​Pernah nggak sih kamu lagi asyik mengetik di depan laptop, tiba-tiba di seberang ruangan ada bos yang meledak marah-marah ke rekan kerjamu? Meskipun kamu bukan sasarannya, tiba-tiba jantungmu ikut berdebar lebih cepat, bahu menegang, dan mendadak kamu lupa kalimat apa yang mau kamu ketik. Selama berjam-jam setelahnya, mood kerjamu hancur lebur.

Lalu, seorang senior atau kerabat yang lebih tua lewat dan nyeletuk santai, “Ah, anak zaman sekarang lebay. Dulu bapak dimaki-maki sambil dilempar asbak biasa aja tuh, malah bikin mental baja!”

​Familiar dengan skenario di atas? Pertanyaannya, benarkah kita yang sekarang ini terlalu “lebay”? Atau memang ada penjelasan ilmiah mengapa sekadar melihat orang marah bisa menguras habis energi kita? Mari kita bedah pelan-pelan.

​Perasaan lelah setelah melihat orang ngamuk itu bukan sekadar sugesti, melainkan respons biologis murni. Dalam dunia psikologi dan neurosains, ada istilah bernama Emotional Contagion (penularan emosional). Menurut penelitian klasik dari Hatfield dkk (1994), manusia itu punya semacam antena tak kasat mata.

Di dalam otak kita terdapat Neuron Cermin (Mirror Neurons). Tugasnya persis seperti namanya: meniru. Ketika kita melihat wajah yang tegang, mata melotot, dan mendengar nada suara tinggi, otak kita tanpa sadar mem-fleskbek emosi tersebut seolah-olah kita yang sedang merasakannya. Amigdala (pusat alarm di otak) langsung menyala, membanjiri tubuh kita dengan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Tubuh kita dipaksa masuk ke mode fight-or-flight (lawan atau lari), padahal kita cuma lagi duduk di kursi kantor. Jelas saja ini sangat melelahkan!

​Kalau kamu merasa jadi susah fokus setelah melihat drama marah-marah di kantor, kamu tidak sendirian. Ilmuwan Christine Porath dan Amir Erez (2007) menemukan fakta bahwa orang yang cuma menyaksikan perilaku kasar mengalami penurunan kualitas kerja secara drastis dan hilangnya kreativitas.

​Kenapa bisa begitu? Karena Resource Depletion (pengurasan sumber daya mental). Energi mental kita habis tersedot untuk memproses ancaman emosional dari si pemarah.

​Di sinilah kita perlu melihat realitas yang lebih pahit. Pernahkah kita bertanya-tanya mengapa begitu banyak orang terlempar ke pekerjaan informal yang keras, seperti menjadi tukang parkir liar yang tiba-tiba muncul—padahal sebelumnya nggak ada?

Bisa jadi (ini pure cocoklogi ya hehe), mereka adalah orang-orang yang sebelumnya mencoba bekerja di lingkungan formal namun terus-menerus terpapar amarah dan tekanan emosional yang luar biasa. Karena otak mereka terus-menerus berada dalam mode “bertahan hidup”, mereka kehilangan kemampuan untuk fokus, melakukan kesalahan fatal dalam pekerjaan, dan akhirnya gagal secara profesional. Pekerjaan sebagai tukang parkir liar di pinggir jalan maupun di tengah jalanan yang keras, bisa jadi menjadi pelarian terakhir bagi mereka yang sistem sarafnya sudah “terbakar” (burned out) oleh lingkungan yang tidak suportif.

​Kembali ke celetukan senior kita tadi: “Dulu kita kuat-kuat aja tuh!”

​Klaim ini sering kali terjebak dalam Survivorship Bias (bias bertahan hidup). Kita hanya mendengar cerita dari mereka yang “selamat” dan berhasil naik pangkat meskipun lingkungan kerjanya kasar. Kita menganggap semua orang dulu kuat karena yang kita lihat hanyalah para “pemenang”—terlepas dari caranya curang atau nggak.

​Kita lupa menghitung berapa banyak orang dari generasi dulu yang “gugur” di tengah jalan—ingat tukang parkir liar tadi. Mereka yang gagal karena tidak kuat mentalnya dihancurkan setiap hari, yang berakhir menjadi pengangguran, atau yang akhirnya hanya bisa bekerja serabutan karena kemampuan kognitifnya sudah lumpuh akibat stres kronis. Kita menganggap generasi dulu kuat hanya karena para korban dari lingkungan keras tersebut biasanya “tidak terlihat” atau suaranya tidak terdengar dalam sejarah kesuksesan.

​Jadi, kalau kamu merasa terganggu, cemas, atau lelah saat berada di lingkungan yang penuh dengan amarah, selamat: sistem sarafmu berfungsi dengan normal.

Menghindari lingkungan yang toksik atau menetapkan batasan (boundaries) bukanlah tanda bahwa kamu “mental tempe”. Sebaliknya, itu adalah upaya untuk menyelamatkan masa depanmu. Kamu sadar bahwa untuk tetap bisa bekerja secara produktif dan tidak berakhir “gagal” di jalanan, kamu membutuhkan lingkungan yang stabil.

​Kesimpulannya, amarah itu seperti asap rokok. Walaupun kamu bukan perokoknya, menjadi perokok pasif tetap saja merusak paru-parumu. Dan memilih untuk menjauh dari kepulan asap itu adalah langkah paling cerdas untuk memastikan “mesin” otakmu tetap bekerja optimal hingga masa tua nanti.