Ditemani kabut dan embun pagi, untuk menghabiskan pagi kali ini, kau membaca berbagai artikel yang berkeliaran di media. Menelaah dan meresapi tulisan-tulisan yang menggugah seleramu di waktu pagi. Sembari menuangkan kopi juga gorengan, tak luput rokok sebatang di jepitan tanganmu. Pagi itu, kau membaca sebuah artikel dengan judul Tugas Penyair dalam Batas Bahasa, artikel yang dimuat di tautan lokal free akses. Melalui judul, tanganmu tergoyahkan untuk membacanya, nyentrik memang!
Ringkasnya, penulis ingin mengutarakan opininya terhadap puisi. Memang betul puisi merupakan wilayah kebebasan bahasa, akan tetapi ketika wilayah kebebasan menjadi ugal-ugalan definitif, apakah hal itu bisa disebut bebas? Kemudian, ia mengutip Hasan Aspahani yang berkata; bahwa penyair ialah sosok yang mengetahui sistematika bahasa dalam keterbatasan. Kutipan yang cocok untuk menyadarkan para penyair dari fatamorgana bahasa, bahasa seperti ilusi padang pasir yang membius para dahagawan, ia menyediakan ketakterhinggaan hingga dasarnya. Tapi di balik bahasa, ada kecondongan pelampauan yang kerap tak terlihat. Bahasa sering mengukung kita dalam kebebasannya, hingga amnesia kolektif menerpanya. Amnesia itu berbentuk tanda, bahasa merupakan pelambangan dari pengalaman. Kelemahan tak terjangkau, ketika penyair lupa daratan.
Lupa daratan membuat ambiguitas, mana yang lebih utama dari pengalaman atau bahasa. Kungkungan yang menjerat diri penyair, ketika ia menggoretkan pelambangan. Utamanya pengalamanlah yang membentuk pelampauan bahasa, bukan bahasa yang membentuk pelampauan pengalaman.
Kejujuran penulis, membawamu mendarat dari angkasa, mengingatkanmu tentang gravitasi bumi sebagai hukum alam. Setelah mendalami secara intim, kau menyadari keluputan yang diidamkan, dan mengambil intisari dari tujuan artikel yang dimuat itu;
“Sesaat orang mendambakan kebebasan, dan membuatnya jumawa terhadap dunia. Saat itu, ia kehilangan niat dan arah tujuannya. Demikian, sehewan keledai menertawakan dengan penuh bahagia terhadapnya. Ia lupa dari kebebasan yang terartikulasikan, hingga menghilangkan kebebasan sepenuhnya. Para pencari kebebasan telah melucuti pemikirannya, bahwa kebebasan muncul dari keterbatasan. Keterbatasan mengandalkan seseorang untuk melampaui, dan pelampauan membentuk kebebasan seraya keterbatasan. Demikian keterbatasan membentuk kebebasan. Keterbatasan dan kebebasan beriringan, hingga pencapaian kebebasan adalah keterbatasan, pun sebaliknya. Hingga perlulah kita berlutut untuk mengetahui keterbatasan, sampai pada kebebasan yang melahirkan keterbatasan baru.”
Babibu dari lalu-lalang siang hari membawamu terlelap pada mimpi tak terindah. Sampai dengkuran mengejutkan hingga menyadarkanmu dari kematian singkat di siang hari itu. Mencoba menghirup udara tercemar, sembari melangkahkan kaki ke depan pintu kosan. Siang itu dirimu fokus membaca beberapa halaman buku sembari menghabiskan beberapa batang rokok di pagi hari.
Setelahnya, kau mencoba menata kembali kehidupan. Hari itu, lingkungan menara gading sedang libur. Setiap lingkungan itu libur, waktumu sering dihabiskan untuk bermain dan berkumpul bersama siapa pun. Siang itu, sebelum kau beranjak pergi ke warung kopi terdekat. Kau menghubungi beberapa kolegamu untuk berkumpul, hanya untuk menghabiskan rasa kesumpekan di tengah hirup-pikuk dunia yang tak karuan.
Siang menuju sore hari, kau mempersiapkan diri dengan membawa beberapa buku bacaan. Membawa buku bacaan di tas lapuk merupakan kebiasaanmu, walau terkadang buku itu tak sempat dibaca di sela-sela waktunya. Walaupun demikian, dengan membawa buku di tas lapuk, kau setidaknya mempunyai niat untuk membacanya di celah-celah kehidupanmu.
Beranjak sore hari, kau datang ke tempat yang telah disepakati siang itu. Sambil menunggu kolegamu yang lain, sore itu kau bercakap-cakap panjang dengan kawanmu yang nyentrik. Berawal dari membahas beberapa artikel, hingga sejarah kesundaan, omon-omon ketika berkumpul bisa sampai ke mana saja tanpa ada batasan seperti di ruang kuliah.
Satu-persatu kolega yang lain datang, memesan kopi kemudian duduk melingkar sembari bernyayi. Kopi dengan balutan susu selalu menjadi favorit untuk menemani waktumu di setiap warung kopi yang dijajal. Kesempatan ngawangkong di warkop kali ini, cukup memantik rasa penasaranmu yang tinggi. Diawali tentang sejarah peperangan yang masih melanda, hingga masuk ranah kebudayaan lokal sunda.
Sejarah peperangan, dipreteli dari akar masalah geografis, ekonomi, dan asal-usul bangsa. Hingga peperangan ini, dapat dibedah secara luas dan tajam. Kemudian setelah membedah peperangan, kebudayaan lokal menjadi percakapan selanjutnya, sore hari kala itu. Mulai membahas dari etnik, hingga kebudayaan yang masih terlestarikan sampai saat ini. Sore menarik dari percakapan ngalor ngidur, ditutup dengan seruputan kopsus warkop tersebut.
Rembulan mulai menyorot daun-daun pepohonan yang menari dan waktu mulai menyayat kehangatan di jingga langit kala itu. Bersiap diri untuk kembali pulang, sambil berfoto-foto dan bersalaman sebagai simbol perpisahan. Sesampainya di persembunyianmu, kembali duduk di kursi retak ditemani beberapa target buku yang harus dibongkar. Sambil membaca, kau mulai memainkan lagu melalui alat tempur karatanmu. Menghayati setiap lirik dan menikmatinya secara intens.
Sembari membaca dan menikmati lagu untuk menemani malam syahdu, malam itu kau membaca catatan kecil yang menarik. Catatan yang membahas analisis wacana kritis dan framing media, dihimpun dari buku besar Eriyanto. Ketika atteknolojia telah menjadi teman kehidupan semati kita, maka analisis atteknolojia perlu kita ketahui saat ini. Analisis wacana kritis, wacana sendiri merupakan satuan terbesar dari kalimat yang biasanya menghimpun kalimat majemuk. Analisis wacana melibatkan beberapa unsur, seperti ranah sosial, bahasa, dan psikologi. Untuk memahami sebuah wacana, seseorang perlu memahami konteks, teks, dan historis wacana yang digunakan.
Dalam analisis wacana, kita memerlukan sebuah kepekaan bahasa yang mampu merangkap dimensi sosial, dan psikologi seseorang. Mulai dari konteks yang mencakup tujuan hingga latar belakang dan dari teks yang mencakup penggunaan sistematika bahasa. Setelahnya, masuk pada dimensi psikologi untuk membahas kecenderungan penutur wacana. Melalui wilayah tersebut, seseorang dapat mengidentifikasi ranah keberpihakan wacana dikembangkan. Berlanjut pada framing, atau bagaimana seseorang membingkai wacana untuk dipublikasikan.
Dalam framing, titik krusial dapat dilihat melalui dua unsur penting, yaitu; bahasa dan media. Melalui dua unsur, framing berkembang menjadi empat kategori; sintaksis; retoris; tematik; dan skrip. Framing dapat teridentifikasi melalui kanal media yang seseorang gunakan untuk membagi wacana. Karena dalam setiap media, terdapat posisi keberpihakan media. Sehingga media tak dapat dikatakan netral, begitu pula dengan bahasa.
Pembacaanmu meringkas semuanya dalam satu wacana utuh;
“Sesaat disrupsi teknologi menghadap kita, kita perlu kebijaksanaan dan kepekaan terhadapnya. Kepekaan itu hadir melalui analisis wacana dan framing. Melalui analisis wacana, kita dapat mengetahui peletakan sistematika bahasa pada sebuah wacana yang dikembangkan. Dan framing, membantu kita untuk melihat kerangka media pengembangan wacana. Wacana dan framing, membawa kita untuk mengetahui lebih dalam keberpihakan kanal media. Dan perlu kita ketahui bahwa suatu wacana menginisiasi keberpihakan, tak pernah netral dalam kebisuan dan gagapnya dunia.”
Malam terlalu larut untuk melanjutkan waktu membacamu. Kantuk mulai menghantui di larut malam itu, hingga matamu tak sanggup menahannya. Terlelap di kursi retak bersama buku yang masih terbuka di atas tanganmu.



