Belakangan ini saya sering merenung tentang satu hal yang agak membingungkan dalam interaksi kita sesama manusia, sesuatu yang saya sebut sebagai “Paradoks Harga Diri”. Penemuan ini sebenarnya bermula dari sebuah video viral yang baru-baru ini lewat di linimasa IG saya: seorang pengendara moge yang menegur pemotor lain karena merokok sambil berkendara. Situasinya panas, saling bentak, dan keduanya sama-sama merasa benar. Si pengendara moge merasa punya hak menegur demi keselamatan, sementara si perokok merasa harga dirinya diinjak-injak karena ditegur dengan cara yang (menurutnya) sombong.
Melihat video itu, saya menyadari satu hal yang agak getir: ternyata makin keras seseorang mencoba membentengi harga dirinya dengan amarah, biasanya harga diri itu malah makin kelihatan murah di mata orang lain. Sebaliknya, mereka yang kelihatannya “ngalah” dan nggak punya urat malu, justru seringkali berakhir jadi sosok yang paling dihormati.
Kalau kita perhatikan fenomena ini di lapangan, kita pasti pernah punya teman, atau minimal pernah lihat orang di jalan, yang sumbunya pendek banget. Tipikal orang yang kalau ditegur sedikit saja—entah soal rokok tadi, atau gara-gara parkir sembarangan—reaksinya langsung meledak. Dia bakal pasang badan, suara ditinggiin, dan keluar kalimat sakti yang niatnya buat gagah-gagahan: “Gua juga punya harga diri an**in*! Nggak usah nyolot!”
Tapi coba kita pakai logika yang lebih dingin buat melihat kejadian itu. Apakah dia jadi terlihat terhormat? Ternyata enggak. Di mata orang yang lewat, dia cuma kelihatan kayak orang yang “sewotan”, baperan, dan gampang banget dikontrol emosinya. Niat dia ingin terlihat kuat, tapi malah terlihat rapuh karena harga dirinya bisa langsung rontok cuma gara-gara satu teguran dari orang asing. Dia merasa menang karena berhasil “ngajak ribut”, padahal sebenarnya dia baru saja menjatuhkan martabatnya sendiri ke titik terendah: dikenal sebagai orang yang nggak bisa diajak bicara baik-baik.
Nah, tipe orang yang satunya lagi beda, kebalikannya tipe yang pertama. Tipe orang yang kalau ditegur dengan cara yang nggak enak, dia cuma diem, narik napas, terus bilang “Oh iya Mas, maaf ya,” sambil langsung beresin masalahnya. Banyak yang awalnya mengira orang tipe ini penakut atau nggak punya nyali. Tapi menurut saya dan terkonfirmasi oleh orang-orang sekitarnya juga, mereka inilah pemenang aslinya. Dia memilih untuk mengalah bukan karena dia nggak punya harga diri, tapi karena dia merasa harga dirinya terlalu mewah untuk ditukarkan dengan perkelahian nggak bermutu. Dia punya prinsip kalau kualitas dirinya nggak akan turun cuma karena ada orang yang teriak-teriak di depannya.
Kesadaran ini makin teruji kebenarannya saat saya mudik ke kampung halaman saat itu. Pagi itu suasananya sepi, tipikal pagi di kampung yang udaranya masih segar, meski sesekali ada suara motor warga yang lalu lalang pergi ke pasar. Saya duduk di depan rumah, mengobrol santai dengan saudara tiri saya yang paling tua, yang dulunya sempat menjadi orang paling membenci kehadiran Ummi saya (baca: Ibu) beserta dua anaknya: saya; dan adik perempuan saya. Hubungan kami dulu sempat terasa berat. Karena ada luka lama akibat salah paham yang cuma bisa kami pendam masing-masing. Sakit hatinya dipelihara dalam hati, bikin setiap pertemuan terasa canggung—setidaknya bagi saya.
Di pagi yang tenang itu, kami akhirnya tanpa sengaja membongkar semua ganjalan itu dengan cara saling bercerita saja—gantian bercerita—gantian mendengarkan. Saya mulai mengerti bahwa memendam sakit hati dan bersikap ngotot di masa lalu itu sebenarnya tidak membuahkan apa-apa selain rasa lelah. Marah-marah dan sikap keras kepala itu seringnya berakhir tidak baik; tidak ada yang benar-benar menang, yang ada hanya batin yang tersiksa dan hubungan yang hambar. Mengalah dan membuka diri ternyata bukan berarti kita rendah, tapi kita sedang menunjukkan kalau kedamaian itu jauh lebih berharga daripada sekadar menang argumen.
Jadi, kalau dipikir-pikir, harga diri itu mirip barang antik yang harganya super mahal. Kalau kamu punya barang asli yang mahal, kamu akan ngerti dan nggak merasa perlu teriak-teriak ke setiap orang buat ngebuktiin kalau itu beneran barang mahal. Cuma barang KW yang biasanya butuh banyak pengakuan dan validasi. Jadi, kalau nanti kita ketemu sama situasi yang bikin panas hati, mungkin ada baiknya kita “tahan” sebentar urat leher kita. Menang debat tapi dicap norak itu ternyata nggak ada untungnya—mungkin ada: “menang”. Tapi itu aja, sisanya malah menjatuhkan harga diri lebih dalam. Justru, dengan memilih untuk “kalah” di depan orang yang lagi marah, kita justru sedang menunjukkan siapa pemegang kasta tertinggi dalam urusan harga diri yang sesungguhnya.



