatuan ajaran yang utuh dan tidak terputus.
- Pendekatan Psikologis bagi Pembaca
Susunan ini menawarkan keseimbangan mental: Bagian awal memberikan fondasi hukum dan tata kelola kehidupan yang kokoh (seperti Surah Al-Baqarah). Sedangkan bagian akhir menyajikan pengingat tentang hari kiamat dan moralitas dengan gaya bahasa yang ringkas dan puitis, sehingga lebih mudah meresap dalam ingatan dan aktivitas harian manusia.
- Bukti Autentisitas Wahyu (I’jaz)
Kemampuan Al-Qur’an untuk tetap koheren dan relevan meskipun turun secara berangsur-angsur mengikuti peristiwa spesifik adalah bukti bahwa kitab ini bukanlah karya manusia. Keselarasan antara momen turunnya wahyu (asbabun nuzul) dengan posisi akhirnya dalam mushaf menunjukkan kecerdasan ilahi yang melampaui batas waktu.
Wallahu A’lam Bish-Shawab….



